Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin – Tere Liye


24062013(003)

Judul: Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Pengarang: Tere Liye
Tebal: 264 halaman
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: IX, Maret 2013

Menahan perasaan kepada seseorang yang sangat dicintai adalah sakit. Ingin kata berucap, tapi tidak mampu melakukannya, bibir pun seakan tertutup untuk mengatakannya. Hanya dengan dipendam, maka perasaan itu akan tumbuh sendirinya tanpa ditahu. Didiamkan.

Bagaimana dengan perasaan ini? Tersiksa. Bukan fisik yang terluka, tapi hati. Jiwa yang abstrak ini sulit untuk ditemukan obat penyembuhnya. Dan ketika terlambat, semuanya akan menjadi salah.

Terluka untuk diri sendiri, sekaligus menyakiti orang lain. Semuanya akan terlihat nampak runyam. Bagaimana ini? Bagaimana dengan perasaanku? Bagaimana dengan perasaannya? Bagaimana dengan perasaanmu?

Tere Liye merangkai alur cerita ini menjadi cerita cinta yang cukup rumit. Cukup rumit untuk dimengerti. Kenapa harus ada DIAM dalam cerita ini?

Pesan-pesannya dalam cerita ini membuat saya speechless.

Berhasil membuat air mata ini keluar (lagi). Ah, Bang Tere. Kata-katamu membuat hatiku melankolis. “Bukan bekerja dan menanggung beban hidup orang dewasa… Bukan menanggung beban pikiran yang belum tiba masanya…” (2013; 59). Anak-anak yang hidup di jalanan. Penuh perjuangan mendapatkan sesuap nasi. Menjadi pengamen dari bus ke bus. Bisa dibayangkan hidup yang seharusnya mereka lalui dengan bermain, bersekolah. Harus tergadaikan dengan ‘keras’nya hidup yang mereka alami. Yang kadang sudah tidak memiliki orang tua. Apa kabarnya saya? Harusnya saya malu kepada mereka. Sering sekali mengeluh atas kesusahan hidup yang ringan yang saya alami. Mama, Papa, maafkan saya atas ketidakbaikan hati ini kepada kalian berdua. Kata-kata Tere Liye semacam ini seperti menjadi cambukan bahwa “Ning, kamu beruntung sekarang. Ayo, gunakan waktumu sebaik mungkin. Haruskah waktumu terbuang sia-sia dengan ketidakjelasan perasaan terhadap orang-orang yang telah menyakitimu? Sementara, masih ada orang-orang penting yang percaya akan kemampuanmu yang bisa membanggakan mereka karena telah menjadi bagian penting dari sebagian besar perjalanan hidupmu.”

Menurut saya, di dalam novel ini, Tere Liye mengajarkan sebuah kebijaksanaan hidup.

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya.

Hidup ini akan terus berjalan. Sebahagia apapun, sesedih apapun yang kita jalani. Semua itu sudah menjadi bagian dari jalan Allah atas apa yang kita putuskan dan lakukan untuk hidup kita. Ya, kita harus hadapi, bukan berlari menghindar.

Bang Tere Liye. Kenapa harus ada kisah yang serumit ini?

Hmmm. Buku ini. Novel ini. I’m speechless. 😥

Advertisements

19 thoughts on “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin – Tere Liye

    1. Hehe. Betul skali, Mas Cahya.
      Walaupun disakiti bagaimanapun oleh angin, ketika dia ikhlas dengan semuanya, ya, sudah. Terjadi, terjadilah. Daun memng hrus nerima konsekuensix…
      Krn sdh menjadi plihanx…

    1. iya, mbak ratna.
      Hehe. Iya. sy jg krg suka sm sikapx Mas Danar. Knp hrus dia sembuxiin. Kan dy cowok. Bkn cewek. Urusan dtrm atw ditolk kan bs blkgan, tp yg pnting udh diungkapkan. 😦

      1. gag sih.. tapi rasanya ceritanya kurang real. hehe.. sy 2 kali baca buku tere liye yg pertama dulu bidadari2 surga jg gtu, gag real aja. terus penyebutan umur berulang- ulang sebagai penghubung kejadian membuat monoton. hehe.. gitulah.. 😀 makanya kl tere liye sy leih suka pinjam, hihi

  1. Memang, ketika membacanya 3 bulan lalu, saya pun masih terperangai oleh kisahnya.

    Perjuangan seorang perempuan yang patut untuk di cemburui semangatnya.

    Menahan cinta yang selalu membelenggu dalam hatinya.

    Namun dia hebat, dia percaya, dan dia pintar untuk mengaturnya, demi kebahagiaan orang yang di cintainya.

    Mbk Nining, salam kenal dari Jember. Selamat bersahabat.

  2. skenario kehidupan di novel saja sebegitu dahsyatnya, apalagi skenario kehidupan yang sesungguhnya.. cuma kadang kita tidak menyadari. 🙂

    nice review mbak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s