Tag Archives: Book

Tentang Kamu – Tere Liye

Tentang Kamu - Tere Liye
Tentang Kamu – Tere Liye

“Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu, itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku. Cinta memang tidak perlu ditemukan, cintalah yang akan menemukan kita.

Terima kasih. Nasihat lama itu benar sekali, aku tidak akan menangis karena sesuatu telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi.

Masa lalu. Rasa sakit. Masa depan. Mimpi-mimpi. Semua akan berlalu, seperti sungai yang mengalir. Maka biarlah hidupku mengalir seperti sungai kehidupan.”
(Tere Liye – Tentang Kamu)

 

Penulis: Tere Liye
Judul Buku: Tentang Kamu
Penerbit: Republika Penerbit, Jakarta
Cetakan: Kedua, Oktober 2016
Dimensi: vi + 524 halaman; 13.5 x 20.5 cm

Well, novel ini telah berhasil membuat saya berkali-kali menangis selama membacanya. Mungkin karena saya yang terlalu mendramatisir alur cerita atau saya yang terlalu sensitif. Entahlah, yang jelasnya, lagi lagi, Tere Liye menampilkan keahlian menulis novelnya dengan sangat AWESOME. *Bang Tere Liye, boleh skillnya ditransfer ke saya sedikit? I wonder how you become a very good writer, Sir.

Berbeda dengan novel karya sebelumnya, Hujan, yang bercerita tentang kehidupan di masa mendatang, Novel Tentang Kamu justru sebaliknya. Novel yang mengisahkan perjalanan hidup seseorang yang bernama Sri Ningsih di tahun 1946 – 2016 yang penuh dengan berbagai peristiwa kehidupan yang kadang saya pun tidak dapat menahan air mata *baper.

Perlu diketahui, Sri Ningsih di novel ini dideskripsikan sebagai wanita tangguh, periang, selalu berpikiran positif, rajin, tidak pernah mengeluh atas segala peristiwa pahit yang menimpa hidupnya dan satu lagi, sangat sangat sangat ikhlas. 😥 Kehilangan ibu sejak dia dilahirkan, kehilangan ayah ketika umur sembilan tahun dan dianggap sebagai ‘anak yang dikutuk’ oleh ibu tirinya, kehilangan adik tiri kesayangannya pada saat peristiwa pembunuhan massal oleh kaum komunis di Surakarta, kehilangan bayi pertama ketika melahirkannya dan bayi kedua yang hanya hidup beberapa jam saja akibat golongan darah Sri dan suaminya yang berasal dari Turki, dan terakhir adalah kehilangan suami yang dia cintai akibat sakit yang dideritanya. Sungguh, tiap episode cerita seorang Sri Ningsih membuat penasaran halaman per halamannya.

Adalah Zaman Zulkarnaen, seorang lawyer muda berusia 30 tahun, mendapat mandat dari sebuah firma hukum tempat ia bekerja, untuk menyelesaikan masalah warisan salah satu klien yang telah meninggal dunia. Seorang wanita tua berusia 70 tahun, pemegang paspor Inggris, memiliki izin menetap di Perancis, dan selama belasan tahun terakhir tinggal dan aktif berkebun di panti jompo. Wafat tanpa meninggalkan surat wasiat dan belum diketahui siapa ahli waris dari nilai warisan sebesar satu miliar poundsterling atau setara dengan 19 triliun rupiah menjadikan kasus ini merupakan hal hebat pertama yang harus diselesaikan Zaman sebagai seorang lawyer dengan kinerja yang telah diakui oleh pimpinannya. Ya, seorang klien bernama Sri Ningsih, orang Indonesia pemegang paspor Inggris. Maka, cerita kehidupan Sri Ningsih dimulai dengan Zaman sebagai penelusurnya dalam Novel Tentang Kamu.

Terdiri dari 33 bagian cerita yang saling berkaitan dan sangat menarik untuk segera diselesaikan. Akhir ceritanya? Silahkan dibaca sendiri. Hati cenat-cenut pokoknya.

Kalau saya menjadi seorang Sri Ningsih kayaknya tidak bakalan sanggup. Walaupun hanya sebuah novel, tapi pelajaran hidupnya cukup memberikan makna tersendiri bagi saya pribadi. Sabar, ikhlas, lalui prosesnya. Lagi dan lagi, Allah telah mengatur segalanya. Tidak ada yang buruk untuk umatNya. He had decided all the best decision for us. Dan saya yakini itu. Tidak ada keraguan padaNya. In sha Allah. :’)

Sekali lagi, novel ini secara tidak langsung membawa pembacanya larut ke dalam cerita menjadi seorang Zaman Zulkarnaen, si pencari jejak kehidupan dan ahli waris Sri Ningsih, sang wanita tangguh Indonesia.

“…. Ketika kebencian, dendam kesumat sebesar apa pun akan luruh oleh rasa sabar. Gunung-gunung akan rata, lautan akan kering, tidak ada yang mampu mengalahkan rasa sabar. Selemah apa pun fisik seseorang, semiskin apa pun dia, sekali di hatinya punya rasa sabar, dunia tidak bisa menyakitinya. Tidak bisa. ….” (Hal. 48)

 …. Ibu Sri tersenyum padaku, berkata pelan, ‘Chaty, jadilah seperti lilin, yang tidak pernah menyesal saat nyala api membakarmu. Jadilah seperti air yang mengalir sabar. Jangan pernah takut memulai hal baru…’ (Hal. 278)

“Apa harta yang akan dibawa mati saat kita meninggal?” … Tidak ada, Sir, selain apa-apa yang kita belanjakan untuk kebaikan. Sisanya akan ditinggalkan, bahkan diperebutkan. (Hal. 430)

Advertisements

Negeri Sapati: Tentang Persahabatan dan Kemandirian

Negeri Sapati
Negeri Sapati

Negeri Sapati adalah salah satu novel karya anak Buton yang bercerita tentang empat sahabat dari pesisir Laompo, Batauga, Kabupaten Buton Selatan. Mereka adalah Dayan, Poci, Odi, dan Surman. Novel ini menonjolkan cerita tentang kehidupan Surman dan keluarganya. Kepergian kedua orang tua Surman menjadikan Surman lahir sebagai sosok yang mandiri, yang harus berjuang untuk menyambung hidup dan demi melunasi utang-utang bapaknya dari seorang rentenir, La Maseke. Sejak kepergian orang tuanya, Surman tidak bisa lagi menghabiskan banyak waktunya untuk bermain bersama tiga sahabatnya. Sepulang sekolah, dia harus bekerja. Entah sebagai seorang kuli panggul ember dan keranjang-keranjang ikan, penjual ikan milik orang lain, ataupun kurir ikan milik seorang nahkoda kapal perahu motor yang menjual banyak ikan. Walaupun demikian, banyak kisah persahabatan Surman dan tiga sahabatnya yang lucu dan menarik diceritakan pada novel ini. Utamanya, kehidupan mereka sebagai masyarakat pesisir.

Mengangkat cerita dengan settingan Pulau Buton ini, membuat saya berhasil homesick. Rasanya mau cepat pulang ke Baubau. 😀

Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama, yang mana Dayan sebagai orang pertama. Oh iya, saya agak lucu saja ketika membaca novel ini karena penulis menyelipkan dialog menggunakan gaya bahasa orang Buton, misalnya: “La Poci sama La Odi dimana? (hal. 94); Cepat mi kau kejar (hal. 195).” Saya kadang tertawa sendirian membacanya. 😀

Novel ini terdiri dari 31 bagian cerita dan memiliki pesan moral di beberapa akhir bagian ceritanya. Selain pesan moral, ada juga yang berupa sindiran dan ini sangat sangat menarik. Pada halaman 252, “…. Sungguh ironis, Pulau Buton yang terkenal sebagai penghasil aspal tapi tidak sedikit dari jalanannya banyak yang berlubang-lubang akibat kongkalikong atau konspirasi para pejabat dan orang-orang yang dekat dengan kekuasaan.” Ketika saya membaca kalimat ini, wowwwww, emejingg…

So far, novelnya bagus. Tidak ada cerita kehidupan yang glamour melainkan cerita kehidupan yang  sederhana, tentang anak-anak yang bermain bersama alam, no gadget, no internet. Salut buat Kak Laode M. Insan deh. Semoga saya bisa mengikuti jejaknya. Aamiin. Hehehe.

*Saya rada sangsi dengan postingan kali ini. Tidak mendetail, tapi ya sudahlah. Saya mampunya sampai di situ aja, readers. Masih perlu belajar mereview lagi. Jika ada komen dan kritik, please give me it ya. Thanks sudah berkunjung dan membaca artikel ini, readers. Salam sukses untuk kita semua.

Judul Buku: Negeri Sapati
Penulis: Laode M. Insan
Penerbit: Best Practice, Jakarta Selatan
Cetakan: Pertama, Maret 2012
Tebal: xvi + 362 halaman; 13 x 20.5 cm
ISBN: 978 – 602 – 99641 – 8 – 9

Simfoni Kehidupan Halim Homeric

Simfoni Kehidupan Halim Homeric
Simfoni Kehidupan Halim Homeric

“Sejatinya Beliau hanya ingin menyebarkan semangat bahwa kejujuran dan pengakuan ikhwal masa lalu akan memberikan rasa ringan, sekaligus kekuatan untuk terus berjalan ke depan. Andhy Pallawa”

Buku ini saya dapatkan secara cuma-cuma ketika acara bedah buku “Simfoni Kehidupan Halim Homeric” yang diadakan di Aula Prof. Mattulada Fakultas Ilmu Budaya Unhas pada tanggal 11 Agustus 2016. Sayangnya, saya tidak terlalu mengikuti kegiatan tersebut dari awal hingga akhir dengan baik karena satu dan lain hal. Pada awalnya, saya belum mengetahui sama sekali siapa sosok Bapak yang ada di dalam buku ini. Setelah saya baca bukunya, rupanya dehh, hebatnya juga dant Bapak Halim ini ee. You are inspiring.

Perlu diketahui bahwa Bapak Halim Homeric ini adalah seorang seniman yang pandai bermain biola, seorang keturunan Tionghoa yang lahir di Kaiping Tiongkok. Beliau memiliki peran penting pada bidang pendidikan dan budaya di Makassar. Penulis mengatakan bahwa Beliau banyak menciptakan lagu dan menerjemahkan lagu-lagu Makassar ke dalam Bahasa Mandarin. Hal ini dilakukan Bapak Halim untuk mengenalkan dan mendekatkan budaya kedua bangsa. Selain itu, terbentuknya Pusat Bahasa Mandarin di Universitas Hasanuddin tidak terlepas dari campur tangan Bapak Halim Homeric sendiri. Ya, pantaslah untuk dikatakan bahwa Bapak Halim Homeric dalam buku ini sangat menginspirasi. Beliau mengatakan beberapa hal pada bagian kata sambutan, “Bagi saya sebuah biografi harus menjadi cermin untuk berkaca bagi banyak orang, tentu saja dengan kelebihan dan kekurangannya. Terutama karena tak seorang pun yang sempurna, sehingga belajar itu bukan hanya pada keberhasilan dan kisah sukses tetapi juga pada alpa dan kekurangan. Belajar kepada kelebihan untuk menjadi contoh, dan belajar pada kekurangan agar tidak mengulang di masa depan.

Perjalanan seorang Halim Homeric yang tertuang dalam buku ini memberikan gambaran tentang bagaimana seseorang mampu bertahan hidup, berjuang, dan melawan kerasnya kehidupan dari titik nol hingga mencapai masa suksesnya, yang selalu semangat dan mengutamakan kejujuran. FYI, pada halaman-halaman pertama sukses buat saya nangis, readers. Kisah hidup Beliau waktu kecil yang memang mau tidak mau harus dilewati. Sebagaimanapun kerasnya kehidupan, harus bangkit berjuang.

Apalagi ada beberapa ungkapan Mandarin yang terselip, hal ini membuat cerita kehidupan Bapak Halim semakin sarat inspirasi. Salah satunya pada halaman 219 pada bagian Belajar Bijak dari Leluhur, “Jika kau bertemu dengan orang yang berbudi luhur, angkatlah ia sebagai gurumu, agar kau dapat menyamai kebaikannya. Jika kau bertemu dengan orang yang berbudi buruk, anggaplah dia sebagai cermin, agar kau dapat melihat dan menilai dirimu sendiri.

Ada satu hal yang membuat saya sangat sependapat dengan Bapak Halim, yakni tentang keyakinannya pada pendidikan yang dapat mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik. Terbukti, Bapak Halim berhasil menamatkan dirinya di Fakultas Sastra pada pendidikan tinggi jarak jauh Universitas Xiamen, Tiongkok, di tahun 1960. Dari situlah, kehidupan Bapak Halim mulai menuju ke arah yang lebih baik.

“Kemiskinan hanya bisa diperangi dengan ilmu pengetahuan, yang berarti bahwa bersekolah adalah keniscayaan. (Andhy Pallawa, Hal. 70)”

“Apapun yang terjadi, saya wajib merampungkan studi, karena hanya dengan cara ini saya berpeluang memperoleh penghidupan yang lebih baik. (Halim Homeric, Hal. 74)”

Ya, hal ini bahkan sangat terlihat jelas dalam Al-Qur’an. Ketika Allah berfirman dalam Surat Al Mujadalah ayat 11, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” Melalui ayat ini Allah menjelaskan kepada umatNya untuk menuntut ilmu demi kebaikan diri sendiri dan orang lain, sehingga ilmu yang kita dapat bermanfaat dengan baik dan menjadi salah satu bentuk amal baik bagi masing-masing individu. *Kira-kira seperti itu pandangan saya, jika ada yang salah mohon dibenarkan. 🙂

Nampaknya cukup sekian cerita saya tentang buku yang menginspirasi ini. Benar apa yang dibilang Prof. Burhanuddin Arafah tentang Bapak Halim Homeric, “Beliau memiliki pribadi yang ‘Islami’.” Walaupun secara pribadi saya belum pernah berkenalan langsung dengan Bapak Halim Homeric, lewat buku biografinya secara tidak langsung saya sudah berkenalan dengan Beliau. Terima kasih untuk ceritanya. Semoga Allah selalu melindungi Bapak. Sehat-sehat, Bapak Halim Homeric. 🙂

Jangan pernah membantah terutama kepada yang lebih tua walau kamu di pihak benar. Ingat, kamu orang miskin sehingga akan selalu dianggap salah. Pilihanmu tidak banyak, maka kamu harus rajin, dan berlaku jujur,” sambung ibunya. (Andhy Pallawa, Hal. 21) 😦

Judul Buku: Simfoni Kehidupan Halim Homeric
Penulis: Andhy Pallawa
Penerbit: Global Publishing
Cetakan: I Agustus 2016
ISBN: 978-602-6782-00-7

A Novel from Adhitya Mulya: Sabtu Bersama Bapak

Sabtu Bersama Bapak
Sabtu Bersama Bapak

“Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan…, tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.” (Adhitya Mulya, 2015 – Sabtu Bersama Bapak)

Well, perlu diakui, saya terlambat untuk membaca novel ini dan menulisnya di blog. Pasalnya, filmnya udah duluan ditonton daripada novelnya yang harusnya dibaca terlebih dahulu. Ya udahlah, kata Prof.nya, hidup tidak mesti idealis, harus realistis. *mengutip salah satu status senior di Facebook. 🙂

As we know, novel ini bercerita tentang cara seorang Bapak, Gunawan Garnida, yang menyiapkan rekaman video-video dirinya berupa cara pandang dan pemikirannya tentang hidup yang harus dijalani dengan baik oleh kedua anak lelakinya, si Sulung Satya dan si bungsu Cakra (Saka). Hal ini dilakukan karena Pak Gunawan mengidap penyakit kanker dan divonis bahwa hidupnya tidak akan lama, selama 1 tahun lagi. Pak Gunawan tidak ingin ibu Itje Garnida, istrinya, membesarkan anak-anaknya tanpa kehadiran sosok ayah di tengah-tengah mereka. Sehingga, di setiap hari Sabtu sore, Satya dan Cakra selalu menonton video-video Bapak.

Ibu Itje Garnida merawat kedua anaknya hingga Satya dan Cakra tumbuh menjadi sosok lelaki yang dewasa. Mereka hidup dengan mapan dengan masalah hidup yang berbeda-beda. Ibu Itje Garnida, sang pekerja keras hingga akhirnya memiliki delapan rumah makan selama belasan tahun, namun menyembunyikan penyakit kanker payudaranya pada anak-anaknya karena Ibu Itje tidak mau menjadi beban bagi kedua putranya.

Kemudian, Satya yang bekerja di salah satu kilang minyak di luar negeri sebagai geophysicist. Merupakan suami dari Rissa Wiriaatmadja dan ayah dari Ryan, Miku, dan Dani. Dalam kehidupan rumah tangganya, Satya menjadi sosok ayah pemarah di mata istri dan ketiga anaknya.

Lain lagi dengan Cakra, bekerja sebagai Deputy Director di sebuah bank asing yang berkantor di Jakarta. Sosok yang dewasa dalam pemikirannya dan selalu care sama ibunya, namun tidak kunjung mendapatkan jodoh, hingga kemudian Cakra bertemu dengan Ayu, staf baru di tempat ia bekerja. Sayangnya, Salman, teman kerjanya, menjadi pesaingnya untuk menaklukan hati Ayu. 😀

Untuk ending ceritanya, sudah diketahui bahwa ini akan happy ending. Senang sekali membaca kisah cinta dua lelaki ini. Berhasil buat senyum-senyum sendiri. Hahaha.

Thank you, Mas Adhitya. You give me many life lessons from your novel. Saya izin ngutip beberapa ya, Mas Adhitya. 🙂

“Bukan berarti seseorang harus kaya dulu sebelum nikah. Tapi kalian harus punya rencana. Punya persiapan. …. Menikah itu banyak tanggung jawabnya. Rencanakan. Rencanakan untuk kalian. Rencanakan untuk anak-anak kalian.” (hal. 21)

“Ada orang yang merugikan orang lain. Ada orang yang merugikan keluarga yang menyayangi mereka. Ada orang yang hanya merugikan diri sendiri. Ada orang yang berguna untuk diri sendiri. Ada orang yang berhasil menjadi berguna untuk keluarganya. Terakhir adalah orang-orang yang berguna bagi orang lain. Bapak tidak cukup lama untuk menjadi golongan terakhir. … semoga kalian dapat menjadi orang-orang yang lebih baik dari Bapak.” (hal. 86)

“Semua anak wajib menjadi baik dan pintar karena memang itu yang sebaiknya semua manusia lakukan.” (hal. 105)

“Menjadi panutan bukan tugas anak sulung –  kepada adik-adiknya. Menjadi panutan adalah tugas orangtua – untuk semua anak.” (hal. 106)

“…ketika kalian udah gede akan ada masanya kalian harus melawan orang. Yang lebih besar, lebih kuat dari kalian. Dan akan ada masanya, kalian gak punya pilihan lain selain melawan, dan menang. Akan datang juga … masanya semua orang tidak akan membiarkan kalian menang. Jadi, kalian harus pintar. Kalian harus kuat. Kalian harus bisa berdiri dan menang dengan kaki-kaki sendiri.” (hal. 130 – 131)

“Kejar mimpi kalian. Rencanakan. Kerjakan. Kasih deadline.” (hal. 151 – 152)

“Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan. …. Find someone complimentary, not supplementary (Quote dari Oprah Winfrey).” (hal. 217)

Perlu diakui, cerita di novelnya lebih lengkap dibandingkan dengan di filmnya. Rasanya setelah membaca novel ini, saya seperti menemukan kebenaran dari sebuah film yang diangkat dari sebuah novel tersebut. 😀 Bukan menganggap alur cerita yang difilmkan tidak bagus ya. Perlu dipahami, banyak hal-hal yang mesti dipertimbangkan ketika alur cerita di novel harus tidak disamakan dengan filmnya atau jika perlu alur cerita di filmnya harus diubah, tidak sesuai dengan di novel. Hal ini bertujuan agar menjadikan filmnya lebih awesome, tanpa mengurangi value dari novel tersebut. Overall, novel dan filmnya sama-sama bagus. 🙂

Novel ini mengingatkan kembali akan satu hal, bahwa betapa orangtua sangat mencintai dan menyayangi anak-anaknya. Hingga mereka tidak bakalan mau melihat anaknya hidup menderita ke depannya. Orang tua rela berkorban dengan sangat ikhlas demi kehidupan anaknya yang lebih baik, hingga tumbuh menjadi anak yang membanggakan orangtua. Teringat kata-kata dari orang, orang tua mana sih yang tidak mau memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Mas Adhitya, novelnya sarat arti dari keluarga. :’) Let me keep this book for my children later. Hehehe.

Bagi yang belum membaca novel ini, tapi udah keduluan nonton filmnya, saya sarankan untuk baca novelnya deh. Kita akan menemukan kebenaran yang sebenarnya pada novelnya. Tentunya, pelajaran arti dari keluarga dan kebijaksanaan hidup dari Bapak yang lebih banyak tertuang di novelnya.

Ok. I have done to review this novel. I hope you enjoy it. Happy reading, readers! :* 🙂

*FYI. Saya lebih suka cover aslinya sebelum difilmkan daripada cover sesudah difilmkan. Menurut saya, cover pertama lebih natural. It looks like a novel, just a novel, not a film. Bulan Juli 2016 kemarin, dibela-belain keliling di toko-toko buku Makassar, dari Graha Media di M Tos, Gramedia di MP dan MARI, hingga toko-toko buku di Jalan Bulu Kunyi. Sendirian. Demi mencari novel dengan cover pertamanya *terlalu semangat ko, Ning. And you know? Hasilnya nihil. Novel dengan cover pertamanya udah gak keliatan, kebanyakan cover filmnya. Hopeless. Hingga tibalah Oktober ini, I found what I look for di salah satu toko alat tulis kantor di sekitar Jalan Perintis that I didn’t think it before, the novel with its first cover. Memang ya, kalau jodoh gak kemana. Sejauh apapun itu, selama apapun itu, kalau jodoh bakalan ketemu juga. Hehehe. Thanks, Allah. Alhamdulillah.

Milea: Suara dari Dilan

21998

“Kata Pidi Baiq, perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu. Iya, rindu amat teramat sangat. Rindu ada Dilan dan Milea saja. Perpisahan itu, dapat menyedihkan atau bisa jadi menyenangkan. Namun, dari sudut pandang saya, novel ini membuat perpisahan menjadi sesuatu hal yang sangat disayangkan untuk dijadikan sebuah kenyataan yang harus dilewati oleh dua orang tokoh utama, Dilan dan Milea. Perpisahan yang harusnya jangan terjadi.”

Novel Milea: Suara dari Dilan ini adalah karya lanjutan Pidi Baiq dari Novel Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1990 dan Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1991. Jadi, sebelum membaca novel ini, sebaiknya teman-teman membaca Novel Dilan #1 dan #2 terlebih dahulu agar lebih afdol mengetahui alur ceritanya.

Jika dua novel sebelumnya merupakan kisah Dilan dan Milea dari sudut pandang Milea. Maka, novel ini berasal dari sudut pandang Dilan tentang bagaimana pemikiran Dilan terhadap dirinya dan Milea yang berbeda satu sama lain hingga menimbulkan kesimpulan kehidupan mereka yang pada akhirnya membuat saya menangis (lagi) di akhir lembaran cerita novel ini. *Tersentuh, Bang Pidi Baiq. 😥

FYI, sekilas dari novel ini. Terdiri dari 20 bab. Hampir semua para tokohnya pun masih sama (kalau tidak salah ingat) seperti kedua novel sebelumnya. Namun, ada sedikit penambahan tokoh baru untuk kisah asmara Dilan dan Milea yang baru. Hmm. Bandung, Jakarta dan Jogja merupakan daerah-daerah yang menjadi latar belakang tempat dalam novel ini.

Milea rindu Dilan. Dilan rindu Milea. Kenapa tidak jadi sih, Bang Pidi Baiq? 😥

Bisa dibayangkan kan, merencanakan masa depan bersama orang yang kita pikir dia yang akan bersama-sama menjadi masa depan kita, dan di tengah jalan Tuhan memiliki skenario yang lain. Rasanya tuh JLEBBB bangettt. Tapi, yah namanya manusia, cuma bisa punya planning, Tuhan yang make it into a reality. Dan Dilan menyikapinya dengan bijaksana.
*Ah, novel ini lagi-lagi membuat saya termehek-mehek di tengah sunyi senyapnya gelap.

“Kata Dilan: Rasa sedih jika ada, itu harus berbatas untuk memberi peluang munculnya harapan pada hari-hari berikutnya, mengejar impian dan meraih kebahagiaan bersama seseorang yang dapat menghabiskan sisa hidup kita dengannya. … Rasa sedih dan kegagalan tidak selalu berarti kekalahan.” (Pidi Baiq, 2016, p. 356-357)

Sebagai kesimpulannya, novel ini adalah sebuah karya fiksi yang mengingatkan kembali bahwa sebaiknya menghindari su’udzon atau berpikiran negatif terhadap seseorang; ketika mendengar ada hal yang kurang berkenan di hati tentang orang yang kita sayangi, coba tanyakan langsung kepadanya agar tidak terjadi kesalahpahaman, walaupun memang rumit, antara gengsi dan sekedar saling menunggu inisiatif satu sama lain; selalu meminta maaf dan memberi ucapan terima kasih untuk orang yang menyayangi kita; dan selalu ingat, harapan terkadang tidak sesuai kenyataan, bro. Hehehe.

Judul: Milea: Suara dari Dilan
Penulis: Pidi Baiq
Cetakan: I, 2016
Penerbit: Pastel Books
360 hlm.; Ilust.: 20.5 cm
ISBN: 978-602-0851-56-3

Dilan, Dia Adalah Dilanku Tahun 1991

Dilan 1991Dilan 1991

“Aku merasa sedih untuk apa yang hilang, tapi kupikir mungkin ada pelajaran yang bisa kita dapati dari situ. Masa lalu bukan untuk diperdebatkan, kukira itu sudah bagus.
Mari biarkan.” Milea Adnan Hussain – Dilan Bagian Kedua: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991
(Pidi Baiq, 2016, p. 342)

Judul: Dilan Bagian Kedua: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991
Penulis: Pidi Baiq
Cetakan: X, Februari 2016
Penerbit: Pastel Books, Bandung
Tebal: 344 halaman
ISBN: 978 – 602 – 7870 – 99 – 4

                Yaps, buku ini adalah lanjutan dari Dilan bagian pertama: Dilan, Dia Adalah Dilanku Tahun 1990. Jika buku pertama mengisahkan masa-masa Dilan dan Milea bertemu, berkenalan dan berpacaran, maka buku kedua ini bercerita tentang saat-saat mereka telah resmi berpacaran. Cuma butuh beberapa jam untuk membacanya. Membunuh waktu melewati perjalanan panjang dari Makassar ke Baubau melalui udara dan lautan membuat buku ini begitu istimewa, seperti membuat momen spesial tersendiri untuk saya. Bukan tentang waktunya, tapi tempat saya menikmati bacaan ini. Alhamdulillah ya Allah.

                Oke, bercerita tentang isi buku ini, tentang bagaimana Dilan dan Milea menyatakan hubungan mereka secara resmi dan melewati masa-masa berpacaran yang penuh suka duka, mulai dari Dilan apel ke rumah Milea dengan membawa teman-temannya yang berhasil membuat Kang Adi (guru les Milea yang menyukai Milea) cemburu, pengeroyokan terhadap Dilan dari orang yang tak dikenal, teman kecil Milea (Yugo) yang datang kembali ke kehidupan Milea untuk menjalin hubungan dengannya yang pada akhirnya ada suatu kejadian yang membuat Milea membenci Yugo, keberanian Milea menyatakan hubungannya dengan Dilan di depan keluarganya sendiri dan keluarga Yugo, hingga Dilan yang akhirnya pindah sekolah karena diawali dari perkelahiannya dengan Anhar (teman SMA Dilan dan Milea) dan masalah ini berbuntut panjang hingga Dilan harus mendekam di dalam penjara atas perintah Ayah Dilan yang merupakan seorang tentara. Pada saat itulah, hubungan Dilan dan Milea menjadi sangat kritis. Dilan yang tidak suka dikekang oleh Milea dengan kegiatan geng motornya, sementara Milea yang bersikap mengekang Dilan karena takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan karena geng motor itu. Apa yang terjadi di akhir ceritanya? Let’s read this book. Atau sudah tahu endingnya? Pasti tahu endingnya setelah membaca paragraf berikut ini.

                Ah, buku ini membuat saya menangis lagi di akhir ceritanya. Saya baper, readers. Rasanya kayak gimana yaah. Sudah menambatkan hati pada orang yang kita sayangi dan tidak bersatu itu, rasanya seperti menyesal memiliki perasaan yang sepenuhnya cinta kepada seseorang itu. Tapi, life must go on. Kita juga berhak bahagia dan berhak membangun kehidupan yang baru walaupun rasanya tidak sama seperti yang kemarin. Memang pada awalnya mungkin menyesal tapi dengan penerimaan yang ikhlas, semuanya akan berjalan normal kembali (dengan jangka waktu yang tak ditentukan). Dalam setiap proses menjadi manusia yang lebih baik, pasti ada peristiwa dan pelajaran hidup yang dialami.

                Kalau saja tidak pacaran, pasti tidak ada rasa menyesal. Cinta itu datangnya kan dari Allah, jalan untuk menyatukan cinta itu kan Allah telah tentukan dengan cara yang baik untuk umatNya. Yaa, pastinya bagi yang mengerti, bisa memahami dan melakukannya menurut aturan Allah. Kalau saya sih kemarin cuma sekedar tahu, tapi belum memahami. Hehehe. Tapi sekarang, yaa berhubung usia sudah tidak muda lagi, jadi harus sadar-sadar sedikit, Ning, nah. 😀 Pahami, tidak hanya sekedar tahu saja. Ahaidee. Semangattt!!!

                Oh iya, kembali lagi ke Dilan. *Hampirmi kabur air lagi tulisanmu, Ning. 😀                Dilan, apa kabarmu sekarang? Milea sudah bersama yang lain. Kamu gimana? Membaca akhir ceritamu bersama Milea, saya kok sedih ya. Mas Pidi Baiq kok tega ya nulis cerita seperti ini. Endingnya gak enak. >.< Mas, saya sakit bacanya. Milea kan jadi sedih, sedangkan Dilan gak suka kalau Milea sedih. Hmm… Saya speechless, Mas. Saya benar-benar dibuat baper.

“Tujuan pacaran adalah untuk putus. Bisa karena menikah, bisa karena berpisah.”
(Pidi Baiq, 1972 – 2098)

Generasi 90an

Generasi 90an
Generasi 90an

“Generasi di mana imajinasi lebih mendominasi daripada teknologi.” (Marchella FP, 2013)

Judul Buku: Generasi 90an
Penulis: Marchella FP
Cetakan Kedua Maret 2013
Penerbit: PT Gramedia, Jakarta
Tebal: 144 Halaman

Terbitnya buku Generasi 90-an ini menjadi ajang nostalgia buat orang-orang, khususnya yang pada saat itu masih berada di bangku SD, SMP dan SMA di tahun 90-an, termasuk saya. 😀

Well, seperti apa yang dikatakan Mbak Marchella, buku ini membahas tentang segala hiburan di era 90an, seperti musik, tontonan, mainan, tren, jajanan, bacaan dan lain-lain. Ketika membaca buku ini, saya udah langsung senyum-senyum aja. Hahaha. Lucu. Teringat kenangan masa lalu, masa kanak-kanak yang memang paling berharga sekali. Kemarin masih banyak hiburan-hiburan yang masih bersifat non-digital, masih banyak berinteraksi dengan lingkungan sekitar, dengan alam, dengan teman-teman secara LIVE. Sekarang mah, anak-anak mainnya gadget, layar gadget terus yang diliatin. Itupun kalau kumpul sama teman-teman, gadgetnya yang diperhatikan, banyakan liat gadget daripada ngobrol sama teman, rata-rata sih gitu. 😀 Terlepas dari itu, buku ini menjadi salah satu sumber pembawa kenangan manis untuk kita yang ‘beredar’ di sekitaran tahun 1990-1999.

Buku yang berukuran 20 cm x 20 cm dan full color menambah semaraknya momen tahun 90-an itu. Saya waktu membaca buku ini, dari awal sampai akhir senyum terus, sedikit-sedikit ketawa. Yaa, kenangannya terlalu manis. Saya betul-betul menikmati masa-masa itu. Alhamdulillah. Masa kecilnya bahagia. Masih ingat dengan Majalah Bobo, Baju-Baju (BP-BP-an), Trio Kwek-Kwek, dan banyak lagi lainnya. Makasih, Mbak Marchella, udah menyelamatkan segala momen-momen itu di buku ini. Kenangannya tidak dapat diganti dengan apapun.

So, bagi yang ingin mau bernostalgia dengan masa 90-an, buku ini bisa menjadi salah satu rekomendasi untuk mengenang dan menyimpan kenangannya. Eeaa…

I’m proud of being Generasi 90an. 😀

Karena Hujan Selalu Memiliki Cerita

Hujan - Tere Liye

“Bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan.”  Penggalan kalimat terakhir ini menutup cerita Hujan yang disajikan Tere Liye. Ya, seperti yang dituliskan di belakang sampul buku ini. Tentang persahabatan, tentang cinta, tentang perpisahan, tentang melupakan, tentang hujan. Nyess…

Judul Buku: Hujan
Penulis : Tere Liye
Cetakan : Keempat, Februari 2016
Isi: 320 halaman; 20 cm
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Berawal dari kekhilafan saya karena tidak sanggup melihat buku ini terpajang di rak buku bagian best seller di Gramedia MP hari itu, saya memutuskan untuk membelinya. Mengorbankan uang saku demi buku, di kala proses penyusunan proposal untuk diserahkan ke pembimbing  pun menjadi saat yang crucial. Bukan apa-apa, karena saya mengingat di salah satu media sosial mengatakan buku ini akan mengalami kenaikan harga untuk pencetakan bulan Mei 2016 nanti.  Beberapa minggu lalu, saya masih melihat tumpukan buku Hujan ini melimpah ruah, eh beberapa hari kemudian saya melihat Hujan hanya tersisa tiga buah. Daripada menyesal sampai di rumah, I decide to buy one of them. Walaupun uang saku menjadi taruhannya, tidak bisa beli jajan, tidak masalah. Yang penting buku ini harus ada di tangan. Ya, ini adalah kekhilafan. Maaf, Ma. Tidak bisa mengerem keinginan ini. Hehehe.

Oke, lupakan pendahuluan yang saya buat. Tulisan ini hanya sebagai selingan saya selama masa penungguan pembimbing mengoreksi proposal yang disusun. Semoga hasilnya baik dan saya segera maju ujian proposal. Aamiin.

Mari kita masuk ke inti tulisan (Teori Kaplan tentang cara berkomunikasi orang Asia terbukti pada tulisan ini, berputar-putar). Maafkan, readers. 😀

Di awal membaca Hujan, ini di luar ekspektasi saya. Selama ini jika saya membaca buku-buku Tere Liye selalu ada kesan ‘tenang’ di awal-awal perjumpaan. Namun, di buku ini, seperti merasakan ada kengerian di dalamnya. Membayangkannya pun, saya mau menolaknya. Ini seperti berlebihan ya, tapi begitulah opini saya tentang buku ini. Tere Liye menceritakan dan menggambarkan kehidupan umat manusia di masa depan dengan segala teknologi dan bencana yang akan dihadapi nanti. Tere Liye seperti memberikan peringatan penting yang tersirat untuk memperlakukan bumi secara bijaksana lewat Hujan. Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk umat manusia sendiri yang tidak bisa terlepas dari bumi sebagai pijakan untuk memiliki kehidupan (sementara).

Menceritakan kisah dua orang anak perempuan dan anak laki-laki, bernama Lail dan Esok, yang bersama-sama melewati kejadian demi kejadian. Ya, walaupun kadang menguras hati. Lail yang kehilangan kedua orang tuanya dan Esok yang kehilangan keempat saudaranya atas bencana alam yang terjadi saat itu. Semuanya meninggalkan bekas luka hati yang terdalam bagi mereka.

Lail menyukai hujan karena setiap hujan selalu ada moment istimewa yang ia dapatkan. Sayang, tidak selamanya menjadi istimewa, karena akan ada saatnya menjadi sangat menyakitkan. Seperti yang dikatakan Maryam, sahabat Lail, “…. Jangan pernah jatuh cinta saat hujan, Lail.  Karena ketika besok lusa kamu patah hati, setiap kali hujan turun, kamu akan terkenang dengan kejadian menyakitkan itu. Masuk akal, bukan?” (Liye, 2016: 200). Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya.” (Liye, 2016: 201). 

Bab demi bab, saya selalu penasaran dengan ceritanya. Bang Tere Liye, setiap rangkaian ceritamu selalu berkesan. 🙂 Tapi, di akhir cerita saya masih penasaran bagaimana akhirnya kehidupan di bumi. Mungkin Bang Tere Liye telah melakukan riset sebelumnya sebelum menulis cerita ini. Serasa ada campuran cerita scientificnya. Setegang-tegangnya cerita di dalam, selalu saja ada kisah menyentuh yang terselip. Ah, Bang Tere Liye. Kau selalu bisa membuatku mellow. :’)

“Bukan seberapa lama umat manusia bisa bertahan hidup sebagai ukuran kebahagiaan, tapi seberapa besar kemampuan mereka memeluk erat-erat semua hal menyakitkan yang mereka alami.” (Liye, 2016: 317) Tentang persahabatan, tentang cinta, tentang perpisahan, tentang melupakan, tentang hujan. :’)

Terima kasih untuk karya terbarunya, Bang Tere Liye. Buku ini… Iya, pada akhirnya memberikan kesimpulan bahwa manusia memang harus bersikap bijak pada bumi sebagai tempat tinggal manusia itu sendiri. Di sisi lain,  memang harus ada penerimaan di segala kejadian yang kita alami. Intinya ikhlas saja. Yang menyenangkan dan menyakitkan itu merupakan warna yang indah dari kehidupan yang diciptakan Allah untuk setiap hambaNya. Ya, harus pandai-pandai bersyukur aja, Ning. 🙂

Untuk lebih lengkapnya, silahkan baca buku Hujan ini. Saya belum bisa memberikan status sebagai buku yang paling direkomendasikan atau tidak, tapi dari cerita yang saya utarakan, readers pasti bisa menilai. 😉

*Semoga suatu saat nanti saya juga memiliki karya seperti Anda, Bang Tere Liye. 🙂

Komik Dari Twit-nya Raditya Dika

Komik Dari Twit-nya Raditya Dika
Komik Dari Twit-nya Raditya Dika

A Brief Info of This Comic:
Author : Raditya Dika
Ilustrator : Milfa Saadah
Publisher : GagasMedia
Page : vi + 130 pages
Edition : First Edition
Year : 2016
ISBN : 979 – 780 – 854 – 8

Jadi ceritanya hasil karya terbaru penulis kesukaan saya, Raditya Dika (RD), telah terbit Februari 2016 ini. Alhamdulillah. Sebenarnya tidak ada niat untuk mau membeli secara inden karena this is a comic, not a book. Tapi, karena junior yang sama nge-fansnya sama RD, Nanang Alfianti, berhasil membujuk saya dengan kalimat persuasifnya. 😀 Maka jadilah, saya inden di Gramedia Panakukkang, dia inden via online. Hehehe… Gimana bukunya, Nang? Udah tiba? 😀

Well, saya indennya tanggal 4 Februari 2016 di Gramedia Panakukkang. Dua minggu kemudian, 19 Februari 2016, saya ditelpon dari pihak Gramed bahwa komiknya sudah dapat diambil. Hari itu juga saya go to MP and grab it fast. Thank you buat Nova yang sudah menemani waktu inden dan Hikma waktu ngambil komik ini. Begini nih, pengaruh adik sudah duluan balik ke Baubau dan saya masih stay di sini untuk menyelesaikan tugas besar. Berani bertindak, berani bertanggung jawab. Berani sekolah, berani menyelesaikan nya dengan baik dan tepat waktu. >.< Aamiin.

Kembali ke topik. Jadi, sesuai apa yang dikatakan RD kalau pesannya secara inden dapat kaos dan tanda tangannya dan Milfah, sang ilustrator. Yaa, alhamdulillah sekali, saya dapat seperti apa yang dijanjikan. Ini adalah kedua kalinya hasil karya RD yang saya lakukan for the sake of getting ori signature from him. 😀 Tinggal ketemuan langsung yang belum terwujud. Smoga dapat terealisasi. Aamiin. >.< Btw, gambar kaosnya agak gimanaaa gitu. Rada-rada gak setuju. Soalnya tidak mewakili perasaan. Hahaha. Tapi lucu saja. Kayak ada manis-manisnya gitu. 😀 Oh iya, kaosnya warna putih, ukurannya pas sama badan kecil kayak saya. (y) (y) Makasih makasih, Bang RD.

Komik RD ini memiliki enam tema di dalamnya, yaitu: Naksir, Pacaran, Mantan, Baper, Jomblo dan Kegelisahan. Busyeeettt… Waktu pertama liat topiknya, bebetul ini la Radith ee… Cinta semua pwa. Iya, semua tentang keadaan di sekitar kita, entah itu pengalaman diri sendiri atau orang lain. Hampir semua cerita dari komik ini membuat saya dari tersenyum kecut sampai tertawa terbahak-bahak. LOL. Bang Radith, kok kamu lucu romantis kreatif begini sih? 

Dari sisi kemasan, RD sangat kreatif dalam memproduksikan segala bentuk idenya ke dalam wadah yang bisa dinikmati orang banyak. Seperti ini nih. Cuma gara-gara twit, bisa dibuat komik. Kemasan ide yang bagus kan? Keren deh.

Komik ini adalah salah satu hiburan di sela-sela menyelesaikan big project saya. Cukup terhibur dengan kehadirannya di sini. Walaupun cuma sebuah printed comic, but it gives happiness for me. Alhamdulillah. Mmm, dengan ini saya merekomendasikan bagi siapa saja yang butuh candaan ringan untuk membaca Komik Dari Twit-nya Raditya Dika. 😀

“Karena kegelisahan ada baiknya ditertawakan”. Happy Satnite, guys! 😀

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

30072013(010)

Judul : Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah
Penulis : Tere Liye
Tebal : 512 hlm; 20 cm
Cetakan: Keempat, Februari 2013
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978 – 979 – 22 – 7913 – 9

Tergolong buku bacaan yang cukup tebal. Tidak menjadi masalah. Karena cerita karya Tere Liye, tidak menjadi masalah besar menghadapi bacaan yang tebal seperti itu. Terdiri dari prolog, epilog dan 37 bab cerita yang saling berkesinambungan menguntai alur cerita yang sempurna. Kisah cinta tentang bujang berhati lurus, Borno, dan gadis sendu nan menawan keturunan Cina, Mey.

Seperti biasa, penulis berhasil menggambarkan keadaan kota Pontianak dengan sangat lihainya. Seperti tampak hafal betul di setiap sudut kota itu. Bukan hanya Pontianak, Surabaya dan Kota Kuching pun seperti demikian. Pendeskripsian tempat-tempat itu disusun sedemikian baiknya agar pembaca bisa segera memahami bagaimana situasinya. 🙂 Aaah, Bang Tere Liye. Kata-katanya dapat dari mana?

Lepas dari itu, Borno, laki-laki setia. Setia terhadap cintanya. Hemm. Kalau tak ada Pak Tua, mungkin bisa kehilangan petunjuk yang baik, bagaimana menyikapi perasaannya. Perasaannya terhadap Mey, gadis nan sendu menawan. Ah, kisah cinta mereka. :’) Speechless dibuatnya. 😀

30072013(011)Berikut kutipan-kutipan yang berhasil touch my heart. :’D

  • Masa muda adalah masa ketika kita bisa berlari secepat mungkin, merasakan perasaan sedalam mungkin tanpa perlu khawatir jadi masalah. p.164

  • Cinta itu beda-beda tipis dengan musik yang indah. …. Bedanya, cinta sejati akan membuatmu tetap menari meskipun musiknya telah lama berhenti. p. 166-167

  • Cinta sejati adalah perjalanan. Cinta sejati tidak pernah memiliki ujung, tujuan, apalagi hanya sekadar muara. Air di laut akan menguap, menjadi hujan, turun di gunung-gunung tinggi, kembali menjadi ribuan anak sungai, menjadi ribuan sungai perasaan, lantas menyatu menjadi Kapuas. Itu siklus tak pernah berhenti, begitu pula cinta. p. 168

  • Cinta adalah perbuatan. Kata-kata dan tulisan indah adalah omong kosong. p. 173

  • Cinta sejati selalu menemukan jalan. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. p. 194

  • Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. p.194

  • Cinta bukan kalimat gombal, cinta adalah komitmen tidak terbatas, untuk saling mendukung, untuk selalu ada, baik senang maupun duka. p. 221

  • Cinta, selalu saja klise. p. 233

  • Bagi kita yang jelas tidak mengulum jempol lagi, sakit adalah proses pengampunan.  Bersabarlah, semoga Tuhan membalas dengan kabar hebat. p. 251

  • Banyak sekali orang yang jatuh cinta lantas sibuk dengan dunia barunya itu. Sibuk sekali, sampai lupa keluarga sendiri, teman sendiri. Padahal, siapalah orang yang tiba-tiba mengisi hidup kita itu? Kebanyakan orang asing, orang baru. p. 257

  • Habiskan masa-masa sulit kau dengan teman terbaik, maka semua akan lebih ringan. p. 258

  • Sejatinya, rasa suka tidak perlu diumbar, ditulis, apalagi kaupamer-pamerkan. Semakin sering mengatakannya, jangan-jangan dia semakin hambar, jangan-jangan kita mengatakannya hanya karena untuk menyugesti, bertanya pada diri sendiri, apa memang sesuka itu. p. 428

  • Cinta bisa tumbuh, hanya butuh sedikit membuka hati. p. 476.

  • Ketika situasi memburuk, ketika semua terasa berat dan membebani, jangan pernah merusak diri sendiri. Boleh jadi ketika seseorang yang kita sayangi pergi, maka separuh hati kita seolah tercabik ikut pergi. Tapi kau masih memiliki separuh hati yang tersisa, bukan? Maka jangan ikut merusaknya pula. Itulah yang kau punya sekarang. Satu-satunya yang paling berharga. p. 479

  • Berikanlah hadiah buku kepada seseorang yang amat kauhargai. p. 500.

Bang Tere, adakah cerita yang seperti perasaanku? 😦
Dalam diam, aku berdo’a agar perasaan ini berbaikan dengan masa lalu dan masa depan.
Tuhan…