Ini tentang Habibie & Ainun


Cover Buku. Sumber gambar dari sini.

Judul Buku      : Habibie & Ainun
Penulis              : Bacharuddin Jusuf Habibie
Terbitan           : PT. THC Mandiri (Cetakan Kedua, Desember 2010)
Tebal Buku     : xii + 323 halaman
Ukuran Buku : 14 cm x 21 cm
ISBN                  : 978-979-1255-13-4
Harga                 : Rp. 80.000

Pertama kali melihat buku ini pada saat saya berada di Makasar tahun lalu. Dipajang pada etalase Gramedia di Mal Panakukang. Saya tertarik untuk membaca sebagian isi dari buku ini. Jika saya punya banyak waktu, mungkin saya akan berdiri ataupun duduk lama untuk membaca buku ini. Dengan segala keikhlasan hati, saya segera menyimpan buku ini kembali ke tempatnya semula dan membiarkan mata saya liar melihat buku-buku lain yang menarik hati saya.

Beberapa kali saya mondar-mandir melewati Habibie & Ainun karena mata saya tak bisa alpa melihatnya. Saya memang punya maksud untuk membelinya. Apa daya, pada saat itu kecukupan materi saya belum dapat saya penuhi. Dan terpaksa saya hanya bisa melihat-lihatnya. Saat itu, saya berjanji, jika suatu saat nanti saya sudah memiliki cukup materi, saya akan membelinya. Iya. Saya akan memilikinya.

Terbukti, 19 November 2011, saya meminta tolong kepada saudara kandung saya yang kuliah di Makasar, Arini, untuk membelikan saya Habibie & Ainun. Alhamdulillah. Totto Chan dan Habibie & Ainun, buku yang saya nanti-nantikan kehadirannya, bisa menjadi milik seorang yang haus akan materi yang termuat di dalam buku-buku tersebut seperti saya. Alhamdulillah. Trima kasih ya Allah.

Habibie & Ainun. Buku yang memuat kisah hidup perjalanan dua insan yang saling mencintai, memiliki, menyayangi dan menjadi manunggal satu sama lain karena Allah SWT. Perjalanan hidup dalam kisah cinta, politik, sejarah, teknologi, bangsa dan negara Republik Indonesia, tertuang dalam buku ini. Bagaimana Pak Habibie selalu melewati hari-harinya bersama Ibu Ainun yang selalu setia mendampingi. Dengan senyuman yang selalu menenangkan Pak Habibie. Dengan tidak pernah mengeluh kepada Pak Habibie, Ibu Ainun selalu bisa tampil menjadi istri sekaligus ibu yang sebaik-baiknya bagi Pak Habibie dan anak-anaknya. Perjalanan hidup di dalam dan di luar negeri Pak Habibie bersama ibu Ainun, bagaimana ketika mereka hidup di rantau a.k.a di Jerman hingga menemani ibu Ainun pada saat terakhir di dunia. Beliau ceritakan secara detail dalam buku ini. Memang ya, perjuangan menjadi orang sukses harus dimulai dari bawah oleh orang-orang yang memiliki tekad kuat untuk menggapai apa yang menjadi impiannya.

Cita-cita mulia mereka kepada kemajuan bangsa Indonesia untuk sejajar dengan negara-negara maju lainnya menjadi landasan Pak Habibie agar selalu tidak menyerah pada setiap keadaan yang mengganggunya. Pesawat N-250 Gatotkoco menjadi salah satu buktinya. SDM Indonesia harus kita bangun, teman-teman!!! Dan berkat ibu Ainun dengan senyuman ketenangannya yang bisa membuat Pak Habibie selalu tenang dalam melewati hari-harinya. Yang pada akhirnya, Ibu Ainun harus pergi terlebih dahulu meninggalkan Pak Habibie, keluarga, dan seluruh rakyat Indonesia. Mungkin tanggal 22 Mei 2010, hari kepergian Ibu Ainun ke dimensi lain, saya belum merasakan kesedihan yang mendalam. Malah tidak mengeluarkan airmata setitikpun. Hanya ucapan belasungkawa dari dalam hati bagi beliau. Namun, ketika saya membaca buku ini, saya harus membasahi halaman 299 dengan setitik air mata saya yang tidak sengaja jatuh membasahi kertas buku ini. Selamat jalan, Ibu Ainun. Semoga engkau ditempatkan di sisi terindah olehNya. Aamiin.

Terkadang, saya terinspirasi oleh kehadiran ibu Ainun dari cerita yang Pak Habibie tuliskan di buku ini. Yang kata Pak Habibie, Ibu Ainun itu tidak pernah mengeluh kepada beliau. Selalu saja tersenyum dan menandakan bahwa tidak ada apa-apa yang terjadi. Hanya dengan melihat wajah dan senyumannya saja, Pak Habibie sudah merasakan ketenangan untuk tetap melakukan aktivitas yang super duper padat. Ibu Ainun tidak pernah mengeluh. Saya jadi terpikir, kalau suatu saat nanti saya menjadi istri orang, akankah saya bisa menjadi seperti seorang ibu Ainun? Walaupun tidak menjadi sama persis dengan sifat ibu Ainun. Sedikitnya, ada lah sifat baik yang saya bisa aplikasikan dalam kehidupan rumah tangga saya nanti. Saya ingin sekali menjadi seperti ibu Ainun. Tidak pernah mengeluh dan hanya selalu memberikan ketenangan dan kedamaian bagi sang suami. Akankah saya bisa menjadi istri yang baik bagi suami saya nanti? Mmm. Tak bisa saya prediksikan. Tapi, keinginan seperti itu pasti ada. Menjadi istri bagi suami dan ibu bagi anak-anak yang baik. Aamiin. -___-

Masalah kekurangan dari buku ini, mungkin cuma dari kesalahan penulisan saja. Masih ada beberapa kata di beberapa lembaran dengan kesalahan penulisan. Tapi, tidak mempengaruhi makna kesatuan kalimat-kalimatnya.

Akan lebih panjang lagi ketika saya harus menceritakan kembali apa yang saya telah baca dari buku ini. Yang pada intinya, buku ini berhasil membuat saya nangis (lagi). >.< TERHARU…

Pasangan hidup yang telah manunggal jiwa dan raganya.

Inspirasi bagi pasangan suami-istri yang rumah tangganya dibangun dengan cinta dan kasih sayang yang tulus karena Allah SWT.

Inspirasi bagi anak muda sebagai SUMBER DAYA MANUSIA yang HARUS BERKUALITAS untuk mengangkat jati diri Bangsa Indonesia dari keterpurukan yang sering menjatuhkan martabat Indonesia. Karena kita BISA!!! Indonesia BISA!!! 😉

Terima kasih, Pak Habibie, atas tulisan di Habibie & Ainun ini. Buku Anda menginspirasi saya sebagai anak muda Indonesia.

Advertisements

4 thoughts on “Ini tentang Habibie & Ainun

  1. Sama kaya komennya Una dan Mba Lidya, belum baca juga. Stok buku masih banyak juga. T.T
    Makasih ya Ning dah direview in. Hehehe. Lama ga mampir kesini. Mohon maap lahir batin yaa 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s