Bakti Sosial 2016 Mahasiswa FKIP Pendidikan Bahasa Inggris Unidayan di Desa Wawoangi, Sampolawa, Buton Selatan


(searah jarum jam) 1) Spanduk 2) Gedung Sultan Saparigau, 3) Pembekalan dari Bapak Kepala Desa Wawoangi dan Sekprodi, 4) Para dosen FKIP Pend. Bhs. Inggris Unidayan
(searah jarum jam)
1) Spanduk 2) Gedung Sultan Saparigau, 3) Pembekalan dari Bapak Kepala Desa Wawoangi dan Sekprodi, 4) Para dosen FKIP Pend. Bhs. Inggris

Bakti Sosial di Desa Wawoangi, Sampolawa, Buton Selatan, pada tanggal 28 – 29 Mei 2016 kemarin adalah salah satu agenda kegiatan UNESA (Unidayan English Students Association). Pesertanya adalah mahasiswa FKIP Pend. Bahasa Inggris Unidayan Angkatan 2013 dan para dosen yang mengikuti kegiatan ini ada 7 dosen; 3 dosen tetap (Pak Baharuddin Adu, Pak Rizal dan Ibu Esa) dan 4 dosen tidak tetap (Ibu Yuli Yastiani, Pak Firdaus, Ibu Dianti Afrilia dan saya sendiri). *dosen-dosennya masih muda semua kan. Kan kan. 😀

Berbicara tentang kronologis kegiatannya, saya tuliskan secara ringkas saja. Ini juga bukan tulisan formal, judul tulisannya saja sepertinya yang terlihat formal. Kami semua, baik mahasiswa dan dosen, berkumpul di Stadion Betoambari pada jam 5 sore. Awalnya jam 4 sore namun cuaca yang tidak mendukung, akhirnya diundurkan menjadi jam 5 sore. Perjalanan menuju Desa Wawoangi, Sampolawa, ini membutuhkan waktu sekitar 2 jam dari Kota Baubau. Dalam perjalanan menuju desa tersebut, banyak hal yang menyenangkan terjadi di dalam mobil yang disewakan oleh pihak panitia acara (Unesa) untuk para dosen. Utamanya Pak Firdaus sebagai korban yang paling sering dibully. Hahaha… Terima kasih, bapak ibu dosen untuk hiburannya hari itu. Alhamdulillah. 😉

Sesampainya di tempat tujuan, hari telah gelap. Kami semua beristirahat di Gedung Sultan Saparigau. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai baruga. And do you know? Kami disambut dengan listrik yang padam. Nyesss. Gelap gulita, men. Ditambah lagi ada seorang mahasiswa yang kerasukan sehingga membuat suasana di baruga menjadi tegang. Tapi untungnya, tidak berlangsung lama, baik listrik ataupun mahasiswa tersebut. Alhamdulillah.

Well, untuk tempat istirahatnya, para mahasiswa dan Pak dosen tidur di baruga tersebut, sedangkan para ibu dosennya tidur di salah satu rumah warga *memang, wanita selalu diistimewakan :D. Sebelum tidur, tentunya harus makan dulu toh. Para dosen dan para mahasiswa having dinner dulu sebelum beristirahat untuk mempersiapkan diri di esok hari. Rame!!! 😀

Bersama Kepala Desa Wawoangi di rumah Beliau
Bersama Kepala Desa Wawoangi di rumah Beliau

Sebelumnya, kami disambut oleh Bapak Kepala Desa Wawoangi di baruga dan Beliau mengajak kami, para dosen, untuk bertandang ke rumahnya sembari berbincang-bincang tentang Desa Wawoangi ini. Cukup banyak informasi tentang Desa Wawoangi yang kami dapatkan dari cerita Kepala Desa, apalagi tentang objek yang akan kami bersihkan sebagai aksi bakti sosial esok harinya, yaitu Mesjid Tua Wawoangi. Ya, kami dilayani dengan sangat baik oleh Bapak Kepala Desa. Terima kasih, Pak. 🙂

Perjalanan menuju Mesjid Tua Wawoangi
Perjalanan menuju Mesjid Tua Wawoangi

Keesokan paginya, kami have breakfast dulu bersama. Setelah itu, ada sepatah kata dari Bapak Kepala Desa dan Sekprodi untuk kami semua sebelum memulai kegiatan, yaitu pembersihan di sekitar Mesjid Tua Wawoangi. Videonya dapat dilihat di sini.

Mesjid Tua Wawoangi di Desa Wawoangi, Sampolawa, Buton Selatan
Mesjid Tua Wawoangi di Desa Wawoangi, Sampolawa, Buton Selatan

Sekilas informasi tentang Mesjid Tua Wawoangi menurut informasi yang didengar dari Kepala Desa Wawoangi. FYI, Wawoangi itu artinya adalah di atas angin. Mesjid Tua Wawoangi terletak di Desa Wawoangi, Kecamatan Sampolawa, Kabupaten Buton Selatan. Mesjid tersebut terletak di atas bukit. Jarak yang ditempuh dari Desa Wawoangi menuju mesjid tersebut sekitar 2 km. Bisa ditempuh dengan jalan kaki maupun kendaraan. Namun, harus tetap berhati-hati, karena hampir sepanjang perjalanan, jalanannya masih agak kurang bagus, berbatu-batu. Percaya tidak percaya, kata kepala desa, walaupun bagus kendaraan yang kita miliki menuju mesjid, namun jika niat tidak bagus, maka kita tidak akan sampai ke mesjid. Sebaliknya, sejelek apapun kendaraan yang kita miliki, namun memiliki niat yang baik, maka akan sampai di tujuan. Dan itu terbukti dari beberapa kejadian yang pernah terjadi oleh orang-orang yang pernah ke mesjid tersebut bersama kepala desa.

Menurut cerita yang dipaparkan oleh Kepala Desa Wawoangi, sebelum adanya mesjid di Buton ini, Syeikh Abdul Wahid (Pembawa Agama Islam Pertama di Buton) pernah terdampar di daerah Lapandewa. Di daerah tersebutlah, Syeikh Abdul Wahid mengajarkan agama Islam kepada masyarakat setempat. Kemudian, Syeikh Abdul Wahid mengatakan bahwa di atas bukit Desa Wawoangi itu, Beliau akan mendirikan mesjid. Masyarakat Lapandewa akhirnya bertanya, mengapa demikian? Syeikh Abdul Wahid pun menjawab, Syeikh Abdul Wahid melihat ada cahaya di atas bukit Desa Wawoangi tersebut kemudian cahaya itu terus naik sampai ke luar angkasa. Sehingga Beliau memutuskan untuk mendirikan mesjid di atas bukit tersebut. Dibangun pada tahun 1527. Dinding mesjidnya nampak seperti terbuat dari rotan bambu yang besar, atapnya terbuat dari kayu, sehingga membuat mesjid ini sederhana. Ya, sederhana tapi gimana yaa. Ada suasana tersendiri ketika berada di mesjid tersebut. Seperti masih ada kekuatan gaib yang sangat kental di mesjid ini. Yang intinya, jangan mengunderstimate keberadaan mesjid ini dalam bentuk apapun. Bapak Kepala Desa sering kali mengingatkan kepada kami bahwa satu hal yang penting, jangan ada di hati kita semua untuk mengatakan bahwa mesjid itu tidak baik.

Sebelum berada di mesjid, kita berwudhu dulu, kemudian jika telah berada di dalamnya, maka berdoalah kepada Allah dan yakinilah semua tentang doa yang kita panjatkan. Seperti yang dikatakan Pak Bahar kepada para mahasiswa bahwa sebelumnya beliau juga pernah mengunjungi mesjid tersebut, tapi masih menjadi mahasiswa pada saat itu, beliau masih ingat apa yang dikatakan oleh Pak Safulin, bahwa Mesjid Tua Wawoangi tersebut dianalogikan ibarat HP yang merupakan alat komunikasi, jika kita berada di tempat yang kekuatan signalnya bagus, maka komunikasi kita akan bagus kepada orang yang kita hubungi. Sebaliknya, jika berada di tempat yang kekuatan signalnya kurang bagus, maka komunikasinya kurang bagus. Nah, di Mesjid Tua Wawoangi itulah adalah tempat yang baik untuk meminta kepada Allah. Berdoa dan yakin. In sya Allah dijabbah.

Oh iya, beberapa tahun lalu, jika ingin mengambil gambar mesjid tersebut, percaya tidak percaya, it can’t work. Rata-rata orang yang berkunjung ke mesjid dan ingin mengambil gambarnya, hasilnya tidak akan pernah berhasil. Mesjidnya tidak kelihatan, cuma pepohonannya saja yang terlihat. FYI, kata Kepala Desa, Mesjid Tua Wawoangi ini sebagai mesjid pertama yang ada di Pulau Buton. *Jika yang pertama, berarti sebelum adanya Mesjid Quba dan Mesjid Agung Keraton Buton yang berada di Keraton Buton, Baubau, itu dong. Wah wah, masya Allah sekali saya bisa berada di Mesjid Tua Wawoangi di saat-saat seperti ini. Ya, saya sempat menangis ketika berada di dalamnya. Yaa, nda nyangka saja bisa berada di tempat yang sesakral ini. Dengan niat baik, di mana kita berdoa kepada Allah dan yakin semua doa yang kita panjatkan insya Allah dikabulkan. Aamiin Yaa Rabb.

Setelah kegiatan pembersihan selesai, kami semua berkumpul di baruga sekitar mesjid tersebut sekaligus acara penyerahan bantuan Al-Quran dari FKIP PBI Unidayan untuk Mesjid Tua Wawoangi tersebut oleh panitia kepada Bapak Kepala Desa, dirangkaikan dengan acara penutupan. Setelah acara selesai, kami pun kembali ke baruga, makan siang dan bersiap-siap untuk pulang sembari menunggu kendaraan yang akan membawa kami kembali ke Baubau.

(searah jarum jam) 1) Berkumpul setelah bekerja bakti, 2) Foto bersama dengan latar Mesjid Tua Wawoangi, 3) saya bersama wakil ketua UNESA, 4) Penyerahan Alquran, 5) saya bersama Ketua UNESA
(searah jarum jam) 1) Berkumpul setelah bekerja bakti, 2) Foto bersama dengan latar Mesjid Tua Wawoangi, 3) saya bersama wakil ketua UNESA, 4) Penyerahan Alquran, 5) saya bersama Ketua UNESA

Perjalanan yang sangat menyenangkan. Saya tidak menyangka, baksos kali ini menjadi perjalanan rohani untuk diri saya pribadi. Jika kalian ingin menikmati perjalanan rohani di Pulau Buton, saya sangat merekomendasikan, silahkan berkunjung ke Mesjid Tua Wawoangi, Mesjid Pertama di Pulau Buton. Saya saja masih ingin berkunjung lagi ke sana. Mudah-mudahan panjang umur dan masih diberi kesempatan sama Allah. Suasana berada di mesjid itu yang buat kangen, Allah. Adem. :’)

Terima kasih, Kepala Desa dan warga Desa Wawoangi. Senang berkunjung ke Desa Wawoangi. 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Bakti Sosial 2016 Mahasiswa FKIP Pendidikan Bahasa Inggris Unidayan di Desa Wawoangi, Sampolawa, Buton Selatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s