Category Archives: Friend

This is About Graduation 2016

 

Alhamdulillah to Your Mercy, Allah
Alhamdulillah to Your Mercy, Allah

Hello, long time no see you, my blog. I miss to write here. Yaps, in this chance the topic is my second graduation. Finally, I’m graduated from Hasanuddin University after being a student for two years more. Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah ya Allah. You again again again give me Your priceless mercy.

Jadi ceritanya pada tanggal 22 Desember 2016 (bertepatan hari ibu, readers), Universitas Hasanuddin melaksanakan Wisuda Pascasarjana dan Profesi Periode II Desember Tahun Akademik 2016/2017. Khusus untuk fakultas saya, Fakultas Ilmu Budaya, memiliki 17 wisudawan yang berasal dari 4 (empat) program studi, yakni:

  1. Program Studi Ilmu Linguistik S3 (1. Fatimah Hidayahni Amin)
  2. Program Studi Ilmu Linguistik S2 (2. Ita Rosvita, 3. Siti Umi Salamah, 4. Nila Puspita Sari, 5. Maria Arnoldiana Dadjan Uran, 6. Santy Monika)
  3. Program Studi Bahasa Inggris S2 (7. Nining Syafitri, 8. Yuriatson, 9. Ida Mariani Idris, 10. Yandri, 11. Israkwaty, 12. Rizki Diliarti Armaya, 13. Faika, 14. Hikmawati, 15. Reza Apreliah Dg. Matara, 16. Satang)
  4. Program Studi Bahasa Indonesia S2 (17. Nanik Indrayani) 

    FYI, alhamdulillah juga untuk wisuda kali ini, ijazah dan transkrip udah langsung ada, jadi tidak perlu galau menunggu transkrip kelar yang katanya butuh waktu beberapa bulan. Trims, Unhas. 🙂

    Bersama Dosen dan Staf TU FIB Unhas
    Bersama Dosen dan Staf TU FIB Unhas

Satu hari sebelum pelaksanaan wisuda, 21 Desember 2016, kami mengadakan malam ramah tamah di Hotel MaxOne yang berada di Jalan Taman Makam Pahlawan. Hal ini berbeda dengan malam ramah tamah pada periode I September 2016 kemarin yang dilangsungkan di Hotel Clarion Makassar, di mana semua program studi pascasarjana berada dalam satu aula dan panitianya berasal dari pihak Pasca Unhas sendiri. Pada periode II Desember 2016 ini, yang menjadi panitianya pun adalah kami sendiri dan khusus Fakultas Ilmu Budaya. Dengan demikian, suasana keakraban bersama para dosen, staf fakultas dan calon wisudawan sangat terasa pada malam itu.

Kak Satang dan Prof. Tadjuddin Maknun, S.U. (WD I)
Kak Satang dan Prof. Dr. Tadjuddin Maknun, S.U. (WD I)

Pada pelaksanaan ramah tamah tersebut, kami, para wisudawan, memberikan cenderamata sebagai kenang-kenangan yang diwakili oleh Kak Satang kepada pihak fakultas yang diwakili oleh Wakil Dekan I, Prof. Dr. Tadjuddin Maknun, S.U. Kemudian, ada pembacaan wisudawan terbaik di tingkat fakultas kami, yakni Kak Fatimah Hidayahni Amin, Kak Yandri, Maria (Dian), dan Ibu Siti Umi Salamah. Congrats, kaka-kaka.

Left2right: Hikma, Kiky, Kk Fatimah, Ning, Nila
Left2right: Hikma, Kiky, Kk Fatimah, Ning, Nila

Terima kasih kepada teman-teman wisudawan yang telah mengupayakan acara malam ramah tamah pada periode ini sehingga acaranya berjalan dengan baik dan lancar. Semoga berikutnya lebih baik lah. Aamiin.

Ladies FIB Unhas
Ladies FIB Unhas

Well, tidak terasa dua tahun lebih lanjut sekolah di sini, Makassar. Pastinya bakalan banyak momen yang harus dikenang, seperti momen perkuliahan yang kadang buat seru, dagdigdug, lucu dan awkward, terus masa-masa ngerjain tugas dari dosen, dan perjuangan pamungkas adalah proses penyelesaian tesis yang berhasil buat saya hampir hopeless, percaya deh Allah sudah punya skenario sendiri memang, tinggal kitanya aja yang pintar-pintar positive thinking dan giat berusaha bagaimana caranya supaya tidak hilang semangat. Kata Prof. Hakim, Semangat dulu yang disemangati. Hehehe.

Selain itu, kuliah di Unhas ini, saya pun punya banyak teman dari berbagai daerah. Thank you ya sudah jadi teman yang baik untuk Nining selama dua tahun lebih ini. Maaf kalau ada banyak salah sama teman-teman, gak ada niat mau jahat sama kalian. Bakalan kangen sama kalian, pastinya bakalan gak bisa diulangi lagi momen kuliahnya. Kita semua pasti udah berpencar masing-masing ke arah yang tidak ditentukan. Hehehe. Yeps, mencari dan menemukan kehidupan baru yang lebih baik setelah perjuangan menjalani studi. Pastinya, beberapa tahun kemudian, udah kedengaran kalau si ini si itu udah jadi rektor, ketua program studi, jadi prof., lanjut kuliah di luar negeri, di universitas ini itu. Ecieee. Aamiin Aamiin.

Makassar, I will miss you a lot. Thanks, Allah, You have given me a chance to enjoy all these experiences in continuing this study.

*’Tarimakasiku to yingkomiu’ (Thank to you all) session.
Trima kasih, Ma Pa, to all your sacrifice for me. I know I can’t do like what you have given to me, except to be your good daughter as you want. I’ll do it, in sha Allah.

Thanks juga untuk para dosen yang sudah mengajar teman-teman dan saya selama perkuliahan di Unhas. You are great lecturers. :’)

Trima kasih untuk para staf TU Fakultas Ilmu Budaya.

Oh iya, terima kasih juga buat teman-teman, sahabat dan keluarga yang sudah mengucapkan melalui media sosial, minta maaf komentarnya belum sempat dibalas semua.

Dan semua pihak-pihak yang secara langsung dan tidak langsung turut memudahkan jalan saya dalam proses penyelesaian kuliah ini. Tarima kasi.

*Curhat session
Udah diwisuda emang iya, tapi masih merasa kurang begitu, belum apa-apa sih iya. Masih banyak kurangnya malah. Walaupun sekolah memang sudah selesai, tapi belajar harus berlanjut terus. Saya memang harus terus belajar. SEMANGAT, Ning. SEMANGAT!!!

Biasanya, hal yang paling sering ditanyain setelah saya wisuda ini adalah pekerjaan dan jodoh. Saya mah senyumin aja sambil berkata, “Mohon doanya, om-tante-pak-bu-teman. Semoga disegerakan, dapat kerja yang bagus dan dapat jodoh baik yang Allah ridho. Aaamiin.” Acakaseeehhh… Ahaide. Hehehe… Thanks, readers, udah sempat-sempatkan baca tulisan curhat minceu dari awal hingga akhir. Semoga bermanfaat, readers. Semoga… 😀

Advertisements

Milea: Suara dari Dilan

21998

“Kata Pidi Baiq, perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu. Iya, rindu amat teramat sangat. Rindu ada Dilan dan Milea saja. Perpisahan itu, dapat menyedihkan atau bisa jadi menyenangkan. Namun, dari sudut pandang saya, novel ini membuat perpisahan menjadi sesuatu hal yang sangat disayangkan untuk dijadikan sebuah kenyataan yang harus dilewati oleh dua orang tokoh utama, Dilan dan Milea. Perpisahan yang harusnya jangan terjadi.”

Novel Milea: Suara dari Dilan ini adalah karya lanjutan Pidi Baiq dari Novel Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1990 dan Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1991. Jadi, sebelum membaca novel ini, sebaiknya teman-teman membaca Novel Dilan #1 dan #2 terlebih dahulu agar lebih afdol mengetahui alur ceritanya.

Jika dua novel sebelumnya merupakan kisah Dilan dan Milea dari sudut pandang Milea. Maka, novel ini berasal dari sudut pandang Dilan tentang bagaimana pemikiran Dilan terhadap dirinya dan Milea yang berbeda satu sama lain hingga menimbulkan kesimpulan kehidupan mereka yang pada akhirnya membuat saya menangis (lagi) di akhir lembaran cerita novel ini. *Tersentuh, Bang Pidi Baiq. 😥

FYI, sekilas dari novel ini. Terdiri dari 20 bab. Hampir semua para tokohnya pun masih sama (kalau tidak salah ingat) seperti kedua novel sebelumnya. Namun, ada sedikit penambahan tokoh baru untuk kisah asmara Dilan dan Milea yang baru. Hmm. Bandung, Jakarta dan Jogja merupakan daerah-daerah yang menjadi latar belakang tempat dalam novel ini.

Milea rindu Dilan. Dilan rindu Milea. Kenapa tidak jadi sih, Bang Pidi Baiq? 😥

Bisa dibayangkan kan, merencanakan masa depan bersama orang yang kita pikir dia yang akan bersama-sama menjadi masa depan kita, dan di tengah jalan Tuhan memiliki skenario yang lain. Rasanya tuh JLEBBB bangettt. Tapi, yah namanya manusia, cuma bisa punya planning, Tuhan yang make it into a reality. Dan Dilan menyikapinya dengan bijaksana.
*Ah, novel ini lagi-lagi membuat saya termehek-mehek di tengah sunyi senyapnya gelap.

“Kata Dilan: Rasa sedih jika ada, itu harus berbatas untuk memberi peluang munculnya harapan pada hari-hari berikutnya, mengejar impian dan meraih kebahagiaan bersama seseorang yang dapat menghabiskan sisa hidup kita dengannya. … Rasa sedih dan kegagalan tidak selalu berarti kekalahan.” (Pidi Baiq, 2016, p. 356-357)

Sebagai kesimpulannya, novel ini adalah sebuah karya fiksi yang mengingatkan kembali bahwa sebaiknya menghindari su’udzon atau berpikiran negatif terhadap seseorang; ketika mendengar ada hal yang kurang berkenan di hati tentang orang yang kita sayangi, coba tanyakan langsung kepadanya agar tidak terjadi kesalahpahaman, walaupun memang rumit, antara gengsi dan sekedar saling menunggu inisiatif satu sama lain; selalu meminta maaf dan memberi ucapan terima kasih untuk orang yang menyayangi kita; dan selalu ingat, harapan terkadang tidak sesuai kenyataan, bro. Hehehe.

Judul: Milea: Suara dari Dilan
Penulis: Pidi Baiq
Cetakan: I, 2016
Penerbit: Pastel Books
360 hlm.; Ilust.: 20.5 cm
ISBN: 978-602-0851-56-3

Pagi, Ramadhan!

Kita memiliki kehidupan yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Olehnya itu, rezeki, jodoh dan kematian yang Allah kasih akan berbeda-beda pula kuantitas dan kualitasnya.
Berbeda bukan berarti Allah berdiskriminasi.
Berbeda karena Allah tahu yang terbaik untuk hambaNya yang bertakwa.

Pagi yang tenang. Iya, cerah karena cuacanya tidak mendung. Duduk di sebuah bangku panjang bersama teman seperjuangan. Masing-masing di hadapan laptop dengan kepentingan yang berbeda. Teman saya sibuk mempersiapkan dirinya untuk ujian seminar proposal tanggal 22 Juni ini dan saya sibuk menulis tulisan ini. Tidak sempat bangun sahur karena bangun kepagian dan tidur terlalu malam, tidak menjadi halangan untuk tetap berkonsentrasi dengan apa yang ada di depan mata.

Sedikit menghilangkan penat dari proses pengerjaan hasil penelitian yang belum selesai di mana besok adalah jadwal bimbingan. Rasanya saya terlalu selllooowww sekali… -___- Berharap dapat wisuda September ini, tapi usahanya segini. Mana bisa. Tapi, saya harus yakin, in sya Allah bisa ujian hasil dalam waktu dekat dan dapat wisuda September ini. Yakin, positif, usaha, dan berdoa. Kenapa? Karena kalau saya terlanjur bilang “tidak bisa kejar wisuda September”, itu adalah kesalahan terbesar. Tidak boleh pesimis, Ning. Jalan saja. Positif saja. Kalau dapat September, alhamdulillah. Kalau tidak dapat September, juga alhamdulillah. Jalan Allah itu lebih baik dari apa yang kamu rencanakan, Ning.

Oh iya, bulan Ramadhan ini rasanya beda. Kayak gimana ya… Ada senangnya, ada sedihnya juga. Di pikiran saya itu, “tesis, tesis, tesis, tesis.”  Melihat teman seangkatan yang mau wisuda tanggal 29 Juni ini dan yang sudah ujian hasil, rasanya seperti disindir diri sendiri, “kamu kapan, Ning?” Rasanya mau juga seperti mereka, tapi gimana. Saya usahanya minim. *Jangan dicontoh, readers. Memang betul, Usaha tidak mengkhianati hasil. Gimana gak minim, setelah sakit kemarin, saya seperti kurang cekatan, gercep, dan enerjik. 😀 *merasamu deh, Ning. Wkwkwk… Tekanan darah saya turun naik, readers. Kadang 80/60, 90/70, yaa main-main di situlah. Dan hal itu membuat orang tua saya sedikit panik. *Maafkan anakmu ini, Ma Pa. Mereka meminta saya untuk menjaga kondisi badan dengan banyak minum susu beruang, makan coto/konro, dan satu, TIDAK BEGADANG. Bagaimana bisa selesai ni proyek kalau tidak begadang, Ma Pa. Tapi, saya tidak menyalahkan mereka. No no no. Saya aja yang kurang pandai mengatur waktu dan diri. Gimana Allah mau kasih jodoh kalau saya masih begini. Eh, pembahasan jatuh ke situ lagi. Wkwkwkwk.

Ya, jalan orang memang berbeda. Saya dengan kehidupan saya, orang lain dengan kehidupannya sendiri. Mungkin kemarin saya terlalu menggebu-gebu memilikinya, tapi sekarang saya belajar untuk lebih memahami bahwa tidak selamanya hal yang menyenangkan yang kita dengar akan cepat terealisasi di depan mata. Iya, karena semuanya bisa saja terjadi, tapi waktunya tidak secepat apa yang kita inginkan. Tergantung cara kita mencintai Allah dan berusaha memperbaiki diri menjadi lebih baik, baik, dan baik lagi. 🙂

Teruntuk dr. Rezky Astarini T

img1436920619932

Hai, dr. Rezky Astarini T a.k.a. dr. Kiky!
Kamu bahagia hari ini kan?
Alhamdulillah.
Cieee, yang sudah punya pasangan halal 🙂

Rasanya lihat kamu melepas lajang itu, rasanya gimana ya.
Yaa, sudah bisa dipastikan saya bakalan nangis lagi.
Sedih, terharu dan bahagia, Ky.

Udah sekitar 13 tahun kenal kamu.
Dari kelas 1 SMP dulu sampai sekarang.
Dari yang belum terlalu dekat hingga jadi dekat.
Dari kita yang masih remaja sampai udah dewasa kayak sekarang.
Dari kita yang masih single, eh tahu-tahunya kamu yang duluan berganti status menjadi ‘a married woman’
Waah, waktu jalannya cepat ya. 🙂

Proses hingga berada di tahap ini pun tidak instan.
Butuh ‘perjuangan hati’. Iya kan, Ky? Hehehe…
Alhamdulillah, Allah memberikan jalan yang baik kepada kamu.
Mempertemukanmu bersama Ary, yang rupanya dia adalah teman SD saya dulu, Ky. Dunia kecil ya. Hehehe.
Allah mempertemukanmu bersama dia dalam suatu ikatan cinta yang halal, pernikahan.
Alhamdulillah.

Kiky sayang, segala harapan dan doa-doa baik untuk dirimu dan Ary tercurah, mengalir deras hari ini dan esok.
Iya, dari orang-orang yang menyayangi kalian.
Semoga rumah tangganya menjadi samawa, langgeng selalu, rezekinya semakin diperbanyak sama Allah. 
Satu lagi, saya nunggu ponakan ya. 😀

Oh iya,
Kiky sayang, 
Semoga pernikahanmu bersama Ary dapat menjadi pembuka jalan bagi saudari-saudarimu yang masih berstatus single ini.
Mohon doanya ya, ibu dokter. 😉

Last but not least,
Kiky sayang, selamat ya.
Sekali lagi selamat.
Peluk cium dari saudarimu yang kecil ini.
Semoga Kiky dan Ary akan selalu berada di tengah ‘dan’ hingga maut memisahkan.
Aamiin Aamiin Aamiin Yaa Rabbal Alamiin.

Kiky dan Ary
Kiky dan Ary (Source: Kiky’s File)

Generasi 90an

Generasi 90an
Generasi 90an

“Generasi di mana imajinasi lebih mendominasi daripada teknologi.” (Marchella FP, 2013)

Judul Buku: Generasi 90an
Penulis: Marchella FP
Cetakan Kedua Maret 2013
Penerbit: PT Gramedia, Jakarta
Tebal: 144 Halaman

Terbitnya buku Generasi 90-an ini menjadi ajang nostalgia buat orang-orang, khususnya yang pada saat itu masih berada di bangku SD, SMP dan SMA di tahun 90-an, termasuk saya. 😀

Well, seperti apa yang dikatakan Mbak Marchella, buku ini membahas tentang segala hiburan di era 90an, seperti musik, tontonan, mainan, tren, jajanan, bacaan dan lain-lain. Ketika membaca buku ini, saya udah langsung senyum-senyum aja. Hahaha. Lucu. Teringat kenangan masa lalu, masa kanak-kanak yang memang paling berharga sekali. Kemarin masih banyak hiburan-hiburan yang masih bersifat non-digital, masih banyak berinteraksi dengan lingkungan sekitar, dengan alam, dengan teman-teman secara LIVE. Sekarang mah, anak-anak mainnya gadget, layar gadget terus yang diliatin. Itupun kalau kumpul sama teman-teman, gadgetnya yang diperhatikan, banyakan liat gadget daripada ngobrol sama teman, rata-rata sih gitu. 😀 Terlepas dari itu, buku ini menjadi salah satu sumber pembawa kenangan manis untuk kita yang ‘beredar’ di sekitaran tahun 1990-1999.

Buku yang berukuran 20 cm x 20 cm dan full color menambah semaraknya momen tahun 90-an itu. Saya waktu membaca buku ini, dari awal sampai akhir senyum terus, sedikit-sedikit ketawa. Yaa, kenangannya terlalu manis. Saya betul-betul menikmati masa-masa itu. Alhamdulillah. Masa kecilnya bahagia. Masih ingat dengan Majalah Bobo, Baju-Baju (BP-BP-an), Trio Kwek-Kwek, dan banyak lagi lainnya. Makasih, Mbak Marchella, udah menyelamatkan segala momen-momen itu di buku ini. Kenangannya tidak dapat diganti dengan apapun.

So, bagi yang ingin mau bernostalgia dengan masa 90-an, buku ini bisa menjadi salah satu rekomendasi untuk mengenang dan menyimpan kenangannya. Eeaa…

I’m proud of being Generasi 90an. 😀

Nokia 6030 dan Nokia E63

Nokia E63 dan 6030
Nokia E63 dan 6030

Hallo, Nokia! Apa kabar? Trima kasih telah menemani saya selama ini. Walaupun termasuk Handphone ‘kemarin’, kamu telah berjasa banyak sekali. :), yaa khususnya sebagai pembawa nostalgia di masa-masa SMP kelas 3 hingga kuliah saat ini.

Postingan kali ini membahas tentang HP Nokia 6030 dan E63 saya. Tujuannya adalah saya ingin bercerita tentang mereka. Walaupun hanya HP ‘kemarin’ dan hanya sebuah benda mati tapi jasa dan kenangannya tidak dapat mati. 🙂 Bukan hal yang istimewa sih, akan tetapi saya ingin membuatnya menjadi istimewa melalui catatan di blog ini. 🙂 *ngomong apa sih, Ning?

Kita mulai dari yang pertama. HP Nokia 6030. Ya, this is my first HP since I was in Junior High School, kelas 3. Kebetulan hari ini, 4 Mei 2016, dia genap berusia 10 tahun. Gak terasa aja nih, tahun 2006 kemarin dibeli dan saya masih memakainya. 😀 Bisa dibilang, HP ini cukup tahan lama lah. Udah gak bisa dihitung berapa kali jatuh dengan tidak sengaja dan atau keteledoran menaruh HP dengan posisi yang kurang baik. 😀 Saya masih menggunakan original case-nya, walaupun tulisan di atas keypadnya udah ‘kabur air’. Hal ini diakibatkan karena jari-jemari yang terlalu lincah mengirim SMS. 😀 Bentuknya yang kecil membuat HP ini dapat digenggam sepenuhnya sehingga terasa nyaman untuk digunakan.

Masih tersisa beberapa SMS dan catatan kecil zaman SMP, SMA dan S1 dulu di bagian MessagesSaved Items. Mulai dari do’a  masuk ruang ujian, notifikasi Mig33, SMS dari sahabat tentang cinta monyet dulu, lirik lagu anak IPSA (Ipa Satu) dari Abang Yoko, hingga list frekuensi radio yang ada di Kota Baubau. Membaca catatan-catatan itu kembali rupanya mengundang saya untuk senyum-senyum sendiri. Saya masih ingat di zaman SMA kelas 2, ketika pertama kalinya mengenal internet lewat HP. Kalau tidak salah, dulu yang ajarkan itu La Sahly. Dari dia juga chatting IRC dimulai. Awalnya chatting masih di sekitar kelas IPA 1 dulu, kemudian menyebar seantero teman-teman seangkatan di SMANSA. Waktu itu. Kalau diingat-ingat, kemarin kami gila skali yang namanya chatting. Udah sampai ada yang jadian gara-gara chatting. Ada beberapa teman, bukan saya. 😀 SMA SMA. Indah banget ya. 🙂 Akibat terlalu keseringan chatting, baterai HP saya bengkak, terpaksa ganti baterai yang non-original. Lewat Nokia ini juga, saya mulai mendownload ringtone berformat midi, dari yang beraroma lagu anak-anak, dangdut, pop Indonesia hingga mancanegara punya. Masih tersimpan hingga sekarang. Biasaa, mau dijadikan ringtone. Kasiannyami, masa ringtone nokia tune terus yang dipake. 😀

Pemakaian HP Nokia 6030 berhenti sejenak pada tanggal 8 Oktober 2010 karena pada saat itu saya membeli HP Nokia E63. Yaa, naik tingkatan sedikit. Sudah jadi anak kuliahan soalnya. Ada keinginan mengistirahatkan 6030, kasian udah lama juga dipake. Dua masa ini e, SMP dan SMA, ada sekitar 4 tahun lah. Lumayan.

Nokia E63. Sama seperti Nokia 6030, saya masih memakai original case warna hitam, tapi tulisan di atas keypadnya masih lumayan OK, tidak separah 6030. Sayangnya, sekarang kondisinya tidak ‘sesehat’ kemarin. Menyala beberapa menit, kemudian mati. Tinggal tunggu RIPnya saja ini kasian. Alhamdulillah kemarin data kontaknya masih bisa dibackup di Nokia PC Suite. Si layar besar yang udah banyak waktu istirahatnya. Padahal masih butuh kamu. 😦

Secara pribadi, E63 ini punya kenangan tersendiri bagi saya. Beragam curhatan, rahasia, motivasi, cinta, dan amarah yang tertulis, entah ditujukan untuk saya atau seseorang, masih tersimpan dengan sangat baik. Kemarin. Sebelum diformat ulang beberapa kali. Ya, sangat terasa jelas perjalanannya. Beberapa pesan singkat yang saya anggap penting, tersimpan dengan baik. Kemarin. Namun, sekarang tidak ada satupun pesan yang tersimpan. Buktinya telah hilang, tapi kenangannya tidak akan hilang dalam ingatan. Saya menganggap bahwa HP ini sebagai pembelajaran bagi diri saya agar tidak lari dari kenyataan. Harus berani menghadapi segala masalah yang ada. Yaa, cukup Nokia E63 dan saya saja yang merasakan kenangan itu. 🙂

Berhubung Nokia E63 saya udah sakit-sakitan (jarang diaktifkan), maka Nokia 6030 kembali hadir menemani saya sekarang. Isi pesan singkat zaman SMP SMAnya masih ada, tapi provider selulernya berbeda. Ya, ini tentang kehidupan baru yang harus dijalani di atas kehidupan yang lama. Tidak melupakan, cuma ingin menjalani kehidupan yang lebih baik dari kemarin. 🙂

Well, itu aja yang ingin disharing. Bukan pamer ya. Ini kan cuma HP ‘kemarin’. Saya cuma ingin menshare kenangannya, bukan tentang kuantitasnya. 🙂 Thank you.

Seminar Usul Penelitian di Akhir April

DSC06640edit

Allah memberikan salah satu hadiah terindahNya tanggal 28 April 2016 untuk saya, ujian seminar usul penelitian. Ya, dua minggu setelah 14 April kemarin. Alhamdulillah. Satu langkah telah terlewati untuk menuju tahap-tahap selanjutnya. Terima kasih untuk para gadis di foto ini yang telah meluangkan waktunya menghadiri seminar saya hingga selesai. 🙂 Semoga kita dapat berwisuda bersama-sama ya. Secepatnya lah kalau perlu. Aamiiin. 🙂

Alhamdulillah, alhamdulillah. Tahap awal yang rasanya sulit sekali untuk berada di titik ini. Namanya juga mahasiswa tingkat akhir, harus penuh dengan pengorbanan dan perjuangan. Kan datang ke Makassar untuk belajar, bukan to do nothing. Ya kan? Sulit karena memang kesalahan saya sendiri. Sebagai mahasiswa itu memang sudah harus menyiapkan diri tentang apa yang mau diteliti untuk di semester akhir nanti. Bukan pada saat sudah semester akhir baru memulai mencari-cari masalah penelitian. Akibatnya? Seperti saya. Yaa, terkesan agak sedikit terlambat karena waktu ujiannya  berada di penghujung April.

Hari-hari menjelang ujian, perasaan terasa tidak tenang, tidak bersemangat, galau dan segala hal negatif lainnya. Rasanya seperti belum siap saja. Syukurnya, masih ada teman-teman yang mau merangkul untuk jalan bersama-sama. Iya, Ucha, Kak Sahlim, Kak Asdar, dan Kak Satang. Sebelum menjelang hari ujian, kami latihan presentasi. It’s very helpful. Kami yang kadang berlakon secara bergantian sebagai pembimbing dan penguji, ada canda tawa di sela-sela latihan, dan banyak masukan saran dan kritikan yang diperoleh selama latihan. Semuanya memberikan kenangan tersendiri selama proses menuju ujian proposal. Kalau ujian hasil, kita latihan bareng lagi ya. Aamiin.

3373

Tiba di hari H, alhamdulillah semuanya berjalan dengan baik. Thank you bantuannya, teman-teman. Kak Sahlim dan Echa yang udah repot-repot ngurus kue, Ucha yang sibuk urus makanan dan ngasih bantuan ke saya selama presentasi, Sofyan dan kak Fay yang udah ngangkat sedos air mineral, Eman yang udah pagi-pagi harus ke Holland ngambil roti, Riri yang udah repot jadi seksi dokumentasi, Dina yang udah bantu statistik di proposal. Oh iya, Kak Arni, Idha, Kak Satang, Desty, Aya, Inna, Kk Fitri, Ussy, Kak Deasy, Kk Yandri, Hikma, Kak Isra, Nila, Dian, Kiky, Kak Rossi dan Vivy yang stay sampai saya selesai seminar, juga Kak Asdar yang datang terlambat. Thank you thank you, gaes. Hehehe. Memiliki sahabat, teman seperjuangan seperti kalian itu rasanya gimana ya. Speechless dah. Thank you for supporting each other.

Walaupun masih banyak perbaikan sana-sini, saya masih harus tetap semangat. Ini belum akhir perjalanan. Masih awal, Ning. 🙂 Harus kuat. Tapi, sekuat-kuatnya Nining, tetap akan nangis juga. 😀 Gimana nggak menangis, selesai seminar, ada SMS dari Pak Sekprodi di Baubau, kata beliau, “SEMANGAT.” Langsung saya telpon beliau. Eh, tiba-tiba Beliau manggil Pak Pardi untuk bicara sama saya. Gimana gak terharu dan sedih. Kalau ingat wajah dan senyuman Pak Pardi selalu rasanya pengen nangis aja. Hati saya terlalu sensitif mungkin. Jadinya cengeng. Ning Ning. Senang sekali mendengar suara-suara riang dari ruangan prodi bahasa Inggris di sana, iya walaupun cuma berbicara dengan Pak Pardi, Pak Baharuddin Adu, Dianti, dan Iphank. Itu sudah hal yang lebih dari cukup dari mereka yang menyayangi saya. :’)

Terlepas dari semua hal di atas, ada dua sosok yang paling care terhadap saya. Mereka yang berdoa untuk keberhasilan saya di ujian ini, tapi tak terpublikasikan. Mereka  yang khawatir akan kegusaran saya menjelang hari ujian, tapi selalu dan tak pernah bosan memberi nasehat membangun untuk diri saya. Mereka yang masih mau berkorban untuk saya hingga mencapai di titik ini. Maaf, Ma Pa. Masih ujian proposal, itupun masih banyak yang harus direvisi. Mudah-mudahan bisa secepatnya diselesaikan dengan baik. Makasih, Ma Pa. :’)

Karena Hujan Selalu Memiliki Cerita

Hujan - Tere Liye

“Bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan.”  Penggalan kalimat terakhir ini menutup cerita Hujan yang disajikan Tere Liye. Ya, seperti yang dituliskan di belakang sampul buku ini. Tentang persahabatan, tentang cinta, tentang perpisahan, tentang melupakan, tentang hujan. Nyess…

Judul Buku: Hujan
Penulis : Tere Liye
Cetakan : Keempat, Februari 2016
Isi: 320 halaman; 20 cm
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Berawal dari kekhilafan saya karena tidak sanggup melihat buku ini terpajang di rak buku bagian best seller di Gramedia MP hari itu, saya memutuskan untuk membelinya. Mengorbankan uang saku demi buku, di kala proses penyusunan proposal untuk diserahkan ke pembimbing  pun menjadi saat yang crucial. Bukan apa-apa, karena saya mengingat di salah satu media sosial mengatakan buku ini akan mengalami kenaikan harga untuk pencetakan bulan Mei 2016 nanti.  Beberapa minggu lalu, saya masih melihat tumpukan buku Hujan ini melimpah ruah, eh beberapa hari kemudian saya melihat Hujan hanya tersisa tiga buah. Daripada menyesal sampai di rumah, I decide to buy one of them. Walaupun uang saku menjadi taruhannya, tidak bisa beli jajan, tidak masalah. Yang penting buku ini harus ada di tangan. Ya, ini adalah kekhilafan. Maaf, Ma. Tidak bisa mengerem keinginan ini. Hehehe.

Oke, lupakan pendahuluan yang saya buat. Tulisan ini hanya sebagai selingan saya selama masa penungguan pembimbing mengoreksi proposal yang disusun. Semoga hasilnya baik dan saya segera maju ujian proposal. Aamiin.

Mari kita masuk ke inti tulisan (Teori Kaplan tentang cara berkomunikasi orang Asia terbukti pada tulisan ini, berputar-putar). Maafkan, readers. 😀

Di awal membaca Hujan, ini di luar ekspektasi saya. Selama ini jika saya membaca buku-buku Tere Liye selalu ada kesan ‘tenang’ di awal-awal perjumpaan. Namun, di buku ini, seperti merasakan ada kengerian di dalamnya. Membayangkannya pun, saya mau menolaknya. Ini seperti berlebihan ya, tapi begitulah opini saya tentang buku ini. Tere Liye menceritakan dan menggambarkan kehidupan umat manusia di masa depan dengan segala teknologi dan bencana yang akan dihadapi nanti. Tere Liye seperti memberikan peringatan penting yang tersirat untuk memperlakukan bumi secara bijaksana lewat Hujan. Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk umat manusia sendiri yang tidak bisa terlepas dari bumi sebagai pijakan untuk memiliki kehidupan (sementara).

Menceritakan kisah dua orang anak perempuan dan anak laki-laki, bernama Lail dan Esok, yang bersama-sama melewati kejadian demi kejadian. Ya, walaupun kadang menguras hati. Lail yang kehilangan kedua orang tuanya dan Esok yang kehilangan keempat saudaranya atas bencana alam yang terjadi saat itu. Semuanya meninggalkan bekas luka hati yang terdalam bagi mereka.

Lail menyukai hujan karena setiap hujan selalu ada moment istimewa yang ia dapatkan. Sayang, tidak selamanya menjadi istimewa, karena akan ada saatnya menjadi sangat menyakitkan. Seperti yang dikatakan Maryam, sahabat Lail, “…. Jangan pernah jatuh cinta saat hujan, Lail.  Karena ketika besok lusa kamu patah hati, setiap kali hujan turun, kamu akan terkenang dengan kejadian menyakitkan itu. Masuk akal, bukan?” (Liye, 2016: 200). Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya.” (Liye, 2016: 201). 

Bab demi bab, saya selalu penasaran dengan ceritanya. Bang Tere Liye, setiap rangkaian ceritamu selalu berkesan. 🙂 Tapi, di akhir cerita saya masih penasaran bagaimana akhirnya kehidupan di bumi. Mungkin Bang Tere Liye telah melakukan riset sebelumnya sebelum menulis cerita ini. Serasa ada campuran cerita scientificnya. Setegang-tegangnya cerita di dalam, selalu saja ada kisah menyentuh yang terselip. Ah, Bang Tere Liye. Kau selalu bisa membuatku mellow. :’)

“Bukan seberapa lama umat manusia bisa bertahan hidup sebagai ukuran kebahagiaan, tapi seberapa besar kemampuan mereka memeluk erat-erat semua hal menyakitkan yang mereka alami.” (Liye, 2016: 317) Tentang persahabatan, tentang cinta, tentang perpisahan, tentang melupakan, tentang hujan. :’)

Terima kasih untuk karya terbarunya, Bang Tere Liye. Buku ini… Iya, pada akhirnya memberikan kesimpulan bahwa manusia memang harus bersikap bijak pada bumi sebagai tempat tinggal manusia itu sendiri. Di sisi lain,  memang harus ada penerimaan di segala kejadian yang kita alami. Intinya ikhlas saja. Yang menyenangkan dan menyakitkan itu merupakan warna yang indah dari kehidupan yang diciptakan Allah untuk setiap hambaNya. Ya, harus pandai-pandai bersyukur aja, Ning. 🙂

Untuk lebih lengkapnya, silahkan baca buku Hujan ini. Saya belum bisa memberikan status sebagai buku yang paling direkomendasikan atau tidak, tapi dari cerita yang saya utarakan, readers pasti bisa menilai. 😉

*Semoga suatu saat nanti saya juga memiliki karya seperti Anda, Bang Tere Liye. 🙂

Cerita Pagi di Kampus Merah

Terbesit keinginan untuk menikmati pagi di kampus merah ini. Tidak sendiri, namun bersama teman sedaerah yang sedang melanjutkan studi juga di kampus yang sama namun berbeda program studi. Sebut saja namanya Nova. 😀 Kami berjalan menyusuri jalanan yang dijejeri pepohonan rindang. Tidak berlari, namun berjalan.

12669489_10204392466046312_6729171954049293022_nBerjalan sambil bercerita tentang jalan kehidupan masing-masing. Kami memiliki cerita yang beragam. Mulai dari kehidupan keluarga, pendidikan, hingga asmara. Ya, topik-topik tersebut mendominasi pagi ini. Alasannya adalah karena mereka memang menarik untuk dibahas.

Tentang keluarga, bagaimana berbedanya karakter dan fisik kami sebagai anak pertama di antara para adik. Salah satu cerita yang kami angkat tadi adalah bagaimana saya di antara saudara-saudara yang lain. Ya, saya memiliki dua saudara kandung. Di antara kami bertiga, saya adalah anak perempuan yang tingginya paling semampai, semeter tak sampai. 😀 Sedangkan, anak kedua dan ketiga, untuk modal tinggi itu, cukuplah. Saya juga heran mengapa cuma saya yang kecil di antara mereka-mereka yang cukup tinggi. ‘Tiny banget’. Walaupun demikian, saya bersyukur. Tetap toh, harus bersyukur. 🙂 Hehehe.  Nova dan saya saling berbagi untuk cerita-cerita seperti itu dan jarang untuk tidak menertawainya bersama.

Berbicara tentang pendidikan. Pendidikan yang kami tempuh untuk mencapai di titik S2 ini adalah hasil jalan hidup kami yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Dengan biaya sendiri alias dari orang tua, kami toh sampai juga di tahap akhir semester. Kami sempat berharap akan ada beasiswa setelah terdaftar sebagai salah satu mahasiswa pascasarjana di kampus ini. Namun Allah masih belum memberikan rezeki itu walaupun kemarin kami sempat mengikuti proses penyeleksian beasiswa, seperti Tanoto dan Bakrie. Alhasil, kami belum berhasil. Secara pribadi, saya sempat kecewa mengapa beasiswa bukanlah salah satu rezeki yang saya miliki. Namun, saya tetap menyadari bahwa Allah pasti tahu yang terbaik untuk saya. Dan hasil perbincangan bersama Nova tadi, ceritanya semakin menegaskan saya bahwa memang Allah itu Maha Adil. Nova bercerita bahwa mungkin Allah tidak memberikan beasiswa kepada kami, namun Dia memberikan rezeki itu lewat orang tua. Mengapa? Agar kami selalu mengingat bahwa melanjutkan sekolah ini karena pengorbanan orang tua. Hingga akhirnya, jika sukses nanti, kami tidak akan meremehkan orang tua, tidak merasa bahwa kesuksesan itu milik pribadi sendiri karena kami sendiri yang berusaha. Sempat teringat apa yang dikatakan ayah (Pak Chay) sebelum kami menginjakkan kaki di kampus ini. Beliau sempat memberikan petuah pada kami. Kira-kira seperti ini, jika Allah telah mengizinkan kalian untuk melanjutkan sekolah. Percayalah, jalan itu akan selalu ada. Dan iya, terbukti sekarang. Rezeki alhamdulillah ada. Yaa, rezeki datangnya kapan dan di mana saja. Dan jalan untuk mencapai tujuan kami berada di kampus ini sedikit lagi tercapai. Butuh doa dan usaha lebih lagi. Semoga semuanya berhasil. Aamiin yaa rabbal alamiin. Sempat tidak menyangka juga bahwa dengan keadaan yang seperti ini, kami bisa juga melewati semuanya satu per satu, tahap per tahap.

Di dalam kesempatan ini, saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada orang tua saya. (Walaupun hanya lewat tulisan). Terima kasih karena sudah mengikhlaskan anakmu untuk sekolah walaupun banyak pengorbanan yang dilakukan untuk mencapai cita-citanya. “Tidak mungkin juga kami membiarkan kalian hanya melihat teman-teman lain lanjut di kala kalian juga ingin lanjut. Toh juga kalian kalau belajar pasti membawa hasil. Yang penting kalian jadi anak penurut itu saja sudah cukup bagi kami,” kata papa via telepon sore tadi. Papa ee, bisa saja berkata-kata. Jadinya nangis kan nih.

Last but not least. Kami percaya Allah telah memberikan jalan untuk jodoh kami masing-masing. Kami hanya harus memperbaiki diri lagi menjadi lebih baik. Memantaskan diri agar menjadi pantas memiliki jodoh yang telah diridhai oleh Allah. *Kalau masalah ini, tidak perlu dibahas banyak ya. Cukup tahu saja bahwa hal ini adalah lumrah di saat kami menginjak usia 20-an.

Pagi memang selalu memberikan warna tersendiri.
Untuk hidup yang lebih baik.
Optimislah, Ning!
Usahakan selalu berada di jalanNya.
Karena Allah selalu berada di sampingmu. 🙂
Aamiin Yaa Rabbal Alamiin.

 

Pertemuan Akhir Tahun

Left2right: Kk Asdar, Kk Yandri, Ning, Hikma, Arini, & Kk SahlimLeft2right: Kk Asdar, Kk Yandri, Ning, Hikma, Arini, & Kk Sahlim

“Tidak terasa kami sebagai para mahasiswa yang sedang melanjutkan studi telah berada di akhir Semester 3. Itu tandanya status kami berubah menjadi mahasiswa tingkat akhir, yang akan berjuang menyelesaikan pendidikan formal ini menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama, khususnya di bidang ilmu yang kami tekuni, pendidikan bahasa Inggris. Alhamdulillah. Semoga semuanya berjalan dengan lancar. Aamiin.”

Perjalanan yang kami lewati hari kemarin (25 Desember 2015) dimulai dengan menghadiri akad nikah teman sekelas kami, Kk Ayz, di sekitar Jl. Latimojong. Awalnya ragu kalau kami tidak bisa menghadiri acara tersebut karena cuaca di Kota Makassar yang hujan terus-menerus. Alhamdulillah, hujannya reda sekitaran pukul 11.00 WITA. Dan kami pun memutuskan untuk melanjutkan rencana ke Jl. Latimojong.

Kk Ayz terlihat cantik sekali dalam balutan busana adat Makassar kehijau-hijaunnya. Bersama pasangannya, terlihat sangat serasi sekali. Subhanallah. “Kak Ayz, semoga rumah tangganya samawa ya. 🙂 “

Selepas shalat Jum’at, kami pun izin pamit ke Kk Ayz dan keluarga. Ya, kami melanjutkan perjalanan ke rumah Kk Yandri. Di sanalah kami merangkum semua cerita perjalanan masing-masing secara garis besar. Cerita diawali dengan kisah percintaan (yang ini lama pembahasannya) oleh salah seorang teman kami :D, kemudian dilanjutkan dengan kisah kehidupan kampus dari semester 1 hingga semester 3; bagaimana kami di kelas bersama para dosen. Duka dan suka itu pun muncul di tengah-tengah kami saat itu. Ya, kami memiliki kisahnya masing-masing. Si pengundang tawa, Kk Asdar, banyak memberikan kontribusi cerita yang akhirnya membuat kami tidak bisa menahan rasa tawa kami untuk diekspresikan. 😀

DSC_0145

Kalau saya tidak salah, kesimpulan dari sekian banyak cerita yang diutarakan bahwa Benar, skenario Allah itu adalah skenario terbaik. Allah telah mengatur semua jodoh, rezeki dan kematian umatNya. Lagi dan lagi, semua kembali kepada Allah. Sekeras apapun kita berusaha, sejauh apapun kaki melangkah, jika Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan, ya mencoba berjiwa besar. Ada hikma di balik semuanya. Saya ingat apa yang dikatakan salah satu guru SMA terbaik saya, kata beliau, “Jangan pernah membenci Tuhan. Beraninya jika kau menyalahkan Tuhan.” Jleebb.

Inilah pertemuan kami di akhir tahun. Entah kapan lagi kami bisa seperti ini. Menyibukkan diri dengan tesis pasti akan membuat kami jarang berkumpul lagi. Namun, semoga hal ini akan membawa kami pada saat yang bersamaan untuk memakai toga. Terima kasih, teman-teman. You have colored my life experiences. 🙂

Setidaknya, pertemuan akhir tahun ini memberikan banyak pelajaran hidup yang kami tidak dapat temui di buku-buku perpustakaan. Hanya dengan berbagi cerita bersama teman menjadi salah satu obat untuk menjadi lebih baik. 🙂 In addition, kami bersyukur kepada Allah bahwa akhirnya telah ada kejelasan untuk semuanya agar di awal tahun depan nanti kami sudah bisa mengetahui apa-apa saja yang menjadi prioritas kami.

Si Anak Kedua
Si Anak Kedua

*Special note for my beloved sister, Arini.
Thank you for being my sister. Thank you for still regarding me as your sister. Maaf, selama ini saya banyak buat salah. Smoga saya dapat menjadi lebih baik lagi. Dirimu juga. Mudah-mudahan Allah memberikan rezeki dan jodoh yang baik untukmu. Aamiin.