A Novel from Adhitya Mulya: Sabtu Bersama Bapak

Sabtu Bersama Bapak
Sabtu Bersama Bapak

“Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan…, tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.” (Adhitya Mulya, 2015 – Sabtu Bersama Bapak)

Well, perlu diakui, saya terlambat untuk membaca novel ini dan menulisnya di blog. Pasalnya, filmnya udah duluan ditonton daripada novelnya yang harusnya dibaca terlebih dahulu. Ya udahlah, kata Prof.nya, hidup tidak mesti idealis, harus realistis. *mengutip salah satu status senior di Facebook. 🙂

As we know, novel ini bercerita tentang cara seorang Bapak, Gunawan Garnida, yang menyiapkan rekaman video-video dirinya berupa cara pandang dan pemikirannya tentang hidup yang harus dijalani dengan baik oleh kedua anak lelakinya, si Sulung Satya dan si bungsu Cakra (Saka). Hal ini dilakukan karena Pak Gunawan mengidap penyakit kanker dan divonis bahwa hidupnya tidak akan lama, selama 1 tahun lagi. Pak Gunawan tidak ingin ibu Itje Garnida, istrinya, membesarkan anak-anaknya tanpa kehadiran sosok ayah di tengah-tengah mereka. Sehingga, di setiap hari Sabtu sore, Satya dan Cakra selalu menonton video-video Bapak.

Ibu Itje Garnida merawat kedua anaknya hingga Satya dan Cakra tumbuh menjadi sosok lelaki yang dewasa. Mereka hidup dengan mapan dengan masalah hidup yang berbeda-beda. Ibu Itje Garnida, sang pekerja keras hingga akhirnya memiliki delapan rumah makan selama belasan tahun, namun menyembunyikan penyakit kanker payudaranya pada anak-anaknya karena Ibu Itje tidak mau menjadi beban bagi kedua putranya.

Kemudian, Satya yang bekerja di salah satu kilang minyak di luar negeri sebagai geophysicist. Merupakan suami dari Rissa Wiriaatmadja dan ayah dari Ryan, Miku, dan Dani. Dalam kehidupan rumah tangganya, Satya menjadi sosok ayah pemarah di mata istri dan ketiga anaknya.

Lain lagi dengan Cakra, bekerja sebagai Deputy Director di sebuah bank asing yang berkantor di Jakarta. Sosok yang dewasa dalam pemikirannya dan selalu care sama ibunya, namun tidak kunjung mendapatkan jodoh, hingga kemudian Cakra bertemu dengan Ayu, staf baru di tempat ia bekerja. Sayangnya, Salman, teman kerjanya, menjadi pesaingnya untuk menaklukan hati Ayu. 😀

Untuk ending ceritanya, sudah diketahui bahwa ini akan happy ending. Senang sekali membaca kisah cinta dua lelaki ini. Berhasil buat senyum-senyum sendiri. Hahaha.

Thank you, Mas Adhitya. You give me many life lessons from your novel. Saya izin ngutip beberapa ya, Mas Adhitya. 🙂

“Bukan berarti seseorang harus kaya dulu sebelum nikah. Tapi kalian harus punya rencana. Punya persiapan. …. Menikah itu banyak tanggung jawabnya. Rencanakan. Rencanakan untuk kalian. Rencanakan untuk anak-anak kalian.” (hal. 21)

“Ada orang yang merugikan orang lain. Ada orang yang merugikan keluarga yang menyayangi mereka. Ada orang yang hanya merugikan diri sendiri. Ada orang yang berguna untuk diri sendiri. Ada orang yang berhasil menjadi berguna untuk keluarganya. Terakhir adalah orang-orang yang berguna bagi orang lain. Bapak tidak cukup lama untuk menjadi golongan terakhir. … semoga kalian dapat menjadi orang-orang yang lebih baik dari Bapak.” (hal. 86)

“Semua anak wajib menjadi baik dan pintar karena memang itu yang sebaiknya semua manusia lakukan.” (hal. 105)

“Menjadi panutan bukan tugas anak sulung –  kepada adik-adiknya. Menjadi panutan adalah tugas orangtua – untuk semua anak.” (hal. 106)

“…ketika kalian udah gede akan ada masanya kalian harus melawan orang. Yang lebih besar, lebih kuat dari kalian. Dan akan ada masanya, kalian gak punya pilihan lain selain melawan, dan menang. Akan datang juga … masanya semua orang tidak akan membiarkan kalian menang. Jadi, kalian harus pintar. Kalian harus kuat. Kalian harus bisa berdiri dan menang dengan kaki-kaki sendiri.” (hal. 130 – 131)

“Kejar mimpi kalian. Rencanakan. Kerjakan. Kasih deadline.” (hal. 151 – 152)

“Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan. …. Find someone complimentary, not supplementary (Quote dari Oprah Winfrey).” (hal. 217)

Perlu diakui, cerita di novelnya lebih lengkap dibandingkan dengan di filmnya. Rasanya setelah membaca novel ini, saya seperti menemukan kebenaran dari sebuah film yang diangkat dari sebuah novel tersebut. 😀 Bukan menganggap alur cerita yang difilmkan tidak bagus ya. Perlu dipahami, banyak hal-hal yang mesti dipertimbangkan ketika alur cerita di novel harus tidak disamakan dengan filmnya atau jika perlu alur cerita di filmnya harus diubah, tidak sesuai dengan di novel. Hal ini bertujuan agar menjadikan filmnya lebih awesome, tanpa mengurangi value dari novel tersebut. Overall, novel dan filmnya sama-sama bagus. 🙂

Novel ini mengingatkan kembali akan satu hal, bahwa betapa orangtua sangat mencintai dan menyayangi anak-anaknya. Hingga mereka tidak bakalan mau melihat anaknya hidup menderita ke depannya. Orang tua rela berkorban dengan sangat ikhlas demi kehidupan anaknya yang lebih baik, hingga tumbuh menjadi anak yang membanggakan orangtua. Teringat kata-kata dari orang, orang tua mana sih yang tidak mau memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Mas Adhitya, novelnya sarat arti dari keluarga. :’) Let me keep this book for my children later. Hehehe.

Bagi yang belum membaca novel ini, tapi udah keduluan nonton filmnya, saya sarankan untuk baca novelnya deh. Kita akan menemukan kebenaran yang sebenarnya pada novelnya. Tentunya, pelajaran arti dari keluarga dan kebijaksanaan hidup dari Bapak yang lebih banyak tertuang di novelnya.

Ok. I have done to review this novel. I hope you enjoy it. Happy reading, readers! :* 🙂

*FYI. Saya lebih suka cover aslinya sebelum difilmkan daripada cover sesudah difilmkan. Menurut saya, cover pertama lebih natural. It looks like a novel, just a novel, not a film. Bulan Juli 2016 kemarin, dibela-belain keliling di toko-toko buku Makassar, dari Graha Media di M Tos, Gramedia di MP dan MARI, hingga toko-toko buku di Jalan Bulu Kunyi. Sendirian. Demi mencari novel dengan cover pertamanya *terlalu semangat ko, Ning. And you know? Hasilnya nihil. Novel dengan cover pertamanya udah gak keliatan, kebanyakan cover filmnya. Hopeless. Hingga tibalah Oktober ini, I found what I look for di salah satu toko alat tulis kantor di sekitar Jalan Perintis that I didn’t think it before, the novel with its first cover. Memang ya, kalau jodoh gak kemana. Sejauh apapun itu, selama apapun itu, kalau jodoh bakalan ketemu juga. Hehehe. Thanks, Allah. Alhamdulillah.

Advertisements

Bakmi RN Makassar: Enak e

Bakmi RN Makassar
Bakmi RN Makassar

Bakmi RN Makassar terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan KM 9, sekitar Outlet Brownis Amanda Perintis atau sebelah Astra Shop & Drive dan sebelum Coto Paraikatte dari arah pusat kota. Bakmi ala Raffi Ahmad dan Nagita Slavina ini menyediakan 9 menu yang recommended untuk dicoba, seperti 1) Bakmi Ayam Jamur, 2) Bakmi Ayam Lada Hitam, 3) Bakmi Ayam Popcorn, 4) Bakmi Rendang Rahmad, 5) Bakmi Empal Cabe Ijo, 6) Bakmi Calamari Spicy Mayo, 7) Bakmi Cumi Saus Padang, 8) Bakmi Spicy Omelette dan 9) Bakmi Nagitha. Harganya bervariasi, mulai dari Rp. 20.000 – Rp. 30.000. Oh iya, @bakmirn_makassar ini bukanya sampai jam 10.00 P.M. saja. So, guys, don’t be late to come here.

As you know, this is my first time to taste bakmirn_makassar dan deeeh rasanya itu ee, kayak mau lagi. Enak nah, tidak bikin eneg. Two thumbs up… Menurut pelayannya, yang paling recommended itu Bakmi Nagitha, tapi karena sudah habis, maka saya dan sepupu, Kk Lily, memesan Bakmi Cumi Saus Padang dan Bakmi Rendang Rahmad. Bagi saya, porsinya tidak sedikit dan cukup mengenyangkan. TOP deh. Rasanya mau ke sini lagi dan mencoba menu yang lain. Oh iya, kalau mau cari tahu info lebih lengkapnya, silahkan ke ig Bakmi RN Makassar di @bakmirn_makassar.

After having lunch, it’s time to take pictures. As usual, we must do it because if we did not do, it means that this was only hoax news. 😀 Kebetulan juga tempatnya lagi sepi, jadi yaa mau-mau kita ajalah. 😀 Semoga bisa ke sini lagi di lain waktu. Aamiin. 😀 Bagi yang belum mencoba, ayo ke Bakmi RN Makassar, in sha Allah tidak menyesal ji kasian. Hehehe. 😉

Kk Lily and Me in Bakmi RN Makassar
Kk Lily and Me in Bakmi RN Makassar

Because I Believe You, Allah

Ada sesuatu yang terus mengganggu
Entah kapan akan berhenti
Berakhir
Di ujung keikhlasan hati untuk melepaskan
Atau menerimanya dengan saling menggenggam tangan
Untuk tidak berpisah hingga Allah hendak mengambil apa yang menjadi milikNya

source: 1-flesh.tumblr.com
source: 1-flesh.tumblr.com

Hati dan kabar burung itu seolah saling berkompetisi mempertahankan eksistensinya
Pada jiwa yang hampir rapuh
Tidak menyenangkan berada di antara kedua kondisi itu
Namun, keberadaan Allah akan janjiNya membuat perasaan ini hampir seperti batu
Kokoh pada kepercayaan atas apa yang telah dikatakanNya
Bersama dia ataupun tidak untuk bersama

Ya, semua kembali pada diri
Sejauh mana memperbaiki diri untuk baik di mata Allah
Hingga akhirnya Allah menghadiahkan anugerah asmaraNya
Yang membuat diri tidak bisa berkata apa-apa
Selain bersyukur kepadaNya
Sang Maha Penentu Pasangan Hidup
Engkau Maha Besar, ya Allah

Let me adore You through this writing on this blog
This is not one of ways to attract Your attention to give me what I want
This is what I want to say on my personal blog
I don’t care with many readers who read this note

I can not save this by myself
Even I don’t say it to You directly, I am sure You must know what the best thing for me
Thanks, Allah
Thanks for everything
However, I am totally still failed to obey Your exam.
I am still too sinful to be your Ummat.

Milea: Suara dari Dilan

21998

“Kata Pidi Baiq, perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu. Iya, rindu amat teramat sangat. Rindu ada Dilan dan Milea saja. Perpisahan itu, dapat menyedihkan atau bisa jadi menyenangkan. Namun, dari sudut pandang saya, novel ini membuat perpisahan menjadi sesuatu hal yang sangat disayangkan untuk dijadikan sebuah kenyataan yang harus dilewati oleh dua orang tokoh utama, Dilan dan Milea. Perpisahan yang harusnya jangan terjadi.”

Novel Milea: Suara dari Dilan ini adalah karya lanjutan Pidi Baiq dari Novel Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1990 dan Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1991. Jadi, sebelum membaca novel ini, sebaiknya teman-teman membaca Novel Dilan #1 dan #2 terlebih dahulu agar lebih afdol mengetahui alur ceritanya.

Jika dua novel sebelumnya merupakan kisah Dilan dan Milea dari sudut pandang Milea. Maka, novel ini berasal dari sudut pandang Dilan tentang bagaimana pemikiran Dilan terhadap dirinya dan Milea yang berbeda satu sama lain hingga menimbulkan kesimpulan kehidupan mereka yang pada akhirnya membuat saya menangis (lagi) di akhir lembaran cerita novel ini. *Tersentuh, Bang Pidi Baiq. 😥

FYI, sekilas dari novel ini. Terdiri dari 20 bab. Hampir semua para tokohnya pun masih sama (kalau tidak salah ingat) seperti kedua novel sebelumnya. Namun, ada sedikit penambahan tokoh baru untuk kisah asmara Dilan dan Milea yang baru. Hmm. Bandung, Jakarta dan Jogja merupakan daerah-daerah yang menjadi latar belakang tempat dalam novel ini.

Milea rindu Dilan. Dilan rindu Milea. Kenapa tidak jadi sih, Bang Pidi Baiq? 😥

Bisa dibayangkan kan, merencanakan masa depan bersama orang yang kita pikir dia yang akan bersama-sama menjadi masa depan kita, dan di tengah jalan Tuhan memiliki skenario yang lain. Rasanya tuh JLEBBB bangettt. Tapi, yah namanya manusia, cuma bisa punya planning, Tuhan yang make it into a reality. Dan Dilan menyikapinya dengan bijaksana.
*Ah, novel ini lagi-lagi membuat saya termehek-mehek di tengah sunyi senyapnya gelap.

“Kata Dilan: Rasa sedih jika ada, itu harus berbatas untuk memberi peluang munculnya harapan pada hari-hari berikutnya, mengejar impian dan meraih kebahagiaan bersama seseorang yang dapat menghabiskan sisa hidup kita dengannya. … Rasa sedih dan kegagalan tidak selalu berarti kekalahan.” (Pidi Baiq, 2016, p. 356-357)

Sebagai kesimpulannya, novel ini adalah sebuah karya fiksi yang mengingatkan kembali bahwa sebaiknya menghindari su’udzon atau berpikiran negatif terhadap seseorang; ketika mendengar ada hal yang kurang berkenan di hati tentang orang yang kita sayangi, coba tanyakan langsung kepadanya agar tidak terjadi kesalahpahaman, walaupun memang rumit, antara gengsi dan sekedar saling menunggu inisiatif satu sama lain; selalu meminta maaf dan memberi ucapan terima kasih untuk orang yang menyayangi kita; dan selalu ingat, harapan terkadang tidak sesuai kenyataan, bro. Hehehe.

Judul: Milea: Suara dari Dilan
Penulis: Pidi Baiq
Cetakan: I, 2016
Penerbit: Pastel Books
360 hlm.; Ilust.: 20.5 cm
ISBN: 978-602-0851-56-3

Coretan untuk Hari Senin

Selamat Senin pagi, semuanya.

Hari ini lagi kangen sama menulis. Tapi masih belum ditahu topiknya ini bermanfaat atau tidak. Mengapa? Karena sifatnya tentang perasaan. Hehehe. Maklumlah, penulisnya cewek. Jadi, gimana ya, kayak ada baper-bapernya gitu. Maaf ya. Tulisannya ‘nyampah’ nih.

Oke. Dimulai dari pikiran yang terus-menerus berkutat sama yang namanya tesis, ujian hasil, ujian tutup, dan deadline pendaftaran wisuda. Harapannya sih semoga dapat wisuda September 2016. Tapi, belum ditahu ya, apakah bisa dikejar atau tidak. Namun, dari lubuk hati yang paling dalam, I DEEPLY WANT IT. Aameen. Aameen. Aameen.

Terlalu banyak underpressure yang diciptakan diri sendiri. Padahal kalau dari orang tua tidak terlalu menuntut ini itu. Tapi namanya anak kan, ada peka-pekanya juga. Hehe. Kalau masih bisa diusahakan sampai titik terakhir, ya why not.

Lama juga tidak menulis, akibatnya alur tulisan ini serasa amburadul. Soalnya belum dapat inspirasi yang WOW sih. It is OK. Agak (sok) sibuk akhir-akhir ini, jadi mohon dimaklumi saja ya.

Paragraf ini dimulai dengan gejolak pikiran antara tesis dan perasaan. Antara masa depan dan ‘masa depan’. Tidak jarang harus ada air mata yang menetes secara diam-diam. Entah ketika bersujud menghadapNya, waktu lagi bawa kendaraan atau lagi di dalam kamar. *tabongkar kartu AS. Hahaha. 😀 Jika diingat-ingat, seperti hendak tertawa yang kemudian tiba-tiba diam, hening. Dari kemarin-kemarin, hati saya terlalu sensitif, bisa dibilang sensitif lain-lain. 😀 Tiba-tiba bisa aja langsung nangis. Lihat sahabat nikah, nangis. Ketemu pak guru (ayah), nangis. Cuma di depan orang tua aja yang sok tegar, sok senyum manis, sok kuat, sok semuanya deh. Hehehe. Masalahnya kalau nangis di depan mereka, gimana yaa. Saya merasa tidak pantas. Sudah cukup nangisnya waktu kecil minta dibelikan ini itu, padahal saat itu lagi suasana krisis moneter. Ckckck. Maaf, Ma Pa. Kemarin masih bandel-bandelnya, masih main ego tingginya. Kalau sekarang, gak tahu deh. Hehehe.

Kemarin dan Sekarang itu adalah dua hal yang berbeda. Dari bentuk katanya saja sudah beda. Apalagi maknanya. Yang sama adalah pelakunya. Ya, saya. ‘Kemarin’ yang melakoninya adalah saya, dan ‘Sekarang’ masih saya juga. Terlalu banyak hal yang mau diadukan, terlalu banyak yang mau dikeluhkan, dan terlalu banyak yang mau diceritakan dalam tulisan ini. Ya sudahlah, mungkin masih kurang pantas untuk merangkai isi kalimatnya di sini. Mungkin lebih bagus dibiarkan berceceran menjadi kepingan-kepingan puisi atau sepenggal kalimat galau anti baper. 😀

Yang intinya itu, Ning. Harus semangat!!! Kata Prof. Hakim, ‘Semangat dulu yang harus disemangati.

Saya tidak menyalahkan keadaan. Kesendirian bukan hukuman, melainkan persiapan. Untuk membenahi diri, kata orang supaya jadi lebih baik. Katanya begitu. Terus, kata Om, saya tidak boleh mengecewakan orang tua (nasehatnya seperti ada pahit dan manisnya e). Saya sih, in sha Allah, Om. Tapi kayaknya sudah banyak tingkah laku saya yang sudah membuat mereka kecewa. Tapi, mungkin tidak terdeteksi saja. Sebaik apapun saya sebagai anak, tidak bakalan mampu mengganti kebaikan orang tua selama membesarkan saya hingga jadi anak yang begini. 😀

Mau cerita tentang perasaan. Ehm. Iya, perasaan. Tapi, ini arah-arahnya bakalan tidak sempat deh. Pesona orang tua masih terlalu dominan untuk tidak disisihkan. Bukan pencitraan ya, readers. Cuma gimana ya. Kita semua tahulah rasanya sebagai anak yang sedikit sadar tentang siapa diri kita yang menaruh penuh hormat dan sayang kepada mereka, orang tua kita. Jadi, saya tidak perlu berkomentar kiri kanan. Menceritakannya pun saya bisa saja menjadi speechless. Lagian, saya belum menjadi anak baik seutuhnya. Masih belajar juga dan bakalan berproses terus, mudah-mudahan berprosesnya menjadi lebih baik, bukan sebaliknya. Aamiin.

Sehat-sehat, Ma Pa.

*IMLC, Ma Pa. 😀

*singkatannya wa WiNNy untuk titik titik. 😀

Pagi, Ramadhan!

Kita memiliki kehidupan yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Olehnya itu, rezeki, jodoh dan kematian yang Allah kasih akan berbeda-beda pula kuantitas dan kualitasnya.
Berbeda bukan berarti Allah berdiskriminasi.
Berbeda karena Allah tahu yang terbaik untuk hambaNya yang bertakwa.

Pagi yang tenang. Iya, cerah karena cuacanya tidak mendung. Duduk di sebuah bangku panjang bersama teman seperjuangan. Masing-masing di hadapan laptop dengan kepentingan yang berbeda. Teman saya sibuk mempersiapkan dirinya untuk ujian seminar proposal tanggal 22 Juni ini dan saya sibuk menulis tulisan ini. Tidak sempat bangun sahur karena bangun kepagian dan tidur terlalu malam, tidak menjadi halangan untuk tetap berkonsentrasi dengan apa yang ada di depan mata.

Sedikit menghilangkan penat dari proses pengerjaan hasil penelitian yang belum selesai di mana besok adalah jadwal bimbingan. Rasanya saya terlalu selllooowww sekali… -___- Berharap dapat wisuda September ini, tapi usahanya segini. Mana bisa. Tapi, saya harus yakin, in sya Allah bisa ujian hasil dalam waktu dekat dan dapat wisuda September ini. Yakin, positif, usaha, dan berdoa. Kenapa? Karena kalau saya terlanjur bilang “tidak bisa kejar wisuda September”, itu adalah kesalahan terbesar. Tidak boleh pesimis, Ning. Jalan saja. Positif saja. Kalau dapat September, alhamdulillah. Kalau tidak dapat September, juga alhamdulillah. Jalan Allah itu lebih baik dari apa yang kamu rencanakan, Ning.

Oh iya, bulan Ramadhan ini rasanya beda. Kayak gimana ya… Ada senangnya, ada sedihnya juga. Di pikiran saya itu, “tesis, tesis, tesis, tesis.”  Melihat teman seangkatan yang mau wisuda tanggal 29 Juni ini dan yang sudah ujian hasil, rasanya seperti disindir diri sendiri, “kamu kapan, Ning?” Rasanya mau juga seperti mereka, tapi gimana. Saya usahanya minim. *Jangan dicontoh, readers. Memang betul, Usaha tidak mengkhianati hasil. Gimana gak minim, setelah sakit kemarin, saya seperti kurang cekatan, gercep, dan enerjik. 😀 *merasamu deh, Ning. Wkwkwk… Tekanan darah saya turun naik, readers. Kadang 80/60, 90/70, yaa main-main di situlah. Dan hal itu membuat orang tua saya sedikit panik. *Maafkan anakmu ini, Ma Pa. Mereka meminta saya untuk menjaga kondisi badan dengan banyak minum susu beruang, makan coto/konro, dan satu, TIDAK BEGADANG. Bagaimana bisa selesai ni proyek kalau tidak begadang, Ma Pa. Tapi, saya tidak menyalahkan mereka. No no no. Saya aja yang kurang pandai mengatur waktu dan diri. Gimana Allah mau kasih jodoh kalau saya masih begini. Eh, pembahasan jatuh ke situ lagi. Wkwkwkwk.

Ya, jalan orang memang berbeda. Saya dengan kehidupan saya, orang lain dengan kehidupannya sendiri. Mungkin kemarin saya terlalu menggebu-gebu memilikinya, tapi sekarang saya belajar untuk lebih memahami bahwa tidak selamanya hal yang menyenangkan yang kita dengar akan cepat terealisasi di depan mata. Iya, karena semuanya bisa saja terjadi, tapi waktunya tidak secepat apa yang kita inginkan. Tergantung cara kita mencintai Allah dan berusaha memperbaiki diri menjadi lebih baik, baik, dan baik lagi. 🙂

Bakti Sosial 2016 Mahasiswa FKIP Pendidikan Bahasa Inggris Unidayan di Desa Wawoangi, Sampolawa, Buton Selatan

(searah jarum jam) 1) Spanduk 2) Gedung Sultan Saparigau, 3) Pembekalan dari Bapak Kepala Desa Wawoangi dan Sekprodi, 4) Para dosen FKIP Pend. Bhs. Inggris Unidayan
(searah jarum jam)
1) Spanduk 2) Gedung Sultan Saparigau, 3) Pembekalan dari Bapak Kepala Desa Wawoangi dan Sekprodi, 4) Para dosen FKIP Pend. Bhs. Inggris

Bakti Sosial di Desa Wawoangi, Sampolawa, Buton Selatan, pada tanggal 28 – 29 Mei 2016 kemarin adalah salah satu agenda kegiatan UNESA (Unidayan English Students Association). Pesertanya adalah mahasiswa FKIP Pend. Bahasa Inggris Unidayan Angkatan 2013 dan para dosen yang mengikuti kegiatan ini ada 7 dosen; 3 dosen tetap (Pak Baharuddin Adu, Pak Rizal dan Ibu Esa) dan 4 dosen tidak tetap (Ibu Yuli Yastiani, Pak Firdaus, Ibu Dianti Afrilia dan saya sendiri). *dosen-dosennya masih muda semua kan. Kan kan. 😀

Berbicara tentang kronologis kegiatannya, saya tuliskan secara ringkas saja. Ini juga bukan tulisan formal, judul tulisannya saja sepertinya yang terlihat formal. Kami semua, baik mahasiswa dan dosen, berkumpul di Stadion Betoambari pada jam 5 sore. Awalnya jam 4 sore namun cuaca yang tidak mendukung, akhirnya diundurkan menjadi jam 5 sore. Perjalanan menuju Desa Wawoangi, Sampolawa, ini membutuhkan waktu sekitar 2 jam dari Kota Baubau. Dalam perjalanan menuju desa tersebut, banyak hal yang menyenangkan terjadi di dalam mobil yang disewakan oleh pihak panitia acara (Unesa) untuk para dosen. Utamanya Pak Firdaus sebagai korban yang paling sering dibully. Hahaha… Terima kasih, bapak ibu dosen untuk hiburannya hari itu. Alhamdulillah. 😉

Sesampainya di tempat tujuan, hari telah gelap. Kami semua beristirahat di Gedung Sultan Saparigau. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai baruga. And do you know? Kami disambut dengan listrik yang padam. Nyesss. Gelap gulita, men. Ditambah lagi ada seorang mahasiswa yang kerasukan sehingga membuat suasana di baruga menjadi tegang. Tapi untungnya, tidak berlangsung lama, baik listrik ataupun mahasiswa tersebut. Alhamdulillah.

Well, untuk tempat istirahatnya, para mahasiswa dan Pak dosen tidur di baruga tersebut, sedangkan para ibu dosennya tidur di salah satu rumah warga *memang, wanita selalu diistimewakan :D. Sebelum tidur, tentunya harus makan dulu toh. Para dosen dan para mahasiswa having dinner dulu sebelum beristirahat untuk mempersiapkan diri di esok hari. Rame!!! 😀

Bersama Kepala Desa Wawoangi di rumah Beliau
Bersama Kepala Desa Wawoangi di rumah Beliau

Sebelumnya, kami disambut oleh Bapak Kepala Desa Wawoangi di baruga dan Beliau mengajak kami, para dosen, untuk bertandang ke rumahnya sembari berbincang-bincang tentang Desa Wawoangi ini. Cukup banyak informasi tentang Desa Wawoangi yang kami dapatkan dari cerita Kepala Desa, apalagi tentang objek yang akan kami bersihkan sebagai aksi bakti sosial esok harinya, yaitu Mesjid Tua Wawoangi. Ya, kami dilayani dengan sangat baik oleh Bapak Kepala Desa. Terima kasih, Pak. 🙂

Perjalanan menuju Mesjid Tua Wawoangi
Perjalanan menuju Mesjid Tua Wawoangi

Keesokan paginya, kami have breakfast dulu bersama. Setelah itu, ada sepatah kata dari Bapak Kepala Desa dan Sekprodi untuk kami semua sebelum memulai kegiatan, yaitu pembersihan di sekitar Mesjid Tua Wawoangi. Videonya dapat dilihat di sini.

Mesjid Tua Wawoangi di Desa Wawoangi, Sampolawa, Buton Selatan
Mesjid Tua Wawoangi di Desa Wawoangi, Sampolawa, Buton Selatan

Sekilas informasi tentang Mesjid Tua Wawoangi menurut informasi yang didengar dari Kepala Desa Wawoangi. FYI, Wawoangi itu artinya adalah di atas angin. Mesjid Tua Wawoangi terletak di Desa Wawoangi, Kecamatan Sampolawa, Kabupaten Buton Selatan. Mesjid tersebut terletak di atas bukit. Jarak yang ditempuh dari Desa Wawoangi menuju mesjid tersebut sekitar 2 km. Bisa ditempuh dengan jalan kaki maupun kendaraan. Namun, harus tetap berhati-hati, karena hampir sepanjang perjalanan, jalanannya masih agak kurang bagus, berbatu-batu. Percaya tidak percaya, kata kepala desa, walaupun bagus kendaraan yang kita miliki menuju mesjid, namun jika niat tidak bagus, maka kita tidak akan sampai ke mesjid. Sebaliknya, sejelek apapun kendaraan yang kita miliki, namun memiliki niat yang baik, maka akan sampai di tujuan. Dan itu terbukti dari beberapa kejadian yang pernah terjadi oleh orang-orang yang pernah ke mesjid tersebut bersama kepala desa.

Menurut cerita yang dipaparkan oleh Kepala Desa Wawoangi, sebelum adanya mesjid di Buton ini, Syeikh Abdul Wahid (Pembawa Agama Islam Pertama di Buton) pernah terdampar di daerah Lapandewa. Di daerah tersebutlah, Syeikh Abdul Wahid mengajarkan agama Islam kepada masyarakat setempat. Kemudian, Syeikh Abdul Wahid mengatakan bahwa di atas bukit Desa Wawoangi itu, Beliau akan mendirikan mesjid. Masyarakat Lapandewa akhirnya bertanya, mengapa demikian? Syeikh Abdul Wahid pun menjawab, Syeikh Abdul Wahid melihat ada cahaya di atas bukit Desa Wawoangi tersebut kemudian cahaya itu terus naik sampai ke luar angkasa. Sehingga Beliau memutuskan untuk mendirikan mesjid di atas bukit tersebut. Dibangun pada tahun 1527. Dinding mesjidnya nampak seperti terbuat dari rotan bambu yang besar, atapnya terbuat dari kayu, sehingga membuat mesjid ini sederhana. Ya, sederhana tapi gimana yaa. Ada suasana tersendiri ketika berada di mesjid tersebut. Seperti masih ada kekuatan gaib yang sangat kental di mesjid ini. Yang intinya, jangan mengunderstimate keberadaan mesjid ini dalam bentuk apapun. Bapak Kepala Desa sering kali mengingatkan kepada kami bahwa satu hal yang penting, jangan ada di hati kita semua untuk mengatakan bahwa mesjid itu tidak baik.

Sebelum berada di mesjid, kita berwudhu dulu, kemudian jika telah berada di dalamnya, maka berdoalah kepada Allah dan yakinilah semua tentang doa yang kita panjatkan. Seperti yang dikatakan Pak Bahar kepada para mahasiswa bahwa sebelumnya beliau juga pernah mengunjungi mesjid tersebut, tapi masih menjadi mahasiswa pada saat itu, beliau masih ingat apa yang dikatakan oleh Pak Safulin, bahwa Mesjid Tua Wawoangi tersebut dianalogikan ibarat HP yang merupakan alat komunikasi, jika kita berada di tempat yang kekuatan signalnya bagus, maka komunikasi kita akan bagus kepada orang yang kita hubungi. Sebaliknya, jika berada di tempat yang kekuatan signalnya kurang bagus, maka komunikasinya kurang bagus. Nah, di Mesjid Tua Wawoangi itulah adalah tempat yang baik untuk meminta kepada Allah. Berdoa dan yakin. In sya Allah dijabbah.

Oh iya, beberapa tahun lalu, jika ingin mengambil gambar mesjid tersebut, percaya tidak percaya, it can’t work. Rata-rata orang yang berkunjung ke mesjid dan ingin mengambil gambarnya, hasilnya tidak akan pernah berhasil. Mesjidnya tidak kelihatan, cuma pepohonannya saja yang terlihat. FYI, kata Kepala Desa, Mesjid Tua Wawoangi ini sebagai mesjid pertama yang ada di Pulau Buton. *Jika yang pertama, berarti sebelum adanya Mesjid Quba dan Mesjid Agung Keraton Buton yang berada di Keraton Buton, Baubau, itu dong. Wah wah, masya Allah sekali saya bisa berada di Mesjid Tua Wawoangi di saat-saat seperti ini. Ya, saya sempat menangis ketika berada di dalamnya. Yaa, nda nyangka saja bisa berada di tempat yang sesakral ini. Dengan niat baik, di mana kita berdoa kepada Allah dan yakin semua doa yang kita panjatkan insya Allah dikabulkan. Aamiin Yaa Rabb.

Setelah kegiatan pembersihan selesai, kami semua berkumpul di baruga sekitar mesjid tersebut sekaligus acara penyerahan bantuan Al-Quran dari FKIP PBI Unidayan untuk Mesjid Tua Wawoangi tersebut oleh panitia kepada Bapak Kepala Desa, dirangkaikan dengan acara penutupan. Setelah acara selesai, kami pun kembali ke baruga, makan siang dan bersiap-siap untuk pulang sembari menunggu kendaraan yang akan membawa kami kembali ke Baubau.

(searah jarum jam) 1) Berkumpul setelah bekerja bakti, 2) Foto bersama dengan latar Mesjid Tua Wawoangi, 3) saya bersama wakil ketua UNESA, 4) Penyerahan Alquran, 5) saya bersama Ketua UNESA
(searah jarum jam) 1) Berkumpul setelah bekerja bakti, 2) Foto bersama dengan latar Mesjid Tua Wawoangi, 3) saya bersama wakil ketua UNESA, 4) Penyerahan Alquran, 5) saya bersama Ketua UNESA

Perjalanan yang sangat menyenangkan. Saya tidak menyangka, baksos kali ini menjadi perjalanan rohani untuk diri saya pribadi. Jika kalian ingin menikmati perjalanan rohani di Pulau Buton, saya sangat merekomendasikan, silahkan berkunjung ke Mesjid Tua Wawoangi, Mesjid Pertama di Pulau Buton. Saya saja masih ingin berkunjung lagi ke sana. Mudah-mudahan panjang umur dan masih diberi kesempatan sama Allah. Suasana berada di mesjid itu yang buat kangen, Allah. Adem. :’)

Terima kasih, Kepala Desa dan warga Desa Wawoangi. Senang berkunjung ke Desa Wawoangi. 🙂

Dilan, Dia Adalah Dilanku Tahun 1991

Dilan 1991Dilan 1991

“Aku merasa sedih untuk apa yang hilang, tapi kupikir mungkin ada pelajaran yang bisa kita dapati dari situ. Masa lalu bukan untuk diperdebatkan, kukira itu sudah bagus.
Mari biarkan.” Milea Adnan Hussain – Dilan Bagian Kedua: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991
(Pidi Baiq, 2016, p. 342)

Judul: Dilan Bagian Kedua: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991
Penulis: Pidi Baiq
Cetakan: X, Februari 2016
Penerbit: Pastel Books, Bandung
Tebal: 344 halaman
ISBN: 978 – 602 – 7870 – 99 – 4

                Yaps, buku ini adalah lanjutan dari Dilan bagian pertama: Dilan, Dia Adalah Dilanku Tahun 1990. Jika buku pertama mengisahkan masa-masa Dilan dan Milea bertemu, berkenalan dan berpacaran, maka buku kedua ini bercerita tentang saat-saat mereka telah resmi berpacaran. Cuma butuh beberapa jam untuk membacanya. Membunuh waktu melewati perjalanan panjang dari Makassar ke Baubau melalui udara dan lautan membuat buku ini begitu istimewa, seperti membuat momen spesial tersendiri untuk saya. Bukan tentang waktunya, tapi tempat saya menikmati bacaan ini. Alhamdulillah ya Allah.

                Oke, bercerita tentang isi buku ini, tentang bagaimana Dilan dan Milea menyatakan hubungan mereka secara resmi dan melewati masa-masa berpacaran yang penuh suka duka, mulai dari Dilan apel ke rumah Milea dengan membawa teman-temannya yang berhasil membuat Kang Adi (guru les Milea yang menyukai Milea) cemburu, pengeroyokan terhadap Dilan dari orang yang tak dikenal, teman kecil Milea (Yugo) yang datang kembali ke kehidupan Milea untuk menjalin hubungan dengannya yang pada akhirnya ada suatu kejadian yang membuat Milea membenci Yugo, keberanian Milea menyatakan hubungannya dengan Dilan di depan keluarganya sendiri dan keluarga Yugo, hingga Dilan yang akhirnya pindah sekolah karena diawali dari perkelahiannya dengan Anhar (teman SMA Dilan dan Milea) dan masalah ini berbuntut panjang hingga Dilan harus mendekam di dalam penjara atas perintah Ayah Dilan yang merupakan seorang tentara. Pada saat itulah, hubungan Dilan dan Milea menjadi sangat kritis. Dilan yang tidak suka dikekang oleh Milea dengan kegiatan geng motornya, sementara Milea yang bersikap mengekang Dilan karena takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan karena geng motor itu. Apa yang terjadi di akhir ceritanya? Let’s read this book. Atau sudah tahu endingnya? Pasti tahu endingnya setelah membaca paragraf berikut ini.

                Ah, buku ini membuat saya menangis lagi di akhir ceritanya. Saya baper, readers. Rasanya kayak gimana yaah. Sudah menambatkan hati pada orang yang kita sayangi dan tidak bersatu itu, rasanya seperti menyesal memiliki perasaan yang sepenuhnya cinta kepada seseorang itu. Tapi, life must go on. Kita juga berhak bahagia dan berhak membangun kehidupan yang baru walaupun rasanya tidak sama seperti yang kemarin. Memang pada awalnya mungkin menyesal tapi dengan penerimaan yang ikhlas, semuanya akan berjalan normal kembali (dengan jangka waktu yang tak ditentukan). Dalam setiap proses menjadi manusia yang lebih baik, pasti ada peristiwa dan pelajaran hidup yang dialami.

                Kalau saja tidak pacaran, pasti tidak ada rasa menyesal. Cinta itu datangnya kan dari Allah, jalan untuk menyatukan cinta itu kan Allah telah tentukan dengan cara yang baik untuk umatNya. Yaa, pastinya bagi yang mengerti, bisa memahami dan melakukannya menurut aturan Allah. Kalau saya sih kemarin cuma sekedar tahu, tapi belum memahami. Hehehe. Tapi sekarang, yaa berhubung usia sudah tidak muda lagi, jadi harus sadar-sadar sedikit, Ning, nah. 😀 Pahami, tidak hanya sekedar tahu saja. Ahaidee. Semangattt!!!

                Oh iya, kembali lagi ke Dilan. *Hampirmi kabur air lagi tulisanmu, Ning. 😀                Dilan, apa kabarmu sekarang? Milea sudah bersama yang lain. Kamu gimana? Membaca akhir ceritamu bersama Milea, saya kok sedih ya. Mas Pidi Baiq kok tega ya nulis cerita seperti ini. Endingnya gak enak. >.< Mas, saya sakit bacanya. Milea kan jadi sedih, sedangkan Dilan gak suka kalau Milea sedih. Hmm… Saya speechless, Mas. Saya benar-benar dibuat baper.

“Tujuan pacaran adalah untuk putus. Bisa karena menikah, bisa karena berpisah.”
(Pidi Baiq, 1972 – 2098)

Teruntuk dr. Rezky Astarini T

img1436920619932

Hai, dr. Rezky Astarini T a.k.a. dr. Kiky!
Kamu bahagia hari ini kan?
Alhamdulillah.
Cieee, yang sudah punya pasangan halal 🙂

Rasanya lihat kamu melepas lajang itu, rasanya gimana ya.
Yaa, sudah bisa dipastikan saya bakalan nangis lagi.
Sedih, terharu dan bahagia, Ky.

Udah sekitar 13 tahun kenal kamu.
Dari kelas 1 SMP dulu sampai sekarang.
Dari yang belum terlalu dekat hingga jadi dekat.
Dari kita yang masih remaja sampai udah dewasa kayak sekarang.
Dari kita yang masih single, eh tahu-tahunya kamu yang duluan berganti status menjadi ‘a married woman’
Waah, waktu jalannya cepat ya. 🙂

Proses hingga berada di tahap ini pun tidak instan.
Butuh ‘perjuangan hati’. Iya kan, Ky? Hehehe…
Alhamdulillah, Allah memberikan jalan yang baik kepada kamu.
Mempertemukanmu bersama Ary, yang rupanya dia adalah teman SD saya dulu, Ky. Dunia kecil ya. Hehehe.
Allah mempertemukanmu bersama dia dalam suatu ikatan cinta yang halal, pernikahan.
Alhamdulillah.

Kiky sayang, segala harapan dan doa-doa baik untuk dirimu dan Ary tercurah, mengalir deras hari ini dan esok.
Iya, dari orang-orang yang menyayangi kalian.
Semoga rumah tangganya menjadi samawa, langgeng selalu, rezekinya semakin diperbanyak sama Allah. 
Satu lagi, saya nunggu ponakan ya. 😀

Oh iya,
Kiky sayang, 
Semoga pernikahanmu bersama Ary dapat menjadi pembuka jalan bagi saudari-saudarimu yang masih berstatus single ini.
Mohon doanya ya, ibu dokter. 😉

Last but not least,
Kiky sayang, selamat ya.
Sekali lagi selamat.
Peluk cium dari saudarimu yang kecil ini.
Semoga Kiky dan Ary akan selalu berada di tengah ‘dan’ hingga maut memisahkan.
Aamiin Aamiin Aamiin Yaa Rabbal Alamiin.

Kiky dan Ary
Kiky dan Ary (Source: Kiky’s File)

Generasi 90an

Generasi 90an
Generasi 90an

“Generasi di mana imajinasi lebih mendominasi daripada teknologi.” (Marchella FP, 2013)

Judul Buku: Generasi 90an
Penulis: Marchella FP
Cetakan Kedua Maret 2013
Penerbit: PT Gramedia, Jakarta
Tebal: 144 Halaman

Terbitnya buku Generasi 90-an ini menjadi ajang nostalgia buat orang-orang, khususnya yang pada saat itu masih berada di bangku SD, SMP dan SMA di tahun 90-an, termasuk saya. 😀

Well, seperti apa yang dikatakan Mbak Marchella, buku ini membahas tentang segala hiburan di era 90an, seperti musik, tontonan, mainan, tren, jajanan, bacaan dan lain-lain. Ketika membaca buku ini, saya udah langsung senyum-senyum aja. Hahaha. Lucu. Teringat kenangan masa lalu, masa kanak-kanak yang memang paling berharga sekali. Kemarin masih banyak hiburan-hiburan yang masih bersifat non-digital, masih banyak berinteraksi dengan lingkungan sekitar, dengan alam, dengan teman-teman secara LIVE. Sekarang mah, anak-anak mainnya gadget, layar gadget terus yang diliatin. Itupun kalau kumpul sama teman-teman, gadgetnya yang diperhatikan, banyakan liat gadget daripada ngobrol sama teman, rata-rata sih gitu. 😀 Terlepas dari itu, buku ini menjadi salah satu sumber pembawa kenangan manis untuk kita yang ‘beredar’ di sekitaran tahun 1990-1999.

Buku yang berukuran 20 cm x 20 cm dan full color menambah semaraknya momen tahun 90-an itu. Saya waktu membaca buku ini, dari awal sampai akhir senyum terus, sedikit-sedikit ketawa. Yaa, kenangannya terlalu manis. Saya betul-betul menikmati masa-masa itu. Alhamdulillah. Masa kecilnya bahagia. Masih ingat dengan Majalah Bobo, Baju-Baju (BP-BP-an), Trio Kwek-Kwek, dan banyak lagi lainnya. Makasih, Mbak Marchella, udah menyelamatkan segala momen-momen itu di buku ini. Kenangannya tidak dapat diganti dengan apapun.

So, bagi yang ingin mau bernostalgia dengan masa 90-an, buku ini bisa menjadi salah satu rekomendasi untuk mengenang dan menyimpan kenangannya. Eeaa…

I’m proud of being Generasi 90an. 😀