Perkembangan Peserta Didik “Hukum-Hukum Perkembangan Sosial, Moral, dan Sikap”


Pertanyaan dan Jawaban

*Diperuntukkan khusus anak kelas B UNIDAYAN Semester III yang memprogram Mata Kuliah Perkembangan Peserta Didik. Di bawah ini sejumlah pertanyaan dan jawaban yang telah diajukan oleh teman-teman kelompok beberapa minggu lalu dan kami, kelompok VII PPD, mencoba untuk menjawabnya lewat blog ini. Cekidot.

Makalah PPD “Hukum-Hukum Perkembangan Sosial, Moral, dan Sikap”

Tindakan apa yang seharusnya dilakukan orang tua jika anaknya berkelakuan di luar batas kewajaran, walaupun sudah diperingati beberapa kali, tetapi tetap saja melakukannya?

Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi tindakan anak/mendidik anak, yaitu:

Cara Konvensional dan Cara Modern.

-          Cara Konvensional adalah cara mendidik anak yang menjunjung tinggi kedisiplinan dan aturan. Selalu menasehati anak jika berbuat salah. (Selalu menghardik anak jika melakukan perbuatan yang dianggap salah oleh orang tua. merupakan langkah terakhir yang dilakukan oleh orang tua jika sudah tidak ada cara lain yang ditempuh).

-          Cara modern adalah cara baru yang sekarang menjadi tren yaitu memberi kebebasan penuh ke anak. Cara kedua ini bisa dibilang menguasai kebanyakan seminar soal anak dalam satu dekade terakhir. Cara ini merupakan cara revolusioner yang memang menggebrak cara lama yang selama ini dipakai oleh orangtua. Namun tentu saja cara ini tidak sepenuhnya disetujui terutama oleh golongan terdahulu. Selain itu cara kedua ini juga belum terbukti karena hasil dari generasi ini baru bisa kita lihat mungkin 20 tahun ke depan. Tapi, bagaimanapun cara kedua ini adalah cara yang banyak digemari oleh orangtua sekarang ini karena dianggap sesuai dengan perkembangan jaman.

Identifikasi Diri

Mendidik anak tidak bisa kita samaratakan. Setiap anak mempunyai karakter bawaan yang tentu tidak bisa kita lupakan ketika mendidiknya. Untuk itulah, ada baiknya kita mendidik anak dengan didahului yang disebut “identifikasi diri” anak. Baru setelah itu kita akan tahu mana cara yang kita gunakan apakah itu cara konvensional atau cara baru.

Identifikasi diri pada dasarnya adalah mengenali anak dengan lebih dalam. Kita harus tahu betul lokasi karakter anak sebelum memberikan pengaruh kepada anak. Misalnya, dalam skala sangat pemalu sampai sangat sombong, di manakah titik karakter anak kita. Atau dalam skala sangat sangat pemaaf sampai sangat pemarah, di mana posisi anak kita. Dalam skala sangat pendiam sampai sangat jago membantah, di mana posisi anak kita.

Penerapan

Jika kita sudah mengenali anak kita, kita bisa menentukan metode yang akan kita pakai untuk anak kita. Misalnya, anak kita termasuk anak yang sangat pemalu, maka akan lebih baik jika kita gunakan cara kedua yaitu cara yang membebaskan anak kita untuk bereksplorasi. Dalam teori yang banyak berkembang, kita jangan sampai membatasi ketika dia akan melakukan sesuatu.

Namun seandainya anak kita terlalu pede (percaya diri) sehingga masuk kategori sombong, rasanya kita harus menerapkan cara pertama (konvensional) untuk mengendalikan potensi berlebih anak kita. Sombong bukan sesuatu yang baik untuk dikembangkan. Kendalikan… Dan cara konvensional menurut saya lebih tepat untuk kasus seperti ini.

Dan seandainya anak kita berada di titik tengah dari garis karakter yang kita buat, ya berarti kita harus menggunakan 2 metode dengan seimbang. Logika aturan konvensional dan juga logika baru harus kita gunakan bersama-sama.

Jangan sampai kita terjebak oleh salah satu metode yang akhirnya membuat anak kita menjadi tidak seimbang. Kita ingin anak kita menjadi anak pede, tapi jangan sampai kita menjadikan anak kita anak yang sombong. Kita ingin anak kita menjadi anak yang sabar, tapi jangan sampai membuat anak kita menjadi anak yang tidak berdaya menghadapi tekanan.

Gunakanlah selalu keseimbangan dengan terlebih dahulu mengidentifikasi diri anak kita.

Proses identifikasi diri adalah mutlak kita lakukan untuk mengenali anak kita. Namun sayang, seringkali diskusi seperti ini agak sulit dilaksanakan. Jangankan mengidentifikasi diri anak, sedangkan identifikasi diri orangtua sendiri biasanya belum dilaksanakan. Kebanyakan orangtua juga belum sadar betul bagaimana sifat diri mereka sendiri.

Kita juga perlu tahu bahwa identifikasi diri kita sendiri sangatlah penting. Kita harus mengenali diri kita sendiri. Dengan begitu kita tahu bagaimana harus berbuat dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai orangtua, kita harus bisa memiliki sifat perhatian terhadap anak, jika anak melakukan sesuatu hal yang positif maka harus diberikan reward, contohnya anak bisa mengerjakan PRnya dengan baik, maka orang tua memberikan sanjungan ataupun pujian terhadap anak, (pujian merupakan reward) dan jika melakukan sesuatu hal yang negatif, contohnya anak dengan sengaja berkata kasar/kotor, maka orang tua harus memberikan punishment yang dapat membuat jera anak agar tidak mengulanginya lagi.

Tambahan:

Dari http://manisnyaiman.com/cara-mendidik-anak-yang-nakal/

Beberapa contoh cara mendidik anak yang nakal.

Syariat Islam yang agung mengajarkan kepada umatnya beberapa cara pendidikan bagi anak yang bisa ditempuh untuk meluruskan penyimpangan akhlaknya. Di antara cara-cara tersebut adalah:

Pertama, teguran dan nasihat yang baik

Ini termasuk metode pendidikan yang sangat baik dan bermanfaat untuk meluruskan kesalahan anak. Metode ini sering dipraktikkan langsung oleh pendidik terbesar bagi umat ini, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, misalnya ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang anak kecil yang ketika sedang makan menjulurkan tangannya ke berbagai sisi nampan makanan, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai anak kecil, sebutlah nama Allah (sebelum makan), dan makanlah dengan tangan kananmu, serta makanlah (makanan) yang ada di hadapanmu.

Serta dalam hadits yang terkenal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada anak paman beliau, Abdullah bin ‘Abbasradhiallahu ‘anhuma, “Wahai anak kecil, sesungguhnya aku ingin mengajarkan beberapa kalimat (nasihat) kepadamu: jagalah (batasan-batasan/ syariat) Allah maka Dia akan menjagamu, jagalah (batasan-batasan/ syariat) Allah maka kamu akan mendapati-Nya dihadapanmu.”

Kedua, menggantung tongkat atau alat pemukul lainnya di dinding rumah

Ini bertujuan untuk mendidik anak-anak agar mereka takut melakukan hal-hal yang tercela.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan ini dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Gantungkanlah cambuk (alat pemukul) di tempat yang terlihat oleh penghuni rumah, karena itu merupakan pendidikan bagi mereka.”

Bukanlah maksud hadits ini agar orangtua sering memukul anggota keluarganya, tapi maksudnya adalah sekadar membuat anggota keluarga takut terhadap ancaman tersebut, sehingga mereka meninggalkan perbuatan buruk dan tercela.

Imam Ibnul Anbari berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memaksudkan dengan perintah untuk menggantungkan cambuk (alat pemukul) untuk memukul, karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan hal itu kepada seorang pun. Akan tetapi, yang beliau maksud adalah agar hal itu menjadi pendidikan bagi mereka.”

Masih banyak cara pendidikan bagi anak yang dicontohkan dalam sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu menyebutkan beberapa di antaranya, seperti: menampakkan muka masam untuk menunjukkan ketidaksukaan, mencela atau menegur dengan suara keras, berpaling atau tidak menegur dalam jangka waktu tertentu, memberi hukuman ringan yang tidak melanggar syariat, dan lain-lain.

Bolehkah memukul anak yang nakal untuk mendidiknya?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perintahkanlah kepada anak-anakmu untuk (melaksanakan) shalat (lima waktu) sewaktu mereka berumur tujuh tahun, pukullah mereka karena (meninggalkan) shalat (lima waktu) jika mereka (telah) berumur sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur mereka.

Hadits ini menunjukkan bolehnya memukul anak untuk mendidik mereka jika mereka melakukan perbuatan yang melanggar syariat, jika anak tersebut telah mencapai usia yang memungkinkannya bisa menerima pukulan dan mengambil pelajaran darinya –dan ini biasanya di usia sepuluh tahun. Dengan syarat, pukulan tersebut tidak terlalu keras dan tidak pada wajah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin ketika ditanya, “Bolehkah menghukum anak yang melakukan kesalahan dengan memukulnya atau meletakkan sesuatu yang pahit atau pedis di mulutnya, seperti cabai/ lombok?”, beliau menjawab, “Adapun mendidik (menghukum) anak dengan memukulnya, maka ini diperbolehkan (dalam agama Islam) jika anak tersebut telah mencapai usia yang memungkinkannya untuk mengambil pelajaran dari pukulan tersebut, dan ini biasanya di usia sepuluh tahun.

Adapun memberikan sesuatu yang pedis (di mulutnya) maka ini tidak boleh, karena ini bisa jadi mempengaruhinya (mencelakakannya)…. Berbeda dengan pukulan yang dilakukan pada badan maka ini tidak mengapa (dilakukan) jika anak tersebut bisa mengambil pelajaran darinya, dan (tentu saja) pukulan tersebut tidak terlalu keras.

Untuk anak yang berusia kurang dari sepuluh tahun, hendaknya dilihat (kondisinya), karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamhanya membolehkan untuk memukul anak (berusia) sepuluh tahun karena meninggalkan shalat. Maka, yang berumur kurang dari sepuluh tahun hendaknya dilihat (kondisinya). Terkadang, seorang anak kecil yang belum mencapai usia sepuluh tahun memiliki pemahaman (yang baik), kecerdasan dan tubuh yang besar (kuat) sehingga bisa menerima pukulan, celaan, dan pelajaran darinya (maka anak seperti ini boleh dipukul), dan terkadang ada anak kecil yang tidak seperti itu (maka anak seperti ini tidak boleh dipukul).”

Cara-cara menghukum anak yang tidak dibenarkan dalam Islam

Di antara cara tersebut adalah:

1. Memukul wajah

Ini dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau, yang artinya, “Jika salah seorang dari kalian memukul,maka hendaknya dia menjauhi (memukul) wajah.”

2. Memukul yang terlalu keras sehingga berbekas

Ini juga dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih.

3. Memukul dalam keadaan sangat marah

Ini juga dilarang karena dikhawatirkan lepas kontrol sehingga memukul secara berlebihan.

Dari Abu Mas’ud al-Badri, dia berkata, “(Suatu hari) aku memukul budakku (yang masih kecil) dengan cemeti, maka aku mendengar suara (teguran) dari belakangku, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud!’ Akan tetapi, aku tidak mengenali suara tersebut karena kemarahan (yang sangat). Ketika pemilik suara itu mendekat dariku, maka ternyata dia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau yang berkata, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud! Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud!’ Maka aku pun melempar cemeti dari tanganku, kemudian beliau bersabda, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud! Sesungguhnya Allah lebih mampu untuk (menyiksa) kamu daripada kamu terhadap budak ini,’ maka aku pun berkata, ‘Aku tidak akan memukul budak selamanya setelah (hari) ini.

4. Bersikap terlalu keras dan kasar

Sikap ini jelas bertentangan dengan sifat lemah lembut yang merupakan sebab datangnya kebaikan, sebagaimana sabda Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang terhalang dari (sifat) lemah lembut, maka (sungguh) dia akan terhalang dari (mendapat) kebaikan.”

5. Menampakkan kemarahan yang sangat

Ini juga dilarang karena bertentangan dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bukanlah orang yang kuat itu (diukur) dengan (kekuatan) bergulat (berkelahi),  tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.

Demikianlah bimbingan yang mulia dalam syariat Islam tentang cara mengatasi penyimpangan akhlak pada anak, dan tentu saja taufik untuk mencapai keberhasilan dalam amalan mulia ini ada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, banyak berdoa dan memohon kepada-Nya merupakan faktor penentu yang paling utama dalam hal ini.

Akhirnya, kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, agar dia senantiasa menganugerahkan kepada kita taufik-Nya untuk memahami dan mengamalkan petunjuk-Nya dalam mendidik dan membina keluarga kita, untuk kebaikan hidup kita semua di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 9 Dzulhijjah 1431 H,

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim, M.A

  1. Bagaimana arti dari bentuk-bentuk sosial yang bersifat imajinasi?

Bentuk-bentuk sosial yang bersifat imajinasi. Dalam artian bahwa setiap bertemu orang meskipun hanya melihat atau mendengarnya saja sudah termasuk dalam situasi sosial. (Di dalam makalah sudah cukup jelas).

Apakah faktor internal tidak memiliki pengaruh dalam perkembangan sosial pada anak?

Tidak. Faktor internal memiliki pengaruh dalam perkembangan sosial pada anak. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri orang itu sendiri. Biasanya merupakan faktor genetis atau bawaan. Faktor yang berupa bawaan sejak lahir dan merupakan pengaruh keturunan dari salah satu sikap yang dimiliki salah satu dari kedua orang tuanya atau bisa jadi gabungan atau kombinasi dari sifat kedua orangtuanya. ”’Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya.’ Misalnya, di dalam lingkungan keluarga, seorang ayah dikenal sebagai seorang yang ekstrovert sehingga ayah bisa membangun komunikasi dengan sesama anggota keluarga dengan mudah. Sikap ini bukan tidak mungkin akan menurun pula pada anaknya.

Apa maksud dari kalimat ” Dalam perkembangan moral orang tidak memahami cara berfikir dari tahap yang lebih dari dua tahap di atasnya” pada masalah Hukum Perkembangan Moral dan Sikap pada anak?

Maksud dari kalimat tersebut yakni suatu cara berfikir atau sikap yang dikaitkan dengan umur seseorang. Kita bisa memisalkan pada sebuah contoh berikut ini. Seorang anak yang berusia 3 tahun, dia belum mampu membedakan apakah tindakan mencuri tersebut merupakan hal yang baik atau hal yang buruk. Lebih jelasnya dapat dilihat pada struktur tingkat pertimbangan moral seperti ilustrasi berikut ini.

Tahap 1: ”Nanti saya dimarahi Mama!,” atau ”Nanti saya dihukum Pak Guru.” (Saya harus menaati orang yang berwenang, sebab kalau tidak …)

Tahap 2: ”Kalau saya mencuri, nanti barang saya juga akan dicuri.” (Saya akan begitu jika mau, tetapi jangan mengandaikan pada saya).

Tahap 3: ”Nanti saya dikatakan tidak baik,” atau ”Orang yang mencuri itu tidak disukai orang lain.” (Saya mungkin harus begitu, sebab semua orang lain mengharapkan saya berbuat begitu).

Tahap 4: ”Menurut hukum, mencuri itu dilarang,” atau ”Mencuri itu mengganggu atau merusak ketertiban masyarakat”. (Saya harus demikian, sebab kewajiban untuk menaati peraturan demi tegaknya hukum).

Tahap 5: ”Mencuri tidak boleh karena jelas melanggar hak orang lain, akan tetapi dalam keadaan tertentu umpamanya akan mati karena tidak makan dan makanan hanya dapat diperoleh dengan cara mencuri, maka boleh saja mengambil barang orang lain, karena hak hidup lebih tinggi daripada hak milik”. (Saya mungkin akan begitu, sebab peranan saya dalam masyarakat, tetapi saya sering mempertahankan nilai-nilai relatif masyarakat).

Tahap 6: ”Jika Anda tidak mau diperlakukan hal seperti itu terhadap diri Anda sendiri, maka janganlah dilakukan hal itu terhadap orang lain!” Atau, ”Lebih baik memberi daripada menerima!” (Saya akan begitu, sebab saya tahu bahwa hal itu benar untuk dilakukan) (Maramis, 1990:57).

Mengapa masa kanak-kanak merupakan fase penting dalam perkembangan manusia?

Masa kanak-kanak merupakan fase penting dalam perkembangan manusia karena pada masa ini pola perkembangan anak dibentuk oleh lingkungan yang ada di sekitarnya yang akan memiliki pengaruh besar ketika kelak anak tersebut menjadi dewasa. Di masa tersebut, manusia bersifat imitatif atau menirukan dari apa saja yang ada dan terjadi di sekitarnya. Oleh karena itu, faktor lingkungan sangat berpengaruh pada perkembangan manusia di masa kanak-kanak tersebut.

Mengutip pendapat John Locke (1632-1704) tentang teori “tabularasa” yang mana manusia itu terlahir seperti kertas kosong. Dengan demikian, kertas tersebut perlu diisi atau ditulis dengan sesuatu. Oleh karenanya, manusia yang masih “kosong” haruslah diisi. Tidaklah mungkin manusia yang baru terlahir langsung bisa mengisi kepribadiannya sendiri. Tentunya mambutuhkan bantuan orang lain (orang tua) atau lingkungan sekitar. Dengan demikian, hingga masa kanak-kanak pun manusia terpengaruh oleh lingkungan. Karena lingkungan sangat mempengaruhi, maka lingkungan harus diatur sebaik mungkin agar manusia yang masih dalam tahap kanak-kanak terbentuk kepribadian dan perilakunya yang baik.

Periode kanak-kanak (childhood) terbagi menjadi dua masa yakni early childhood dan late childhood. Early childhood adalah ketika anak sudah berusia 2 tahun hingga 6 tahun. Periode tersebut adalah ketika manusia semakin membaik dalam menguasai anggota tubuhnya. Kemampuan dalam berbahasa pun juga meningkat.

Sementara late childhood adalah ketika anak berusia dari 6 hingga 12-14 tahun. Periode tersebut menunjukkan semakin masaknya organ-organ seksual. Dalam periode tersebut, manusia sudah lebih mandiri. Hal itu ditandai dengan mulainya manusia untuk membanding-bandingkan segala sesuatu di rumahnya dengan sesuatu yang berada di luar rumah, seperti di sekolah dan di rumah teman-temannya yang lain. Norma-norma moral yang pada masa early childhood terasa absolut oleh anak, berubah menjadi relatif ketika telah mengenal lingkungan luar (luar rumah). Oleh karenanya, perhatian terhadap anak haruslah diutamakan oleh setiap orang tua.

Manusia yang mana masih dalam tahap childhood merupakan tahapan yang mana peran lingkungan sangat mempengaruhinya. Pengaruh lingkungan tersebut yang menjadikan kepribadian dan karakter anak hingga dewasa nantinya. Oleh karenanya, dalam masa tersebut seorang anak hendaknya berada di lingkungan yang baik dan penuh kasih sayang. Hal itu akan sangat membentuk perilaku baik seseorang. Sebaliknya, lingkungan yang tidak baik akan membuat anak menjadi tidak baik pula.

Lingkungan masyarakat juga membentuk manusia yang masih dalam tahap kanak-kanak memperoleh bahasa. Orang yang terlahir dan mengalami masa kanak-kanak di Jawa, tentunya ia akan menggunakan bahasa Jawa dalam berbicara. Begitu juga yang terlahir di Sunda, Betawi, atau di Inggris, Prancis, dan lain sebagainya, tentuya akan memperoleh bahasa ibunya di tempat di mana anak terpengaruh oleh lingkungannya.

Karena masa kanak-kanak sangat menentukan kepribadian seseorang, oleh karenanya seorang anak itu diberi pendidikan yang baik dan kasih sayang yang terpenuhi. Hal itu sebagai modal seorang anak ketika pada nantinya mengalami periode dewasa. Orang dewasa juga harus menyadari bahwa ia berangkat dari anak atau bocah kecil, yakni periode kanak-kanak.

Modalitas manusia ketika masih kanak-kanak itu sangatlah penting untuk perkembangan seseorang. Tidak hanya itu, modalitas tersebut sangat membentuk kepribadian dan karakter manusia. Dengan demikian, selain faktor lingkungan yang harus diperhatikan, faktor proteksi anak juga harus diutamakan. Proteksi yang dimaksudkan adalah perlindungan anak dari kelainan-kelainan yang berkaitan dengan kesehatan anak. Kelainan pada anak bisa mengakibatkan fatalitas pada perkembangan dan pertumbuhan sehingga anak berpotensi mengalami kelainan, baik secara fisik ataupun mental. Gizi buruk akibat kekurangan asupan makanan dan minuman yang bergizi telah menjadi banyak contoh yang memilukan di negara-negara miskin. Oleh karena itu, masa kanak-kanak dianggap sebagai masa penting dalam perkembangan manusia.

Hal apa yang mendasari sehingga anak cenderung melakukan penyimpangan moral meskipun sudah ditetapkan hukum-hukum perkembangan?

Yang mendasari sehingga anak cenderung melakukan penyimpangan moral yakni diantaranya kurangnya kasih sayang orang tua, kurangnya pengawasan dari orang tua, pergaulan dengan teman yang tidak sebaya dan pergaulan bersama teman-teman yang berada pada lingkungan negatif, peran dari perkembangan iptek yang berdampak negatif, tidak adanya bimbingan kepribadian dari sekolah, dasar-dasar agama yang kurang, tidak adanya media penyalur bakat dan hobinya, kebebasan yang berlebihan, dan masalah yang dipendam.

Berikan penjelasan lebih lanjut tentang tahap Post Conventional pada hukum perkembangan moral dan sikap!

Tahap Post Conventional pada hukum perkembangan moral dan sikap (penjelasan lebih lanjut).

Tahap ini merupakan tahap tertinggi dalam teori Kohlberg. Dalam tingkat ini, terdapat usaha yang jelas untuk merumuskan nilai-nilai dan prinsip moral yang memiliki keabsahan dan dapat diterapkan, terlepas dari otoritas kelompok atau orang yang berpegang pada prinsip-prinsip itu dan terlepas pula dari identifikasi diri dengan kelompok tersebut.

  1. Orientasi Kontrak Sosial Legalitas

Pada umumnya kelompok tahap ini menekankan pada unsur yang berkenaan dengan kemanfaatan dan mementingkan kegunaan (utilitarium). Perbuatan yang baik cenderung dirumuskan dalam kerangka hak dan ukuran umum yang telah diuji secara kritis dan telah disepakati oleh masyarakat. Pada tahap ini juga sudah terdapat kesadaran yang jelas mengenai relativisme nilai dan pendapat pribadi sesuai relativisme nilai tersebut, terdapat suatu penekanan atas aturan procedural untuk mencapai kesepakatan, terlepas dari apa yang telah disepakati secara konstitusional dan demokratis, dan hak adalah masalah “nilai” dan “pendapat” pribadi. Hasilnya adalah penekanan pada sudut pandang legal, tetapi, dengan penekanan pada kemungkinan untuk mengubah hukum berdasarkan pertimbangan rasional mengenai manfaat sosial. Di luar bidang hukum, persetujuan bebas dan kontrak merupakan unsur pengikat kewajiban.

2. Orientasi Prinsip Etika Universal

Pada tahap ini, hak ditentukan oleh keputusan suara batin sesuai dengan prinsip-prinsip etis yang dipilih sendiri dan yang mengacu kepada komprehensivitas logis, universalitas, dan konsistensi logis. Prinsip-prinsip ini bersifat abstrak dan etis serta bukan merupakan peraturan moral konkret. Pada dasarnya, inilah prinsip-prinsip universal keadilan, resiprositas, dan persamaan hak azasi manusia, serta rasa hormat kepada manusia sebagai pribadi.

Sumber : berbagai sumber.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s