CERPEN > Cinta yang Tak Pernah Ada


Karena ributnya suasana kelas, gak ada guru yang masuk, aku pergi ke depan pintu kelas. Kusandarkan bahuku di daun pintu sambil melihat suasana di luar kelasku. Seketika itu, aku melihat sepasang mata sedang memandangku dengan sebuah senyuman yang belum pernah aku temukan dari seorang cowok seperti dia. Spontan aku masuk kelas.

“ Ih, aneh banget tuh cowok! Ada apa, ya? Apa ada yang aneh sama penampilanku hingga dia senyum-senyum gitu? Aaaah, bodoh ah! Lupakan, Dis!,” gumamku dalam hati.

Sesaat kemudian, dari jendela kelas, kulihat 3 orang anggota OSIS sedang berjalan menuju ke kelasku.

“ Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh,”kata anggota-anggota OSIS itu.

Serentak suara gaduh di kelasku hilang tak berbekas. Semua diam dan duduk di kursinya masing-masing.

“ Disampaikan kepada seluruh siswa di kelas ini untuk datang sebentar sore karena akan diadakan kerja bakti, berhubung pelaksanaan ulangan semester sudah dekat. Untuk ketua kelas, mohon membawa absen dan mengabsen teman-temannya yang hadir dan aktif, kemudian serahkan ke wali kelasnya. Ada pertanyaan? .”

Di sudut ruangan, kulihat salah seorang temanku mengacungkan tangannya, “ Kak, entar ke sekolah pake baju apa?”

“ Baju renang!,” ucap Wawan spontan. Semua pun tertawa terbahak-bahak. Suasana gaduh itu pun terjadi kembali.

“Cukup…Cukup…!,” kata kakak kelas menenangkan suasana.

“Sebentar kalian bisa pake baju bebas rapi, asal jangan terlalu ketat, baik baju ataupun celana. Oh,ya! Jangan lupa setiap siswa membawa alat sebentar sore. Untuk siswanya membawa parang dan siswinya membawa sapu ataupun ember. Ada pertanyaan lagi? ”.

Serempak kami berseru, “ Tidak ada, Kak! ”.

Sambil tersenyum seakan hendak tertawa, kakak – kakak anggota OSIS itu pun pamit. “Kalau begitu, kami ucapkan terima kasih banyak atas perhatiannya. Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.”

***

Sore harinya, aku datang ke sekolah. Kulangkahkan kaki di atas koridor kelasku. Saat itu juga, aku melihat sepasang mata indah itu lagi. Jantungku berdegup kencang. Secepat mungkin aku mempercepat langkahku. Ingin aku lari dari pandangannya. Untung saja, aku cepat masuk ke dalam kelas. Perasaanku campur aduk. “ Hmm… Tuhan, aku lihat matanya! Indah sekali!, ” pujiku dalam hati.

Di dalam kelas, aku melihat sudah banyak teman yang sedang bersih-bersih ruangan. Di luar jendela juga, sebagian teman-temanku sudah mulai memangkas rerumputan tinggi yang tumbuh di halaman belakang. Langsung aja aku gabung sama mereka.

Sepanjang aku membersihkan ruangan kelas, aku tak lepas dari senyumanku yang terus memaksa aku untuk tersenyum dan tersenyum. Maklumlah, pikiranku masih melayang pada kejadian tadi. Matanya itu…!!!

“ Dis, aku liat dari tadi sepanjang kita kerja nih, kok kamu senyum-senyum terus. Ada apa?,” tanya Amel kepadaku.

“ Ah. Nggak. Nggak kenapa-kenapa kok!”

“ Yee. Ngaku aja deh, Dis. Pasti ada apa-apanya! Gak mungkin kamu senyum-senyum kayak gitu gak ada penyebabnya. Gila neh Gadis!”

“ Dasar Amel! Iya…iya… Aku ngaku deh! Aku ketawa tuh karena ingat-ingat kejadian tadi. Itu tuh, si Wawan! Hahahaha ,” ucapku terbahak-bahak.

“ Gara-gara itu toh! Aku kira ada yang lain. Dasar Gadis!,”

Amel pun percaya apa yang aku katakan. Hihihi, aku bohongin dia. Habis, aku nggak mau ditahu sama orang selain aku. Biarkan pengalaman ini, aku simpan aja sendiri.

Waktu menunjukkan pukul 05.45 p.m. kulihat langit sudah mulai gelap. Suara adzan Maghrib pun telah terdengar di telingaku. Kulihat semuanya sudah bersih. Kami pun pulang ke rumah masing-masing.

***

Hari ini ada mata pelajaran Penjaskes. Kebetulan jadwal kelasku dan kelas cowok itu sama, tapi beda guru.

Waktu pemanasan, kita disuruh lari keliling lapangan sekolah sebanyak 2 putaran. Pada putaran terakhir, aku sudah nggak sanggup lagi lari. Terpaksa aku hanya bisa jalan. Ketika itu, perasaanku mengatakan kalau ada orang di sampingku. Karena penasaran, aku menoleh ke samping. Ternyata dia. Cowok bersenyum indah itu. Langsung aja aku lari menjauhi dia. Di saat itu, perasaanku  nggak karuan. Pokoknya panik banget deh!

“ Uuh, kenapa perasaanku jadi nggak enak begini, ya? Tuhan, kenapa ini? Kok kakiku gemeteran sih? Seakan nggak bisa berdiri,” ujarku panik.

Akhirnya, olahraga itu pun berakhir. Meninggalkan jejak manis dalam kisahku. Cowok itu. Cowok bersenyum indah itu.

***

Hari-hariku penuh dengan cowok itu. Aku nggak  tahu, tiba-tiba perasaan sayang itu muncul. Memang aku akui, bicara sama cowok itu saja pun aku nggak pernah sama sekali.  Aku cuma bisa berbicara dengan matanya. Aku hanya dapat mengandalkan perasaan. Perasaan inilah yang seringkali membuat hatiku sakit dan meneteskan air mata hanya karena terus-menerus memikirkan cowok itu. Cowok itu seakan membuatku berubah. Aku yang tadinya periang, sekarang menjad cewek yang sering melamun. Diary-ku pun penuh dengan cerita tentang dia. “Gadis gila…!!!,” teriakku dalam hati.

 

Satu bulan kemudian

Pengumuman pembagian kelas sudah tertempel di mading sekolah. Kulihat namaku terpampang di absen kelas XI IA 1, GADIS AYU PRAYUDHA.

“ Apa? Aku masuk di kelas XI IA 1? Yaah, pisah deh sama teman-teman!!! ”

Di saat itu, aku nggak mau buang – buang waktu. Aku langsung aja lari ke kelas XI IA 1 dan mengambil posisi paling depan. “ Yup, dapat kursinya! Alhamdulillah!,”ungkapku puas.

Ternyata di kelas itu, ada teman SMPku dulu. Namanya Vio. Dia itu sobatan sama aku sudah lama. Aku dan Vio sering ngobrolin tentang berbagai kejadian yang terjadi di kelas aku dan dia. Ternyata, cowok itu satu kelas sama Vio dan nama cowok itu Firan.

***

Pada saat pelajaran Kimia, aku betul-betul nggak konsen. Aku terus saja mikirin dia. Firan. Senyumannya, tatapannya. Semuanya serasa membuatku terbang saja. Untungnya, Bu guru Kimia nggak curiga.

Waktu istirahat, aku ditanya sama Vio. “Eh, tadi kenapa sih? Kok keliatannya nggak konsen gitu? ”

“Ah, nggak!,” jawabku tersenyum.

“Pasti ada apa-apanya nih! Udah deh, ngaku aja! Aku bisa liat kok dari mata kamu. Ada yang kamu sembunyiin dari aku?,”ujar Vio curiga.

“Oke,oke. Aku akan jawab pertanyaan dari kecurigaanmu itu. Sebetulnya aku lagi suka sama seorang cowok. Cowok itu manis banget kalau lagi senyum. Matanya indah banget. Tiba-tiba, nggak tau kenapa perasaan suka itu berkembang menjadi perasaan sayang. Aku nggak tahu kenapa bisa terjadi!,”ceritaku pada Vio.

“Trus, siapa nama cowok itu?,”Tanya Vio penasaran.

“Nggak bisa aku ucapkan”

“Gadis, kenapa?”

“Nggak bisa. Di kertas aja, yah?”

“Baiklah! Ayo, tulis!,” pinta Vio.

Karena aku nggak sanggup nyebut namanya, jadinya aku tulis aja di kertas nama cowok itu.

“ F I R A N ”

Mata Vio terbelalak kaget seakan nggak percaya.

“Apa? Firan? Firansyah? Kamu suka dia?,” Tanya Vio nggak percaya.

“Iya. Memangnya kenapa? Salah? ”

“Hebat. Aku nggak percaya aja sama kejadian yang kamu alami. Aku kira kamu udah susah untuk jatuh cinta lagi sejak Fariz mutusin kamu dan menghianati kamu dengan pacaran sama teman satu sekolahannya. Makanya udah dibilangin jangan pacaran jarak jauh. Gitu deh, cowok kita jadi selingkuh. Untungan kalo cowoknya kita tuh setia,”papar Vio dengan segala komentarnya.

Vio menawarin bantuan kepadaku. “ Mau diurusin nggak?”

Aku menggelengkan kepala. “Nggak usah! Aku nggak mau ngerepotin orang. Lagian aku nggak terlalu berharap ingin jadi pacarnya. Lagian juga, dia kan banyak yang suka. Pasti di antaranya sudah ada yang jadi pacarnya. ”

“Eh, dia belum ada yang punya lho! Mau nggak? Kebetulan dia jomblo tuh!.”

Tapi, tetap saja aku masih tetap sama pendirianku untuk nggak mau diurusin. Nggak mau ngerepotin orang Cuma gara-gara masalah ini.

“Vio, aku hanya ingin semua berjalan apa adanya! Tidak ada comblang-comblangan. Aku takut, siapa tahu saja terjadi sesuatu yang aku nggak inginkan, seperti Fariz dulu!.”

“Dis, Firan itu beda banget dengan Fariz. Beda 360 derajat. Firan tuh baik banget. Waktu kelas X, aku sering ngobrol-ngobrol sama dia. Swear, orangnya baik abis!.”

Aku hanya bisa tersenyum mendengar penjelasan Vio tentang Firan.

***

Hari demi hari, matahari tetap saja melihatku seperti ini, demikian juga dengan bulan. Mereka aneh melihat tingkahku yang seperti ini. Tetap saja masih sama seperti dulu. Aku nggak akan pernah bisa mengungkapkan perasaan ini sama Firan. Petualanganku nggak mungkin terus berlanjut. Aku nggak akan mungkin ngedapetin cintanya Firan. Walaupun perasaanku mengatakan kalau Firan itu suka juga sama aku. Aku bisa tahu dari tatapan matanya padaku waktu itu.

Pagi itu, kelas masih sepi. Belum ada satu siswapun yang muncul selain aku. Aku duduk sendirian di kursi sambil mencorat-coret kertas dengan polpen. Tiba-tiba air mataku meleleh, membasahi kertas itu. Nggak tau kenapa, beberapa hari ini pikiranku terus saja mikirin Firan. aku langsung menyesal, kenapa aku nggak ambil tawaran Vio kemarin? Tapi, ya udahlah, pokoknya aku nggak mau menyesal. Yang sudah berlalu, biarlah berlalu.

Tiba-tiba, kudengar langkah kaki seseorang sedang menuju ke kelasku. Cepat-cepat aku menghapus air mataku.

“ Assalamu’alaikum,”

“Walaikumussalam,”

“Eh, Vio. Tumben pagi-pagi datang. Biasanya bangun kesiangan,”

“Awas ya kamu. Ngejek nih ceritanya?,”Tanya Vio kepadaku

Maybe yes, maybe no. Hahahaha,”aku pun tertawa terbahak-bahak.

Vio melihat aku dengan perasaan heran.

“Dis, kamu habis nangis, ya?”

“Ups, dia tahu! Hmmm!,”ujarku dalam hati.

“Dis, jawab dong!”

Langsung aja ku peluk Vio. Aku tumpahin segala keluh kesahku tentang Firan, yang selama ini terus menerus menghantuiku. Yang hampir saja membuatku hancur.

“Dis, kamunya sih! Makanya cinta itu jangan dipendam-pendam. Begini nih akibatnya. Kamunya yang jadi stress.!,”jelas Vio.

“ Itu betul, Vio. Semua yang kamu omongin itu benar. Memendam cinta yang tak akan pernah terbalaskan gak ada gunanya.”

Ada orang yang menyatakan cintanya dan meraihnya dengan kebahaagiaan.

Ada orang yang tidak menyatakannya dan membuangnya begitu saja, dan

Ada orang yang memendamnya dan menyimpannya di dalam hati.

Aku, Gadis akan menjadi orang yang ketiga itu.

Biarkan saja kupendam rasa ini, walaupun pada akhirnya aku akan terluka karena kesalahanku sendiri.

S E K I A N

Advertisements

One thought on “CERPEN > Cinta yang Tak Pernah Ada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s