BOUND

We have been in this stage. We don’t only involve both of us, but also families. There is responsibility for it. We just started, darl. Thank you for this moment. May Allah give His Mercy for us. Aameen.  (181117)”

It needs a long journey to get it. Meet you in one day at the time became a process to decide where I have to stay and you convinced me successfully.

It is not an easy way to choose you as my partner of life. I nearly gave up, stopped walking and let you go alone. But your effort asked me to keep going on with you. Thank to stand by me, darl. 😊

I still must learn how to be a good woman because loving you does not mean I have no fault to hurt you.

Now, we have bound a  each other. This is not the final stage. We just started. Allah has a power to manage us, include our heart and feeling. Hope Allah keep us.

We have been here. Hopefully Allah bless us to be what we wanna be. 😊 Aameen.

Advertisements

Nirwana Buton Villa

Hi readers, long time no see you. 🙂 Finally, I can write again in the middle of my busy week. :’)

I want to tell you about one of villas in Baubau, Southeast Sulawesi, Indonesia. Yeah, it is Nirwana Buton Villa (NBV) that located at Jl. Dayanu Ikhsanuddin, Sulaa. It is not far from Betoambari Airport (5 km) and near Nirwana beach, so we can enjoy the beauty of Nirwana beach. What a wonderful scenery!

Do you want to find a quite atmosphere while enjoying marine scenery? NBV can be a recommended place. Why? Because it is quite far around 8.7 km from downtown and near the beach. However, don’t need to be worried of transportation. We can go to NBV by car, motorbike, taxi, ojek, etc. It is accessible. You can try it.

NBV has rooms. There are:
1. Deluxe rooms (Rp. 500.000/night),
2. Deluxe Seaview rooms (Rp. 550.000/night),
3. Executive Suite Seaview room (Rp. 600.000/night),
4. Standard rooms* (Rp. 300.000 or Rp. 350.000/ night),
5. Seaview Bungalow (Rp. 1.500.000/night), and
6. Executive Bungalow (Rp. 3.500.000/night).
*Standard rooms, they can be booked at least 4 rooms. It is used for group of people.

Besides rooms, it has a large field that can be used to hold an event or any outdoor activities. NBV also provides diving package for everyone that interested in it. We can access on www.wasagedivers.com for reservation and feel the journey of Baubau underwater.

So, let’s make reservation in Nirwana Buton Villa  via  Walk-In, Telephone Inquiry (+62 823 953 99962/ +62 813 554 59398), Traveloka or email: info@wasagedivers.com.

We hope you consider to visit Nirwana Buton Villa.
Thank you!

Hi June!

Source: google.com

Hi June,
I’m so sorry.
No birthday cake.
No candles.
No song.
No surprise.

Let me do by writing on this blog.

How are you today?
You still remember this date, don’t you?
This is your day.
I hope you’re happy to know this.
The day that reminds you to be a better man, more mature, and more thankful to Allah for everything you have.
Your day that will give what you want for your good life.
Nothing is impossible as long as we keep praying and make effort.
Aamiin.

Actually, I can’t say anything because you have made me speechless.
This is not a joke or a sweet talk, but a feeling from yours.
I wanna give you romantic words sequences, but I can’t do that.
I have no idea at all.
Sorry, Darl.
All of the words have been absorbed by you so I lost them. 😀

Not much to say,
be closer to Allah, 

be happy,
be better,
be yourself,
be mine.
🙂

Happy 1st June, Darl! 🙂

Tere Liye: Pulang

Pulang: Tere Liye

“…. Sungguh, sejauh apa pun kehidupan menyesatkan, segelap apa pun hitamnya jalan yang kutempuh, Tuhan selalu memanggil kami untuk pulang. Anakmu telah pulang.”
(Tere Liye, p. 400, 2016)

Penulis: Tere Liye
Judul Buku: Pulang
Penerbit: Republika
Penerbit: Jakarta
Cetakan: XXIII, November 2016
Dimensi: iv + 400 halaman; 13.5 x 20.5 cm

‘Pulang’ adalah salah satu hasil karya Tere Liye yang kembali berhasil mencuri perhatian saya untuk menuliskan kembali sedikit kisah dan kesan tentangnya. *Aduuuh, Bang Tere, ajarin Neng dong menulis. Kereeennn  selalu ya kalau baca novel Abang. Serasa ikut berada di dalam cerita, Bang. Emejing, Bang Tere. >.<

Kali ini, Bujang, Si Babi Hutan, anak pedalaman rimba Sumatra yang menjadi peran utamanya. Bujang merupakan anak dari Samad, si Tukang Pukul keturunan perewa dan Midah, anak seorang guru agama, yang kemudian dibawa oleh Tauke Muda, salah seorang penguasa shadow economy yang paling berpengaruh di ‘dunia’ tersebut. Namun, kepergian Bujang bersama Tauke Muda kurang mendapat respon positif dari Mamak Bujang sehingga acap kali timbul perselisihan antara kedua orang tua Bujang. Suka tidak suka, mau tidak mau, Mamak harus menerima keputusan Bapak untuk menyuruh Bujang mengikuti Tauke Muda. Pada akhir perjalanannya, setelah melewati serangkaian perjalanan hidup yang penuh dengan tantangan, pengkhianatan dari pihak internal keluarga Tong, dan kehilangan orang-orang yang disayanginya, Bujang tumbuh menjadi sosok yang kuat dan tangguh, juga menjadi pewaris penguasa shadow economy keluarga Tong di seluruh kawasan Asia Pasifik.

Do you know? Proses perjalanan seorang Bujang di dalam novel ini, Bang Tere nulisnya WOW WOW WOW. Do you want to feel that? Let’s read this novel. >.<

Satu hal yang menarik dari Bujang adalah walaupun julukannya sebagai si Babi Hutan di Keluarga Tong, dia selalu mengingat dan menunaikan pesan Mamaknya untuk tidak menyentuh makanan haram dan minuman beralkohol sekalipun. Walaupun cuma sebuah novel, hal ini mengingatkan kita kembali bahwa pesan/nasihat yang disampaikan oleh orang tua kepada kita sebaiknya dipatuhi dan dijalankan dengan baik karena semua itu akan memberikan hal-hal yang positif bagi anak-anaknya. Orang tua mana yang mau anaknya tidak baik. Tidak ada kan? *eeeaaa… >.<

‘Pulang’, novel yang memberikan pesan kepada kita sebagai sang penjelajah hidup dalam kehidupan kita masing-masing untuk tidak melupakan tanah kelahiran sejauh apapun kita melangkah pergi, untuk tidak melupakan orang tua sesukses apapun kita nanti, dan untuk tidak melupakan Tuhan sejauh apa pun kita menjauh dariNya. Ya, kita harus pulang.

“…. Sejatinya, dalam hidup ini, kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain, dan itu sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egoisme. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau bisa menang dalam pertempuran itu, maka pertempuran lainnya akan mudah saja. (Tere Liye, p.219: 2016)”

P.S.
‘Pulang’ adalah salah satu novel yang saya beli ketika masih berada di Makassar awal Januari 2017 dan hal ini menandakan telah selesainya saya menempuh perkuliahan selama dua tahun lebih di Kota Makassar. Yaps, novel ini sebagai tanda bahwa saya hendak kembali ke Baubau. Pulang. 🙂

This is About Graduation 2016

 

Alhamdulillah to Your Mercy, Allah
Alhamdulillah to Your Mercy, Allah

Hello, long time no see you, my blog. I miss to write here. Yaps, in this chance the topic is my second graduation. Finally, I’m graduated from Hasanuddin University after being a student for two years more. Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah ya Allah. You again again again give me Your priceless mercy.

Jadi ceritanya pada tanggal 22 Desember 2016 (bertepatan hari ibu, readers), Universitas Hasanuddin melaksanakan Wisuda Pascasarjana dan Profesi Periode II Desember Tahun Akademik 2016/2017. Khusus untuk fakultas saya, Fakultas Ilmu Budaya, memiliki 17 wisudawan yang berasal dari 4 (empat) program studi, yakni:

  1. Program Studi Ilmu Linguistik S3 (1. Fatimah Hidayahni Amin)
  2. Program Studi Ilmu Linguistik S2 (2. Ita Rosvita, 3. Siti Umi Salamah, 4. Nila Puspita Sari, 5. Maria Arnoldiana Dadjan Uran, 6. Santy Monika)
  3. Program Studi Bahasa Inggris S2 (7. Nining Syafitri, 8. Yuriatson, 9. Ida Mariani Idris, 10. Yandri, 11. Israkwaty, 12. Rizki Diliarti Armaya, 13. Faika, 14. Hikmawati, 15. Reza Apreliah Dg. Matara, 16. Satang)
  4. Program Studi Bahasa Indonesia S2 (17. Nanik Indrayani) 

    FYI, alhamdulillah juga untuk wisuda kali ini, ijazah dan transkrip udah langsung ada, jadi tidak perlu galau menunggu transkrip kelar yang katanya butuh waktu beberapa bulan. Trims, Unhas. 🙂

    Bersama Dosen dan Staf TU FIB Unhas
    Bersama Dosen dan Staf TU FIB Unhas

Satu hari sebelum pelaksanaan wisuda, 21 Desember 2016, kami mengadakan malam ramah tamah di Hotel MaxOne yang berada di Jalan Taman Makam Pahlawan. Hal ini berbeda dengan malam ramah tamah pada periode I September 2016 kemarin yang dilangsungkan di Hotel Clarion Makassar, di mana semua program studi pascasarjana berada dalam satu aula dan panitianya berasal dari pihak Pasca Unhas sendiri. Pada periode II Desember 2016 ini, yang menjadi panitianya pun adalah kami sendiri dan khusus Fakultas Ilmu Budaya. Dengan demikian, suasana keakraban bersama para dosen, staf fakultas dan calon wisudawan sangat terasa pada malam itu.

Kak Satang dan Prof. Tadjuddin Maknun, S.U. (WD I)
Kak Satang dan Prof. Dr. Tadjuddin Maknun, S.U. (WD I)

Pada pelaksanaan ramah tamah tersebut, kami, para wisudawan, memberikan cenderamata sebagai kenang-kenangan yang diwakili oleh Kak Satang kepada pihak fakultas yang diwakili oleh Wakil Dekan I, Prof. Dr. Tadjuddin Maknun, S.U. Kemudian, ada pembacaan wisudawan terbaik di tingkat fakultas kami, yakni Kak Fatimah Hidayahni Amin, Kak Yandri, Maria (Dian), dan Ibu Siti Umi Salamah. Congrats, kaka-kaka.

Left2right: Hikma, Kiky, Kk Fatimah, Ning, Nila
Left2right: Hikma, Kiky, Kk Fatimah, Ning, Nila

Terima kasih kepada teman-teman wisudawan yang telah mengupayakan acara malam ramah tamah pada periode ini sehingga acaranya berjalan dengan baik dan lancar. Semoga berikutnya lebih baik lah. Aamiin.

Ladies FIB Unhas
Ladies FIB Unhas

Well, tidak terasa dua tahun lebih lanjut sekolah di sini, Makassar. Pastinya bakalan banyak momen yang harus dikenang, seperti momen perkuliahan yang kadang buat seru, dagdigdug, lucu dan awkward, terus masa-masa ngerjain tugas dari dosen, dan perjuangan pamungkas adalah proses penyelesaian tesis yang berhasil buat saya hampir hopeless, percaya deh Allah sudah punya skenario sendiri memang, tinggal kitanya aja yang pintar-pintar positive thinking dan giat berusaha bagaimana caranya supaya tidak hilang semangat. Kata Prof. Hakim, Semangat dulu yang disemangati. Hehehe.

Selain itu, kuliah di Unhas ini, saya pun punya banyak teman dari berbagai daerah. Thank you ya sudah jadi teman yang baik untuk Nining selama dua tahun lebih ini. Maaf kalau ada banyak salah sama teman-teman, gak ada niat mau jahat sama kalian. Bakalan kangen sama kalian, pastinya bakalan gak bisa diulangi lagi momen kuliahnya. Kita semua pasti udah berpencar masing-masing ke arah yang tidak ditentukan. Hehehe. Yeps, mencari dan menemukan kehidupan baru yang lebih baik setelah perjuangan menjalani studi. Pastinya, beberapa tahun kemudian, udah kedengaran kalau si ini si itu udah jadi rektor, ketua program studi, jadi prof., lanjut kuliah di luar negeri, di universitas ini itu. Ecieee. Aamiin Aamiin.

Makassar, I will miss you a lot. Thanks, Allah, You have given me a chance to enjoy all these experiences in continuing this study.

*’Tarimakasiku to yingkomiu’ (Thank to you all) session.
Trima kasih, Ma Pa, to all your sacrifice for me. I know I can’t do like what you have given to me, except to be your good daughter as you want. I’ll do it, in sha Allah.

Thanks juga untuk para dosen yang sudah mengajar teman-teman dan saya selama perkuliahan di Unhas. You are great lecturers. :’)

Trima kasih untuk para staf TU Fakultas Ilmu Budaya.

Oh iya, terima kasih juga buat teman-teman, sahabat dan keluarga yang sudah mengucapkan melalui media sosial, minta maaf komentarnya belum sempat dibalas semua.

Dan semua pihak-pihak yang secara langsung dan tidak langsung turut memudahkan jalan saya dalam proses penyelesaian kuliah ini. Tarima kasi.

*Curhat session
Udah diwisuda emang iya, tapi masih merasa kurang begitu, belum apa-apa sih iya. Masih banyak kurangnya malah. Walaupun sekolah memang sudah selesai, tapi belajar harus berlanjut terus. Saya memang harus terus belajar. SEMANGAT, Ning. SEMANGAT!!!

Biasanya, hal yang paling sering ditanyain setelah saya wisuda ini adalah pekerjaan dan jodoh. Saya mah senyumin aja sambil berkata, “Mohon doanya, om-tante-pak-bu-teman. Semoga disegerakan, dapat kerja yang bagus dan dapat jodoh baik yang Allah ridho. Aaamiin.” Acakaseeehhh… Ahaide. Hehehe… Thanks, readers, udah sempat-sempatkan baca tulisan curhat minceu dari awal hingga akhir. Semoga bermanfaat, readers. Semoga… 😀

Tentang Kamu – Tere Liye

Tentang Kamu - Tere Liye
Tentang Kamu – Tere Liye

“Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu, itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku. Cinta memang tidak perlu ditemukan, cintalah yang akan menemukan kita.

Terima kasih. Nasihat lama itu benar sekali, aku tidak akan menangis karena sesuatu telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi.

Masa lalu. Rasa sakit. Masa depan. Mimpi-mimpi. Semua akan berlalu, seperti sungai yang mengalir. Maka biarlah hidupku mengalir seperti sungai kehidupan.”
(Tere Liye – Tentang Kamu)

 

Penulis: Tere Liye
Judul Buku: Tentang Kamu
Penerbit: Republika Penerbit, Jakarta
Cetakan: Kedua, Oktober 2016
Dimensi: vi + 524 halaman; 13.5 x 20.5 cm

Well, novel ini telah berhasil membuat saya berkali-kali menangis selama membacanya. Mungkin karena saya yang terlalu mendramatisir alur cerita atau saya yang terlalu sensitif. Entahlah, yang jelasnya, lagi lagi, Tere Liye menampilkan keahlian menulis novelnya dengan sangat AWESOME. *Bang Tere Liye, boleh skillnya ditransfer ke saya sedikit? I wonder how you become a very good writer, Sir.

Berbeda dengan novel karya sebelumnya, Hujan, yang bercerita tentang kehidupan di masa mendatang, Novel Tentang Kamu justru sebaliknya. Novel yang mengisahkan perjalanan hidup seseorang yang bernama Sri Ningsih di tahun 1946 – 2016 yang penuh dengan berbagai peristiwa kehidupan yang kadang saya pun tidak dapat menahan air mata *baper.

Perlu diketahui, Sri Ningsih di novel ini dideskripsikan sebagai wanita tangguh, periang, selalu berpikiran positif, rajin, tidak pernah mengeluh atas segala peristiwa pahit yang menimpa hidupnya dan satu lagi, sangat sangat sangat ikhlas. 😥 Kehilangan ibu sejak dia dilahirkan, kehilangan ayah ketika umur sembilan tahun dan dianggap sebagai ‘anak yang dikutuk’ oleh ibu tirinya, kehilangan adik tiri kesayangannya pada saat peristiwa pembunuhan massal oleh kaum komunis di Surakarta, kehilangan bayi pertama ketika melahirkannya dan bayi kedua yang hanya hidup beberapa jam saja akibat golongan darah Sri dan suaminya yang berasal dari Turki, dan terakhir adalah kehilangan suami yang dia cintai akibat sakit yang dideritanya. Sungguh, tiap episode cerita seorang Sri Ningsih membuat penasaran halaman per halamannya.

Adalah Zaman Zulkarnaen, seorang lawyer muda berusia 30 tahun, mendapat mandat dari sebuah firma hukum tempat ia bekerja, untuk menyelesaikan masalah warisan salah satu klien yang telah meninggal dunia. Seorang wanita tua berusia 70 tahun, pemegang paspor Inggris, memiliki izin menetap di Perancis, dan selama belasan tahun terakhir tinggal dan aktif berkebun di panti jompo. Wafat tanpa meninggalkan surat wasiat dan belum diketahui siapa ahli waris dari nilai warisan sebesar satu miliar poundsterling atau setara dengan 19 triliun rupiah menjadikan kasus ini merupakan hal hebat pertama yang harus diselesaikan Zaman sebagai seorang lawyer dengan kinerja yang telah diakui oleh pimpinannya. Ya, seorang klien bernama Sri Ningsih, orang Indonesia pemegang paspor Inggris. Maka, cerita kehidupan Sri Ningsih dimulai dengan Zaman sebagai penelusurnya dalam Novel Tentang Kamu.

Terdiri dari 33 bagian cerita yang saling berkaitan dan sangat menarik untuk segera diselesaikan. Akhir ceritanya? Silahkan dibaca sendiri. Hati cenat-cenut pokoknya.

Kalau saya menjadi seorang Sri Ningsih kayaknya tidak bakalan sanggup. Walaupun hanya sebuah novel, tapi pelajaran hidupnya cukup memberikan makna tersendiri bagi saya pribadi. Sabar, ikhlas, lalui prosesnya. Lagi dan lagi, Allah telah mengatur segalanya. Tidak ada yang buruk untuk umatNya. He had decided all the best decision for us. Dan saya yakini itu. Tidak ada keraguan padaNya. In sha Allah. :’)

Sekali lagi, novel ini secara tidak langsung membawa pembacanya larut ke dalam cerita menjadi seorang Zaman Zulkarnaen, si pencari jejak kehidupan dan ahli waris Sri Ningsih, sang wanita tangguh Indonesia.

“…. Ketika kebencian, dendam kesumat sebesar apa pun akan luruh oleh rasa sabar. Gunung-gunung akan rata, lautan akan kering, tidak ada yang mampu mengalahkan rasa sabar. Selemah apa pun fisik seseorang, semiskin apa pun dia, sekali di hatinya punya rasa sabar, dunia tidak bisa menyakitinya. Tidak bisa. ….” (Hal. 48)

 …. Ibu Sri tersenyum padaku, berkata pelan, ‘Chaty, jadilah seperti lilin, yang tidak pernah menyesal saat nyala api membakarmu. Jadilah seperti air yang mengalir sabar. Jangan pernah takut memulai hal baru…’ (Hal. 278)

“Apa harta yang akan dibawa mati saat kita meninggal?” … Tidak ada, Sir, selain apa-apa yang kita belanjakan untuk kebaikan. Sisanya akan ditinggalkan, bahkan diperebutkan. (Hal. 430)

Negeri Sapati: Tentang Persahabatan dan Kemandirian

Negeri Sapati
Negeri Sapati

Negeri Sapati adalah salah satu novel karya anak Buton yang bercerita tentang empat sahabat dari pesisir Laompo, Batauga, Kabupaten Buton Selatan. Mereka adalah Dayan, Poci, Odi, dan Surman. Novel ini menonjolkan cerita tentang kehidupan Surman dan keluarganya. Kepergian kedua orang tua Surman menjadikan Surman lahir sebagai sosok yang mandiri, yang harus berjuang untuk menyambung hidup dan demi melunasi utang-utang bapaknya dari seorang rentenir, La Maseke. Sejak kepergian orang tuanya, Surman tidak bisa lagi menghabiskan banyak waktunya untuk bermain bersama tiga sahabatnya. Sepulang sekolah, dia harus bekerja. Entah sebagai seorang kuli panggul ember dan keranjang-keranjang ikan, penjual ikan milik orang lain, ataupun kurir ikan milik seorang nahkoda kapal perahu motor yang menjual banyak ikan. Walaupun demikian, banyak kisah persahabatan Surman dan tiga sahabatnya yang lucu dan menarik diceritakan pada novel ini. Utamanya, kehidupan mereka sebagai masyarakat pesisir.

Mengangkat cerita dengan settingan Pulau Buton ini, membuat saya berhasil homesick. Rasanya mau cepat pulang ke Baubau. 😀

Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama, yang mana Dayan sebagai orang pertama. Oh iya, saya agak lucu saja ketika membaca novel ini karena penulis menyelipkan dialog menggunakan gaya bahasa orang Buton, misalnya: “La Poci sama La Odi dimana? (hal. 94); Cepat mi kau kejar (hal. 195).” Saya kadang tertawa sendirian membacanya. 😀

Novel ini terdiri dari 31 bagian cerita dan memiliki pesan moral di beberapa akhir bagian ceritanya. Selain pesan moral, ada juga yang berupa sindiran dan ini sangat sangat menarik. Pada halaman 252, “…. Sungguh ironis, Pulau Buton yang terkenal sebagai penghasil aspal tapi tidak sedikit dari jalanannya banyak yang berlubang-lubang akibat kongkalikong atau konspirasi para pejabat dan orang-orang yang dekat dengan kekuasaan.” Ketika saya membaca kalimat ini, wowwwww, emejingg…

So far, novelnya bagus. Tidak ada cerita kehidupan yang glamour melainkan cerita kehidupan yang  sederhana, tentang anak-anak yang bermain bersama alam, no gadget, no internet. Salut buat Kak Laode M. Insan deh. Semoga saya bisa mengikuti jejaknya. Aamiin. Hehehe.

*Saya rada sangsi dengan postingan kali ini. Tidak mendetail, tapi ya sudahlah. Saya mampunya sampai di situ aja, readers. Masih perlu belajar mereview lagi. Jika ada komen dan kritik, please give me it ya. Thanks sudah berkunjung dan membaca artikel ini, readers. Salam sukses untuk kita semua.

Judul Buku: Negeri Sapati
Penulis: Laode M. Insan
Penerbit: Best Practice, Jakarta Selatan
Cetakan: Pertama, Maret 2012
Tebal: xvi + 362 halaman; 13 x 20.5 cm
ISBN: 978 – 602 – 99641 – 8 – 9

Simfoni Kehidupan Halim Homeric

Simfoni Kehidupan Halim Homeric
Simfoni Kehidupan Halim Homeric

“Sejatinya Beliau hanya ingin menyebarkan semangat bahwa kejujuran dan pengakuan ikhwal masa lalu akan memberikan rasa ringan, sekaligus kekuatan untuk terus berjalan ke depan. Andhy Pallawa”

Buku ini saya dapatkan secara cuma-cuma ketika acara bedah buku “Simfoni Kehidupan Halim Homeric” yang diadakan di Aula Prof. Mattulada Fakultas Ilmu Budaya Unhas pada tanggal 11 Agustus 2016. Sayangnya, saya tidak terlalu mengikuti kegiatan tersebut dari awal hingga akhir dengan baik karena satu dan lain hal. Pada awalnya, saya belum mengetahui sama sekali siapa sosok Bapak yang ada di dalam buku ini. Setelah saya baca bukunya, rupanya dehh, hebatnya juga dant Bapak Halim ini ee. You are inspiring.

Perlu diketahui bahwa Bapak Halim Homeric ini adalah seorang seniman yang pandai bermain biola, seorang keturunan Tionghoa yang lahir di Kaiping Tiongkok. Beliau memiliki peran penting pada bidang pendidikan dan budaya di Makassar. Penulis mengatakan bahwa Beliau banyak menciptakan lagu dan menerjemahkan lagu-lagu Makassar ke dalam Bahasa Mandarin. Hal ini dilakukan Bapak Halim untuk mengenalkan dan mendekatkan budaya kedua bangsa. Selain itu, terbentuknya Pusat Bahasa Mandarin di Universitas Hasanuddin tidak terlepas dari campur tangan Bapak Halim Homeric sendiri. Ya, pantaslah untuk dikatakan bahwa Bapak Halim Homeric dalam buku ini sangat menginspirasi. Beliau mengatakan beberapa hal pada bagian kata sambutan, “Bagi saya sebuah biografi harus menjadi cermin untuk berkaca bagi banyak orang, tentu saja dengan kelebihan dan kekurangannya. Terutama karena tak seorang pun yang sempurna, sehingga belajar itu bukan hanya pada keberhasilan dan kisah sukses tetapi juga pada alpa dan kekurangan. Belajar kepada kelebihan untuk menjadi contoh, dan belajar pada kekurangan agar tidak mengulang di masa depan.

Perjalanan seorang Halim Homeric yang tertuang dalam buku ini memberikan gambaran tentang bagaimana seseorang mampu bertahan hidup, berjuang, dan melawan kerasnya kehidupan dari titik nol hingga mencapai masa suksesnya, yang selalu semangat dan mengutamakan kejujuran. FYI, pada halaman-halaman pertama sukses buat saya nangis, readers. Kisah hidup Beliau waktu kecil yang memang mau tidak mau harus dilewati. Sebagaimanapun kerasnya kehidupan, harus bangkit berjuang.

Apalagi ada beberapa ungkapan Mandarin yang terselip, hal ini membuat cerita kehidupan Bapak Halim semakin sarat inspirasi. Salah satunya pada halaman 219 pada bagian Belajar Bijak dari Leluhur, “Jika kau bertemu dengan orang yang berbudi luhur, angkatlah ia sebagai gurumu, agar kau dapat menyamai kebaikannya. Jika kau bertemu dengan orang yang berbudi buruk, anggaplah dia sebagai cermin, agar kau dapat melihat dan menilai dirimu sendiri.

Ada satu hal yang membuat saya sangat sependapat dengan Bapak Halim, yakni tentang keyakinannya pada pendidikan yang dapat mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik. Terbukti, Bapak Halim berhasil menamatkan dirinya di Fakultas Sastra pada pendidikan tinggi jarak jauh Universitas Xiamen, Tiongkok, di tahun 1960. Dari situlah, kehidupan Bapak Halim mulai menuju ke arah yang lebih baik.

“Kemiskinan hanya bisa diperangi dengan ilmu pengetahuan, yang berarti bahwa bersekolah adalah keniscayaan. (Andhy Pallawa, Hal. 70)”

“Apapun yang terjadi, saya wajib merampungkan studi, karena hanya dengan cara ini saya berpeluang memperoleh penghidupan yang lebih baik. (Halim Homeric, Hal. 74)”

Ya, hal ini bahkan sangat terlihat jelas dalam Al-Qur’an. Ketika Allah berfirman dalam Surat Al Mujadalah ayat 11, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” Melalui ayat ini Allah menjelaskan kepada umatNya untuk menuntut ilmu demi kebaikan diri sendiri dan orang lain, sehingga ilmu yang kita dapat bermanfaat dengan baik dan menjadi salah satu bentuk amal baik bagi masing-masing individu. *Kira-kira seperti itu pandangan saya, jika ada yang salah mohon dibenarkan. 🙂

Nampaknya cukup sekian cerita saya tentang buku yang menginspirasi ini. Benar apa yang dibilang Prof. Burhanuddin Arafah tentang Bapak Halim Homeric, “Beliau memiliki pribadi yang ‘Islami’.” Walaupun secara pribadi saya belum pernah berkenalan langsung dengan Bapak Halim Homeric, lewat buku biografinya secara tidak langsung saya sudah berkenalan dengan Beliau. Terima kasih untuk ceritanya. Semoga Allah selalu melindungi Bapak. Sehat-sehat, Bapak Halim Homeric. 🙂

Jangan pernah membantah terutama kepada yang lebih tua walau kamu di pihak benar. Ingat, kamu orang miskin sehingga akan selalu dianggap salah. Pilihanmu tidak banyak, maka kamu harus rajin, dan berlaku jujur,” sambung ibunya. (Andhy Pallawa, Hal. 21) 😦

Judul Buku: Simfoni Kehidupan Halim Homeric
Penulis: Andhy Pallawa
Penerbit: Global Publishing
Cetakan: I Agustus 2016
ISBN: 978-602-6782-00-7

A Novel from Adhitya Mulya: Sabtu Bersama Bapak

Sabtu Bersama Bapak
Sabtu Bersama Bapak

“Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan…, tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.” (Adhitya Mulya, 2015 – Sabtu Bersama Bapak)

Well, perlu diakui, saya terlambat untuk membaca novel ini dan menulisnya di blog. Pasalnya, filmnya udah duluan ditonton daripada novelnya yang harusnya dibaca terlebih dahulu. Ya udahlah, kata Prof.nya, hidup tidak mesti idealis, harus realistis. *mengutip salah satu status senior di Facebook. 🙂

As we know, novel ini bercerita tentang cara seorang Bapak, Gunawan Garnida, yang menyiapkan rekaman video-video dirinya berupa cara pandang dan pemikirannya tentang hidup yang harus dijalani dengan baik oleh kedua anak lelakinya, si Sulung Satya dan si bungsu Cakra (Saka). Hal ini dilakukan karena Pak Gunawan mengidap penyakit kanker dan divonis bahwa hidupnya tidak akan lama, selama 1 tahun lagi. Pak Gunawan tidak ingin ibu Itje Garnida, istrinya, membesarkan anak-anaknya tanpa kehadiran sosok ayah di tengah-tengah mereka. Sehingga, di setiap hari Sabtu sore, Satya dan Cakra selalu menonton video-video Bapak.

Ibu Itje Garnida merawat kedua anaknya hingga Satya dan Cakra tumbuh menjadi sosok lelaki yang dewasa. Mereka hidup dengan mapan dengan masalah hidup yang berbeda-beda. Ibu Itje Garnida, sang pekerja keras hingga akhirnya memiliki delapan rumah makan selama belasan tahun, namun menyembunyikan penyakit kanker payudaranya pada anak-anaknya karena Ibu Itje tidak mau menjadi beban bagi kedua putranya.

Kemudian, Satya yang bekerja di salah satu kilang minyak di luar negeri sebagai geophysicist. Merupakan suami dari Rissa Wiriaatmadja dan ayah dari Ryan, Miku, dan Dani. Dalam kehidupan rumah tangganya, Satya menjadi sosok ayah pemarah di mata istri dan ketiga anaknya.

Lain lagi dengan Cakra, bekerja sebagai Deputy Director di sebuah bank asing yang berkantor di Jakarta. Sosok yang dewasa dalam pemikirannya dan selalu care sama ibunya, namun tidak kunjung mendapatkan jodoh, hingga kemudian Cakra bertemu dengan Ayu, staf baru di tempat ia bekerja. Sayangnya, Salman, teman kerjanya, menjadi pesaingnya untuk menaklukan hati Ayu. 😀

Untuk ending ceritanya, sudah diketahui bahwa ini akan happy ending. Senang sekali membaca kisah cinta dua lelaki ini. Berhasil buat senyum-senyum sendiri. Hahaha.

Thank you, Mas Adhitya. You give me many life lessons from your novel. Saya izin ngutip beberapa ya, Mas Adhitya. 🙂

“Bukan berarti seseorang harus kaya dulu sebelum nikah. Tapi kalian harus punya rencana. Punya persiapan. …. Menikah itu banyak tanggung jawabnya. Rencanakan. Rencanakan untuk kalian. Rencanakan untuk anak-anak kalian.” (hal. 21)

“Ada orang yang merugikan orang lain. Ada orang yang merugikan keluarga yang menyayangi mereka. Ada orang yang hanya merugikan diri sendiri. Ada orang yang berguna untuk diri sendiri. Ada orang yang berhasil menjadi berguna untuk keluarganya. Terakhir adalah orang-orang yang berguna bagi orang lain. Bapak tidak cukup lama untuk menjadi golongan terakhir. … semoga kalian dapat menjadi orang-orang yang lebih baik dari Bapak.” (hal. 86)

“Semua anak wajib menjadi baik dan pintar karena memang itu yang sebaiknya semua manusia lakukan.” (hal. 105)

“Menjadi panutan bukan tugas anak sulung –  kepada adik-adiknya. Menjadi panutan adalah tugas orangtua – untuk semua anak.” (hal. 106)

“…ketika kalian udah gede akan ada masanya kalian harus melawan orang. Yang lebih besar, lebih kuat dari kalian. Dan akan ada masanya, kalian gak punya pilihan lain selain melawan, dan menang. Akan datang juga … masanya semua orang tidak akan membiarkan kalian menang. Jadi, kalian harus pintar. Kalian harus kuat. Kalian harus bisa berdiri dan menang dengan kaki-kaki sendiri.” (hal. 130 – 131)

“Kejar mimpi kalian. Rencanakan. Kerjakan. Kasih deadline.” (hal. 151 – 152)

“Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan. …. Find someone complimentary, not supplementary (Quote dari Oprah Winfrey).” (hal. 217)

Perlu diakui, cerita di novelnya lebih lengkap dibandingkan dengan di filmnya. Rasanya setelah membaca novel ini, saya seperti menemukan kebenaran dari sebuah film yang diangkat dari sebuah novel tersebut. 😀 Bukan menganggap alur cerita yang difilmkan tidak bagus ya. Perlu dipahami, banyak hal-hal yang mesti dipertimbangkan ketika alur cerita di novel harus tidak disamakan dengan filmnya atau jika perlu alur cerita di filmnya harus diubah, tidak sesuai dengan di novel. Hal ini bertujuan agar menjadikan filmnya lebih awesome, tanpa mengurangi value dari novel tersebut. Overall, novel dan filmnya sama-sama bagus. 🙂

Novel ini mengingatkan kembali akan satu hal, bahwa betapa orangtua sangat mencintai dan menyayangi anak-anaknya. Hingga mereka tidak bakalan mau melihat anaknya hidup menderita ke depannya. Orang tua rela berkorban dengan sangat ikhlas demi kehidupan anaknya yang lebih baik, hingga tumbuh menjadi anak yang membanggakan orangtua. Teringat kata-kata dari orang, orang tua mana sih yang tidak mau memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Mas Adhitya, novelnya sarat arti dari keluarga. :’) Let me keep this book for my children later. Hehehe.

Bagi yang belum membaca novel ini, tapi udah keduluan nonton filmnya, saya sarankan untuk baca novelnya deh. Kita akan menemukan kebenaran yang sebenarnya pada novelnya. Tentunya, pelajaran arti dari keluarga dan kebijaksanaan hidup dari Bapak yang lebih banyak tertuang di novelnya.

Ok. I have done to review this novel. I hope you enjoy it. Happy reading, readers! :* 🙂

*FYI. Saya lebih suka cover aslinya sebelum difilmkan daripada cover sesudah difilmkan. Menurut saya, cover pertama lebih natural. It looks like a novel, just a novel, not a film. Bulan Juli 2016 kemarin, dibela-belain keliling di toko-toko buku Makassar, dari Graha Media di M Tos, Gramedia di MP dan MARI, hingga toko-toko buku di Jalan Bulu Kunyi. Sendirian. Demi mencari novel dengan cover pertamanya *terlalu semangat ko, Ning. And you know? Hasilnya nihil. Novel dengan cover pertamanya udah gak keliatan, kebanyakan cover filmnya. Hopeless. Hingga tibalah Oktober ini, I found what I look for di salah satu toko alat tulis kantor di sekitar Jalan Perintis that I didn’t think it before, the novel with its first cover. Memang ya, kalau jodoh gak kemana. Sejauh apapun itu, selama apapun itu, kalau jodoh bakalan ketemu juga. Hehehe. Thanks, Allah. Alhamdulillah.

Bakmi RN Makassar: Enak e

Bakmi RN Makassar
Bakmi RN Makassar

Bakmi RN Makassar terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan KM 9, sekitar Outlet Brownis Amanda Perintis atau sebelah Astra Shop & Drive dan sebelum Coto Paraikatte dari arah pusat kota. Bakmi ala Raffi Ahmad dan Nagita Slavina ini menyediakan 9 menu yang recommended untuk dicoba, seperti 1) Bakmi Ayam Jamur, 2) Bakmi Ayam Lada Hitam, 3) Bakmi Ayam Popcorn, 4) Bakmi Rendang Rahmad, 5) Bakmi Empal Cabe Ijo, 6) Bakmi Calamari Spicy Mayo, 7) Bakmi Cumi Saus Padang, 8) Bakmi Spicy Omelette dan 9) Bakmi Nagitha. Harganya bervariasi, mulai dari Rp. 20.000 – Rp. 30.000. Oh iya, @bakmirn_makassar ini bukanya sampai jam 10.00 P.M. saja. So, guys, don’t be late to come here.

As you know, this is my first time to taste bakmirn_makassar dan deeeh rasanya itu ee, kayak mau lagi. Enak nah, tidak bikin eneg. Two thumbs up… Menurut pelayannya, yang paling recommended itu Bakmi Nagitha, tapi karena sudah habis, maka saya dan sepupu, Kk Lily, memesan Bakmi Cumi Saus Padang dan Bakmi Rendang Rahmad. Bagi saya, porsinya tidak sedikit dan cukup mengenyangkan. TOP deh. Rasanya mau ke sini lagi dan mencoba menu yang lain. Oh iya, kalau mau cari tahu info lebih lengkapnya, silahkan ke ig Bakmi RN Makassar di @bakmirn_makassar.

After having lunch, it’s time to take pictures. As usual, we must do it because if we did not do, it means that this was only hoax news. 😀 Kebetulan juga tempatnya lagi sepi, jadi yaa mau-mau kita ajalah. 😀 Semoga bisa ke sini lagi di lain waktu. Aamiin. 😀 Bagi yang belum mencoba, ayo ke Bakmi RN Makassar, in sha Allah tidak menyesal ji kasian. Hehehe. 😉

Kk Lily and Me in Bakmi RN Makassar
Kk Lily and Me in Bakmi RN Makassar