Hujan Ini


Hujan.

Ketika awan mulai menghitamkan dirinya,

Aku takut.

Iya.

Takut untuk tidak bisa lagi melihat birunya langit.

Takut untuk tidak bisa melihat birunya lautan.

Takut untuk tidak bisa melihat hijaunya pegunungan.

Ketika awan hitam berkumpul.

Titik-titik air pun jatuh.

Seketika membuat suasana hari ini serasa begitu mencekam.

Kilat juga tiba-tiba nimbrung di dalam penglihatanku.

Dari segumpalan awan hitam, dia datang memberi cahaya yang menyeramkan untuk aku lihat.

Hujan semakin lama semakin deras saja.

Aku cuma bisa melihatnya dari balik jendela.

Pandanganku kabur.

Kapal-kapal dan pulau yang di depanku hilang.

Tertutup karena hujan yang begitu derasnya.

Tak ada sunset.

Tak ada anak-anak yang berenang di laut.

Tak ada teriakan-teriakan dari para nelayan.

Tak ada jet sky yang cuma numpang lewat, yang bisa aku lihat dari teras belakang rumah.

Tak ada sama sekali untuk hari ini.

Tidak ada.

Dalam suasana seperti ini.

Dengan hujan yang tidak bisa memperlihatkan keindahan-keindahan yang aku inginkan.

Mencoba untuk merangkai kata-kata yang berserakan di dalam pikiran ini.

Menjadi suatu kumpulan kalimat yang arahnya tidak jelas ke mana.

Mereka mengalir begitu saja.

Mengikuti perasaan yang tidak tahu ke mana arahnya.

Dan dalam hujan ini.

Aku larut dalam alunan nada-nada indah dari headphoneku.

Berharap keindahan yang aku tidak bisa temukan hari ini di luar sana, bisa aku dapatkan dari keindahan imajinasi yang aku ciptakan atas semua lagu yang aku dengar dan rasakan.

Semoga…

Kadolomoko, 8 Desember 2010.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s