Kebaikan Itu Ternyata Masih Ada


Beberapa hari yang lalu sempat perahu papa kan hilang. Kalau di Baubau, perahu itu sebutannya koli-koli. Hilangnya bukan karena diambil orang, tapi kebawa arus. Soalnya waktu malam itu (23/12), ombaknya besar sekali. Nah, pas paginya (24/12), KOSONG… Perahu gak ada di tempatnya. Sempat shock juga siyh. Disayangin soalnya. Biasa kan kalau hari libur atau lagi ada free time gitu, papa biasanya ngajakin kita keliling-keliling laut di sekitar belakang rumah. Ya udah, kita pasrahin aja. Toh kalau seumpama itu barang dibeli pakai uang halal, pada akhirnya akan kembali juga. Insya Allah.

Mau keliling laut naik perahu

Betul juga, tanggal 27 Desember kemarin, kan Ning lagi di teras belakang, lagi makan pagi. Di laut dengan sebuah perahu kecil, Ning dipanggil sama seorang bapak, kita biasa manggilnya Bapaknya Nta’ane.  Beliau tanya ke Ning, “Di mana pak guru?” *maklumlah, dulu papa adalah seorang guru. Tiba-tiba mama nongol. Ya udah, pembicaraan pun terjadi antara Mama dan Bapaknya Nta’ane, tapi tetap, Ning juga dengar apa yang dibicarain. 🙂 Ternyata, beliau memberitahukan di mana keberadaan perahu papa sekarang setelah hilang beberapa hari. *Syukur alhamdulillah, akhirnya perahu itu kembali.

Menurut penuturan beliau, perahu itu ada di Pulau Makasar. *Deh, jauh sekali terdamparnya. Ckckck… (Letak Pulau Makasar tepat berhadapan dengan rumah Ning), sekitaran 3km lah jaraknya.
Pagi itu juga papa ke Pulau Makasar (Puma). Tapi, sebelumnya papa ke Pantai Kamali dulu, nyewa katinti (Sejenis sampan yang digunakan sebagai alat transportasi) untuk sampai ke Puma.

Katinti

Padahal, katinti-katinti itu belum beroperasi, jadi papa harus nungguin beberapa saat, sampai pada akhirnya papa ngobrol-ngobrol sama salah satu pemilik katinti itu tentang perahunya yang hilang. Spontan, bapak pemilik katinti itu tahu tentang peristiwa itu. *gile, cepat juga tersebar beritanya! Kebetulan bapak itu tahu siapa yang nemuin perahu itu di pinggir pantai Liwuto itu (Puma). Nama bapak yang nemuin perahu papa itu bernama Pak La Huri. Nah, bapak pemilik katinti itu memberikan nomor HP Pak La Huri ke papa. Dan komunikasi di antara keduanya pun terjadi. Dan kata bapak itu, beliau akan bawa perahu papa setelah selesai urusannya di pasar.

Benar aja. Di loteng, Ning lagi menjemur *biasa habis mencuci pakaian.:p Ning lihat ada sebuah katinti sedang menuju ke sini *rumah Ning tampak belakang :D. Ning lihat-lihat, mana perahu papa nih? Kok nggak ada? Ternyata, bapak itu nyimpen perahu papa ke dalam katinti. Ckckck… Lanjut, papa dan bapak itu nurunin perahu dari dalam katinti dan papa ngucapin terima kasih dan ngasih uang ke bapak itu sebagai tanda terima kasih.

Papa dan Pak La Huri waktu ngangkat perahu dari Katinti

Menurut cerita yang Ning dengar dari papa, katanya, Pak La Huri nemuin perahu itu di tengah laut, jam 3 pagi. Ya udah, perahu itu dibawa ke pinggir pantai. Pikirnya, dengan begitu, sapatahu ada pemiliknya yang datang mencari perahu itu.

Thanks yah buat bapak yang udah nemuin perahu papa, Pak La Huri. Thanks banget. Trus, buat bapaknya Nta’ane dan nelayan-nelayan di sekitar rumah Ning, yang udah ngasih tahu tentang keberadaan perahu itu. Padahal, setelah Ning tanya-tanya ke papa, “Pak, kenapa bisa sih orang-orang pada tahu tentang peristiwa perahu papa yang hilang itu?”, Papa bilang, makanya cepat tersebar karena pembicaraan dari mulut ke mulut sesama para nelayan yang ada di sekitar rumah Ning. Otomatis, semua pada tahu.
Oh, gitu yah.

Ternyata, sikap masih saling peduli antar sesama masih tetap ada di sekitar kita. Sikap yang sesuai dengan Falsafah Pobhinci-bhinciki Kuli masih dipegang oleh sebagian masyarakat Buton. Sikap saling tolong-menolong antar masyarakat masih bisa terpelihara dengan baik. Semoga sikap-sikap ini akan lestari sepanjang masa di kalangan masyarakat Buton khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Iya, karena sedikit demi sedikit kita mulai condong ke sikap masyarakat perkotaan yang lebih bersifat individual, saling tidak peduli terhadap sekitar, dan bahkan sesama tetangga, kita tidak saling mengenal akibat kesibukan kita dalam pekerjaan demi kepentingan materi.

Advertisements

4 thoughts on “Kebaikan Itu Ternyata Masih Ada

  1. hmmmmm,,,, what a story! kalo bole tau tu di daerah mana yak?yup, betul. Kebaikan tidak akan pernah hilang ko, yang mulai “menghilang” adalah orang-orang yang seharusnya berbuat kebaikan itu. Seneng banget baca cerita kaya gini, ringan tapi dalem. U have great talent on writing. Salam kenal ya! Aslm.

    1. Ini di daerah Kota Baubau. di Pulau Buton, kk…
      Kebetulan kan rumah Ning di pinggir laut, jadinya, pas ombak besar, perahu papa hilang. Smpt panik jg sih.Hehehe… Untung ada nelyn2 itu…
      Iya. Iya… Orang2nya mulai menghilang…

      Hehhe… Alhamdulillah lah kalo gtu. Smoga bisa menjadi tulisn yg brmnfaat.
      Slm knal jg, kk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s