This Blog Saves Me


Saya boleh dibilang adalah orang yang bertipe introvert, namun kadang menjadi seorang yang ekstrovert. Tergantung situasi di mana saya berada dan posisi saya sebagai apa dalam sebuah komunitas sosial. Kata teman saya, Eldhy, kalau di antara kedua sifat itu ada namanya Ambivert. (Thanks inputnya, Dhy.) Namun, ketika ada keresahan atau kegembiraan, saya tidak bisa memendamnya sendirian. Apalagi ketika hal tersebut condong pada suatu permasalahan. Saya harus mengutarakannya entah itu kepada teman yang dipercaya ataupun menuliskannya di sebuah media sosial, alias blog pribadi saya, walaupun kadang tidak secara blak-blakan.

Entah sejak kapan kepercayaan diri saya muncul ketika harus menuliskan apa yang ada di dalam pikiran dan perasaan saya tentang suatu masalah yang dihadapi ke dunia maya ini. Bukan untuk mencari pengakuan terhadap orang-orang bahwa saya bisa menulis atau cerita saya ingin dibaca/ditahu orang-orang. Walaupun kebanyakan isi tulisan ini masih terlalu bersifat ‘personal dan informal’ writing.  Saya merasa nyaman saja untuk mengutarakannya lewat blog. Mungkin karena sudah kebiasaan menulis pengalaman sehari-hari di sini. Entah itu yang bersifat menarik ataupun yang membosankan. 🙂

source: google.com

Menurut saya, keberadaan blog ini menjadi salah satu penyelamat mental saya. Bagaimana perasaan ini terselamatkan oleh tulisan-tulisan yang mengalir begitu saja dari dalam pikiran. Bagaimana tulisan ini setidaknya menyembuhkan perasaan saya yang sedang bimbang terhadap suatu masalah. Bagaimana saya meluapkan kebahagiaan di tengah-tengah orang yang menyayangi saya. Jari-jari ini tidak berhenti untuk mengetik dan merangkai kata menjadi deretan kalimat dan akhirnya menjadi sebuah artikel tentang apa yang ada di dalam pikiran saya. Saya merasa lega karena dapat menulisnya, saya merasa bersyukur karena dapat mengukirnya lewat tulisan, dan saya bahagia karena ini salah satu alternatif untuk melatih mental bagaimana menyikapi suatu keadaan. Terima kasih, Allah. 🙂

Tulisan ini saja masih belum ditahu arahnya ke mana. Seperti apa yang telah digambarkan oleh Kaplan, tipe komunikasi orang Asia cenderung berputar-putar, dibanding dengan orang barat yang cenderung bersifat straightforward. Yah, that’s variety of communication.

Saya bersyukur dapat memperoleh fasilitas seperti ini. Memiliki sebuah netbook dan jaringan internet, ditambah dengan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik yang baik, hingga akhirnya karya informal saya pun lahir. Yaa, seperti tulisan yang teman-teman baca sekarang ini. 🙂 Secara tidak langsung, karya ini menjadi saksi perjalanan hidup saya. Bagaimana saya menghadapi kehidupan yang terus bergulat dengan sederet emosi yang beragam dengan tetap menjadikan diri sebagai agen Islam yang baik. Ini luar biasa.

Terima kasih sudah membaca postingan ini, teman. Semoga ada manfaatnya walaupun itu sedikit. 🙂

Advertisements

14 thoughts on “This Blog Saves Me

  1. Betul sekali kak… menulis itu juga kan semacam apa yaa, kata orang sih writing can heal you hehehe.

    Keep writing kak! 😀 I’ll be your reader in my free timeee yuhuuu~~~

  2. hallo nining, kalo extrovert dan introvert itu dari yg prnh z bca namanya ambivert, hohooo, sedikit share, like it ninggg, keep writing 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s