Category Archives: Place

Nirwana Buton Villa

Hi readers, long time no see you. ๐Ÿ™‚ Finally, I can write again in the middle of my busy week. :โ€™)

I want to tell you about one of villas in Baubau, Southeast Sulawesi, Indonesia. Yeah, it is Nirwana Buton Villa (NBV) that located at Jl. Dayanu Ikhsanuddin, Sulaa. It is not far from Betoambari Airport (5 km) and near Nirwana beach, so we can enjoy the beauty of Nirwana beach. What a wonderful scenery!

Do you want to find a quite atmosphere while enjoying marine scenery? NBV can be a recommended place. Why? Because it is quite far around 8.7 km from downtown and near the beach. However, donโ€™t need to be worried of transportation. We can go to NBV by car, motorbike, taxi, ojek, etc. It is accessible. You can try it.

NBV has rooms. There are:
1. Deluxe rooms (Rp. 500.000/night),
2. Deluxe Seaview rooms (Rp. 550.000/night),
3. Executive Suite Seaview room (Rp. 600.000/night),
4. Standard rooms* (Rp. 300.000 or Rp. 350.000/ night),
5. Seaview Bungalow (Rp. 1.500.000/night), and
6. Executive Bungalow (Rp. 3.500.000/night).
*Standard rooms, they can be booked at least 4 rooms. It is used for group of people.

Besides rooms, it has a large field that can be used to hold an event or any outdoor activities. NBV also provides diving package for everyone that interested in it. We can access on www.wasagedivers.com for reservation and feel the journey of Baubau underwater.

So, letโ€™s make reservation in Nirwana Buton Villaย  via ย Walk-In, Telephone Inquiry (+62 823 953 99962/ +62 813 554 59398), Traveloka or email: info@wasagedivers.com.

We hope you consider to visit Nirwana Buton Villa.
Thank you!

Advertisements

Bakmi RN Makassar: Enak e

Bakmi RN Makassar
Bakmi RN Makassar

Bakmi RN Makassar terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan KM 9, sekitar Outlet Brownis Amanda Perintis atau sebelah Astra Shop & Drive dan sebelum Coto Paraikatte dari arah pusat kota. Bakmi ala Raffi Ahmad dan Nagita Slavina ini menyediakan 9 menu yang recommended untuk dicoba, seperti 1) Bakmi Ayam Jamur, 2) Bakmi Ayam Lada Hitam, 3) Bakmi Ayam Popcorn, 4) Bakmi Rendang Rahmad, 5) Bakmi Empal Cabe Ijo, 6) Bakmi Calamari Spicy Mayo, 7) Bakmi Cumi Saus Padang, 8) Bakmi Spicy Omelette dan 9) Bakmi Nagitha. Harganya bervariasi, mulai dari Rp. 20.000 – Rp. 30.000. Oh iya, @bakmirn_makassar ini bukanya sampai jam 10.00 P.M. saja. So, guys, don’t be late to come here.

As you know, this is my first time to taste bakmirn_makassar dan deeeh rasanya itu ee, kayak mau lagi. Enak nah, tidak bikin eneg. Two thumbs up… Menurut pelayannya, yang paling recommended itu Bakmi Nagitha, tapi karena sudah habis, maka saya dan sepupu, Kk Lily, memesan Bakmi Cumi Saus Padang dan Bakmi Rendang Rahmad. Bagi saya, porsinya tidak sedikit dan cukup mengenyangkan. TOP deh. Rasanya mau ke sini lagi dan mencoba menu yang lain. Oh iya, kalau mau cari tahu info lebih lengkapnya, silahkan ke ig Bakmi RN Makassar di @bakmirn_makassar.

After having lunch, it’s time to take pictures. As usual, we must do it because if we did not do, it means that this was only hoax news. ๐Ÿ˜€ Kebetulan juga tempatnya lagi sepi, jadi yaa mau-mau kita ajalah. ๐Ÿ˜€ Semoga bisa ke sini lagi di lain waktu. Aamiin. ๐Ÿ˜€ Bagi yang belum mencoba, ayo ke Bakmi RN Makassar, in sha Allah tidak menyesal ji kasian. Hehehe. ๐Ÿ˜‰

Kk Lily and Me in Bakmi RN Makassar
Kk Lily and Me in Bakmi RN Makassar

Bakti Sosial 2016 Mahasiswa FKIP Pendidikan Bahasa Inggris Unidayan di Desa Wawoangi, Sampolawa, Buton Selatan

(searah jarum jam) 1) Spanduk 2) Gedung Sultan Saparigau, 3) Pembekalan dari Bapak Kepala Desa Wawoangi dan Sekprodi, 4) Para dosen FKIP Pend. Bhs. Inggris Unidayan
(searah jarum jam)
1) Spanduk 2) Gedung Sultan Saparigau, 3) Pembekalan dari Bapak Kepala Desa Wawoangi dan Sekprodi, 4) Para dosen FKIP Pend. Bhs. Inggris

Bakti Sosial di Desa Wawoangi, Sampolawa, Buton Selatan, pada tanggal 28 – 29 Mei 2016 kemarin adalah salah satu agenda kegiatan UNESA (Unidayan English Students Association). Pesertanya adalah mahasiswa FKIP Pend. Bahasa Inggris Unidayan Angkatan 2013 dan para dosen yang mengikuti kegiatan ini ada 7 dosen; 3 dosen tetap (Pak Baharuddin Adu, Pak Rizal dan Ibu Esa) dan 4 dosen tidak tetap (Ibu Yuli Yastiani, Pak Firdaus, Ibu Dianti Afrilia dan saya sendiri). *dosen-dosennya masih muda semua kan. Kan kan. ๐Ÿ˜€

Berbicara tentang kronologis kegiatannya, saya tuliskan secara ringkas saja. Ini juga bukan tulisan formal, judul tulisannya saja sepertinya yang terlihat formal. Kami semua, baik mahasiswa dan dosen, berkumpul di Stadion Betoambari pada jam 5 sore. Awalnya jam 4 sore namun cuaca yang tidak mendukung, akhirnya diundurkan menjadi jam 5 sore. Perjalanan menuju Desa Wawoangi, Sampolawa, ini membutuhkan waktu sekitar 2 jam dari Kota Baubau. Dalam perjalanan menuju desa tersebut, banyak hal yang menyenangkan terjadi di dalam mobil yang disewakan oleh pihak panitia acara (Unesa) untuk para dosen. Utamanya Pak Firdaus sebagai korban yang paling sering dibully. Hahaha… Terima kasih, bapak ibu dosen untuk hiburannya hari itu. Alhamdulillah. ๐Ÿ˜‰

Sesampainya di tempat tujuan, hari telah gelap. Kami semua beristirahat di Gedung Sultan Saparigau. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai baruga. And do you know? Kami disambut dengan listrik yang padam. Nyesss. Gelap gulita, men. Ditambah lagi ada seorang mahasiswa yang kerasukan sehingga membuat suasana di baruga menjadi tegang. Tapi untungnya, tidak berlangsung lama, baik listrik ataupun mahasiswa tersebut. Alhamdulillah.

Well, untuk tempat istirahatnya, para mahasiswa dan Pak dosen tidur di baruga tersebut, sedangkan para ibu dosennya tidur di salah satu rumah warga *memang, wanita selalu diistimewakan :D. Sebelum tidur, tentunya harus makan dulu toh. Para dosen dan para mahasiswa having dinner dulu sebelum beristirahat untuk mempersiapkan diri di esok hari. Rame!!! ๐Ÿ˜€

Bersama Kepala Desa Wawoangi di rumah Beliau
Bersama Kepala Desa Wawoangi di rumah Beliau

Sebelumnya, kami disambut oleh Bapak Kepala Desa Wawoangi di baruga dan Beliau mengajak kami, para dosen, untuk bertandang ke rumahnya sembari berbincang-bincang tentang Desa Wawoangi ini. Cukup banyak informasi tentang Desa Wawoangi yang kami dapatkan dari cerita Kepala Desa, apalagi tentang objek yang akan kami bersihkan sebagai aksi bakti sosial esok harinya, yaitu Mesjid Tua Wawoangi. Ya, kami dilayani dengan sangat baik oleh Bapak Kepala Desa. Terima kasih, Pak. ๐Ÿ™‚

Perjalanan menuju Mesjid Tua Wawoangi
Perjalanan menuju Mesjid Tua Wawoangi

Keesokan paginya, kami have breakfast dulu bersama. Setelah itu, ada sepatah kata dari Bapak Kepala Desa dan Sekprodi untuk kami semua sebelum memulai kegiatan, yaitu pembersihan di sekitar Mesjid Tua Wawoangi. Videonya dapat dilihat di sini.

Mesjid Tua Wawoangi di Desa Wawoangi, Sampolawa, Buton Selatan
Mesjid Tua Wawoangi di Desa Wawoangi, Sampolawa, Buton Selatan

Sekilas informasi tentang Mesjid Tua Wawoangi menurut informasi yang didengar dari Kepala Desa Wawoangi. FYI, Wawoangi itu artinya adalah di atas angin. Mesjid Tua Wawoangi terletak di Desa Wawoangi, Kecamatan Sampolawa, Kabupaten Buton Selatan. Mesjid tersebut terletak di atas bukit. Jarak yang ditempuh dari Desa Wawoangi menuju mesjid tersebut sekitar 2 km. Bisa ditempuh dengan jalan kaki maupun kendaraan. Namun, harus tetap berhati-hati, karena hampir sepanjang perjalanan, jalanannya masih agak kurang bagus, berbatu-batu. Percaya tidak percaya, kata kepala desa, walaupun bagus kendaraan yang kita miliki menuju mesjid, namun jika niat tidak bagus, maka kita tidak akan sampai ke mesjid. Sebaliknya, sejelek apapun kendaraan yang kita miliki, namun memiliki niat yang baik, maka akan sampai di tujuan. Dan itu terbukti dari beberapa kejadian yang pernah terjadi oleh orang-orang yang pernah ke mesjid tersebut bersama kepala desa.

Menurut cerita yang dipaparkan oleh Kepala Desa Wawoangi, sebelum adanya mesjid di Buton ini, Syeikh Abdul Wahid (Pembawa Agama Islam Pertama di Buton) pernah terdampar di daerah Lapandewa. Di daerah tersebutlah, Syeikh Abdul Wahid mengajarkan agama Islam kepada masyarakat setempat. Kemudian, Syeikh Abdul Wahid mengatakan bahwa di atas bukit Desa Wawoangi itu, Beliau akan mendirikan mesjid. Masyarakat Lapandewa akhirnya bertanya, mengapa demikian? Syeikh Abdul Wahid pun menjawab, Syeikh Abdul Wahid melihat ada cahaya di atas bukit Desa Wawoangi tersebut kemudian cahaya itu terus naik sampai ke luar angkasa. Sehingga Beliau memutuskan untuk mendirikan mesjid di atas bukit tersebut. Dibangun pada tahun 1527. Dinding mesjidnya nampak seperti terbuat dari rotan bambu yang besar, atapnya terbuat dari kayu, sehingga membuat mesjid ini sederhana. Ya, sederhana tapi gimana yaa. Ada suasana tersendiri ketika berada di mesjid tersebut. Seperti masih ada kekuatan gaib yang sangat kental di mesjid ini. Yang intinya, jangan mengunderstimate keberadaan mesjid ini dalam bentuk apapun. Bapak Kepala Desa sering kali mengingatkan kepada kami bahwa satu hal yang penting, jangan ada di hati kita semua untuk mengatakan bahwa mesjid itu tidak baik.

Sebelum berada di mesjid, kita berwudhu dulu, kemudian jika telah berada di dalamnya, maka berdoalah kepada Allah dan yakinilah semua tentang doa yang kita panjatkan. Seperti yang dikatakan Pak Bahar kepada para mahasiswa bahwa sebelumnya beliau juga pernah mengunjungi mesjid tersebut, tapi masih menjadi mahasiswa pada saat itu, beliau masih ingat apa yang dikatakan oleh Pak Safulin, bahwa Mesjid Tua Wawoangi tersebut dianalogikan ibarat HP yang merupakan alat komunikasi, jika kita berada di tempat yang kekuatan signalnya bagus, maka komunikasi kita akan bagus kepada orang yang kita hubungi. Sebaliknya, jika berada di tempat yang kekuatan signalnya kurang bagus, maka komunikasinya kurang bagus. Nah, di Mesjid Tua Wawoangi itulah adalah tempat yang baik untuk meminta kepada Allah. Berdoa dan yakin. In sya Allah dijabbah.

Oh iya, beberapa tahun lalu, jika ingin mengambil gambar mesjid tersebut, percaya tidak percaya, it can’t work. Rata-rata orang yang berkunjung ke mesjid dan ingin mengambil gambarnya, hasilnya tidak akan pernah berhasil. Mesjidnya tidak kelihatan, cuma pepohonannya saja yang terlihat. FYI, kata Kepala Desa, Mesjid Tua Wawoangi ini sebagai mesjid pertama yang ada di Pulau Buton. *Jika yang pertama, berarti sebelum adanya Mesjid Quba dan Mesjid Agung Keraton Buton yang berada di Keraton Buton, Baubau, itu dong. Wah wah, masya Allah sekali saya bisa berada di Mesjid Tua Wawoangi di saat-saat seperti ini. Ya, saya sempat menangis ketika berada di dalamnya. Yaa, nda nyangka saja bisa berada di tempat yang sesakral ini. Dengan niat baik, di mana kita berdoa kepada Allah dan yakin semua doa yang kita panjatkan insya Allah dikabulkan. Aamiin Yaa Rabb.

Setelah kegiatan pembersihan selesai, kami semua berkumpul di baruga sekitar mesjid tersebut sekaligus acara penyerahan bantuan Al-Quran dari FKIP PBI Unidayan untuk Mesjid Tua Wawoangi tersebut oleh panitia kepada Bapak Kepala Desa, dirangkaikan dengan acara penutupan. Setelah acara selesai, kami pun kembali ke baruga, makan siang dan bersiap-siap untuk pulang sembari menunggu kendaraan yang akan membawa kami kembali ke Baubau.

(searah jarum jam) 1) Berkumpul setelah bekerja bakti, 2) Foto bersama dengan latar Mesjid Tua Wawoangi, 3) saya bersama wakil ketua UNESA, 4) Penyerahan Alquran, 5) saya bersama Ketua UNESA
(searah jarum jam) 1) Berkumpul setelah bekerja bakti, 2) Foto bersama dengan latar Mesjid Tua Wawoangi, 3) saya bersama wakil ketua UNESA, 4) Penyerahan Alquran, 5) saya bersama Ketua UNESA

Perjalanan yang sangat menyenangkan. Saya tidak menyangka, baksos kali ini menjadi perjalanan rohani untuk diri saya pribadi. Jika kalian ingin menikmati perjalanan rohani di Pulau Buton, saya sangat merekomendasikan, silahkan berkunjung ke Mesjid Tua Wawoangi, Mesjid Pertama di Pulau Buton. Saya saja masih ingin berkunjung lagi ke sana. Mudah-mudahan panjang umur dan masih diberi kesempatan sama Allah. Suasana berada di mesjid itu yang buat kangen, Allah. Adem. :’)

Terima kasih, Kepala Desa dan warga Desa Wawoangi. Senang berkunjung ke Desa Wawoangi. ๐Ÿ™‚

English Camp SMP IT Al-Fikri Makassar & GAU ASE 2016

DSC_0049

Jadi ceritanya, pada tanggal 7 โ€“ 13 Februari 2016 kemarin, ada sebuah kegiatan English Camp SMP Islam Terpadu Yayasan Al-Fikri Makassar bekerja sama dengan GAU ASE (Global Action of Utility Achievement of Spiritual Enlightment) di Kelurahan Tompobalang dan Taman Prasejarah Leang-Leang, Bantimurung, Maros. Pesertanya berjumlah 27 orang yang terdiri dari 20 siswa dan 7 siswi. Didampingi oleh 2 guru pembina Al-Fikri (Ustadz Irham dan Ustadzah Kurnia) dan 4 tutor bahasa Inggris (Kk Arni, Kak Asdar, Kak Sahlim dan saya, Nining Syafitri). Kalau bisa dibilang, this is my first time to be a tutor in English Camp. Yaa, Alhamdulillah, hitung-hitung dapat kesempatan untuk menambah pengalaman mengajar.

Acara Pembukaan English Camp di Taman Leang-Leang
Acara Pembukaan English Camp di Taman Leang-Leang

Pembukaan berlangsung pada tanggal 7 Februari 2016 dihadiri oleh para siswa, orang tua murid, para guru SMP Al-Fikri, tutor, Kepala Sekolah SMP Al-Fikri; Bapak Ahmad M. Abdullah, S.Ag., M.I.Kom, dan Direktur GAU ASE sebagai Penyelanggara Kampung Bahasa Bantimurung, Bapak Andi Samsurijal, S.S., M.Hum di Taman Prasejarah Leang-Leang. Sedangkan Kegiatan Penutupan diadakan pada tanggal 13 Februari 2016 di pondokan Kel. Tampobalang dan dihadiri oleh para siswa, pemilik pondokan; Bapak H. Lahab, para guru Pembina dan para tutor.

Foto Bersama bersama H. Lahab dan Nyonya
Foto Bersama bersama H. Lahab dan Nyonya

Dalam acara penutupan, baik Pak H. Lahab ataupun guru Pembina memberikan sepatah dua kata tentang kegiatan English Camp tersebut dan tidak lupa juga nasehat untuk para siswa agar tetap menjadi yang baik sesuai jalan Allah. Saya masih ingat salah satu nasehat yang dikatakan Pak H. Lahab untuk para siswa, “Jadilah seperti padi, makin berisi makin merunduk.” Harus rendah hati. Tidak boleh sombong. Pepatah tentang padi yang umum terdengar, namun saya baru melihat dari dekat ย dan langsung bagaimana padi itu merunduk. Hehehe.

"Jadilah seperti padi, makin berisi makin merunduk"
“Jadilah seperti padi, makin berisi makin merunduk”

Selain itu, Ustadz Irham di akhir acara penutupan sebelum sesi foto bersama dan ramah tamah dengan Bapak dan Ny. H. Lahab, ada pembacaan juara masing-masing kategori, yaitu the highest score, the most favorite, the most diligent, the funniest, the most active and the most excited.

Aktifitas kami
Aktifitas kami

Oh ya, kegiatan kami setiap pagi adalah berolahraga, makan pagi, kemudian berjalan dari pondokan menuju Taman Prasejarah Leang-Leang untuk belajar di sana. Jaraknya lumayan jauh. Tapi, hal itu menyenangkan karena di sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan yang alami sekali. Hijau semua. Disarankan sih harus ada fasilitas yang memadai, seperti penyewaan sepeda. Sehingga para murid tidak harus berjalan kaki terus-menerus.

Belajar sambil Bermain
Belajar sambil Bermain

Alhamdulillah. Di taman tersebut, kami menghabiskan waktu dengan belajar dan bermain. Syukurnya adalah terdapat sebuah masjid di depan taman tersebut, jadi para siswa, guru dan tutor dapat shalat di mesjid tersebut. Kemudian melanjutkan aktifitas hingga sore hari menjelang shalat Ashar. Malamnya selepas Maghrib, mereka melakukan Murojaโ€™a (menghafal hafalan Al-Qurโ€™an yang telah dihafal). Hari pertama bersama mereka, saya pribadi WOW WOW dengar mereka melakukan murojaโ€™a. Masih SMP, sudah jadi penghafal Al-Qurโ€™an. Apa kabarnya saya? Jadi malu sendiri. Mereka hebat-hebat. Dilanjutkan makan malam dan shalat Isya, kemudian learning English together. Setelah itu, itโ€™s time to take a rest.

English Survival
English Survival

Selain belajar seperti biasa, di English Camp ini diadakan kegiatan English Survival di Taman Prasejarah Leang-Leang. Di mana kegiatan ini seperti melakukan suatu perjalanan dari pos ke pos, dari pos 1 hingga pos 4 dengan syarat harus mendapatkan pita dari masing-masing pos. Caranya adalah dengan menjawab pertanyaan berbahasa Inggris dari masing-masing penjaga pos.

Mr. Abdi dan Mr. Hamka
Mr. Abdi dan Mr. Hamka

Lanjut, hari-hari berikutnya kami mendatangkan tamu pengajar, seperti native speaker berkebangsaan Amerika, yaitu Mr. Abdi. Beliau menetap di Makassar dan memiliki sebuah kafe, Be Smart Coffee, di mana kafe tersebut dijadikan tempat belajar Bahasa Inggris bagi para pengunjung yang ingin belajar bahasa Inggris. Di hari itu, para siswa akhirnya dapat berinteraksi langsung dengan native speaker, melalui diskusi dan permainan. Kemudian, Mr. Hamka. Seorang mahasiswa pascasarjana Unhas program studi Bahasa Inggris yang telah memiliki pengalaman ke luar negeri dan terkenal dengan aksen Britishnya. Mr. Hamka selain mengajar, dia juga memberikan permainan kepada para siswa dan berhasil mengundang tawa di antara kami. Whispering Game adalah salah satu permainan yang paling seru dan buat tertawa terbahak-bahak. This is because of Hasan. Hasann, you are the most favorite student.

Jika waktu menjelang sore, sepulang dari taman, para siswa biasanya langsung pergi ke sungai dekat pondokan. Entah itu karena mau berenang ataupun mencuci di sungai.

Bersama para generasi penerus bangsa yang hebat
Bersama para generasi penerus bangsa yang hebat

Semakin lama, semakin banyak hal menyenangkan yang saya peroleh. Terutama mengamati tingkah laku masing-masing siswa yang notabenenya adalah masih berstatus SMP. Mereka memiliki karakteristik masing-masing. Saya malah anggap mereka seperti teman. Lagian juga, tinggi mereka dan saya tidak jauh-jauh amat, malah tinggian mereka. LOL. ๐Ÿ˜€ Pada hari pertama Camp, saya secara pribadi merasa terbebani mental. Hampir menyerah. Hehehe. Bukan karena anak-anaknya tidak sopan, not. Tapi lebih ke cara saya dalam mendekati mereka. Memang beda ya pendekatan ke pembelajar dewasa dan pembelajar yang muda seperti ini. Sebagai guru, harus memiliki pendekatan personal dan beragam cara agar pembelajaran terasa menyenangkan. Namun, semakin hari, saya berusaha bertahan dan mencoba berbaur dengan mereka, dan alhamdulillah saya dapat berkomunikasi dengan baik bersama mereka. Jadi serasa anak SMP lagi begitu. ๐Ÿ˜€ ย Hal ini mengingatkan saya pada tahun 2010 kemarin, ketika pertama kalinya menjadi seorang guide untuk mahasiswa Korea. Dumbatznya dapat banget. ๐Ÿ˜€ Tapi, pada akhirnya tugas yang diemban juga dapat diselesaikan dengan baik. Alhamdulillah. Yaa, memang semuanya cuma butuh waktu saja.

Setiap sesuatu itu ada kelebihan dan kekurangannya. Seperti halnya di English Camp ini. Internet and mobile network is not good. Susah dapat jaringan e. Harus ke luar rumah dulu baru dapat sinyal bagus. Tapi, tidak masalah untuk saya. Tidak eksis di dunia maya selama seminggu kemarin, cukup melatih diri untuk melupakan yang namanya medsos. ๐Ÿ˜€ Overall, di tempat kami mengadakan English Camp ini dapat dijadikan salah satu rekomendasi tempat yang nyaman untuk menikmati suasana pedesaan yang sudah jarang dirasakan (menurut saya). Tempat yang cocok untuk mengungsikan diri dari ramai dan sibuknya suasana Kota Makassar.

Di akhir kegiatan, kami meminta para siswa untuk menulis kesan dan pesannya tentang kegiatan ini dan Alhamdulillah sebagian besar mengatakan mereka ingin English Camp dilanjutkan lagi tahun depan dan diperpanjang waktunya. Alhamdulillah kalau respon mereka bagus berkaitan dengan kegiatan ini. Mudah-mudahan tahun depan saya dapat berpartisipasilah. Terima kasih buat Ketua Panitia, Kak Arni dan Sekretaris, Kak Asdar, yang telah melibatkan saya dalam kegiatan yang berkesan ini.

Left2right: Kk Arni, Ustadzah Kurnia, Ning, Ny.H. Lahab, H. Lahab, Kk Asdar, Kk Sahlim dan Ustadz Irham
Left2right: Kk Arni, Ustadzah Kurnia, Ning, Ny.H. Lahab, H. Lahab, Kk Asdar, Kk Sahlim dan Ustadz Irham

Yah, sampai di sini dulu cerita singkat saya selama seminggu di Leang-Leang. No signal, but interesting. Thank you, English Camp. You make me be more experienced English educator.

Belajar bersama Ustadzah Arni
Belajar bersama Ustadzah Arni

 

Cerita Pagi di Kampus Merah

Terbesit keinginan untuk menikmati pagi di kampus merah ini. Tidak sendiri, namun bersama teman sedaerah yang sedang melanjutkan studi juga di kampus yang sama namun berbeda program studi. Sebut saja namanya Nova. ๐Ÿ˜€ Kami berjalan menyusuri jalanan yang dijejeri pepohonan rindang. Tidak berlari, namun berjalan.

12669489_10204392466046312_6729171954049293022_nBerjalan sambil bercerita tentang jalan kehidupan masing-masing. Kami memiliki cerita yang beragam. Mulai dari kehidupan keluarga, pendidikan, hingga asmara. Ya, topik-topik tersebut mendominasi pagi ini. Alasannya adalah karena mereka memang menarik untuk dibahas.

Tentang keluarga, bagaimana berbedanya karakter dan fisik kami sebagai anak pertama di antara para adik. Salah satu cerita yang kami angkat tadi adalah bagaimana saya di antara saudara-saudara yang lain. Ya,ย saya memiliki dua saudara kandung. Di antara kami bertiga, saya adalah anak perempuan yang tingginya paling semampai, semeter tak sampai. ๐Ÿ˜€ Sedangkan, anak kedua dan ketiga, untuk modal tinggi itu, cukuplah. Saya juga heran mengapa cuma saya yang kecil di antara mereka-mereka yang cukup tinggi. ‘Tiny banget’. Walaupun demikian, saya bersyukur. Tetap toh, harus bersyukur. ๐Ÿ™‚ Hehehe. ย Nova dan saya saling berbagi untuk cerita-cerita seperti itu dan jarang untuk tidak menertawainya bersama.

Berbicara tentang pendidikan. Pendidikan yang kami tempuh untuk mencapai di titik S2 ini adalah hasil jalan hidup kami yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Dengan biaya sendiri alias dari orang tua, kami toh sampai juga di tahap akhir semester. Kami sempat berharap akan ada beasiswa setelah terdaftar sebagai salah satu mahasiswa pascasarjana di kampus ini. Namun Allah masih belum memberikan rezeki itu walaupun kemarin kami sempat mengikuti proses penyeleksian beasiswa, seperti Tanoto dan Bakrie. Alhasil, kami belum berhasil. Secara pribadi, saya sempat kecewa mengapa beasiswa bukanlah salah satu rezeki yang saya miliki. Namun, saya tetap menyadari bahwa Allah pasti tahu yang terbaik untuk saya. Dan hasil perbincangan bersama Nova tadi, ceritanya semakin menegaskan saya bahwa memang Allah itu Maha Adil. Nova bercerita bahwa mungkin Allah tidak memberikan beasiswa kepada kami, namun Dia memberikan rezeki itu lewat orang tua. Mengapa? Agar kami selalu mengingat bahwa melanjutkan sekolah ini karena pengorbanan orang tua. Hingga akhirnya, jika sukses nanti, kami tidak akan meremehkan orang tua, tidak merasa bahwa kesuksesan itu milik pribadi sendiri karena kami sendiri yang berusaha. Sempat teringat apa yang dikatakan ayah (Pak Chay) sebelum kami menginjakkan kaki di kampus ini. Beliau sempat memberikan petuah pada kami. Kira-kira seperti ini, jika Allah telah mengizinkan kalian untuk melanjutkan sekolah. Percayalah, jalan itu akan selalu ada. Dan iya, terbukti sekarang. Rezeki alhamdulillah ada. Yaa, rezeki datangnya kapan dan di mana saja. Dan jalan untuk mencapai tujuan kami berada di kampus ini sedikit lagi tercapai. Butuh doa dan usaha lebih lagi. Semoga semuanya berhasil. Aamiin yaa rabbal alamiin. Sempat tidak menyangka juga bahwa dengan keadaan yangย seperti ini, kami bisa jugaย melewati semuanya satu per satu, tahap per tahap.

Di dalam kesempatan ini, saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada orang tua saya. (Walaupun hanya lewat tulisan). Terima kasih karena sudah mengikhlaskan anakmu untuk sekolah walaupun banyak pengorbanan yang dilakukan untuk mencapai cita-citanya. “Tidak mungkin juga kami membiarkan kalian hanya melihat teman-teman lain lanjut di kala kalian juga ingin lanjut. Toh juga kalian kalau belajar pasti membawa hasil. Yang penting kalian jadi anak penurut itu saja sudah cukup bagi kami,” kata papa via telepon sore tadi.ย Papa ee, bisa saja berkata-kata. Jadinya nangis kan nih.

Last but not least. Kami percaya Allah telah memberikan jalan untuk jodoh kami masing-masing. Kami hanya harus memperbaiki diri lagi menjadi lebih baik. Memantaskan diri agar menjadi pantas memiliki jodoh yang telah diridhai oleh Allah.ย *Kalau masalah ini, tidak perlu dibahas banyak ya. Cukup tahu saja bahwa hal ini adalah lumrah di saat kami menginjak usia 20-an.

Pagi memang selalu memberikan warna tersendiri.
Untuk hidup yang lebih baik.
Optimislah, Ning!
Usahakan selalu berada di jalanNya.
Karena Allah selalu berada di sampingmu. ๐Ÿ™‚
Aamiin Yaa Rabbal Alamiin.

 

Negeri Van Oranje and Lopi Cafe

On January 26, 2016, my cousin, Fitri, and I went to walk around again after doing something that must be done for the sake of the family interest. ๐Ÿ˜€ Our destination was Panakkukang Mall (MP) and Lopi Cafe. Firstly, we visited MP for walking around and seeing female stuffs, like shoes, clothes, dress, etc. And you know what I felt, I just tried to control my self. ๐Ÿ˜€ Although it was interesting, but it was not still my main attention.

Negeri Van Oranje

S__2088966We tried to go to Cinema 21 Panakkukang to see what movies that still in “NOW PLAYING”. I looked there was still “Negeri Van Oranje.” Thanks God, it was still playing. So, I invited Fitri to watch that film. I liked the actors, such as Chicco Jerikho, Arifin Putra and Abimana Arisatya. But, Ge Pamungkas, he is not a cool guy because I already knew him as a comedian. ๐Ÿ˜€ If I am asked to comment this film, I will say that this film makes me ‘BAPER’ and gloomy. Hmmm… A man that always hides from Lintang, finally he could get married with her. >.< I could say that the film was romantic and entertaining. ๐Ÿ™‚

Next plan was we went to Lopi Cafe, Cafe and Eatery. It is near MP. It is located in Jl. Boulevard No. 26 AB. Most of materials such as tables, chairs, and ornaments were made by wood. I think the cafe mixes between modern and traditional culture. It could be seen from one of wall sides, the wall was painted a couple who wore traditional clothes of Makassar and another side it was fulfilled by modern ornaments, like unique mirrors. It was full of music and AC. So, I felt comfortable to be in the cafe. I enjoyed it. ๐Ÿ™‚

5906

5905Oh ya, there were many kinds of foods and drinks. But we only ordered French Fries, Hot Cappucino, and Milkshake Vanilla. Mmm, they had nice taste.

Basically, I rarely hung out with friends in places like this because my assignments of study spent my time a lot. Therefore, I did not know well which interesting places to visit in Makassar. Fitri was a person who recommended me for trying to go to Lopi Cafe and her recommendation was a good place.

Overall, what we did yesterday, it made me more aware thatย it inspired me to design something that will be done someday. Aameen. ๐Ÿ™‚

5904

5903

Pungopang Makassar

Pungopang is one of places to enjoy Korean desserts and unique ice creams. It is a Korean Cafe. It was my first time to go there because my cousin, Fitri, invited me to go there onย January 22, 2016. Actually, Pungopang are also in Jakarta. Here, Pungopang is located in Jalan Pengayoman No. 11D, Makassar. It has e-mail address, pungopangmks@gmail.com and IG: pungopangMKS.

Here we are...
Here we are…
Parfait Dark Choco
Parfait Dark Choco

The first impression when I entered the cafe, it was so cozy. ๐Ÿ™‚ We were welcomed by its waitresses and they said “Annyeong Haseyo”. I felt it was funny. Yah, after we chose where we wanted to sit that had an electric plug, a waitress came to us to give a menu. It has many choices of unique ice cream and desserts, but I just chose one of ice creams, it was a Parfait Dark Choco (IDR 30K) and Fitri, CI Green Tea (IDR 45K).

CI Green Tea
CI Green Tea

FYI, there were many people to come there and I looked they got enjoyment from its services by enjoying their orders. I am so sorry for this time because I do not have a complete information about the menu, but if you want to search more, you can visit its IG. ๐Ÿ˜‰ And you can try to taste them there.

“A PUNGOPANG can satisfy your day”
That’s one of slogans on the wall in Pungopang.
And it is TRUE.
Alhamdulillah. ๐Ÿ™‚

1453457794512

Warkop Kampung Maya

I’m in Baubau now, but tonight I’m going to go back in Makassar for starting my study (again). Because I have time to do nothing ๐Ÿ˜€ I decide to write about one of places to hang out where we can enjoy a beautiful view, some snacks, and wifi in Baubau. ๐Ÿ™‚ Do you wanna try to visit the place? Let’s go there. ๐Ÿ˜‰

Warkop Kampung Maya
Warkop Kampung Maya

It is Warkop Kampung Maya. It is located besides my house, Jalan Anoa, Kel. Kadolomoko, Kec. Kokalukuna. Surely, you can find it easily. Warkop has two little huts and one gode-gode, one of kinds of seatย where people can sit on a flat board/wood while having conversation (koja-koja mantale in Wolio Language). Besides providing WiFi to browse internet (of course we must pay this for Rp. 5,000), the Warkop serves menu list to have coffee and snacks, the prices about Rp. 6,000 – Rp. 3,000. So cheapppp!!! ๐Ÿ™‚ I think it is almost same as Wantiro hill. ๐Ÿ™‚ Good place, nice seascape, cheap coffee and snacks. Why don’t you try to visit in this place?

*I write this post in Warkop Kampung Maya in good network (wifi). ๐Ÿ™‚

Photos by LaKamboti Saja Dent (FB)
Photos by LaKamboti Saja Dent (FB)

In Palabusa, Baubau (with family)๐ŸŒŸ

image

In early morning, I’ve heard that there will be a plan to go to Palabusa with my families. Everyone in my house agreed with that, except my father. Suddenly, my mom announced that she cannot go. So, my sister, Rini, and me followed my mom. While we were lying down on bed, we were surprised by my mom and my aunt. Did you know? My mom can go. And I did not prepare yet anything. ๐Ÿ˜ฎ But, life must go on. Hahaha.

image

We arrived in Palabusa about 3 p.m. yesterday (Saturday, 2 August 14). Below, it is the gate of PT. Selat Buton where the pearls cultivated. Here we can observe how the pearls are cultivated beginning from breeding, injecting, to final collecting stages. Unfortunately, I cannot see it because it’s still holiday. Hehehe.

image

These are our pictures…

image

image

image

 

Have a nice holiday…

MLC TOEFL Prediction Test & Seminar Pendidikan Luar Negeri

MLC TOEFL Prediction Test and Seminar Pendidikan Luar Negeri
MLC TOEFL Prediction Test and Seminar Pendidikan Luar Negeri

There was an event on June 15, 2014 (Sunday) at La Ode Malim Auditorium Dayanu Ikhsanuddin University, namely MLC TOEFL Prediction Test dan Seminar Pendidikan Luar Negeri.The event was educative and very interesting. I think that was the first time for such the event held in Baubau. It was followed by students in university, high school, and some teachers.

It was held by Makida Learning Center. It is one of courses in Baubau, located at Jalan Erlangga Ruko Pos 3 Baubau. You can also contact it via Facebook or Twitter.

Sunday morning, I arrived at campus before the event held and met my friends. Did not forget to take some pictures with them. ๐Ÿ˜€

With friends
With friends

Before I entered the room, I had to have re-registration and got Paper List Beasiswa Luar Negeri and a booklet of Makida Learning Center.

What we got
What we got

For the first session, all participants had a TOEFL Test, it was about

Mr. Boy was still giving explanation about TOEFL
Mr. Boy was still giving explanation about TOEFL

140 questions in 110 minutes. The questions were WOW WOW WOW.. And I can’t predict how my score will be. ๐Ÿ˜€ Afterwards, we were explained all about TOEFL, how to answer the questions, tips and trick by Mr. Boy, one of tutor in Master TOEFL Makassar. He had nice explanation. ๐Ÿ™‚

Then, we had lunch. Eating time!!! ๐Ÿ˜€ Ahaideee…
After that, the seminar was started.

The book and I
The book and I

There were three people as resource person. They were Laย  Ode Aroamonkdo, S.IP, M.A. (Who got his postgraduate degree in Germany), Muhammad Arham (One of students in English Literature Hasanuddin University who got youth exchange from JENNESYS), and Mr. Calleb Coppenger (the author of The Mysteries of the Islands of Buton According to the Old men and Me).

The conclusions that I could get from their explanation and moderator are:

  1. There is a will, there is a way. (Arham’s words)
  2. To get the scholarship, we must have high value and competitiveness.
  3. Of course, we must struggle to get the scholarship and survive abroad.
  4. Studying abroad can open our mind and insight. What we can see abroad, we can’t see it here (Indonesia). What we can see in Indonesia, we can’t see it abroad.
  5. There is no automatic result, it must be filled by working hard and struggling.
  6. If we want to study abroad, we should prepare our self “before the deadline”. For example, we have a plan to study abroad in 2014. So, we must prepare in 2009 or 2010. Yup, I mean “before deadline”. ๐Ÿ˜€

The closing session was giving of souvenirs to the resource persons and the taking of photos together.

giving souvenirs
giving souvenirs
left2right: moderator (a doctor), Mr. Boy, Kk Ar, Mr. Calleb Coppenger, Muh. Irham, and Tonny Feisal (Project Leader)

The last beautiful photo was Kk Cenk and I. ๐Ÿ˜€ Ahaideee….

Kk Cenk and I ๐Ÿ˜€ Thank you, Kaka… ๐Ÿ™‚ Good luck always.