Category Archives: Love

Hi June!

Source: google.com

Hi June,
I’m so sorry.
No birthday cake.
No candles.
No song.
No surprise.

Let me do by writing on this blog.

How are you today?
You still remember this date, don’t you?
This is your day.
I hope you’re happy to know this.
The day that reminds you to be a better man, more mature, and more thankful to Allah for everything you have.
Your day that will give what you want for your good life.
Nothing is impossible as long as we keep praying and make effort.
Aamiin.

Actually, I can’t say anything because you have made me speechless.
This is not a joke or a sweet talk, but a feeling from yours.
I wanna give you romantic words sequences, but I can’t do that.
I have no idea at all.
Sorry, Darl.
All of the words have been absorbed by you so I lost them. 😀

Not much to say,
be closer to Allah, 

be happy,
be better,
be yourself,
be mine.
🙂

Happy 1st June, Darl! 🙂

Tere Liye: Pulang

Pulang: Tere Liye

“…. Sungguh, sejauh apa pun kehidupan menyesatkan, segelap apa pun hitamnya jalan yang kutempuh, Tuhan selalu memanggil kami untuk pulang. Anakmu telah pulang.”
(Tere Liye, p. 400, 2016)

Penulis: Tere Liye
Judul Buku: Pulang
Penerbit: Republika
Penerbit: Jakarta
Cetakan: XXIII, November 2016
Dimensi: iv + 400 halaman; 13.5 x 20.5 cm

‘Pulang’ adalah salah satu hasil karya Tere Liye yang kembali berhasil mencuri perhatian saya untuk menuliskan kembali sedikit kisah dan kesan tentangnya. *Aduuuh, Bang Tere, ajarin Neng dong menulis. Kereeennn  selalu ya kalau baca novel Abang. Serasa ikut berada di dalam cerita, Bang. Emejing, Bang Tere. >.<

Kali ini, Bujang, Si Babi Hutan, anak pedalaman rimba Sumatra yang menjadi peran utamanya. Bujang merupakan anak dari Samad, si Tukang Pukul keturunan perewa dan Midah, anak seorang guru agama, yang kemudian dibawa oleh Tauke Muda, salah seorang penguasa shadow economy yang paling berpengaruh di ‘dunia’ tersebut. Namun, kepergian Bujang bersama Tauke Muda kurang mendapat respon positif dari Mamak Bujang sehingga acap kali timbul perselisihan antara kedua orang tua Bujang. Suka tidak suka, mau tidak mau, Mamak harus menerima keputusan Bapak untuk menyuruh Bujang mengikuti Tauke Muda. Pada akhir perjalanannya, setelah melewati serangkaian perjalanan hidup yang penuh dengan tantangan, pengkhianatan dari pihak internal keluarga Tong, dan kehilangan orang-orang yang disayanginya, Bujang tumbuh menjadi sosok yang kuat dan tangguh, juga menjadi pewaris penguasa shadow economy keluarga Tong di seluruh kawasan Asia Pasifik.

Do you know? Proses perjalanan seorang Bujang di dalam novel ini, Bang Tere nulisnya WOW WOW WOW. Do you want to feel that? Let’s read this novel. >.<

Satu hal yang menarik dari Bujang adalah walaupun julukannya sebagai si Babi Hutan di Keluarga Tong, dia selalu mengingat dan menunaikan pesan Mamaknya untuk tidak menyentuh makanan haram dan minuman beralkohol sekalipun. Walaupun cuma sebuah novel, hal ini mengingatkan kita kembali bahwa pesan/nasihat yang disampaikan oleh orang tua kepada kita sebaiknya dipatuhi dan dijalankan dengan baik karena semua itu akan memberikan hal-hal yang positif bagi anak-anaknya. Orang tua mana yang mau anaknya tidak baik. Tidak ada kan? *eeeaaa… >.<

‘Pulang’, novel yang memberikan pesan kepada kita sebagai sang penjelajah hidup dalam kehidupan kita masing-masing untuk tidak melupakan tanah kelahiran sejauh apapun kita melangkah pergi, untuk tidak melupakan orang tua sesukses apapun kita nanti, dan untuk tidak melupakan Tuhan sejauh apa pun kita menjauh dariNya. Ya, kita harus pulang.

“…. Sejatinya, dalam hidup ini, kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain, dan itu sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egoisme. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau bisa menang dalam pertempuran itu, maka pertempuran lainnya akan mudah saja. (Tere Liye, p.219: 2016)”

P.S.
‘Pulang’ adalah salah satu novel yang saya beli ketika masih berada di Makassar awal Januari 2017 dan hal ini menandakan telah selesainya saya menempuh perkuliahan selama dua tahun lebih di Kota Makassar. Yaps, novel ini sebagai tanda bahwa saya hendak kembali ke Baubau. Pulang. 🙂

Tentang Kamu – Tere Liye

Tentang Kamu - Tere Liye
Tentang Kamu – Tere Liye

“Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu, itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku. Cinta memang tidak perlu ditemukan, cintalah yang akan menemukan kita.

Terima kasih. Nasihat lama itu benar sekali, aku tidak akan menangis karena sesuatu telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi.

Masa lalu. Rasa sakit. Masa depan. Mimpi-mimpi. Semua akan berlalu, seperti sungai yang mengalir. Maka biarlah hidupku mengalir seperti sungai kehidupan.”
(Tere Liye – Tentang Kamu)

 

Penulis: Tere Liye
Judul Buku: Tentang Kamu
Penerbit: Republika Penerbit, Jakarta
Cetakan: Kedua, Oktober 2016
Dimensi: vi + 524 halaman; 13.5 x 20.5 cm

Well, novel ini telah berhasil membuat saya berkali-kali menangis selama membacanya. Mungkin karena saya yang terlalu mendramatisir alur cerita atau saya yang terlalu sensitif. Entahlah, yang jelasnya, lagi lagi, Tere Liye menampilkan keahlian menulis novelnya dengan sangat AWESOME. *Bang Tere Liye, boleh skillnya ditransfer ke saya sedikit? I wonder how you become a very good writer, Sir.

Berbeda dengan novel karya sebelumnya, Hujan, yang bercerita tentang kehidupan di masa mendatang, Novel Tentang Kamu justru sebaliknya. Novel yang mengisahkan perjalanan hidup seseorang yang bernama Sri Ningsih di tahun 1946 – 2016 yang penuh dengan berbagai peristiwa kehidupan yang kadang saya pun tidak dapat menahan air mata *baper.

Perlu diketahui, Sri Ningsih di novel ini dideskripsikan sebagai wanita tangguh, periang, selalu berpikiran positif, rajin, tidak pernah mengeluh atas segala peristiwa pahit yang menimpa hidupnya dan satu lagi, sangat sangat sangat ikhlas. 😥 Kehilangan ibu sejak dia dilahirkan, kehilangan ayah ketika umur sembilan tahun dan dianggap sebagai ‘anak yang dikutuk’ oleh ibu tirinya, kehilangan adik tiri kesayangannya pada saat peristiwa pembunuhan massal oleh kaum komunis di Surakarta, kehilangan bayi pertama ketika melahirkannya dan bayi kedua yang hanya hidup beberapa jam saja akibat golongan darah Sri dan suaminya yang berasal dari Turki, dan terakhir adalah kehilangan suami yang dia cintai akibat sakit yang dideritanya. Sungguh, tiap episode cerita seorang Sri Ningsih membuat penasaran halaman per halamannya.

Adalah Zaman Zulkarnaen, seorang lawyer muda berusia 30 tahun, mendapat mandat dari sebuah firma hukum tempat ia bekerja, untuk menyelesaikan masalah warisan salah satu klien yang telah meninggal dunia. Seorang wanita tua berusia 70 tahun, pemegang paspor Inggris, memiliki izin menetap di Perancis, dan selama belasan tahun terakhir tinggal dan aktif berkebun di panti jompo. Wafat tanpa meninggalkan surat wasiat dan belum diketahui siapa ahli waris dari nilai warisan sebesar satu miliar poundsterling atau setara dengan 19 triliun rupiah menjadikan kasus ini merupakan hal hebat pertama yang harus diselesaikan Zaman sebagai seorang lawyer dengan kinerja yang telah diakui oleh pimpinannya. Ya, seorang klien bernama Sri Ningsih, orang Indonesia pemegang paspor Inggris. Maka, cerita kehidupan Sri Ningsih dimulai dengan Zaman sebagai penelusurnya dalam Novel Tentang Kamu.

Terdiri dari 33 bagian cerita yang saling berkaitan dan sangat menarik untuk segera diselesaikan. Akhir ceritanya? Silahkan dibaca sendiri. Hati cenat-cenut pokoknya.

Kalau saya menjadi seorang Sri Ningsih kayaknya tidak bakalan sanggup. Walaupun hanya sebuah novel, tapi pelajaran hidupnya cukup memberikan makna tersendiri bagi saya pribadi. Sabar, ikhlas, lalui prosesnya. Lagi dan lagi, Allah telah mengatur segalanya. Tidak ada yang buruk untuk umatNya. He had decided all the best decision for us. Dan saya yakini itu. Tidak ada keraguan padaNya. In sha Allah. :’)

Sekali lagi, novel ini secara tidak langsung membawa pembacanya larut ke dalam cerita menjadi seorang Zaman Zulkarnaen, si pencari jejak kehidupan dan ahli waris Sri Ningsih, sang wanita tangguh Indonesia.

“…. Ketika kebencian, dendam kesumat sebesar apa pun akan luruh oleh rasa sabar. Gunung-gunung akan rata, lautan akan kering, tidak ada yang mampu mengalahkan rasa sabar. Selemah apa pun fisik seseorang, semiskin apa pun dia, sekali di hatinya punya rasa sabar, dunia tidak bisa menyakitinya. Tidak bisa. ….” (Hal. 48)

 …. Ibu Sri tersenyum padaku, berkata pelan, ‘Chaty, jadilah seperti lilin, yang tidak pernah menyesal saat nyala api membakarmu. Jadilah seperti air yang mengalir sabar. Jangan pernah takut memulai hal baru…’ (Hal. 278)

“Apa harta yang akan dibawa mati saat kita meninggal?” … Tidak ada, Sir, selain apa-apa yang kita belanjakan untuk kebaikan. Sisanya akan ditinggalkan, bahkan diperebutkan. (Hal. 430)

Simfoni Kehidupan Halim Homeric

Simfoni Kehidupan Halim Homeric
Simfoni Kehidupan Halim Homeric

“Sejatinya Beliau hanya ingin menyebarkan semangat bahwa kejujuran dan pengakuan ikhwal masa lalu akan memberikan rasa ringan, sekaligus kekuatan untuk terus berjalan ke depan. Andhy Pallawa”

Buku ini saya dapatkan secara cuma-cuma ketika acara bedah buku “Simfoni Kehidupan Halim Homeric” yang diadakan di Aula Prof. Mattulada Fakultas Ilmu Budaya Unhas pada tanggal 11 Agustus 2016. Sayangnya, saya tidak terlalu mengikuti kegiatan tersebut dari awal hingga akhir dengan baik karena satu dan lain hal. Pada awalnya, saya belum mengetahui sama sekali siapa sosok Bapak yang ada di dalam buku ini. Setelah saya baca bukunya, rupanya dehh, hebatnya juga dant Bapak Halim ini ee. You are inspiring.

Perlu diketahui bahwa Bapak Halim Homeric ini adalah seorang seniman yang pandai bermain biola, seorang keturunan Tionghoa yang lahir di Kaiping Tiongkok. Beliau memiliki peran penting pada bidang pendidikan dan budaya di Makassar. Penulis mengatakan bahwa Beliau banyak menciptakan lagu dan menerjemahkan lagu-lagu Makassar ke dalam Bahasa Mandarin. Hal ini dilakukan Bapak Halim untuk mengenalkan dan mendekatkan budaya kedua bangsa. Selain itu, terbentuknya Pusat Bahasa Mandarin di Universitas Hasanuddin tidak terlepas dari campur tangan Bapak Halim Homeric sendiri. Ya, pantaslah untuk dikatakan bahwa Bapak Halim Homeric dalam buku ini sangat menginspirasi. Beliau mengatakan beberapa hal pada bagian kata sambutan, “Bagi saya sebuah biografi harus menjadi cermin untuk berkaca bagi banyak orang, tentu saja dengan kelebihan dan kekurangannya. Terutama karena tak seorang pun yang sempurna, sehingga belajar itu bukan hanya pada keberhasilan dan kisah sukses tetapi juga pada alpa dan kekurangan. Belajar kepada kelebihan untuk menjadi contoh, dan belajar pada kekurangan agar tidak mengulang di masa depan.

Perjalanan seorang Halim Homeric yang tertuang dalam buku ini memberikan gambaran tentang bagaimana seseorang mampu bertahan hidup, berjuang, dan melawan kerasnya kehidupan dari titik nol hingga mencapai masa suksesnya, yang selalu semangat dan mengutamakan kejujuran. FYI, pada halaman-halaman pertama sukses buat saya nangis, readers. Kisah hidup Beliau waktu kecil yang memang mau tidak mau harus dilewati. Sebagaimanapun kerasnya kehidupan, harus bangkit berjuang.

Apalagi ada beberapa ungkapan Mandarin yang terselip, hal ini membuat cerita kehidupan Bapak Halim semakin sarat inspirasi. Salah satunya pada halaman 219 pada bagian Belajar Bijak dari Leluhur, “Jika kau bertemu dengan orang yang berbudi luhur, angkatlah ia sebagai gurumu, agar kau dapat menyamai kebaikannya. Jika kau bertemu dengan orang yang berbudi buruk, anggaplah dia sebagai cermin, agar kau dapat melihat dan menilai dirimu sendiri.

Ada satu hal yang membuat saya sangat sependapat dengan Bapak Halim, yakni tentang keyakinannya pada pendidikan yang dapat mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik. Terbukti, Bapak Halim berhasil menamatkan dirinya di Fakultas Sastra pada pendidikan tinggi jarak jauh Universitas Xiamen, Tiongkok, di tahun 1960. Dari situlah, kehidupan Bapak Halim mulai menuju ke arah yang lebih baik.

“Kemiskinan hanya bisa diperangi dengan ilmu pengetahuan, yang berarti bahwa bersekolah adalah keniscayaan. (Andhy Pallawa, Hal. 70)”

“Apapun yang terjadi, saya wajib merampungkan studi, karena hanya dengan cara ini saya berpeluang memperoleh penghidupan yang lebih baik. (Halim Homeric, Hal. 74)”

Ya, hal ini bahkan sangat terlihat jelas dalam Al-Qur’an. Ketika Allah berfirman dalam Surat Al Mujadalah ayat 11, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” Melalui ayat ini Allah menjelaskan kepada umatNya untuk menuntut ilmu demi kebaikan diri sendiri dan orang lain, sehingga ilmu yang kita dapat bermanfaat dengan baik dan menjadi salah satu bentuk amal baik bagi masing-masing individu. *Kira-kira seperti itu pandangan saya, jika ada yang salah mohon dibenarkan. 🙂

Nampaknya cukup sekian cerita saya tentang buku yang menginspirasi ini. Benar apa yang dibilang Prof. Burhanuddin Arafah tentang Bapak Halim Homeric, “Beliau memiliki pribadi yang ‘Islami’.” Walaupun secara pribadi saya belum pernah berkenalan langsung dengan Bapak Halim Homeric, lewat buku biografinya secara tidak langsung saya sudah berkenalan dengan Beliau. Terima kasih untuk ceritanya. Semoga Allah selalu melindungi Bapak. Sehat-sehat, Bapak Halim Homeric. 🙂

Jangan pernah membantah terutama kepada yang lebih tua walau kamu di pihak benar. Ingat, kamu orang miskin sehingga akan selalu dianggap salah. Pilihanmu tidak banyak, maka kamu harus rajin, dan berlaku jujur,” sambung ibunya. (Andhy Pallawa, Hal. 21) 😦

Judul Buku: Simfoni Kehidupan Halim Homeric
Penulis: Andhy Pallawa
Penerbit: Global Publishing
Cetakan: I Agustus 2016
ISBN: 978-602-6782-00-7

A Novel from Adhitya Mulya: Sabtu Bersama Bapak

Sabtu Bersama Bapak
Sabtu Bersama Bapak

“Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan…, tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.” (Adhitya Mulya, 2015 – Sabtu Bersama Bapak)

Well, perlu diakui, saya terlambat untuk membaca novel ini dan menulisnya di blog. Pasalnya, filmnya udah duluan ditonton daripada novelnya yang harusnya dibaca terlebih dahulu. Ya udahlah, kata Prof.nya, hidup tidak mesti idealis, harus realistis. *mengutip salah satu status senior di Facebook. 🙂

As we know, novel ini bercerita tentang cara seorang Bapak, Gunawan Garnida, yang menyiapkan rekaman video-video dirinya berupa cara pandang dan pemikirannya tentang hidup yang harus dijalani dengan baik oleh kedua anak lelakinya, si Sulung Satya dan si bungsu Cakra (Saka). Hal ini dilakukan karena Pak Gunawan mengidap penyakit kanker dan divonis bahwa hidupnya tidak akan lama, selama 1 tahun lagi. Pak Gunawan tidak ingin ibu Itje Garnida, istrinya, membesarkan anak-anaknya tanpa kehadiran sosok ayah di tengah-tengah mereka. Sehingga, di setiap hari Sabtu sore, Satya dan Cakra selalu menonton video-video Bapak.

Ibu Itje Garnida merawat kedua anaknya hingga Satya dan Cakra tumbuh menjadi sosok lelaki yang dewasa. Mereka hidup dengan mapan dengan masalah hidup yang berbeda-beda. Ibu Itje Garnida, sang pekerja keras hingga akhirnya memiliki delapan rumah makan selama belasan tahun, namun menyembunyikan penyakit kanker payudaranya pada anak-anaknya karena Ibu Itje tidak mau menjadi beban bagi kedua putranya.

Kemudian, Satya yang bekerja di salah satu kilang minyak di luar negeri sebagai geophysicist. Merupakan suami dari Rissa Wiriaatmadja dan ayah dari Ryan, Miku, dan Dani. Dalam kehidupan rumah tangganya, Satya menjadi sosok ayah pemarah di mata istri dan ketiga anaknya.

Lain lagi dengan Cakra, bekerja sebagai Deputy Director di sebuah bank asing yang berkantor di Jakarta. Sosok yang dewasa dalam pemikirannya dan selalu care sama ibunya, namun tidak kunjung mendapatkan jodoh, hingga kemudian Cakra bertemu dengan Ayu, staf baru di tempat ia bekerja. Sayangnya, Salman, teman kerjanya, menjadi pesaingnya untuk menaklukan hati Ayu. 😀

Untuk ending ceritanya, sudah diketahui bahwa ini akan happy ending. Senang sekali membaca kisah cinta dua lelaki ini. Berhasil buat senyum-senyum sendiri. Hahaha.

Thank you, Mas Adhitya. You give me many life lessons from your novel. Saya izin ngutip beberapa ya, Mas Adhitya. 🙂

“Bukan berarti seseorang harus kaya dulu sebelum nikah. Tapi kalian harus punya rencana. Punya persiapan. …. Menikah itu banyak tanggung jawabnya. Rencanakan. Rencanakan untuk kalian. Rencanakan untuk anak-anak kalian.” (hal. 21)

“Ada orang yang merugikan orang lain. Ada orang yang merugikan keluarga yang menyayangi mereka. Ada orang yang hanya merugikan diri sendiri. Ada orang yang berguna untuk diri sendiri. Ada orang yang berhasil menjadi berguna untuk keluarganya. Terakhir adalah orang-orang yang berguna bagi orang lain. Bapak tidak cukup lama untuk menjadi golongan terakhir. … semoga kalian dapat menjadi orang-orang yang lebih baik dari Bapak.” (hal. 86)

“Semua anak wajib menjadi baik dan pintar karena memang itu yang sebaiknya semua manusia lakukan.” (hal. 105)

“Menjadi panutan bukan tugas anak sulung –  kepada adik-adiknya. Menjadi panutan adalah tugas orangtua – untuk semua anak.” (hal. 106)

“…ketika kalian udah gede akan ada masanya kalian harus melawan orang. Yang lebih besar, lebih kuat dari kalian. Dan akan ada masanya, kalian gak punya pilihan lain selain melawan, dan menang. Akan datang juga … masanya semua orang tidak akan membiarkan kalian menang. Jadi, kalian harus pintar. Kalian harus kuat. Kalian harus bisa berdiri dan menang dengan kaki-kaki sendiri.” (hal. 130 – 131)

“Kejar mimpi kalian. Rencanakan. Kerjakan. Kasih deadline.” (hal. 151 – 152)

“Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan. …. Find someone complimentary, not supplementary (Quote dari Oprah Winfrey).” (hal. 217)

Perlu diakui, cerita di novelnya lebih lengkap dibandingkan dengan di filmnya. Rasanya setelah membaca novel ini, saya seperti menemukan kebenaran dari sebuah film yang diangkat dari sebuah novel tersebut. 😀 Bukan menganggap alur cerita yang difilmkan tidak bagus ya. Perlu dipahami, banyak hal-hal yang mesti dipertimbangkan ketika alur cerita di novel harus tidak disamakan dengan filmnya atau jika perlu alur cerita di filmnya harus diubah, tidak sesuai dengan di novel. Hal ini bertujuan agar menjadikan filmnya lebih awesome, tanpa mengurangi value dari novel tersebut. Overall, novel dan filmnya sama-sama bagus. 🙂

Novel ini mengingatkan kembali akan satu hal, bahwa betapa orangtua sangat mencintai dan menyayangi anak-anaknya. Hingga mereka tidak bakalan mau melihat anaknya hidup menderita ke depannya. Orang tua rela berkorban dengan sangat ikhlas demi kehidupan anaknya yang lebih baik, hingga tumbuh menjadi anak yang membanggakan orangtua. Teringat kata-kata dari orang, orang tua mana sih yang tidak mau memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Mas Adhitya, novelnya sarat arti dari keluarga. :’) Let me keep this book for my children later. Hehehe.

Bagi yang belum membaca novel ini, tapi udah keduluan nonton filmnya, saya sarankan untuk baca novelnya deh. Kita akan menemukan kebenaran yang sebenarnya pada novelnya. Tentunya, pelajaran arti dari keluarga dan kebijaksanaan hidup dari Bapak yang lebih banyak tertuang di novelnya.

Ok. I have done to review this novel. I hope you enjoy it. Happy reading, readers! :* 🙂

*FYI. Saya lebih suka cover aslinya sebelum difilmkan daripada cover sesudah difilmkan. Menurut saya, cover pertama lebih natural. It looks like a novel, just a novel, not a film. Bulan Juli 2016 kemarin, dibela-belain keliling di toko-toko buku Makassar, dari Graha Media di M Tos, Gramedia di MP dan MARI, hingga toko-toko buku di Jalan Bulu Kunyi. Sendirian. Demi mencari novel dengan cover pertamanya *terlalu semangat ko, Ning. And you know? Hasilnya nihil. Novel dengan cover pertamanya udah gak keliatan, kebanyakan cover filmnya. Hopeless. Hingga tibalah Oktober ini, I found what I look for di salah satu toko alat tulis kantor di sekitar Jalan Perintis that I didn’t think it before, the novel with its first cover. Memang ya, kalau jodoh gak kemana. Sejauh apapun itu, selama apapun itu, kalau jodoh bakalan ketemu juga. Hehehe. Thanks, Allah. Alhamdulillah.

Because I Believe You, Allah

Ada sesuatu yang terus mengganggu
Entah kapan akan berhenti
Berakhir
Di ujung keikhlasan hati untuk melepaskan
Atau menerimanya dengan saling menggenggam tangan
Untuk tidak berpisah hingga Allah hendak mengambil apa yang menjadi milikNya

source: 1-flesh.tumblr.com
source: 1-flesh.tumblr.com

Hati dan kabar burung itu seolah saling berkompetisi mempertahankan eksistensinya
Pada jiwa yang hampir rapuh
Tidak menyenangkan berada di antara kedua kondisi itu
Namun, keberadaan Allah akan janjiNya membuat perasaan ini hampir seperti batu
Kokoh pada kepercayaan atas apa yang telah dikatakanNya
Bersama dia ataupun tidak untuk bersama

Ya, semua kembali pada diri
Sejauh mana memperbaiki diri untuk baik di mata Allah
Hingga akhirnya Allah menghadiahkan anugerah asmaraNya
Yang membuat diri tidak bisa berkata apa-apa
Selain bersyukur kepadaNya
Sang Maha Penentu Pasangan Hidup
Engkau Maha Besar, ya Allah

Let me adore You through this writing on this blog
This is not one of ways to attract Your attention to give me what I want
This is what I want to say on my personal blog
I don’t care with many readers who read this note

I can not save this by myself
Even I don’t say it to You directly, I am sure You must know what the best thing for me
Thanks, Allah
Thanks for everything
However, I am totally still failed to obey Your exam.
I am still too sinful to be your Ummat.

Milea: Suara dari Dilan

21998

“Kata Pidi Baiq, perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu. Iya, rindu amat teramat sangat. Rindu ada Dilan dan Milea saja. Perpisahan itu, dapat menyedihkan atau bisa jadi menyenangkan. Namun, dari sudut pandang saya, novel ini membuat perpisahan menjadi sesuatu hal yang sangat disayangkan untuk dijadikan sebuah kenyataan yang harus dilewati oleh dua orang tokoh utama, Dilan dan Milea. Perpisahan yang harusnya jangan terjadi.”

Novel Milea: Suara dari Dilan ini adalah karya lanjutan Pidi Baiq dari Novel Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1990 dan Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1991. Jadi, sebelum membaca novel ini, sebaiknya teman-teman membaca Novel Dilan #1 dan #2 terlebih dahulu agar lebih afdol mengetahui alur ceritanya.

Jika dua novel sebelumnya merupakan kisah Dilan dan Milea dari sudut pandang Milea. Maka, novel ini berasal dari sudut pandang Dilan tentang bagaimana pemikiran Dilan terhadap dirinya dan Milea yang berbeda satu sama lain hingga menimbulkan kesimpulan kehidupan mereka yang pada akhirnya membuat saya menangis (lagi) di akhir lembaran cerita novel ini. *Tersentuh, Bang Pidi Baiq. 😥

FYI, sekilas dari novel ini. Terdiri dari 20 bab. Hampir semua para tokohnya pun masih sama (kalau tidak salah ingat) seperti kedua novel sebelumnya. Namun, ada sedikit penambahan tokoh baru untuk kisah asmara Dilan dan Milea yang baru. Hmm. Bandung, Jakarta dan Jogja merupakan daerah-daerah yang menjadi latar belakang tempat dalam novel ini.

Milea rindu Dilan. Dilan rindu Milea. Kenapa tidak jadi sih, Bang Pidi Baiq? 😥

Bisa dibayangkan kan, merencanakan masa depan bersama orang yang kita pikir dia yang akan bersama-sama menjadi masa depan kita, dan di tengah jalan Tuhan memiliki skenario yang lain. Rasanya tuh JLEBBB bangettt. Tapi, yah namanya manusia, cuma bisa punya planning, Tuhan yang make it into a reality. Dan Dilan menyikapinya dengan bijaksana.
*Ah, novel ini lagi-lagi membuat saya termehek-mehek di tengah sunyi senyapnya gelap.

“Kata Dilan: Rasa sedih jika ada, itu harus berbatas untuk memberi peluang munculnya harapan pada hari-hari berikutnya, mengejar impian dan meraih kebahagiaan bersama seseorang yang dapat menghabiskan sisa hidup kita dengannya. … Rasa sedih dan kegagalan tidak selalu berarti kekalahan.” (Pidi Baiq, 2016, p. 356-357)

Sebagai kesimpulannya, novel ini adalah sebuah karya fiksi yang mengingatkan kembali bahwa sebaiknya menghindari su’udzon atau berpikiran negatif terhadap seseorang; ketika mendengar ada hal yang kurang berkenan di hati tentang orang yang kita sayangi, coba tanyakan langsung kepadanya agar tidak terjadi kesalahpahaman, walaupun memang rumit, antara gengsi dan sekedar saling menunggu inisiatif satu sama lain; selalu meminta maaf dan memberi ucapan terima kasih untuk orang yang menyayangi kita; dan selalu ingat, harapan terkadang tidak sesuai kenyataan, bro. Hehehe.

Judul: Milea: Suara dari Dilan
Penulis: Pidi Baiq
Cetakan: I, 2016
Penerbit: Pastel Books
360 hlm.; Ilust.: 20.5 cm
ISBN: 978-602-0851-56-3

Coretan untuk Hari Senin

Selamat Senin pagi, semuanya.

Hari ini lagi kangen sama menulis. Tapi masih belum ditahu topiknya ini bermanfaat atau tidak. Mengapa? Karena sifatnya tentang perasaan. Hehehe. Maklumlah, penulisnya cewek. Jadi, gimana ya, kayak ada baper-bapernya gitu. Maaf ya. Tulisannya ‘nyampah’ nih.

Oke. Dimulai dari pikiran yang terus-menerus berkutat sama yang namanya tesis, ujian hasil, ujian tutup, dan deadline pendaftaran wisuda. Harapannya sih semoga dapat wisuda September 2016. Tapi, belum ditahu ya, apakah bisa dikejar atau tidak. Namun, dari lubuk hati yang paling dalam, I DEEPLY WANT IT. Aameen. Aameen. Aameen.

Terlalu banyak underpressure yang diciptakan diri sendiri. Padahal kalau dari orang tua tidak terlalu menuntut ini itu. Tapi namanya anak kan, ada peka-pekanya juga. Hehe. Kalau masih bisa diusahakan sampai titik terakhir, ya why not.

Lama juga tidak menulis, akibatnya alur tulisan ini serasa amburadul. Soalnya belum dapat inspirasi yang WOW sih. It is OK. Agak (sok) sibuk akhir-akhir ini, jadi mohon dimaklumi saja ya.

Paragraf ini dimulai dengan gejolak pikiran antara tesis dan perasaan. Antara masa depan dan ‘masa depan’. Tidak jarang harus ada air mata yang menetes secara diam-diam. Entah ketika bersujud menghadapNya, waktu lagi bawa kendaraan atau lagi di dalam kamar. *tabongkar kartu AS. Hahaha. 😀 Jika diingat-ingat, seperti hendak tertawa yang kemudian tiba-tiba diam, hening. Dari kemarin-kemarin, hati saya terlalu sensitif, bisa dibilang sensitif lain-lain. 😀 Tiba-tiba bisa aja langsung nangis. Lihat sahabat nikah, nangis. Ketemu pak guru (ayah), nangis. Cuma di depan orang tua aja yang sok tegar, sok senyum manis, sok kuat, sok semuanya deh. Hehehe. Masalahnya kalau nangis di depan mereka, gimana yaa. Saya merasa tidak pantas. Sudah cukup nangisnya waktu kecil minta dibelikan ini itu, padahal saat itu lagi suasana krisis moneter. Ckckck. Maaf, Ma Pa. Kemarin masih bandel-bandelnya, masih main ego tingginya. Kalau sekarang, gak tahu deh. Hehehe.

Kemarin dan Sekarang itu adalah dua hal yang berbeda. Dari bentuk katanya saja sudah beda. Apalagi maknanya. Yang sama adalah pelakunya. Ya, saya. ‘Kemarin’ yang melakoninya adalah saya, dan ‘Sekarang’ masih saya juga. Terlalu banyak hal yang mau diadukan, terlalu banyak yang mau dikeluhkan, dan terlalu banyak yang mau diceritakan dalam tulisan ini. Ya sudahlah, mungkin masih kurang pantas untuk merangkai isi kalimatnya di sini. Mungkin lebih bagus dibiarkan berceceran menjadi kepingan-kepingan puisi atau sepenggal kalimat galau anti baper. 😀

Yang intinya itu, Ning. Harus semangat!!! Kata Prof. Hakim, ‘Semangat dulu yang harus disemangati.

Saya tidak menyalahkan keadaan. Kesendirian bukan hukuman, melainkan persiapan. Untuk membenahi diri, kata orang supaya jadi lebih baik. Katanya begitu. Terus, kata Om, saya tidak boleh mengecewakan orang tua (nasehatnya seperti ada pahit dan manisnya e). Saya sih, in sha Allah, Om. Tapi kayaknya sudah banyak tingkah laku saya yang sudah membuat mereka kecewa. Tapi, mungkin tidak terdeteksi saja. Sebaik apapun saya sebagai anak, tidak bakalan mampu mengganti kebaikan orang tua selama membesarkan saya hingga jadi anak yang begini. 😀

Mau cerita tentang perasaan. Ehm. Iya, perasaan. Tapi, ini arah-arahnya bakalan tidak sempat deh. Pesona orang tua masih terlalu dominan untuk tidak disisihkan. Bukan pencitraan ya, readers. Cuma gimana ya. Kita semua tahulah rasanya sebagai anak yang sedikit sadar tentang siapa diri kita yang menaruh penuh hormat dan sayang kepada mereka, orang tua kita. Jadi, saya tidak perlu berkomentar kiri kanan. Menceritakannya pun saya bisa saja menjadi speechless. Lagian, saya belum menjadi anak baik seutuhnya. Masih belajar juga dan bakalan berproses terus, mudah-mudahan berprosesnya menjadi lebih baik, bukan sebaliknya. Aamiin.

Sehat-sehat, Ma Pa.

*IMLC, Ma Pa. 😀

*singkatannya wa WiNNy untuk titik titik. 😀

Dilan, Dia Adalah Dilanku Tahun 1991

Dilan 1991Dilan 1991

“Aku merasa sedih untuk apa yang hilang, tapi kupikir mungkin ada pelajaran yang bisa kita dapati dari situ. Masa lalu bukan untuk diperdebatkan, kukira itu sudah bagus.
Mari biarkan.” Milea Adnan Hussain – Dilan Bagian Kedua: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991
(Pidi Baiq, 2016, p. 342)

Judul: Dilan Bagian Kedua: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991
Penulis: Pidi Baiq
Cetakan: X, Februari 2016
Penerbit: Pastel Books, Bandung
Tebal: 344 halaman
ISBN: 978 – 602 – 7870 – 99 – 4

                Yaps, buku ini adalah lanjutan dari Dilan bagian pertama: Dilan, Dia Adalah Dilanku Tahun 1990. Jika buku pertama mengisahkan masa-masa Dilan dan Milea bertemu, berkenalan dan berpacaran, maka buku kedua ini bercerita tentang saat-saat mereka telah resmi berpacaran. Cuma butuh beberapa jam untuk membacanya. Membunuh waktu melewati perjalanan panjang dari Makassar ke Baubau melalui udara dan lautan membuat buku ini begitu istimewa, seperti membuat momen spesial tersendiri untuk saya. Bukan tentang waktunya, tapi tempat saya menikmati bacaan ini. Alhamdulillah ya Allah.

                Oke, bercerita tentang isi buku ini, tentang bagaimana Dilan dan Milea menyatakan hubungan mereka secara resmi dan melewati masa-masa berpacaran yang penuh suka duka, mulai dari Dilan apel ke rumah Milea dengan membawa teman-temannya yang berhasil membuat Kang Adi (guru les Milea yang menyukai Milea) cemburu, pengeroyokan terhadap Dilan dari orang yang tak dikenal, teman kecil Milea (Yugo) yang datang kembali ke kehidupan Milea untuk menjalin hubungan dengannya yang pada akhirnya ada suatu kejadian yang membuat Milea membenci Yugo, keberanian Milea menyatakan hubungannya dengan Dilan di depan keluarganya sendiri dan keluarga Yugo, hingga Dilan yang akhirnya pindah sekolah karena diawali dari perkelahiannya dengan Anhar (teman SMA Dilan dan Milea) dan masalah ini berbuntut panjang hingga Dilan harus mendekam di dalam penjara atas perintah Ayah Dilan yang merupakan seorang tentara. Pada saat itulah, hubungan Dilan dan Milea menjadi sangat kritis. Dilan yang tidak suka dikekang oleh Milea dengan kegiatan geng motornya, sementara Milea yang bersikap mengekang Dilan karena takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan karena geng motor itu. Apa yang terjadi di akhir ceritanya? Let’s read this book. Atau sudah tahu endingnya? Pasti tahu endingnya setelah membaca paragraf berikut ini.

                Ah, buku ini membuat saya menangis lagi di akhir ceritanya. Saya baper, readers. Rasanya kayak gimana yaah. Sudah menambatkan hati pada orang yang kita sayangi dan tidak bersatu itu, rasanya seperti menyesal memiliki perasaan yang sepenuhnya cinta kepada seseorang itu. Tapi, life must go on. Kita juga berhak bahagia dan berhak membangun kehidupan yang baru walaupun rasanya tidak sama seperti yang kemarin. Memang pada awalnya mungkin menyesal tapi dengan penerimaan yang ikhlas, semuanya akan berjalan normal kembali (dengan jangka waktu yang tak ditentukan). Dalam setiap proses menjadi manusia yang lebih baik, pasti ada peristiwa dan pelajaran hidup yang dialami.

                Kalau saja tidak pacaran, pasti tidak ada rasa menyesal. Cinta itu datangnya kan dari Allah, jalan untuk menyatukan cinta itu kan Allah telah tentukan dengan cara yang baik untuk umatNya. Yaa, pastinya bagi yang mengerti, bisa memahami dan melakukannya menurut aturan Allah. Kalau saya sih kemarin cuma sekedar tahu, tapi belum memahami. Hehehe. Tapi sekarang, yaa berhubung usia sudah tidak muda lagi, jadi harus sadar-sadar sedikit, Ning, nah. 😀 Pahami, tidak hanya sekedar tahu saja. Ahaidee. Semangattt!!!

                Oh iya, kembali lagi ke Dilan. *Hampirmi kabur air lagi tulisanmu, Ning. 😀                Dilan, apa kabarmu sekarang? Milea sudah bersama yang lain. Kamu gimana? Membaca akhir ceritamu bersama Milea, saya kok sedih ya. Mas Pidi Baiq kok tega ya nulis cerita seperti ini. Endingnya gak enak. >.< Mas, saya sakit bacanya. Milea kan jadi sedih, sedangkan Dilan gak suka kalau Milea sedih. Hmm… Saya speechless, Mas. Saya benar-benar dibuat baper.

“Tujuan pacaran adalah untuk putus. Bisa karena menikah, bisa karena berpisah.”
(Pidi Baiq, 1972 – 2098)

Teruntuk dr. Rezky Astarini T

img1436920619932

Hai, dr. Rezky Astarini T a.k.a. dr. Kiky!
Kamu bahagia hari ini kan?
Alhamdulillah.
Cieee, yang sudah punya pasangan halal 🙂

Rasanya lihat kamu melepas lajang itu, rasanya gimana ya.
Yaa, sudah bisa dipastikan saya bakalan nangis lagi.
Sedih, terharu dan bahagia, Ky.

Udah sekitar 13 tahun kenal kamu.
Dari kelas 1 SMP dulu sampai sekarang.
Dari yang belum terlalu dekat hingga jadi dekat.
Dari kita yang masih remaja sampai udah dewasa kayak sekarang.
Dari kita yang masih single, eh tahu-tahunya kamu yang duluan berganti status menjadi ‘a married woman’
Waah, waktu jalannya cepat ya. 🙂

Proses hingga berada di tahap ini pun tidak instan.
Butuh ‘perjuangan hati’. Iya kan, Ky? Hehehe…
Alhamdulillah, Allah memberikan jalan yang baik kepada kamu.
Mempertemukanmu bersama Ary, yang rupanya dia adalah teman SD saya dulu, Ky. Dunia kecil ya. Hehehe.
Allah mempertemukanmu bersama dia dalam suatu ikatan cinta yang halal, pernikahan.
Alhamdulillah.

Kiky sayang, segala harapan dan doa-doa baik untuk dirimu dan Ary tercurah, mengalir deras hari ini dan esok.
Iya, dari orang-orang yang menyayangi kalian.
Semoga rumah tangganya menjadi samawa, langgeng selalu, rezekinya semakin diperbanyak sama Allah. 
Satu lagi, saya nunggu ponakan ya. 😀

Oh iya,
Kiky sayang, 
Semoga pernikahanmu bersama Ary dapat menjadi pembuka jalan bagi saudari-saudarimu yang masih berstatus single ini.
Mohon doanya ya, ibu dokter. 😉

Last but not least,
Kiky sayang, selamat ya.
Sekali lagi selamat.
Peluk cium dari saudarimu yang kecil ini.
Semoga Kiky dan Ary akan selalu berada di tengah ‘dan’ hingga maut memisahkan.
Aamiin Aamiin Aamiin Yaa Rabbal Alamiin.

Kiky dan Ary
Kiky dan Ary (Source: Kiky’s File)