Gaya dan Pendekatan Belajar = Kecerdasan


C. GAYA DAN PENDEKATAN BELAJAR = KECERDASAN

  1. Mengenali Gaya Belajar

Orang suka bicara soal life style, gaya atau cara hidup, tetapi sangat jarang membicarakan gaya atau cara belajar, learning style. Dalam perspektif pembe­lajaran, karena hidup adalah belajar, maka gaya hidup yang dominan dalam sebuah masyarakat kiranya dapat dipahami sebagai pencerminan gaya belajar masyarakat tersebut.

Masyarakat Indonesia, misalnya. Pragma­tisme, materialisme, dan konsumerisme yang begitu kasat mata telah membuat sebagian besar anggota masyarakat hanya belajar kalau akan dapat “hadiah” atau karena “dipaksa” oleh ke­nyataan hidup. Belajar untuk dapat “hadiah” adalah gaya belajar “sarimin”, si topeng monyet yang mau disuruh menari ke sana kemari agar diberi kacang kesukaannya; atau gaya belajar lumba-lumba, yang bersedia menyundul bola dan menerobos lingkaran api agar diberi ma­kanan oleh pelatihnya seperti di Taman-Taman pusat kota; atau gaya belajar kekanak­kanakan, yang harus dibujuk dengan permen atau mainan supaya mau mengerjakan PR se­kolahnya. Celakanya, gaya belajar model “sari­min”, “lumba-lumba”, dan “kekanak-kanakan” itu masih dianut oleh sebagian besar anggota masyarakat usia dewasa, bahkan kaum elite yang bercokol di puncak-puncak kekuasaan negeri ini. Kalau tidak diiming-imingi sesuatu, entah itu uang, jabatan, atau popularitas, banyak orang tidak mau helajar sungguh-sungguh, tidak terus-menerus menambah pengetahuan, tidak meningkatkan keterampilan secara berkesinambungan, tidak berusaha menarik sebanyak mungkin pelajaran dari pengalaman hidup sehari-hari, dan tidak berupaya memper­baiki kinerja-prestasi secara serius.

Di samping gaya belajar “sarimin” dan “lumba-lumba”, gaya belajar kedua vang do­nunan dalam masyarakat pragmatis dan mate rialistis adalah gaya belajar “kepepet” atau “ter­paksa”. Kalau sudah dipaksa oleh keadaan, orang baru mulai belajar. Paksaan itu bisa da­tang dari orangtua, pengajar atau atasan, tetahi juga bisa dari peristiwa vang tidak menyenang­kan seperti di-PHK atau dipensiundinikan se­cara tiba-tiha, dirampok karena terlalu sering memamerkan kekavaan secara mencolok ketika masyarakat sedang susah, ditingk;al mati oleh penopang hidup keluarga, dilanda musibnh kebakaran atau banjir yang menelan hasil kerja bertahun-tahun dalam sekejap mata, clan sebo­gainya. Singkatnva, banvak orang baru sadar bahwa ia masih perlu banyak belajar kalau ia sudah kepepet oleh keadaan, kalau sudah dipaksa untuk berubah, kalau pilihannya sudah ekstrem seperti “belajar/berubah atau mati”.

Gaya belajar “sarimin” atau gava belajar kepepet” di atas lebih merupakan dramatisasi dari kenyataan vang menunjukkan bahwa masyarakat kita didominasi oleh orang-orang yang “susah belajar” (kata lain dari “antibelajar”). Ibarat orang yang masih dalam taraf “susah hidup” tidak sempat memikirkan “gaya hidup”, maka demikianlah orang yang “susah belajar” tidak sempat memikirkan soal gaya belajarnya. Belajar saja susah, apalagi memikirkan soal gaya”.

Umumnya dapat dikatakan bahwa orang yang tidak tahu gaya belajarnya adalah mereka yang masih sangat bergantung kepada “orang lain” dalam soal belajar. Mereka menanti di­cekoki, diberi tahu, dilatih, entah oleh orangtua, atasan, pengajar, atau pelatihnya. Tidak ada pe­ngetahuan diri yang cukup memadai dan ku­rang sekali inisiatif unhtk belajar secara mandiri, tanpa disuruh-suruh, tanpa ditunggui, tanpa diawasi, tanpa diiming-imingi “hadiah”. Kalau orang yang belum mampu belajar secara man­diri ini menjadi pejabat/manajer, maka ia akan menjadi pejabat/manajer yang selalu menunggu petunjuk dari bos/atasannya, atau yang sekadar Asal Bapak Senang (ABS).

Hemat saya, soal gaya belajar ini perlu di­kenali oleh setiap orang yang ingin menjadi pembelajar mandiri (independent learner), yang ingin menjadi “manusia bebas” dalam arti terbebas dari kttngkungan pengajar clan pelatili formalnya (entah di sekolah, universitas, atau­pun di perusahaan dan dunia kerja lainnva). Sebab dengan mengetahui gaya belajarnya, se­seorang dapat mengambil inisiatif mempelajari sesuatu yang sesuai dengan minat, bakat, po­tensi, dan talentanya. Dengan demikian, ia da­pat mengembangkan dirinya terus-menerus, baik ketika masih duduk di bangku sekolah for­mal, terutama dalam kehidupan sehari-hari di luar lembaga-lembaga pengajaran dan pelatihan itu. Singkatnya, mengenali gaya belajar pribadi merupakan sesuatu yang perlu, meski belum mencukupi untuk da­pat memanusiawikan diri sendiri secara terus­ menerus.

kita dapat mengenali sedikitnya ada tiga gaya belajar, yakni:

(1)    gaya visual, yakni pembelajar yang dapat belajar secara lebih efektif jika mempergunakan penglihatan fisiknya,misalnya dengan membaca, mengamati, menonton video/film, dan segala cara yang melibatkan indra penglihatannva;

(2)    gaya auditori, yakni pembelajar yang lebih cepat belajar dengan cara berbicara clan mendengarkan (termasuk membaca dengan bersuara keras), atau berdialog dengan orang lain (termasuk wawancara), dan cara lain yang intinya melibatkan telinga secara aktif;

(3)    gaya kinestetik, yakni pembelajar yang belajar dengan cara menggerakkan tubuhnya, mengalami secara langsung, aktif secara fisik, terjun ke lapangan, mencicipi dan merasakan, dsb.

(4)    gaya belajar intelektual-belajar dengan berpikir dan membayangkan, menciptakan model mental, merenung, dan sebagainya.

Honey dan Mumford dalam The Manual of Learning Style (1986) menawarkan empat gaya belajar yang patut diduga dikaitkan dengan empat bentuk dasar kepribadian manusia (sanguin, flegmatik, kolerik, dan melankolik), yakni:

(1)   gaya belajar aktivis yang ditandai dengan keterbukaan pikiran dan antusiasme yang tinggi;

(2)   gaya belajar pragmatis yang meng­utamakan pemecahan masalah secara “membumi”;

(3)   gaya belajar teoretis yang meng­utamakan logika dan analisis; serta

(4)   gaya belajar reflektif, suka memer­hatikan, menyimak, dan mengamati untuk direnung-renungkan.

Untuk lebih memantapkan efektifnya gaya belajar maka seharus para pembelajar juga harus memilih atau mencari waktu yang tepat dan tempat yang menyenangkan untuk menerapkan gaya belajar yang menjadi favorit.

SmartorKids mengidentifi­kasi tujuh gaya atau pendekatan belajar yang berguna bagi orangtua maupun pengajar sc­kolah, yakni:

(1)   pendekatan dengan sentuhan fisik. Pada intinya gaya belajar model ini sangat mengandalkan gerak tubuh. Orang atau anak-anak yang suka bermain sambil belajar, menggerakkan anggota tubuhnya, tak bisa duduk diam adalah mereka memiliki gaya belajar ini. Kelak mereka mungkin lebih baik memilih karier yang dalam praktiknya memerlukan gerak tubuh seperti penari, olahragawan/wati, dan dunia seni rupa.

(2)   pendekatan intrapersonal. Orang atau anak-anak yang memiliki kecenderungan belajar intrapersonal umumnya lebih suka menyendiri, meski mereka tidak antisosial. Mereka bisa berhubungan dengan orang lain, hanya saja dalam soal belajar mereka lebih suka menyendiri. Mereka cenderung memecahkan persoalamya secara mandiri, tanpa melibatkan orang lain.

(3)   pendekatan interpersonal. Orang atau anak-anak yang suka berkelompok, memecahkan masalah temannva bersama­sama, adalah mereka yang belajar dengan cara ini. Pendekatan belajarnya adalah kooperatif. Kelak anak-anak yang senang belajar dengan cara interpersonal ini dimungkinkan untuk berhasil dalam karier sebagai konsultan, pengajar, politisi, pelatih, pengelola bisnis, dan entertainer.

(4)   pendekatan bahasa. Orang atau anak­anak yang sangat menyukai kegiatan membaca buku dan menulis menunjukkan gaya belajar. Dongeng, cerita, penjelasan verbal sangat mereka sukai. Kelak mereka mungkin akan sangat berhasil dalam karier sebagai jurnalis, penyunting, dosen, atau penulis naskah.

(5)   pendekatan matematis. Orang atau anak-anak yang menyukai segala sesuatu yang memerlukan perhitungan, angka, garis, dan logika, adalah mereka yang belajar dengan cara ini.

(6)   pendekatan musik. Orang atau anak­ anak yang belajar dengan cara ini menun­jukkan respons spontan bila mendengarki, suara musik atau iwanvian. Mereka menyukai suasana riang.

(7)   pendekatan visual. Orang atau anak­anak vang belajar dengan cara ini menyukai tampilan dalam bentuk gambar, tontonan, yang tampak secara visual.

Pemahaman mengenai gaya belajar secara langsung dihubungkan dengan potensi pembelajar itu sendiri. Karena itu gaya belajar jangan dipaksakan, tetapi harus dikenali agar dapat dikembangkan secara baik. Dari penjelasan mengenai bermacam-ma­cam gaya belajar di atas, secara umum dapat di­katakan bahwa gaya belajar seseorang sangit dipengaruhi oleh kepekaan indranva (rnata, telinga, kulit, lidah, hidung), corak kepribadian yang mencakup minat dan bakatnya, juga as­pirasi atau cita-cita hidupnya, serta persepsinya tentang makna belajar. Sementara dalam kon­teks masyarakat, gaya belajar “kolektif” yang dominan boleh jadi sangat ditentukan oleh ke­budayaan, sistem sosial politik, serta struktur sosial ekonomi yang ada (model “sarimin” dan “kepepet” adalah contohnya yang negatif).

Saya kira setiap orang bisa belajar dengan berbagai macam gaya tersebut, namun salah satu atau beberapa gaya akan lebih dominan ketimbang lainnya. Orang lain atau teman, misalnya, lebih mudah belajar dengan pendekatan auditori­kinestetik atau gaya pragmatis, sementara sebagian orang lebih suka visual-auditori dan aktivis-reflektif. Atau adik kita, lebih awal menun­jukkan kecenderungan untuk belajar dengan pendekatan sentuhan fisik-musik-interpersonal; sementara adiknya lebih cenderung intraperso­nal-matematis-bahasa. Pada titik ini mungkin perlu ditegaskan pu­la bahwa tidak ada gaya yang lebih baik di an­tara semua gaya itu. Semua gaya belajar itu pada dasarnya baik. Yang penting, si pembelajar me­mahami gaya belajarnya masing-masing sehing­ga dapat belajar secara lebih efektif dan lebih sesuai dengan keunikan dirinya sebagai anak.

2. Kecerdasan

Sama seperti “belajar” memiliki begitu banyak pengertian dan definisi yang ditawarkan, demikian juga halnya de­ngan kecerdasan atau intelligence. Di an­taranya adalah:

Cerdas berarti sempurna perkembangan akal budinya (pandai, tajam pikiran, dsb.); sempurna pertumbuhan tubuhnya (seperti sehat, kuat, dsb.).WJS Poerwadnrmintn

Kecerdasan adalah kualitas bawaan sejak lahir, sebagai hal yang berbeda dari kemampuan yang diperoleh melalui pengalaman individual. Encyclopedia Britannica

Kecerdasan adalah kekuatan dari persepsi, pembelajaran (learning), pengertian, dan pengetahuan; suatu kemampuan mental. -A.S. Hornby

Kecerdasan adalah kemampuan untuk menerapkan pengetahuan yang sudah ada untuk memecahkan masalah-masalah baru; tingkat kecerdasan diukur berdasarkan. Donald

Kecerdasan adalah kemampuan untuk melakukan pemikiran abstrak. Lewis M. errnnn

Kecerdasan adalah kualitas bawaan sejak lahir, sebagai hal yang berbeda dari kemam­puan yang diperoleh melalui proses belajar. -Herbert Spencor

Kecerdasan adalah kecakapan untuk bertindak secara sengaja, berpikir secara rasional, dan berhubungan secara efektif dengan lingkungan. -D. Weclvsler

Kecerdasan adalah kemampuan untuk menghadapi masalah dengan sikap yang tak terprogram (kreatif). -Stephen J. Gould

Kecerdasan adalah kemampuan untuk mengambil sikap yang tepat dalam menghadapi situasi lingkungan.-Robert Franklin

Tujuh jenis kecerdasan, dalam buku Intelligence Refrntrud (1999) :

(1)   kecerdasan verbal-linguistik, terutama berhubungan dengan bahasa, aktivitas membaca dan menulis. Kita menyaksikan jenis kecerdasan ini pada penulis, penyair, dramawan, ahli pidato, dsb;

(2)   kecerdasan matematis-logis, terutama diasosiasikan dengan kemampuan berpikir “ilmiah”, logis, dan runtut, sebagaimana didemonstrasikan antara lain oleh mereka yang menekuni profesi sebagai ilmuwan, akuntan, bankir, ahli hukum, ahli matematika, dsb;

(3)   kecerdasan visual-spasial, terutama berhubungan dengan seni-seni visual seperti melukis, menggambar, memahat, membuat peta, merancang desain interior, arsitektur, dsb;

(4)   kecerdasan kinestetik-jasmani, ter­utama ditunjukkan lewat kemampuan olah tubuh/otot dan ketangkasan fisik seperti yang didemonstrasikan oleh para penari, atlet renang, lari, bela diri, sepeda, dsb;

(5)   kecerdasan musikal-ritmik, terutama ditandai oleh kepekaan terhadap bunvi­bunyian, pola nada dan irama, yang antara lain dimiliki oleh musisi, penyany_ i, dan pekerja musik lainnya;

(6)   kecerdasan intrapersonal, terutama berhubungan dengan pengetahuan diri, intuisi, kesadaran diri, refleksi, sebagai­mana patut diduga dimiliki oleh ahli filsafat, rohaniwan, psikiater, dsb;

(7)   kecerdasan interpersonal atau “sosial”, terutama berhubungan dengan kemam­puan bergaul dengan banyak orang, memahami dan berempati atau berkomu­nikasi dengan orang lain, seperti yang mungkin dimiliki oleh politisi, pemasar/ penjual, dsb;

(8)   kecerdasan naturalis, yakni kemam­puan membedakan atau mengelompokkan jenis-jenis flora dan fauna serta bangun­bangun alam dan awan, seperti yang dimilik ahli biologi, zoology dan pawang

Sedangkan menurut Goleman kecerdasan atau kecakapan terbagi dari dua yakni kecapan pribadi dan kecakapan sosial.

Kecakapan pribadi terdiri dari tiga unsur:

Pertama, kesadaran diri-mengetahui kondisi diri sendiri, kesukaan, sumber daya, dan intuisi. Orang yang memiliki kesadaran diri tinggi adalah mereka yang memiliki (a) kesadaran emosi, mengenal emosi diri sendiri dan efeknya; (b) penilai­an diri secara teliti, mengetahui kekuatan dan batas-batas diri sendiri; (c) percaya diri, memiliki keyakinan tentang harga diri dan kemampuan sendiri;

Kedua, pengaturan diri-mengelola kondisi, impuls, dan sumber daya diri sendiri. Kemampuan mengatur diri ini terutama ditandai oleh (a) pengendalian diri, mengelola emosi-emosi dan desakan­desakan hati yang merusak; (b) sifat dapat dipercaya, memelihara norma kejujuran dan integritas; (c) kewaspadaan, bertang­gung jawab atas kinerja pribadi;

(d) adaptabilitas, keluwesan dalam menghadapi perubahan; dan (e) inovasi, mudah menerima dan terbuka terhadap gagasan, pendekatan, dan informasi­informasi baru;

Ketiga, motivasi-kecenderungan emosi yang mengantar atau memudahkan proses pencapaian sasaran. Motivasi mencakup (a) dorongan prestasi, yakni dorongan untuk menjadi lebih baik atau memenuhi standar keberhasilan; (b) komitmen, menvesuaikan diri dengan sasaran kelompok atau perusahaan; (c) inisiatif, yakni kesiapan untuk memanfaatkan kesempatan/peluang; dan (d) optimisme, kegigihan dalam memperjuangkan sasaran kendati ada halangan dan kegagalan.

Sementara apa yang disebut Goleman se­bagai kecakapan sosial terdiri dari dua unsur lainnya, yakni:

Pertama, empati-kesadaran terhadap perasaan, kebutuhan, dan kepentingan orang lain. Empati mencakup (a) mema­hami orang lain, mengindra perasaan dan perspektif orang lain, dan menunjukkan minat aktif terhadap kepentingan mereka; (b) orientasi pelayanan, mengantisipasi, mengenali, dan berusaha memenuhi kebutuhan pelanggan; (c) mengembangkan orang lain, merasakan kebutuhan perkembangan orang lain dan berusaha menum­buhkan kemampuan mereka; (d) mengatasi keragaman, menumbuhkan peluang mela­lui pergaulan dengan bermacam-macam orang; dan (e) kesadaran politis, mampu membaca arus-arus emosi sebuah kelom­pok dan hubungannya dengan kekuasaan.

Kedua, keterampilan sosial-kepintaran dalam menggugah tanggapan yang dikehendaki pada orang lain. Keterampilan sosial ini mencakup (a) pengaruh, taktik­taktik untuk meyakWkan orang; (b) komu­nikasi, mengirimkan pesan yang jelas dan meyakinkan; (c) kepemimpinan, membang­kitkan inspirasi clan memandu kelompok dan orang lain; (d) katalisator perubahan, memulai clan mengelola perubahan; (e) manajemen konflik, negosiasi dan pemecahan silang pendapat; (f) kolaborasi dan kooperasi, kerja sama dengan orang lain demi tujuan bersama; dan (g) kemam­puan tim, menciptakan sinergi keiompok dalam memperjuangkan tujuan bersama.

 *materi disusun oleh Pak Ld. Supardi, M.Pd.

Advertisements

2 thoughts on “Gaya dan Pendekatan Belajar = Kecerdasan

  1. Pingback: anggipuspita1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s