Status di Dalam Mobil


Mobil kami berhenti di sekitar Pasar Karya Nugraha karena sepupu saya ingin berbelanja bulanan. Malam hari. Dengan tenaga yang tersisa, yang dari tadi beraktivitas di luar rumah dari jam 9 pagi hingga jam 10 malam, saya hanya bisa menunggu di dalam mobil dan membiarkan jari-jari ini mengarahkan tujuannya pada media social network di handphone saya. Bosan. Iya, rasanya bosan. Bertemu terus menerus dengan si media social ini, tapi masih ingin saja bertemu. Aneh ya.

Tidak sengaja menengok ke luar jendela mobil, eh ada mas penjual kue putu. Waah, banyak yang lagi mengantri. Saya mau ikut bergabung juga. Sayang, rasa-rasanya uang saya habis karena siang tadi. Terpaksa, cuma bisa melihat. Menengok lagi, eh ada Teh Poci. Sudah lama tak merasakan nikmatnya setelah pulang dari Makassar kemarin. Mau beli. Lagi dan lagi. Uang saya habis. Saya cuma bisa menertawai diri sendiri. Manusia, manusia, manusia. Banyak keinginan tapi modalnya tidak ada. Iya, sama seperti saya. Untungnya saya masih bisa mengendalikan keinginan itu lewat kesabaran dengan hanya melihat-lihat saja.

Sempat terpikirkan. Di sekitar saya, malam itu, semua orang kerja. Melakukan pekerjaan untuk hidup. Untuk bertahan hidup. Lewat apa yang saya rasakan malam itu, saya pun mengupdate status:

“Orang bertahan hidup dengan caranya sendiri-sendiri. Kalau tidak bisa survive, resikonya gila, bunuh diri atau mati secara perlahan-lahan. Keras kehidupan, kawan.”

 

Iya kan? Orang bertahan hidup dengan caranya sendiri-sendiri. Caranya pun itu berbeda. Ada yang halal, ada yang tidak halal. Itulah manusia. Kadang tidak bisa membedakan cara yang baik di antara yang ada. Kalau tidak bisa beradaptasi dengan situasi kehidupan yang keras ini, kita bisa saja mati dengan cara yang halus. Stress, sakit, kemudian mati. Makanya, ada teman saya bilang kalau hidup itu harus dinikmati. Enjoy saja. Sebetulnya bisa sih untuk enjoy enjoy saja. Tapi, tergantung orangnya juga. Kalau bisa, ya enjoy. Kalau orangnya tidak bisa enjoy, ya pastinya stress.

Baiklah, saya tidak mau membahas terlalu jauh. Nanti saya menulisnya bertele-tele lagi. Yang jelas, semua kembali pada diri kita sendiri. Bagaimana caranya tenang dalam segala situasi nyata yang sebenarnya sulit seperti ini. Tentunya tak lupa kalau ada Allah di samping kita. Teruslah bertakwa padaNya selagi masih sanggup hingga akhirnya ajal akan menjemput kita semua. Karena saya butuh Allah. Kalian?

Advertisements

2 thoughts on “Status di Dalam Mobil

  1. Tentu, saya masih butuh Allah. 😥

    Allah tidak butuh kita, manusia, untuk keberadaannya. Kitalah yang butuh Allah. Tanpa Allah, kita tak bisa apa-apa. Rapuh. Kerdil. 😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s