Category Archives: Education

This is About Graduation 2016

 

Alhamdulillah to Your Mercy, Allah
Alhamdulillah to Your Mercy, Allah

Hello, long time no see you, my blog. I miss to write here. Yaps, in this chance the topic is my second graduation. Finally, I’m graduated from Hasanuddin University after being a student for two years more. Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah ya Allah. You again again again give me Your priceless mercy.

Jadi ceritanya pada tanggal 22 Desember 2016 (bertepatan hari ibu, readers), Universitas Hasanuddin melaksanakan Wisuda Pascasarjana dan Profesi Periode II Desember Tahun Akademik 2016/2017. Khusus untuk fakultas saya, Fakultas Ilmu Budaya, memiliki 17 wisudawan yang berasal dari 4 (empat) program studi, yakni:

  1. Program Studi Ilmu Linguistik S3 (1. Fatimah Hidayahni Amin)
  2. Program Studi Ilmu Linguistik S2 (2. Ita Rosvita, 3. Siti Umi Salamah, 4. Nila Puspita Sari, 5. Maria Arnoldiana Dadjan Uran, 6. Santy Monika)
  3. Program Studi Bahasa Inggris S2 (7. Nining Syafitri, 8. Yuriatson, 9. Ida Mariani Idris, 10. Yandri, 11. Israkwaty, 12. Rizki Diliarti Armaya, 13. Faika, 14. Hikmawati, 15. Reza Apreliah Dg. Matara, 16. Satang)
  4. Program Studi Bahasa Indonesia S2 (17. Nanik Indrayani) 

    FYI, alhamdulillah juga untuk wisuda kali ini, ijazah dan transkrip udah langsung ada, jadi tidak perlu galau menunggu transkrip kelar yang katanya butuh waktu beberapa bulan. Trims, Unhas. 🙂

    Bersama Dosen dan Staf TU FIB Unhas
    Bersama Dosen dan Staf TU FIB Unhas

Satu hari sebelum pelaksanaan wisuda, 21 Desember 2016, kami mengadakan malam ramah tamah di Hotel MaxOne yang berada di Jalan Taman Makam Pahlawan. Hal ini berbeda dengan malam ramah tamah pada periode I September 2016 kemarin yang dilangsungkan di Hotel Clarion Makassar, di mana semua program studi pascasarjana berada dalam satu aula dan panitianya berasal dari pihak Pasca Unhas sendiri. Pada periode II Desember 2016 ini, yang menjadi panitianya pun adalah kami sendiri dan khusus Fakultas Ilmu Budaya. Dengan demikian, suasana keakraban bersama para dosen, staf fakultas dan calon wisudawan sangat terasa pada malam itu.

Kak Satang dan Prof. Tadjuddin Maknun, S.U. (WD I)
Kak Satang dan Prof. Dr. Tadjuddin Maknun, S.U. (WD I)

Pada pelaksanaan ramah tamah tersebut, kami, para wisudawan, memberikan cenderamata sebagai kenang-kenangan yang diwakili oleh Kak Satang kepada pihak fakultas yang diwakili oleh Wakil Dekan I, Prof. Dr. Tadjuddin Maknun, S.U. Kemudian, ada pembacaan wisudawan terbaik di tingkat fakultas kami, yakni Kak Fatimah Hidayahni Amin, Kak Yandri, Maria (Dian), dan Ibu Siti Umi Salamah. Congrats, kaka-kaka.

Left2right: Hikma, Kiky, Kk Fatimah, Ning, Nila
Left2right: Hikma, Kiky, Kk Fatimah, Ning, Nila

Terima kasih kepada teman-teman wisudawan yang telah mengupayakan acara malam ramah tamah pada periode ini sehingga acaranya berjalan dengan baik dan lancar. Semoga berikutnya lebih baik lah. Aamiin.

Ladies FIB Unhas
Ladies FIB Unhas

Well, tidak terasa dua tahun lebih lanjut sekolah di sini, Makassar. Pastinya bakalan banyak momen yang harus dikenang, seperti momen perkuliahan yang kadang buat seru, dagdigdug, lucu dan awkward, terus masa-masa ngerjain tugas dari dosen, dan perjuangan pamungkas adalah proses penyelesaian tesis yang berhasil buat saya hampir hopeless, percaya deh Allah sudah punya skenario sendiri memang, tinggal kitanya aja yang pintar-pintar positive thinking dan giat berusaha bagaimana caranya supaya tidak hilang semangat. Kata Prof. Hakim, Semangat dulu yang disemangati. Hehehe.

Selain itu, kuliah di Unhas ini, saya pun punya banyak teman dari berbagai daerah. Thank you ya sudah jadi teman yang baik untuk Nining selama dua tahun lebih ini. Maaf kalau ada banyak salah sama teman-teman, gak ada niat mau jahat sama kalian. Bakalan kangen sama kalian, pastinya bakalan gak bisa diulangi lagi momen kuliahnya. Kita semua pasti udah berpencar masing-masing ke arah yang tidak ditentukan. Hehehe. Yeps, mencari dan menemukan kehidupan baru yang lebih baik setelah perjuangan menjalani studi. Pastinya, beberapa tahun kemudian, udah kedengaran kalau si ini si itu udah jadi rektor, ketua program studi, jadi prof., lanjut kuliah di luar negeri, di universitas ini itu. Ecieee. Aamiin Aamiin.

Makassar, I will miss you a lot. Thanks, Allah, You have given me a chance to enjoy all these experiences in continuing this study.

*’Tarimakasiku to yingkomiu’ (Thank to you all) session.
Trima kasih, Ma Pa, to all your sacrifice for me. I know I can’t do like what you have given to me, except to be your good daughter as you want. I’ll do it, in sha Allah.

Thanks juga untuk para dosen yang sudah mengajar teman-teman dan saya selama perkuliahan di Unhas. You are great lecturers. :’)

Trima kasih untuk para staf TU Fakultas Ilmu Budaya.

Oh iya, terima kasih juga buat teman-teman, sahabat dan keluarga yang sudah mengucapkan melalui media sosial, minta maaf komentarnya belum sempat dibalas semua.

Dan semua pihak-pihak yang secara langsung dan tidak langsung turut memudahkan jalan saya dalam proses penyelesaian kuliah ini. Tarima kasi.

*Curhat session
Udah diwisuda emang iya, tapi masih merasa kurang begitu, belum apa-apa sih iya. Masih banyak kurangnya malah. Walaupun sekolah memang sudah selesai, tapi belajar harus berlanjut terus. Saya memang harus terus belajar. SEMANGAT, Ning. SEMANGAT!!!

Biasanya, hal yang paling sering ditanyain setelah saya wisuda ini adalah pekerjaan dan jodoh. Saya mah senyumin aja sambil berkata, “Mohon doanya, om-tante-pak-bu-teman. Semoga disegerakan, dapat kerja yang bagus dan dapat jodoh baik yang Allah ridho. Aaamiin.” Acakaseeehhh… Ahaide. Hehehe… Thanks, readers, udah sempat-sempatkan baca tulisan curhat minceu dari awal hingga akhir. Semoga bermanfaat, readers. Semoga… 😀

Kegalauan (Bukan) Anak Kura-Kura

image

Semuanya akan indah pada waktunya.
‘Pada waktunya’ bukan berarti hanya menunggu dan tanpa usaha.
Karena ‘akan indah pada waktunya’ mengandung arti ketika kita telah melakukan segala sesuatunya dengan baik agar tujuan tercapai, maka waktu yang dinanti tersebut akan datang.
Sebagai contoh, saya sebagai mahasiswi tingkat akhir yang menginginkan untuk segera dinyatakan sebagai alumni.
Tidak mungkin kan saya hanya mengatakan indah pada waktunya dan usaha saya tidak ada. It cannot work.
Iya, memang akan indah, tapi waktunya? It will need long time to come into that time. I don’t want. 😥

Menganggap diri seperti kura-kura karena saya merasa lambat untuk masalah tesis ini. Judul tesis saja masih belum jelas. Perasaan deg-degan bertemu pembimbing itu merupakan momen yang krusial sekali. Bertemunya bapak dan anak dalam membahas penelitian, teori dan fenomena tentang pendidikan menjadikan saya seperti orang yang duduk di pojokkan sambil menundukkan kepala di ruang gelap. Suram!

Bukan salah pembimbing saya, tapi salah saya sendiri. Masih takut, masih belum percaya diri, dan masih kurang ilmunya. Saya harus banyak membaca, membaca, membaca dan membaca. Artikel jurnal ini, artikel jurnal itu. Semuanya serba butuh usaha dan pengorbanan.
Allah, keluarga, sahabat dan media sosial adalah salah satu komponen penting yang tidak dapat dipisahkan sebagai supporter saya dari penatnya kehidupan dunia tesis. Beribu motivasi diri juga sudah dipush untuk tetap on fire. Memahami posisi diri sendiri pun harus sering-sering disadari. Sebagai anak pertama, sebagai yang dicontoh, dan sebagai yang diharapkan untuk segera menyelesaikan kuliah sesegera mungkin. Galaunya tuh dapat bangetttt… 😳
Mamaku sayang, tolong doakan anakmu ini supaya segera ujian proposal lalu pulang ke Baubau meneliti. Karena rasa-rasanya mau pulang dulu eee… Seperti sesak napas karena belum ujian proposal…

Segini amat ya kalau mau jadi Magister. Butuh air mata. 😥 Tapi sebagian yang telah melewati masa-masa ini pasti tidak pernah mengalami seperti apa yang saya alami. Bagaimana tidak, sebelum kuliah sudah ada persiapan sebelumnya. Na saya? Salah satu contoh mahasiswa yang kurang baik. Jangan dicontoh. Saya bukan mahasiswa yang hebat. Saya bukan akademisi sejati. Saya bukan apa-apa.

Melanjutkan studi adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah. Menimba ilmu pengetahuan bukanlah hal yang sulit, Ning. Nikmati saja prosesnya. Toh juga ini demi kelangsungan hidup dan masa depan. Niatnya kan karena Allah. Semua karena Allah. Kuliah karena Allah, nanti nikah juga karena Allah kan? *Eh… :):):):):)

Jika ada yang tidak sengaja mampir di blog saya dan membaca postingan ini, saya minta maaf tulisan ini alurnya tidak jelas. Bicara kegalauan tesis sampai ke pernikahan. Sama, seperti pikiran saya tentang tesis yang masih mengawang-ngawang, belum ditahu arahnya ke mana. Semoga ada titik pencerahan di hari Senin nanti. :'(:'(:'( Aamiin.

As we see, saya sengaja menulis seperti ini karena kegelisahan yang ada di dalam diri sudah tidak dapat dipendam. Semua serba di tengah-tengah tanpa kepastian ke mana arah selanjutnya.

Kita lihat sampai berapa lama jangka waktu tulisan tentang kegalauan saya ini dengan tulisan syukuran proposal (nanti, in syaa Allah). Semoga waktunya berdekatan. No need long time. Aamiin.
Semangat, Ning! Harus optimis. Allah bersamamu, Nak. Ning tidak pernah tinggalkan Allah toh? Nining kan anak baik. Kemarin Ning cuma belum tegas saja terhadap apa yang menjadi aturan Allah.
Optimis bukan berarti harus arrogant ya, Nak.
Semangat!!!

Promosi Doktor Lee Juyoung di Universitas Hasanuddin

Bersama Dr. Lee Juyoung dan Yuli Yastiani, M.Hum
Bersama Dr. Lee Juyoung dan Yuli Yastiani, M.Hum

Dr. Lee Juyoung, B.A., M.A. adalah salah seorang lulusan Program Doktor (S3) Ilmu Linguistik yang hari ini (17 Desember 2015) telah melalui tahap Ujian Promosi Doktor Terbuka di Aula Prof. Mattulada Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin (Unhas). Promosi doktor Oppa Juyoung dihadiri oleh ayah, saudara laki-laki Oppa, para guru besar, dosen dan mahasiswa FIB Unhas. Suasananya sangat menyenangkan sekali karena banyak hal yang dapat dipelajari dari seorang doktor muda, Dr. Lee Juyoung.

Disertasinya yang berjudul ‘Keergatifan Bahasa Barang-Barang sebagai Petunjuk Genealogi bagi Kelompok Wotu-Wolio:  Berbasis Program Minimalis’ mampu membawa Oppa Lee Juyoung sebagai salah satu lulusan doktor yang unggul. Dipromotori oleh Prof. Hamzah, Prof. Moses dan Prof. Darwis dan diuji oleh Prof. Hakim, Ibu Dr. Kamsinah dan Penguji eksternal,  Dr. Yassir (Universitas Atmajaya).

Ada salah satu hal yang saya kagumi dari semua hasil kerja keras Oppa Juyoung ini, yaitu ketika Prof. Dr. Abdul Hakim Yassi, Dipl. TESL., M.A. (sebagai penguji) sempat menawarkan Oppa Juyoung menjadi dosen FIB di Universitas Hasanuddin. Dengan keramahannya, Oppa Juyoung mengucapkan ‘Iye. Terima kasih.’ Namun sayang, Oppa Juyoung telah ditunggu kehadirannya di Universitas Hankuk Korea Selatan. *ditawari pekerjaan, menn… Tawaran itu datang ketika hasil karya, kerja keras dan kesungguhan berjalan seirama. Semoga Allah meridhoi langkah ini. Aamiin.

Menuliskan tentang Oppa Juyoung di sini, bukan karena modus tersembunyi. Hehehe. 🙂 Namun, saya melihat sebagai salah satu motivasi dan renungan bagi saya sendiri dalam menjalani kehidupan akademik.

Dapat dibayangkan seorang warga negara asing mau meneliti bahasa Barang-Barang yang merupakan salah satu bahasa daerah di Pulau Selayar dan salah satu rumpun bahasa Wotu-Wolio, di mana status keberadaan bahasa tersebut adalah hampir punah. Seorang warga asing yang berasal dari Korea Selatan mau jauh-jauh meneliti bahasa Barang-Barang yang hampir punah, yang letaknya ada di Pulau Selayar, Indonesia. Ini menunjukkan adanya kepedulian dari Dr. Lee Juyoung sebagai warga negara asing terhadap keberadaan bahasa daerah ini. Dan saya tentunya sebagai warga negara Indonesia yang memiliki bahasa daerah yaitu bahasa Wolio, apa yang saya telah lakukan untuk melestarikan bahasa daerah tersebut? Saya rasa masih belum banyak, malah kayaknya belum ada. Padahal bahasa daerah sendiri dapat menjadi ciri identitas diri. Lain halnya dengan Kakak senior saya, namanya Kak Yuli Yastiani. Kaka Uli, panggilan akrabnya, merupakan salah satu lulusan Program Magister (S2) Linguistik Unhas. Tesisnya yang mengangkat bahasa daerah membuat saya kagum terhadapnya. Dibimbing oleh Prof. Hakim dan Ibu Gusna, tesis Kk Uli yang berjudul ‘Makna Ideasional dalam Cerita Rakyat Buton: Kajian Linguistik Sistemik Fungsional’ mendapat apresiasi yang sangat bagus dari dosen pembimbing dan dosen penguji. Ini baru ada kontribusi untuk bahasa daerah di tanah kelahiran Kk Uli, yang kebetulan Kaka Uli dan saya berasal dari satu daerah yaitu Buton. Saya masih ingat apa yang dibilang Pak Kahar, ‘kita sebagai manusia ini harus bisa menjadi orang yang memberikan manfaat bagi orang lain.’  Tentunya manfaat dalam hal kebaikan yang positif.

Kembali ke Oppa Juyoung. Dalam melakukan penelitian ini, Oppa Juyoung telah mendalaminya dari jauh-jauh hari. Terlihat ketika Prof. Hamzah membacakan riwayat pendidikan Dr. Lee Juyoung, dari S1 telah mengambil Program Bahasa Indonesia sebagai bidang yang didalaminya, kemudian S2 mengambil Program Linguistik di Korea Selatan. Tak heran ketika berkomunikasi, Oppa Juyoung menggunakan bahasa Indonesia dengan sangat baik. Melanjutkan pendidikan S3 saja di Unhas ini, Oppa Juyoung telah menyiapkan segalanya dari jauh-jauh hari, terutama tentang penelitian yang akan dilakukan untuk menyelesaikan disertasinya. Nah ini, masalah ‘penelitian mahasiswa’ yang sempat dibahas secara ringkas tapi ‘mengena sekali’ oleh Prof. Hakim. Beliau bilang, kira-kira seperti ini, mahasiswa itu harus sudah siap dengan apa yang mau diteliti, perkaya pengetahuan dengan membaca jurnal. Jangan karena sudah mau dekat selesai masa studi baru mau memikirkan apa yang mau diteliti. *kodenya keras sekali, Prof. Memang benar, ini menjadi bahan renungan bagi saya khususnya yang sudah berada di status mahasiswa akhir. SEMANGAT, NING!!! Fokus fokus. Kata Prof. Hamzah, ‘Jangan terlalu banyak mengerjakan hal di luar apa yang akan dikerjakan. Fokus, fokus, fokus‘.

Left2Rigth: Kk Yuli Yastiani, Prof. Hamzah, Ning, Istri Prof. Hamzah, dan Dr. Lee Juyoung.
Left2Rigth: Kk Yuli Yastiani, Prof. Hamzah, Ning, Istri Prof. Hamzah, dan Dr. Lee Juyoung.

Menjadi seorang doktor muda di usia 33 tahun, Oppa Juyoung mendapat wejangan dari Promotornya, Prof. Hamzah Machmoed. Beliau menitip pesan bahwa jika sudah sampai di tahap ini sebagai doktor muda, pakailah ilmu padi. Makin berisi, makin merunduk. Jauhkan kesombongan dari dalam diri. Sekedar untuk diketahui, Oppa Juyoung tinggal di Maros selama menempuh pendidikan S3 di Unhas. Bisa dibayangkan kan? Butuh waktu sekitar 2 jam dari Maros untuk tiba di Kota Makassar. He has high motivation, guys. >.< Namanya juga orang belajar, harus ada pengorbanan yang besar untuk mencapai prestasi yang besar pula.

Left2right: Dr. Kamsinah, Prof. Hamzah, Prof. Hakim, Dr. Lee Juyoung, Prof. Bur, Ayah Dr. Lee Juyoung, dan Dr. Yassir
Left2right: Dr. Kamsinah, Prof. Hamzah, Prof. Hakim, Dr. Lee Juyoung, Prof. Bur, Ayah Dr. Lee Juyoung, dan Dr. Yassir

Once more again, Congratulation, Dr. Lee Juyoung!!! 🙂
You become one of inspiring people how to be a good academician. 🙂

ICE-ed 2015, International Conference on English and Its Educational Dynamics

ICE-ed 2015, International Conference on English and Its Educational Dynamics, is 1st international conference held by English Department Faculty of Letters, Hasanuddin University. It was on 26 – 27 September 2015 at Prof. A. Amiruddin Auditorium, Hasanuddin University, Makassar, Indonesia.

NingSyafitri

The topic was about ELT Practices in Asia: Challenges and Opportunities. This gives us a chance to enrich our knowledge, visions, and researches related to English teaching and learning today. The topic was good enough to get attention from people who want to join. It was proved by many members, whether they were as participants or presenters, came not only from Makassar, but also Banjarmasin, Pekanbaru, Malaysia, Yogyakarta, Ambon, Mataram, Kupang, Kendari, Kediri, Gorontalo, Palopo, Bandung, Semarang, Japan, etc.

It was also supported by the presence of the keynote and plenary speakers, namely:

The Speakers and The Committees
The Speakers and The Committees
  1. Dr. Jonathan Newton as the keynote speaker (He is a senior lecturer in school of Linguistics and Applied Linguistics, Victoria University of Wellington)
  2. Dr. Hywel Coleman as the plenary speaker (He is Honorary Senior Research Fellow in the School of Education, University of Leeds, UK)
  3. Dr. Thi Thuy Minh Nguyen as the plenary speaker (She is an assistant professor at the National Institute of Education, Singapore) *She is still young to be a Doctor. What a wonderful woman! >.<. By the way, it is her first time to be a plenary speaker in an international conference.
  4. Dr. Willy A Renandya as the plenary speaker (He is a senior lecturer at the English Language and Literature Departments, National Institute of Education, Singapore)
  5. Leah Karels as the featured speaker (She is the English Language Fellow for Hasanuddin University in Makassar)
  6. *Additional info. 😀 Left to right: Kak Farisatma (an ELS Student of Unhas), Ibu Dra. Nasmilah Imran, M.Hum, Ph.D (The Conference Chair), Nining Syafitri (an ELS Student of Unhas), Ibu Dr. Hj. Sukmawaty, M.Hum (one of committees).

The speakers were very humble and nice. They responded some questions from participants that concerned to the certain topic of English education. Also, they had good abilities in presenting their materials. I think they study whenever wherever. They look sooooo coolll. Hehehe… I mean, the educated people like them are needed to be inspiring educators and researchers, how we have passion to learn, teach learners, and research about English education and its components so we can increase our quality to be a professional educator and give theoritical and practical contribution to English education world.

Unfortunately, in this conference, I was only one of participants, not a presenter. Hehehe. Actually, I want to be a presenter but I do not have enough preparation. Hopefully, in the next chance, I will be a presenter.

PhotoGrid_1443363230225

I like the situation of conference, academic situation. 🙂 There were many friends of me that joined in this conference so I did not feel lonely. They were Hikma, Kak Monic, Kak Yandri, Sani, Ucha, Kak Ayz, Destri, Sofyan, Kak Fai and Eman. Thank you for the laughter and the togetherness, guys.

Before I end my writing, I want to say a special thank for my lecturer, Bapak La Ode Supardi, S.Pd., M.Pd. for his kindness me related to the conference. I hope this can be a precious experience for improving my competence and performance in English education. Thanks, Pak. 🙂

Last but not least, my impression for the conference is overall is good, although there are some parts that must be improved. It is maybe caused by this is the first conference but I appreciate the work of the committees, the international conference is one of your prestige work, at least you have presented to us and proved that you did into reality, not just a dream . Congratulation. 🙂

Cognitive and Affective Ability towards Language Acquisition

Introduction
In Douglas Brown’s book, Principle of Language Learning and Teaching Fifth Edition page 33 chapter 2 in paragraph 1 line 5, it states that “language was just one manifestation of the cognitive and affective ability.” It means that language and human cannot be separated. How human gets first language, then it is produced to communicate with others and it will affect human’s life. The statement inspires the writer to take “Cognitive and Affective Ability towards Language Acquisition” as the topic to be discussed.

Discussion
Language is used by human as a tool of communication. But, we, as a human, cannot have language directly because we have to get language learning process firstly. Hurford (2004) said that the first thing that comes to mind is our own native language. Language is taught to us since we are infant and continues on as we grow up by the environment, interaction and discourse as Brown’s statement, children are then shaped by their environment …. children learn to function in a language chiefly through interaction and discourse. So, first language acquisition is affected by environment, interaction and discourse.

Related to cognitive and affective ability, first language is also affected by them. Brown states that all human beings are genetically equipped with abilities that enable them to acquire language. Also, Klein (1986) states that first language acquisition is intimately bound up with the child’s cognitive and social development. How human produces language, it depends on their cognitive and affective ability.

Based on the writer’s experience, the writer has a young sister. Now, she is 12 years old. Her name is Nala. The writer still remember when Nala was still a baby. It happened when the writer was invited by her father to go around the city at evening with Nala. On the way, they looked many lights in the streets and the writer called Nala to look the lights while the writer said ‘Waahh, so many lights’. So, Nala tried to pronounce it with ‘mpu, mpu.’ But, now, she is 12 years old, the way of her language has been different when she was a baby. She has pronounced ‘a light’ perfectly. The writer thinks that the language we have, it is caused by the development of cognitive and affective ability we have. The development of human is followed by the development of cognitive and affective ability themselves.

Another experience that the writer wants to share in relation with the topic is the writer’s way in writing in a written language. The writer likes writing on a blog. She started it since 2009. She feels that the writing style in 2009 (18 years old) and now (23 years old) is different. At the first year, when the writer wants to write ‘I’ into Indonesian language, it was ‘akkuuhh, guee.’ It is like ‘alayer’. But, now ‘I’ becomes ‘saya.’ The writer feels the writing style is more focused, as well the language use. These changes are caused by many experiences to the writer when she starts to write a blog. There are many friends (bloggers) and good articles which surround her, so it brings the new comprehension how she writes. It is supported by the statement of Moghaddam and Araghi in their journal about Brain-Based Aspects of Cognitive Learning Approaches in Second Language Learning, “…after an environment is created and the methods are appropriate in the manner of the brain’s learning process, students will not need much instruction, they will be able to understand and do activities on their own.” So, in this case, the quality of language of human is generated by cognitive and affective ability.

Conclusion
Language is generated by human with paying attention to the ability than human has, especially at the first language. In accordance with the statement in Brown’s book that states ‘language was just one manifestation of the cognitive and affective ability’, it can affects the quality of language. There is combination between cognitive and affective ability to produce language. The trained ability of a person, the better way of human generates language.

REFERENCES

Brown, H, Douglas. 2007. Principles of Language Learning and Teaching, Fifth Edition. USA. Pearson Education, Inc.

Hurford R, James. 2004. Human Uniqueness, Learned Symbols and Recursive Thought. www.lel.ed.ac.uk/~jim/europeanreview.html. (September 17, 2014)

Klein, Wolfgang. 1986. Second Language Acquisition. New York. Cambridge University Press.

Moghaddam N, Alireza and Seyed M. Araghi. Brain-Based Aspects of Cognitive Learning Approaches in Second Language Learning. Journal of Canadian Center of Science and Education. (6). 55-61.

Studying in English Language Study (ELS) Program Hasanuddin University

As we know Hasanuddin University (Unhas) is one of the best universities in Indonesia that is located in Makassar, South Sulawesi Province. Unhas is the only university in eastern Indonesia that gets the best accreditation from BAN-PT, A. This indicates that Unhas’s achievement in applying Tri Darma Perguruan Tinggi is greatly honoured, credible and has high quality.

I am one of the fresh graduates who continue my study in Unhas, English Language Study (ELS) Program, this year, 2014. There are many other reasons why I choose ELS Program in Unhas. Firstly, the study program has vision and mission to build the best human resource quality in education and research field which related to English. Secondly, there are three concentrations which are provided for students in learning English specifically; they are Education Concentration, Literature Concentration and Linguistics Concentration. I choose Education Concentration because my educational background in S1 is English Education. Thirdly, it has curriculum that provides the arrangement of the courses according to the concentration perfectly. The study program has a good system in managing the learning process to make a good output (human resource), it should also be remembered that this study program has the best lecturers who have excellent capacity in English, so it can be a positive impact for students to study harder and achieve the goals. Therefore, I feel lucky to be one of the students in ELS Program to build and explore my ability, especially in English.

Odd Class of ELS Program Unhas 2014
Odd Class of ELS Program Unhas 2014

However, continuing study in different place brings something new in my life. I come to a new environment, meet new friends and lecturers. It is quite difficult to adapt with them firstly, but it does not take a long time to enjoy time with them. Although studying in ELS Program is excellent, there is also weakness in it, classrooms. We need more classrooms to study because sometimes the classroom we want to use is clash with other classes from different semester.

In short, whatever the situation I get in studying in ELS Program is, I will regard it as a learning process in life to get better life in the future.

*This is one of my assignments in Academic Writing of English Course.
Thank you for Mam Dra. Nasmilah Imran, M.Hum., Ph.D. as the lecturer and the editor for my writing. 🙂

I still have many mistakes in writing, but I will improve to be better. 🙂

For more information about ELS Program in PPs Unhas, please visit http://pasca.unhas.ac.id

MLC TOEFL Prediction Test & Seminar Pendidikan Luar Negeri

MLC TOEFL Prediction Test and Seminar Pendidikan Luar Negeri
MLC TOEFL Prediction Test and Seminar Pendidikan Luar Negeri

There was an event on June 15, 2014 (Sunday) at La Ode Malim Auditorium Dayanu Ikhsanuddin University, namely MLC TOEFL Prediction Test dan Seminar Pendidikan Luar Negeri.The event was educative and very interesting. I think that was the first time for such the event held in Baubau. It was followed by students in university, high school, and some teachers.

It was held by Makida Learning Center. It is one of courses in Baubau, located at Jalan Erlangga Ruko Pos 3 Baubau. You can also contact it via Facebook or Twitter.

Sunday morning, I arrived at campus before the event held and met my friends. Did not forget to take some pictures with them. 😀

With friends
With friends

Before I entered the room, I had to have re-registration and got Paper List Beasiswa Luar Negeri and a booklet of Makida Learning Center.

What we got
What we got

For the first session, all participants had a TOEFL Test, it was about

Mr. Boy was still giving explanation about TOEFL
Mr. Boy was still giving explanation about TOEFL

140 questions in 110 minutes. The questions were WOW WOW WOW.. And I can’t predict how my score will be. 😀 Afterwards, we were explained all about TOEFL, how to answer the questions, tips and trick by Mr. Boy, one of tutor in Master TOEFL Makassar. He had nice explanation. 🙂

Then, we had lunch. Eating time!!! 😀 Ahaideee…
After that, the seminar was started.

The book and I
The book and I

There were three people as resource person. They were La  Ode Aroamonkdo, S.IP, M.A. (Who got his postgraduate degree in Germany), Muhammad Arham (One of students in English Literature Hasanuddin University who got youth exchange from JENNESYS), and Mr. Calleb Coppenger (the author of The Mysteries of the Islands of Buton According to the Old men and Me).

The conclusions that I could get from their explanation and moderator are:

  1. There is a will, there is a way. (Arham’s words)
  2. To get the scholarship, we must have high value and competitiveness.
  3. Of course, we must struggle to get the scholarship and survive abroad.
  4. Studying abroad can open our mind and insight. What we can see abroad, we can’t see it here (Indonesia). What we can see in Indonesia, we can’t see it abroad.
  5. There is no automatic result, it must be filled by working hard and struggling.
  6. If we want to study abroad, we should prepare our self “before the deadline”. For example, we have a plan to study abroad in 2014. So, we must prepare in 2009 or 2010. Yup, I mean “before deadline”. 😀

The closing session was giving of souvenirs to the resource persons and the taking of photos together.

giving souvenirs
giving souvenirs
left2right: moderator (a doctor), Mr. Boy, Kk Ar, Mr. Calleb Coppenger, Muh. Irham, and Tonny Feisal (Project Leader)

The last beautiful photo was Kk Cenk and I. 😀 Ahaideee….

Kk Cenk and I 😀 Thank you, Kaka… 🙂 Good luck always.

 

My Students in Roebel El-Farooq

After graduation in English Education. Actually, there are many jobs that can be offered to us. Certain people have seen us when we’re still a student. They know our ability. So, don’t be surprised if they call you for doing a good job, like teaching. 🙂 For still being a student, you should increase your ability more, make your self having a good behavior, and Allah will open His good way for you to get the great future.

05122013(001)Okay. Talking about teaching, besides teaching in campus, I’m also as a teacher in one of courses, namely Roebel El-Farooq at Jalan Kelapa, near the police office. I was contacted by Miss Winda (My senior in campus, sstt, she is great in English 🙂). And seemingly, the head of that course is my senior in Elementary School in SDN 2 Nganganaumala, her name is Kaka Anggun. How surprised I am. I’ve known her. She is well-known because she is smart. 🙂

05122013(003)
With one of students, Fifin. 🙂

I was accepted as an English teacher on November 11th, 2013. I started to teach the students in Teens Corner Class C. I have about 13 students now. First, I felt little stiff because I didn’t know what I could teach them well or not.

But, day by day, I start to enjoy this activity. I like the students. Their laugh, smiles, and behaviors make me more understand how we should teach them as a teenager. They need more love. 🙂

In teaching, we need more patience to face them. We must understand their willing to play all the time, but we must be smart to manage the class, in order to they can learn English happily. 🙂

I’m always happy for giving them a smile. But, I give information to my students, you must have self confidence. You believe that you also can do the best such other students. You have a great potency. So, you must study hard. It will be easy when you try to study seriously. Okay?

01122013
Outing Class at BRI Park, 01 Dec. 2013

🙂 Thanks my great students. I promise, Insya Allah I’ll give the best to teach you in English.

Kisi-Kisi Soal Ujian Tengah Semester Pengantar Pendidikan 2013

Seperti yang dijanjikan oleh Ibu Sri Marlin dan saya dalam pertemuan minggu lalu ketika memberitahukan kepada teman-teman mahasiswa bahwa MID Pengantar Pendidikan akan dilaksanakan tanggal 28 November 2013 nanti, maka akan diberikan kisi-kisi terlebih dahulu. Tujuannya apa? Yaa, agar teman-teman lebih siap dalam menghadapi MID tersebut. Ok? Semangat yaa, teman-teman. 😀

  1. Pengertian Pedagogik dan Pedagogis.
  2. Pengertian dan Makna Pendidikan menurut UU No. 20 Tahun 2003.
  3. Fungsi dan Tujuan Pendidikan.
  4. Perbedaan Mendidik dan Mengajar.
  5. Jelaskan Batasan-batasan dan faktor-faktor Pendidikan.
  6. Jelaskan 4 dasar aliran pendidikan (Empirisme, Naturalisme, Nativisme, dan Pandangan Konvergensi).
  7. Jelaskan isi Tri Kon menurut Ki Hajar Dewantara.
  8. Sebutkan Azas dan Tujuan INS Kayu Tanam.
  9. Jelaskan Makna dari Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.

Sekian.

Semangat belajar ya… No cheating in the classroom later. 🙂

Siap Disuka dan Siap Dibenci

What a wonderful day today!

Oke. Mungkin kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman hari ini ketika mengajar di kelas untuk suatu mata kuliah. Baru saja selesai.

Ini hari sangat menyenangkan. Saya memperoleh pelajaran hidup yang tidak ternilai harganya, boleh dikatakan mungkin akan menjadikan pembelajaran diri untuk lebih dewasa. Dan saya harus menyadari bahwa apa yang dikatakan Pak Supardi kemarin-kemarin BENAR. “Kita hidup ini siap disuka dan siap dibenci.”

Saya pikir semua pekerjaan itu tidak ada yang sulit dan tidak ada yang mudah. Semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan, kemudahan dan kesulitannya masing-masing. Termasuk menjadi seorang pengajar. Yang mengabdikan diri sebagai seseorang yang memiliki niat untuk memberikan apa yang ditahu kepada peserta didik. Demi kelangsungan hidup pengajarnya juga demi masa depan peserta didik itu sendiri.

Seorang pengajar dalam melaksanakan proses belajar mengajar (PBM) membutuhkan sebuah metode mengajar, lebih-lebih penguasaan kelas yang baik, juga Interaksi antara pengajar dan anak didik pun harus selaras alias harus saling mendukung. Sehingga PBM akan berjalan dengan sangat baik dan mencapai tujuan pembelajaran itu sendiri.

Seorang pengajar dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada di dalam diri, selalu saja memiliki peserta didik yang disenangi dan tidak disenangi, tergantung sikap mereka sebagai peserta didik ke pengajar. Peserta didik pun memiliki sifat yang sama. Ada yang memiliki pengajar yang disenangi dan tidak disenangi. Entah karena sifat atau metode pembelajaran yang kurang menarik, atau apa saja yang mendukung faktor kesenangan dan ketidaksenangan tersebut.

Dan hari ini, saya benar-benar mengerti, “Kita hidup ini siap dibenci dan siap disuka.” Mengubah seseorang yang membenci kita untuk menyenangi kita pun tidak mungkin. Dan nampaknya kita membutuhkan kebijaksanaan diri untuk menghadapi hal yang demikian.

Terkhusus kepada seseorang yang telah memberikan saya pelajaran hidup hari ini, terima kasih banyak untuk perlakuannya. Semua yang terjadi di kelas hari ini menjadikan saya lebih dewasa dalam bersikap. Terima kasih banyak.

Teruntuk kalian di kelas, belajar yang baik dan sepandai apapun kamu, ketika akhlak kalian tidak baik, maka hasilnya pun akan menjadi nol. Saya yakin kalian adalah mahasiswa-mahasiswa yang berprestasi di dalam bidang intelektual maupun spiritual. 🙂