Kegalauan (Bukan) Anak Kura-Kura


image

Semuanya akan indah pada waktunya.
‘Pada waktunya’ bukan berarti hanya menunggu dan tanpa usaha.
Karena ‘akan indah pada waktunya’ mengandung arti ketika kita telah melakukan segala sesuatunya dengan baik agar tujuan tercapai, maka waktu yang dinanti tersebut akan datang.
Sebagai contoh, saya sebagai mahasiswi tingkat akhir yang menginginkan untuk segera dinyatakan sebagai alumni.
Tidak mungkin kan saya hanya mengatakan indah pada waktunya dan usaha saya tidak ada. It cannot work.
Iya, memang akan indah, tapi waktunya? It will need long time to come into that time. I don’t want. šŸ˜„

Menganggap diri seperti kura-kura karena saya merasa lambat untuk masalah tesis ini. Judul tesis saja masih belum jelas. Perasaan deg-degan bertemu pembimbing itu merupakan momen yang krusial sekali. Bertemunya bapak dan anak dalam membahas penelitian, teori dan fenomena tentang pendidikan menjadikan saya seperti orang yang duduk di pojokkan sambil menundukkan kepala di ruang gelap. Suram!

Bukan salah pembimbing saya, tapi salah saya sendiri. Masih takut, masih belum percaya diri, dan masih kurang ilmunya. Saya harus banyak membaca, membaca, membaca dan membaca. Artikel jurnal ini, artikel jurnal itu. Semuanya serba butuh usaha dan pengorbanan.
Allah, keluarga, sahabat dan media sosial adalah salah satu komponen penting yang tidak dapat dipisahkan sebagai supporter saya dari penatnya kehidupan dunia tesis. Beribu motivasi diri juga sudah dipush untuk tetap on fire. Memahami posisi diri sendiri pun harus sering-sering disadari. Sebagai anak pertama, sebagai yang dicontoh, dan sebagai yang diharapkan untuk segera menyelesaikan kuliah sesegera mungkin. Galaunya tuh dapat bangetttt… šŸ˜³
Mamaku sayang, tolong doakan anakmu ini supaya segera ujian proposal lalu pulang ke Baubau meneliti. Karena rasa-rasanya mau pulang dulu eee… Seperti sesak napas karena belum ujian proposal…

Segini amat ya kalau mau jadi Magister. Butuh air mata. šŸ˜„ Tapi sebagian yang telah melewati masa-masa ini pasti tidak pernah mengalami seperti apa yang saya alami. Bagaimana tidak, sebelum kuliah sudah ada persiapan sebelumnya. Na saya? Salah satu contoh mahasiswa yang kurang baik. Jangan dicontoh. Saya bukan mahasiswa yang hebat. Saya bukan akademisi sejati. Saya bukan apa-apa.

Melanjutkan studi adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah. Menimba ilmu pengetahuan bukanlah hal yang sulit, Ning. Nikmati saja prosesnya. Toh juga ini demi kelangsungan hidup dan masa depan. Niatnya kan karena Allah. Semua karena Allah. Kuliah karena Allah, nanti nikah juga karena Allah kan? *Eh… :):):):):)

Jika ada yang tidak sengaja mampir di blog saya dan membaca postingan ini, saya minta maaf tulisan ini alurnya tidak jelas. Bicara kegalauan tesis sampai ke pernikahan. Sama, seperti pikiran saya tentang tesis yang masih mengawang-ngawang, belum ditahu arahnya ke mana. Semoga ada titik pencerahan di hari Senin nanti. :'(:'(:'( Aamiin.

As we see, saya sengaja menulis seperti ini karena kegelisahan yang ada di dalam diri sudah tidak dapat dipendam. Semua serba di tengah-tengah tanpa kepastian ke mana arah selanjutnya.

Kita lihat sampai berapa lama jangka waktu tulisan tentang kegalauan saya ini dengan tulisan syukuran proposal (nanti, in syaa Allah). Semoga waktunya berdekatan. No need long time. Aamiin.
Semangat, Ning! Harus optimis. Allah bersamamu, Nak. Ning tidak pernah tinggalkan Allah toh? Nining kan anak baik. Kemarin Ning cuma belum tegas saja terhadap apa yang menjadi aturan Allah.
Optimis bukan berarti harus arrogant ya, Nak.
Semangat!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s