Bau-Bau, What A Beautiful Place It Is!


Kota Bau-Bau Logo

Sebagai salah satu kota dari 10 daerah otonom di Sulawesi Tenggara. Kota Bau-Bau resmi berdiri pada tanggal 17 Oktober 2001 dengan luas wilayah 221 km. Dengan letaknya yang strategis sebagai penghubung Nusantara bagian barat dan timur, sangat memudahkan akses menuju ke kota ini karena didukung sarana transportasi yang cukup memadai seperti Pesawat Express Air yang beroperasi 2 kali sehari, Pesawat Wings Air yang beroperasi tiap hari, kapal Pelni 28 kali sebulan dan Kapal Cepat 2 kali sehari dengan rute Bau-Bau – Raha – Kendari.

Di atas telah dijelaskan secara sekilas tentang Kota Bau-Bau. Kali ini, kita akan berkeliling ke tempat-tempat yang dianggap the most wanted sama masyarakat Kota Bau-Bau en pendatang. Kita mulai dari sini. Look at below!

PALAGIMATA

Daerah perbukitan yang terletak di Kelurahan Lipu, Kecamatan Betoambari yang berjarak 5 km dari pusat Kota Bau-Bau. Dengar-dengar siyh, Palagimata itu artinya sejauh mata memandang, so kita dapat menyaksikan panorama Kota Bau-Bau serta pemandangan laut di sekitar perairan selat Buton. Di daerah ini pula terletak Pusat Pemerintahan Kota Bau-Bau.

Di tempat ini sering dijadikan tempat nongkrongnya anak muda Kota Bau-Bau. Yah sekedar have fun doank n skaligus nikmatin sunset dari Palagimata. Apalagi di situ udah jadi area hotspot. Tambah deh nilai plusnya buat Palagimata. What beautiful place! Pokoknya mantap deh. Apalagi kalo lagi stress, Palagimata tempatnya. Hehehe.

BENTENG KERATON BUTON

Ini dia Benteng Keraton Buton, benteng terluas di dunia 22, 8 Ha (sesuai Rekor MURI) dengan panjang keliling 2. 740 m. Ketebalan benteng 1-2 m dengan ketinggian 2-8 m dan 16 kubu pertahanan serta 12 pintu masuk yang disebut Lawa. Pintu-pintu tersebut menurut La Ode Mursali (48), budayawan Buton, diidentikkan dengan jumlah lubang dalam tubuh manusia yang juga terdiri dari 12 lubang. Kedua belas lubang pada tubuh manusia tersebut adalah lubang pori-pori kulit, mulut, dua lubang telinga, dua lubang mata, dua lubang hidung, satu lubang anus, satu lubang saluran kencing, satu lubang saluran sperma, dan satu lubang pusat.

Dalam tatanan masyarakat suku bangsa Buton, segala sesuatu yang dibuat atau dibangun, selalu dikaitkan dengan tubuh manusia. Makanya, semua bangunan yang ada di dalam keraton, sarat dengan nuansa Islam. Karena memang, para sultan yang berkuasa menganut paham Islam, tutur Mursali.

Sebagai sebuah benteng perlindungan, benteng Keraton Buton dilengkapi dengan puluhan meriam yang terdapat pada setiap pintu. Meriam-meriam yang ada di sisi kiri-kanan pintu masuk itu merupakan bukti kuat bahwa Kesultanan Buton pernah melawan penjajah Belanda, kata Mursali.

Keterangan serupa juga diungkapkan oleh pemerhati budaya Buton, Lutfi Hasmar. Menurut laki-laki yang bekerja sebagai juru bicara Pemda Kabupaten Buton ini, di wilayah Kesultanan Buton terdapat 72 benteng yang tersebar di sejumlah kadie (wilayah setingkat kecamatan). Di Buton sendiri terdapat tiga buah benteng, yaitu benteng Keraton Buton yang berbentuk huruf dal, benteng Baadia yang berbentuk huruf alif, dan benteng Sorawolio yang menyerupai huruf mim.

Kombinasi karakter huruf yang membentuk ketiga benteng tersebut diasosiasikan masyarakat Buton dengan nama Nabi Adam, nabi yang mengawali kehidupan di muka bumi ini, tutur Lutfi.

Ada satu hal menarik yang patut diketahui penduduk di Nusantara terhadap keberadaan benteng Keraton Buton. Yakni sebuah benteng yang tidak hanya berdiri dan diam membisu. Namun, di dalam kawasan benteng keraton terdapat aktivitas masyarakat yang tetap melakukan berbagai macam ritual layaknya yang terjadi pada masa kesultanan berabad abad lalu.

Di dalam kawasan benteng terdapat pemukiman penduduk yang merupakan pewaris keturunan dari para keluarga bangsawan Keraton Buton masa lalu. Di tempat ini juga terdapat situs peninggalan sejarah masa lalu yang masih tetap terpelihara dengan baik. Di tengah benteng terdapat sebuah mesjid tua dan tiang bendera yang usianya seumur mesjid. Yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Buton III La sangaji Sultan Kaimuddin atau dikenal dengan julukan ‘Sangia Makengkuna’ yang memegang tahta antara tahun 1591 – 1597. Yang kemudian disempurnakan oleh Sultan Buton ke-6 La Buke tahun 1632 – 1645.

Benteng ini memiliki panjang 2.740 meter yang mengelilingi perkampungan adat asli Buton dengan rumah-rumah tua yang tetap terpelihara hingga saat ini. Masyarakat yang bermukim di kawasan benteng ini juga masih menerapkan budaya asli yang dikemas dalam beragam tampilan seni budaya yang kerap ditampilkan pada upacara upacara adat.

Warisan lainnya adalah sekitar 100 jenis kain tenunan khas Buton yang tercipta dari tangan-tangan terampil masyarakat buton. Selain itu terdapat Keragaman bahasa yang dimiliki masyarakat di wilayah Buton hingga mencapai ratusan jenis bahasa dengan dialek tersendiri yang tersebar di 72 wilayah (kadie). Namun, tetap komit menjadikan Bahasa Wolio sebagai bahasa yang dapat mempersatukan keragam itu. Damai dan penuh persaudaraan mewarnai kehidupan masyarakat. Hingga negeri ini selalu damai dan tenteram tak pernah terjadi perselisihan yang membawa perpecahan.

Nuansa Islami ditunjukkan oleh bentuk pemerintahan kesultanan dengan bahasa resmi yakni bahasa Wolio yang tertulis dengan aksara Wolio yang menggunakan huruf Hijahiyah Arab. Sebuah warisan leluhur yang tak terbantahkan. Namun sayang, keberadaan benteng Keraton serta berbagai keragam dan kekayaan budayanya seolah terlupakan oleh pandangan sejarah Nasional. Keunikan yang dimilikinya nyaris tak pernah mendapat pengakuan di mata dunia.

Letaknya yang strategis berada pada dataran tinggi menandakan bahwa para pendiri negeri ini dahulu kala memiliki peradaban. Konstruksi benteng yang sulit dipecahkan oleh kecanggihan teknologi juga patut menjadi bahan renungan bahwa kreativitas para leluhur Buton di masa lalu tak bisa dianggap remeh.

Next, dari ber-history-an, kita ke Pantaiiiiiii. Yeaaahhh!!!

PANTAI NIRWANA

Salah satu pantai di Kota Bau-Bau yang paling sering dikunjungi oleh masyarakat setempat ataupun  masyarakat luar. Terletak di Kelurahan Sulaa Kecamatan Betoambari 10 km dari pusat Kota Bau-Bau dan untuk mencapai lokasi ini sangatlah mudah, sekitar 10-15 menit dengan berkendaraan darat.

Dengan airnya 3 warna serta kondisi ombak yang tenang, pantai ini dilengkapi dengan gazebo serta kedai makanan dan minuman yang memberikan kepuasan tersendiri untuk berwisata bersama keluarga dan teman-teman kita. Selain memancing, kita dapat menikmati diving, swimming, maen volley pantai serta olahraga lainnya sambil menikmati deburan ombak dan hamparan pasir putih.

PANTAI KAMALI

Eitzzz. Tempat yang satu ini bukan seperti di Pantai Nirwana lho!

Pantai Kamali yang terletak di jantung kota, merupakan kawasan multifungsi  bagi masyarakat Kota Bau-Bau. Gimana gak dibilang multifungsi, keindahan Pantai Kamali tidak hanya dapat dinikmati kalo udah senja aja lho, pagi hari juga kalau matahari belum nongol. Di pagi hari dijadikan sebagai tempat senam dan jogging sambil nikmatin keindahan laut yang ada di depan mata. Juga sebagai tempat pertunjukkan seni dan budaya. Di Pantai Kamali yang punya patung Naga ini juga tersedia aneka makanan dan minuman yang disajikan oleh para pedagang lho. Jadi bisa makan sambil nikmatin scenery di sekitar kawasan itu. Hmm. Enaknya! Nyam. Nyam. Nyam.

BUKIT WANTIRO

Ini dia salah satu tempat favorit yang dijadikan sasaran masyarakat setempat untuk menikmati keindahan Kota Bau-Bau. Sama halnya dengan Pantai Kamali, di Bukit Wantiro juga tersedia aneka makanan dan minuman yang disajikan oleh parapedagang di sekitar kawasan itu. Yang beda, Pantai Kamali terletak di jantung kota, Bukit Wantiro terletak jauh, sekitar 7 km dari Pusat Kota Bau-Bau. Pemandangannya buat kita gregetan euy, apalagi kalau ada sunset, waaahhh, indahnya!

Berbagai Sumber.

6 thoughts on “Bau-Bau, What A Beautiful Place It Is!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s