Tag Archives: Buton

Negeri Sapati: Tentang Persahabatan dan Kemandirian

Negeri Sapati
Negeri Sapati

Negeri Sapati adalah salah satu novel karya anak Buton yang bercerita tentang empat sahabat dari pesisir Laompo, Batauga, Kabupaten Buton Selatan. Mereka adalah Dayan, Poci, Odi, dan Surman. Novel ini menonjolkan cerita tentang kehidupan Surman dan keluarganya. Kepergian kedua orang tua Surman menjadikan Surman lahir sebagai sosok yang mandiri, yang harus berjuang untuk menyambung hidup dan demi melunasi utang-utang bapaknya dari seorang rentenir, La Maseke. Sejak kepergian orang tuanya, Surman tidak bisa lagi menghabiskan banyak waktunya untuk bermain bersama tiga sahabatnya. Sepulang sekolah, dia harus bekerja. Entah sebagai seorang kuli panggul ember dan keranjang-keranjang ikan, penjual ikan milik orang lain, ataupun kurir ikan milik seorang nahkoda kapal perahu motor yang menjual banyak ikan. Walaupun demikian, banyak kisah persahabatan Surman dan tiga sahabatnya yang lucu dan menarik diceritakan pada novel ini. Utamanya, kehidupan mereka sebagai masyarakat pesisir.

Mengangkat cerita dengan settingan Pulau Buton ini, membuat saya berhasil homesick. Rasanya mau cepat pulang ke Baubau. πŸ˜€

Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama, yang mana Dayan sebagai orang pertama. Oh iya, saya agak lucu saja ketika membaca novel ini karena penulis menyelipkan dialog menggunakan gaya bahasa orang Buton, misalnya: β€œLa Poci sama La Odi dimana? (hal. 94); Cepat mi kau kejar (hal. 195).” Saya kadang tertawa sendirian membacanya. πŸ˜€

Novel ini terdiri dari 31 bagian cerita dan memiliki pesan moral di beberapa akhir bagian ceritanya. Selain pesan moral, ada juga yang berupa sindiran dan ini sangat sangat menarik. Pada halaman 252, β€œβ€¦. Sungguh ironis, Pulau Buton yang terkenal sebagai penghasil aspal tapi tidak sedikit dari jalanannya banyak yang berlubang-lubang akibat kongkalikong atau konspirasi para pejabat dan orang-orang yang dekat dengan kekuasaan.” Ketika saya membaca kalimat ini, wowwwww, emejingg…

So far, novelnya bagus. Tidak ada cerita kehidupan yang glamour melainkan cerita kehidupan yang Β sederhana, tentang anak-anak yang bermain bersama alam, no gadget, no internet. Salut buat Kak Laode M. Insan deh. Semoga saya bisa mengikuti jejaknya. Aamiin. Hehehe.

*Saya rada sangsi dengan postingan kali ini. Tidak mendetail, tapi ya sudahlah. Saya mampunya sampai di situ aja, readers. Masih perlu belajar mereview lagi. Jika ada komen dan kritik, please give me it ya. Thanks sudah berkunjung dan membaca artikel ini, readers. Salam sukses untuk kita semua.

Judul Buku: Negeri Sapati
Penulis: Laode M. Insan
Penerbit: Best Practice, Jakarta Selatan
Cetakan: Pertama, Maret 2012
Tebal: xvi + 362 halaman; 13 x 20.5 cm
ISBN: 978 – 602 – 99641 – 8 – 9

Bakti Sosial 2016 Mahasiswa FKIP Pendidikan Bahasa Inggris Unidayan di Desa Wawoangi, Sampolawa, Buton Selatan

(searah jarum jam) 1) Spanduk 2) Gedung Sultan Saparigau, 3) Pembekalan dari Bapak Kepala Desa Wawoangi dan Sekprodi, 4) Para dosen FKIP Pend. Bhs. Inggris Unidayan
(searah jarum jam)
1) Spanduk 2) Gedung Sultan Saparigau, 3) Pembekalan dari Bapak Kepala Desa Wawoangi dan Sekprodi, 4) Para dosen FKIP Pend. Bhs. Inggris

Bakti Sosial di Desa Wawoangi, Sampolawa, Buton Selatan, pada tanggal 28 – 29 Mei 2016 kemarin adalah salah satu agenda kegiatan UNESA (Unidayan English Students Association). Pesertanya adalah mahasiswa FKIP Pend. Bahasa Inggris Unidayan Angkatan 2013 dan para dosen yang mengikuti kegiatan ini ada 7 dosen; 3 dosen tetap (Pak Baharuddin Adu, Pak Rizal dan Ibu Esa) dan 4 dosen tidak tetap (Ibu Yuli Yastiani, Pak Firdaus, Ibu Dianti Afrilia dan saya sendiri). *dosen-dosennya masih muda semua kan. Kan kan. πŸ˜€

Berbicara tentang kronologis kegiatannya, saya tuliskan secara ringkas saja. Ini juga bukan tulisan formal, judul tulisannya saja sepertinya yang terlihat formal. Kami semua, baik mahasiswa dan dosen, berkumpul di Stadion Betoambari pada jam 5 sore. Awalnya jam 4 sore namun cuaca yang tidak mendukung, akhirnya diundurkan menjadi jam 5 sore. Perjalanan menuju Desa Wawoangi, Sampolawa, ini membutuhkan waktu sekitar 2 jam dari Kota Baubau. Dalam perjalanan menuju desa tersebut, banyak hal yang menyenangkan terjadi di dalam mobil yang disewakan oleh pihak panitia acara (Unesa) untuk para dosen. Utamanya Pak Firdaus sebagai korban yang paling sering dibully. Hahaha… Terima kasih, bapak ibu dosen untuk hiburannya hari itu. Alhamdulillah. πŸ˜‰

Sesampainya di tempat tujuan, hari telah gelap. Kami semua beristirahat di Gedung Sultan Saparigau. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai baruga. And do you know? Kami disambut dengan listrik yang padam. Nyesss. Gelap gulita, men. Ditambah lagi ada seorang mahasiswa yang kerasukan sehingga membuat suasana di baruga menjadi tegang. Tapi untungnya, tidak berlangsung lama, baik listrik ataupun mahasiswa tersebut. Alhamdulillah.

Well, untuk tempat istirahatnya, para mahasiswa dan Pak dosen tidur di baruga tersebut, sedangkan para ibu dosennya tidur di salah satu rumah warga *memang, wanita selalu diistimewakan :D. Sebelum tidur, tentunya harus makan dulu toh. Para dosen dan para mahasiswa having dinner dulu sebelum beristirahat untuk mempersiapkan diri di esok hari. Rame!!! πŸ˜€

Bersama Kepala Desa Wawoangi di rumah Beliau
Bersama Kepala Desa Wawoangi di rumah Beliau

Sebelumnya, kami disambut oleh Bapak Kepala Desa Wawoangi di baruga dan Beliau mengajak kami, para dosen, untuk bertandang ke rumahnya sembari berbincang-bincang tentang Desa Wawoangi ini. Cukup banyak informasi tentang Desa Wawoangi yang kami dapatkan dari cerita Kepala Desa, apalagi tentang objek yang akan kami bersihkan sebagai aksi bakti sosial esok harinya, yaitu Mesjid Tua Wawoangi. Ya, kami dilayani dengan sangat baik oleh Bapak Kepala Desa. Terima kasih, Pak. πŸ™‚

Perjalanan menuju Mesjid Tua Wawoangi
Perjalanan menuju Mesjid Tua Wawoangi

Keesokan paginya, kami have breakfast dulu bersama. Setelah itu, ada sepatah kata dari Bapak Kepala Desa dan Sekprodi untuk kami semua sebelum memulai kegiatan, yaitu pembersihan di sekitar Mesjid Tua Wawoangi. Videonya dapat dilihat di sini.

Mesjid Tua Wawoangi di Desa Wawoangi, Sampolawa, Buton Selatan
Mesjid Tua Wawoangi di Desa Wawoangi, Sampolawa, Buton Selatan

Sekilas informasi tentang Mesjid Tua Wawoangi menurut informasi yang didengar dari Kepala Desa Wawoangi. FYI, Wawoangi itu artinya adalah di atas angin. Mesjid Tua Wawoangi terletak di Desa Wawoangi, Kecamatan Sampolawa, Kabupaten Buton Selatan. Mesjid tersebut terletak di atas bukit. Jarak yang ditempuh dari Desa Wawoangi menuju mesjid tersebut sekitar 2 km. Bisa ditempuh dengan jalan kaki maupun kendaraan. Namun, harus tetap berhati-hati, karena hampir sepanjang perjalanan, jalanannya masih agak kurang bagus, berbatu-batu. Percaya tidak percaya, kata kepala desa, walaupun bagus kendaraan yang kita miliki menuju mesjid, namun jika niat tidak bagus, maka kita tidak akan sampai ke mesjid. Sebaliknya, sejelek apapun kendaraan yang kita miliki, namun memiliki niat yang baik, maka akan sampai di tujuan. Dan itu terbukti dari beberapa kejadian yang pernah terjadi oleh orang-orang yang pernah ke mesjid tersebut bersama kepala desa.

Menurut cerita yang dipaparkan oleh Kepala Desa Wawoangi, sebelum adanya mesjid di Buton ini, Syeikh Abdul Wahid (Pembawa Agama Islam Pertama di Buton) pernah terdampar di daerah Lapandewa. Di daerah tersebutlah, Syeikh Abdul Wahid mengajarkan agama Islam kepada masyarakat setempat. Kemudian, Syeikh Abdul Wahid mengatakan bahwa di atas bukit Desa Wawoangi itu, Beliau akan mendirikan mesjid. Masyarakat Lapandewa akhirnya bertanya, mengapa demikian? Syeikh Abdul Wahid pun menjawab, Syeikh Abdul Wahid melihat ada cahaya di atas bukit Desa Wawoangi tersebut kemudian cahaya itu terus naik sampai ke luar angkasa. Sehingga Beliau memutuskan untuk mendirikan mesjid di atas bukit tersebut. Dibangun pada tahun 1527. Dinding mesjidnya nampak seperti terbuat dari rotan bambu yang besar, atapnya terbuat dari kayu, sehingga membuat mesjid ini sederhana. Ya, sederhana tapi gimana yaa. Ada suasana tersendiri ketika berada di mesjid tersebut. Seperti masih ada kekuatan gaib yang sangat kental di mesjid ini. Yang intinya, jangan mengunderstimate keberadaan mesjid ini dalam bentuk apapun. Bapak Kepala Desa sering kali mengingatkan kepada kami bahwa satu hal yang penting, jangan ada di hati kita semua untuk mengatakan bahwa mesjid itu tidak baik.

Sebelum berada di mesjid, kita berwudhu dulu, kemudian jika telah berada di dalamnya, maka berdoalah kepada Allah dan yakinilah semua tentang doa yang kita panjatkan. Seperti yang dikatakan Pak Bahar kepada para mahasiswa bahwa sebelumnya beliau juga pernah mengunjungi mesjid tersebut, tapi masih menjadi mahasiswa pada saat itu, beliau masih ingat apa yang dikatakan oleh Pak Safulin, bahwa Mesjid Tua Wawoangi tersebut dianalogikan ibarat HP yang merupakan alat komunikasi, jika kita berada di tempat yang kekuatan signalnya bagus, maka komunikasi kita akan bagus kepada orang yang kita hubungi. Sebaliknya, jika berada di tempat yang kekuatan signalnya kurang bagus, maka komunikasinya kurang bagus. Nah, di Mesjid Tua Wawoangi itulah adalah tempat yang baik untuk meminta kepada Allah. Berdoa dan yakin. In sya Allah dijabbah.

Oh iya, beberapa tahun lalu, jika ingin mengambil gambar mesjid tersebut, percaya tidak percaya, it can’t work. Rata-rata orang yang berkunjung ke mesjid dan ingin mengambil gambarnya, hasilnya tidak akan pernah berhasil. Mesjidnya tidak kelihatan, cuma pepohonannya saja yang terlihat. FYI, kata Kepala Desa, Mesjid Tua Wawoangi ini sebagai mesjid pertama yang ada di Pulau Buton. *Jika yang pertama, berarti sebelum adanya Mesjid Quba dan Mesjid Agung Keraton Buton yang berada di Keraton Buton, Baubau, itu dong. Wah wah, masya Allah sekali saya bisa berada di Mesjid Tua Wawoangi di saat-saat seperti ini. Ya, saya sempat menangis ketika berada di dalamnya. Yaa, nda nyangka saja bisa berada di tempat yang sesakral ini. Dengan niat baik, di mana kita berdoa kepada Allah dan yakin semua doa yang kita panjatkan insya Allah dikabulkan. Aamiin Yaa Rabb.

Setelah kegiatan pembersihan selesai, kami semua berkumpul di baruga sekitar mesjid tersebut sekaligus acara penyerahan bantuan Al-Quran dari FKIP PBI Unidayan untuk Mesjid Tua Wawoangi tersebut oleh panitia kepada Bapak Kepala Desa, dirangkaikan dengan acara penutupan. Setelah acara selesai, kami pun kembali ke baruga, makan siang dan bersiap-siap untuk pulang sembari menunggu kendaraan yang akan membawa kami kembali ke Baubau.

(searah jarum jam) 1) Berkumpul setelah bekerja bakti, 2) Foto bersama dengan latar Mesjid Tua Wawoangi, 3) saya bersama wakil ketua UNESA, 4) Penyerahan Alquran, 5) saya bersama Ketua UNESA
(searah jarum jam) 1) Berkumpul setelah bekerja bakti, 2) Foto bersama dengan latar Mesjid Tua Wawoangi, 3) saya bersama wakil ketua UNESA, 4) Penyerahan Alquran, 5) saya bersama Ketua UNESA

Perjalanan yang sangat menyenangkan. Saya tidak menyangka, baksos kali ini menjadi perjalanan rohani untuk diri saya pribadi. Jika kalian ingin menikmati perjalanan rohani di Pulau Buton, saya sangat merekomendasikan, silahkan berkunjung ke Mesjid Tua Wawoangi, Mesjid Pertama di Pulau Buton. Saya saja masih ingin berkunjung lagi ke sana. Mudah-mudahan panjang umur dan masih diberi kesempatan sama Allah. Suasana berada di mesjid itu yang buat kangen, Allah. Adem. :’)

Terima kasih, Kepala Desa dan warga Desa Wawoangi. Senang berkunjung ke Desa Wawoangi. πŸ™‚

The Sudden Journey to the Pine Forest in Samparona

It happened on June 2nd, 2014. Actually, going to the pine forest in Samparona is one of desires of my friends, Mey. But, it doesn’t always come true. Yah, because our time isn’t always enough and the weather isn’t always so good. So, on June 2nd, 2014, she got it. πŸ™‚

We phoned Athul, Daus, and Iyan in the afternoon. They agreed to go there. But, Iyhan didn’t answer our phone. So, we went to Iyhan’s house to tell what we planned . Because we believed that he was sleeping. πŸ˜€ Fortunately, he wanted, even though it was a sudden thing. πŸ˜€ All of us (Iyhan, Alam, Athul, Daus, Mey, and I) had gathered and we were ready to go there…

FYI, the pine forest is located in Samparona, in Kaesabu Vilage, Sorawolio district, Baubau. Before we are in there, we will pass a wide area that used as a venue for National Women Campsite (Perkempinas) I.

http://greatbuton.blogspot.com/

And then, taraaaa…Β  We arrived there…. πŸ˜€

Thank you, Iyano as the photographer. πŸ˜€

Many people go to the pine forest to take pictures, whether for pre-wedding or for having fun. Yeah, it’s nice location. πŸ™‚ Maybe, if you live in Baubau, you’ll feel bored to look at our pictures because it’s in the pine forest. Again, again, and again. πŸ˜€ But, it’s OK, because we enjoy it. There were happiness, joking, laughter and togetherness from us. And they’re priceless. πŸ™‚

A little crazy we did
A little crazy we did
Look at our styles. It's about self confidence. :D
Look at our styles. It’s about self confidence. πŸ˜€

How about you, Mey? πŸ™‚

Is it enough for making your dream comes true? Or are there other places you want to visit? Tell us, before you go to Java. πŸ˜€ Ahaideee…

 

 

Wolio Snack and Collection Baubau

Hello… We meet again. πŸ™‚ I hope you will not be bored to read my writing. In this chance, I write a little information about Wolio Snack and Collection.

Wolio Snack & Collection
Wolio Snack & Collection

Baubau has many interesting places/shops to get souvenir, such as traditional foods or things that have indication they’re from Baubau or Buton. One of places to get them is Wolio Snack and Collection. It is located at Jalan Gajah Mada (Lamangga Atas).Β  It is on the side of road so it is easy to find this place.

Although it looks like a simple shop, but there are many things we can buy and the price is affordable. The owner said that they still process foods by home-made, such as abon ikan (shredded fish) I bought. The price is about Rp. 12, 000. 00/package.Β  It is cheap, isn’t it?

about this simple shop
about this simple shop

Unfortunately, I don’t ask more about things and price in that place because I was in a hurry to bring the shredded fish to my lecturer’s friend. πŸ˜€

So, if you are still in Baubau for having vacation, maybe Wolio Snack & Collection will be your destination place to get what you can bring in your place. πŸ™‚

Have a nice day in Baubau! πŸ˜‰

outSIDer Coffee Shop, Kotamara

Salah satu sisi Kotamara
Salah satu sisi Kotamara

Kotamara menjadi salah satu ruang publik yang paling banyak dikunjungi warga Kota Baubau. Pagi, sore ataupun di malam hari. Cocok dijadikan tempat refreshing ketika sore hari. Berjalan-jalan via kaki ataupun kendaraan bersama keluarga dan teman-teman menjadi sangat menyenangkan untuk menikmati suasana pinggir laut.

outSIDer

Di awal-awal pembangunannya, belum banyak street vendors alias pedagang kaki lima yang berjualan di area Kotamara ini. Namun, untuk sekarang ini, bila mencoba berkunjung di Kotamara pada sore – malam hari, kita dengan mudah menemukan street vendors ini. Entah yang menjual makanan ringan, gorengan, ataupun roti bakar.

29062013(001)Nah, untuk kali ini saya akan sedikit bercerita tentang jualan teman saya, Arul. *ceritanya Arul pengusaha muda nih yeee. πŸ˜€ Bersama outSIDer Coffee Shopnya, yang menyediakan roti bakar dan minuman (cappucino, hot chocolate, dll.). Harga roti bakar dan minumannya berkisar Rp. 4.000 – Rp. 7.000. Tempatnya tidak jauh dari rusunawa yang baru dibangun. Letaknya di pinggiran jalan juga. Jadi, kalau lagi ber-hang out ria di Kotamara, kita bisa memesan roti bakar sambil menikmati pemandangan laut. Di mana saja. πŸ™‚

@Kotamara
@Kotamara

Oh iya, FYI, para street vendors di Kotamara ini dikenakan biaya Rp. 2.000 untuk sewa tempatnya per hari pada saat mereka menjual, untuk retribusi kebersihan dan apaa gitu. Saya lupa, waktu Arul bilang ke saya, ketika mencoba bertanya-tanya tentang tempat yang mereka tempati ini.

Berapa kali saya ke tempat ini, hang out bersama teman dan keluarga. Tidak lupa memesan roti bakarnya. πŸ˜€

Sore hari di Kotamara. Membawa kesenangan tersendiri untuk merefreshingkan diri dari padatnya aktivitas pagi tadi. Bersama roti bakar ala outSIDer Coffee Shop. πŸ˜€

Roti Bakar ala outSIDer @Rp. 7.000
Roti Bakar ala outSIDer @Rp. 7.000

Keraton Mie Ciram (KMC)

kmcSebelum lanjut baca, what do you think about the title?

Yah, kalau saya yang menilai, judulnya cukup unyu-unyu gimanaa gitu. Lucu dan menarik. πŸ˜€ Namanya mengundang tawa ketika pertama kali didengar ataupun dibaca. πŸ˜€

Satu lagi yang menjadi tempat wisata kuliner untuk dikunjungi di Baubau.

Keraton Mie Ciram (KMC), saingannya KFC. πŸ˜€ Tapi di sini bukan makan ayam goreng lho.

Terletak di dalam area Benteng Keraton Buton. Kata Kakak Senior saya (Kakak Dian) yang kebetulan tinggal di Keraton, KMC itu terletak di atasnya Lawana Sambali, di bawahnya Lawana Melai. Mudah saja menemukan KMC ini karena letaknya yang berada di pinggir jalan. Tempatnya memang sederhana, tapi suasananya menyenangkan, utamanya makanannya. Hehehe. Menu andalan di sini adalah SUP UBI dan MIE SIRAM. Selain Sup Ubi dan Mie Instant, tersedia juga roti-rotian dan gorengan. Harganya? Lumayan terjangkau, sekitaran Rp. 7.000an per porsi (untuk SUP UBI). *pasca BBM naik ya. πŸ˜€

Kadang, kalau pulang kampus, saya dan teman-teman singgah makan di KMC ini. Lumayanlah untuk isi perut.

SUP UBInya gurih. Memang sih, mie yang ada di SUP UBI itu adalah mie instan, tapi kuahnya rasanya gimanaa gitu. Mantap. Tidak memakai bumbu dari mie instkmc2an tersebut, kecuali kita yang mau menambahkannya sendiri.

Coba deh kalau sehabis berjalan-jalan ria di Keraton Buton, jangan lupa singgah di KMC ini. Singgah makan. πŸ™‚ Insya Allah kenyang. Hehehe…

Posko KKN-P XXV Unidayan 2012/2013 Kel. Awainulu, Pasarwajo

Assalamu’alaikummmmmm… Huaaaaa, baru punya kesempatan maen inet. Ye ye ye…
Alhamdulillah. Alhamdulillah…
OK. Sekarang saya sudah menjadi mahasiswa FKIP B.Inggris Unidayan Semester 7. SEMESTER 7, mann… *Ning, sadar Ning. Sadar. Sudah tua… -___-”
Ya, alhamdulillah semester 7 ini, Ning memprogram mata kuliah udah gak banyak. Tinggal 3 mata kuliah aja. KKN-P, Introduction to Computer dan Seminar Proposal. Dan sekarang lagi menjalani KKN-P.

KKN-P ini Ning ditempatkan di Kel. Awainulu, Kec. Pasarwajo, Kabupaten Buton.
Di dalam posko ada 20 orang dari berbagai fakultas di Unidayan. Tiga hari pelaksanaan KKN-P minggu pertama, Ning nggak masuk soalnya lagi sakit. Nanti hari Minggu (23/09) baru Ning naek ke Pasarwajo sama keluarga. Makasih ya, Ma, Pa, Om, Tante, Ade-adeku. Udah mau nganterin Ning. :*

Pertama kali otw ke posko. Perasaan udah mulai gak karuan. Gimana teman-teman di sana. Gimana suasananya, gimana poskonya. Beribu kekhawatiran tuh bertumpuk. *Tseh, gaya lo, Ning. πŸ˜€ Dan tiba di posko. SUBHANALLAH… Terobati… Melihat posko KKN-P yang SESUATU banget… Hahahhhahahaha…. Alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah. Allah makasih banget…

Posko kami di ruko 4 lantai. Huaaaa… >.< Subhanallah. Makasih ya Allah…
Ini baru namanya Posko. Makasih ya Allah. Poskonya Ning di sini… >.<
Narsis dulu aahhh di depan posko. πŸ˜€

Alhamdulillah sudah dapat posko yang lebih dari cukup, teman-teman seposko yang saling mengerti dan memahami…

The List Names of Posko Awainulu

 

Festival Keraton Nusantara VIII di Kota Baubau, Pulau Buton. Has Done!

Pulau Buton beruntung di tahun 2012 ini. Mengapa? Ya, karena Buton menjadi tuan rumah dalam Festival Keraton Nusantara VIII. Acara yang pada awalnya dilaksanakan dua tahunan sekali sekarang menjadi SETAHUN SEKALI. Yippyyy… Dan tahun depan yang menjadi tuan rumah adalah PROVINSI SUMATERA UTARA, MEDAN (2013) dan pada tahun 2014 di NUSA TENGGARA BARAT (NTB). Yup yup…

sumber di sini

FKN VIII telah berakhir yang dilaksanakan tanggal 1-4 September 2012 di Kota Baubau, Pulau Buton. πŸ™‚
Saya di sini gak usah banyak komat-kamit, karena udah banyak artikel mengenai FKN VIII. Nanti dikasih linknya deh. πŸ˜€

Walaupun saya bukan apa-apa di Baubau ini, secara pribadi mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta FKN VIII dan seluruh masyarakat Kota Baubau yang telah berhasil ikut berpartisipasi dalam pelaksanaan agenda budaya ini. Semoga bisa membawa kenangan yang manis di Kota Baubau, Kota SEMERBAK. πŸ˜‰

P.S.
FKN I di Yogyakarta, 1995
FKN II di Cirebon, Jawa Barat, 1997
FKN III di Tenggarong, Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur, 2002
FKN IV di Yogyakarta, 2004
FKN V di Solo, Jawa Tengah, 2006
FKN VI di Gowa, Makassar, 2008
FKN VII di Palembang, Sumatera Selatan, 2010
FKN VIII di Kota Baubau, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, 2012

Oh iya, ini ada foto-foto saya dan teman saya, WiNNy, waktu Pawai di hari kedua. πŸ˜€

Wuiihhh, ada “Limbad”!!! 0.0

Ini ada beberapa link-link eksternal tentang FKN VIII. Hahaha.
Festival Keraton Nusantara (FKN) VIII 2012 (si Mimin punya)
Welcome Dinner FKN VIII di Kota Baubau (Mas Fendi’s article)
Cantiknya FKN VIII Baubau (Blogger dari Makassar *baru nemuin blognya*)
Ada artikel bagus berkaitan tentang FKN, di sini.

Ikan Parende

P A R E N D E

Ini adalah salah satu makanan dan masakan khasnya orang Buton. Terbuat dari ikan segar yang mampu bikin ngiler… Rasanya? MANTAP E. Paling enak kasian. Apalagi kalau saya yang buat. Errrr… πŸ˜€
Kebanyakan para ibu rumah tangga bisa buat sendiri di rumah kok. Yang penting tahu resepnya. *Di akhir postingan, saya kasih deh. πŸ˜€

Kalau jalan ke Kota Baubau, yang saya tahu rumah makan yang menyediakan Parende itu ada tiga tempat,
1. RM. PARENDE (di dekat Umna Plaza Wolio),

RM. PARENDE

2. RM. PASEBA (Samping Akper Betoambari), dan
3. IKAN PARENDE WAMEO MAMA JANA (Sekitaran Pasar Wameo).

Ikan Parende Wameo Mama Jana

Well. Di postingan ini, saya mau berbagi cerita tentang pengalaman makan ikan parende di rumah makan IKAN PARENDE WAMEO MAMA JANA. Letaknya tak jauh dari pasar ikan, yaa dekat rusunawa lah. Paling ujung, dekat laut. Saya, Arini, dan Mama ke Pasar Wameo. Habis “cakar”. Rencananya cuma ikut-ikutan mereka saja. Daripada saya bengong sendirian di rumah. Ya udah, nemenin Arini nyari celana, baju, dan tas. Trus, slsai belanja, Mama nawarin kita makan ikan parende. Yang setahu saya, di Wameo gak ada lah. Cuma di dua tempat yang saya telah sebutkan tadi. Eh, tiba-tiba Mama nunjukin tempat makan yang bangunannya tuh sederhana. Mungkin karena masih baru, jadi masih dibuat dari jelajah. Tapi, gak masalah. Aje gileeee, PADAT. Orang-orang pada ngantri euy. Katanya sih, denger-denger, yang makan ikan Parende di sini banyakan orang kantoran euy. πŸ˜€ Gak heranlah. Berjejer tuh mobil dan motor di tempat parkir.

Memang sih Baubau terkenal dengan cuaca panasnya. Tapi, kalau udah tiba di tempat makan ini, gak bakalan ngerasain namanya panas deh. Iya. Ada ACnya euy. Hebat… AC alami maksudnya. πŸ˜€ Angin. Maklumlah letaknya di pinggir laut.

Untuk Parendenya itu Rp. 12.000/mangkok. Sudah dengan nasi dan air minum. Kalau mau pesan, kayaknya mesti sabar bin ikhlas. Lantaran terlalu banyak pengunjung, kadang pesanan kita datangnya tuh lumayan lama. Apalagi duduk paling ujung, jauh dengan dapur. Pertama-tama, yang datang mangkok cuci tangannya. Beberapa menit kemudian, nasi putihnya. Setelah itu Ikan PARENDEnya. Huiihhh, butuh kesabaran menunggu semua itu. -__-”
Jadi, saya menyarankan. TIPS datang ke sana. Duduknya kalau bisa duduk dekat dapur. Supaya mudah dipantau dan diliatin kalau pesanannya belum datang. Jangan kayak saya sama Tafry. Udah badannya kecil, duduk di ujung, jauh lagi dari dapur. Alhasil, LAMA yang kita rasain. Huiiihhhhh… Menguras hati. Tapi, gak apa-apalah. Yang penting, saya makan ikan PARENDE. πŸ˜€

Seperangkat alat pengenyang. πŸ˜€
Parende and Us

 

Ko makan dulu kasian, Arini. Jan dulu liat HPmu. HMB…
-___-“

Waktu makan di tempat ini, saya emang nikmati tuh makanan. Tapi, gak seberapa. Soalnya, baru aja selesai makan, saya udah disuruh berdiri sama Mama. Teman Mama kebetulan datang makan di situ, dan tempat duduk itu GAK ADA yang KOSONG. Jadinya, saya ngalah saja. Ededehhh. Pengunjungnya ramai nian euy.

Jadi, bagi yang belum ke sana, direkomendasikan deh untuk cobain Parende di tempat itu.
P.S. Karena dekat dengan pasar ikan, semoga penciumannya aman-aman saja ya. πŸ™‚ It doesn’t matter.

Oh, iya. Saya mau bagi-bagi resep bagaimana caranya membuat ikan Parende. Ini bukan resep dari mana-mana ya. Cuma resep dari Mama saya. πŸ˜€ Dan Mama paling jago buat ikan Parende. Haahaa… I love you, Mamakyu… πŸ˜€ Ababil…

RESEP IKAN PARENDE ALA MANING (Mama Nining) πŸ˜€

Bahan:
Yang paling enak itu ikannya ikan karang atau Ikan Bobara atau Ikan Kakap Merah.
Jeruk Nipis,
Bawang Merah dan Bawang Putih (diiris),
Belimbing, Kunyit bubuk, Tomat, Daun Serei, Daun Kemangi, Garam dan Bumbu Penyedap.

*Semua bahan di atas, tidak mempunyai takaran tertentu. Ya, secukupnya saja. Menurut kemauan Anda bagaimana dan seperti apa.

Cara Membuat:
Airnya dimasak hingga mendidih, bersamaan dengan bawang, belimbing, tomat, daun serei. Setelah mendidih, masukkan ikannya, masak sampai matang. Jangan lupa beri bumbu penyedap. Setelah matang, angkat lalu masukkan daun kemangi.
Hidangkan bersama nasi hangat…
Eh eh, jangan lupa juga. Taburkan bawang goreng dan tiriskan jeruk nipis secukupnya. Kalau mau yang pedas, lombok biji paling mantep. *Aduuuhhhh, ngilerrr langsung… -__-“

Sekian resep dari Ning ‘Little’ Syafitri, anak Baubau. πŸ˜€

Habis googling eh, nemu artikelnya Pak Yusran Darmawan tentang pengalaman beliau bersama ikan Parende di RM. Parende, Baubau. Intip cerita beliau, yuk. Di SINI

Di Hari Jadi Kota Baubau 2011

Alhamdulillah. Akhirnya punya waktu juga untuk menulis. Hedeuh, waktunya sangat mepet, mepet, mepet, dan sempit. Malah hampir tidak ada. *Aduh, lebay yah? -___-”
Catatan ini saja (sebagian) ditulis di sela-sela jam mata kuliah yang kosong karena dosennya tidak sempat hadir. *Alhamdulillah ada kesempatan. πŸ˜€

Langsung saja yah.
Berdo’a mulai… πŸ˜€
Eh, sorry… sorry… Maksudnya, let’s read my unclear story!:)

Seperti yang kita ketahui bersama tanggal 17 Oktober 2011 kemarin adalah Hari Jadi Kota Baubau ke-470 dan Hari Ulang Tahun ke-10 sebagai Daerah Otonom Tahun 2011. Kegiatan pertama yang diadakan sebagai rangkaian event tahunan ini adalah Pembukaan Baubau Expo Tahun 2011 di Kawasan Kotamara tanggal 10 Oktober 2011. Β Selanjutnya, kegiatan Perlombaan Gerak Jalan Indah yang diikuti masyarakat Kota Baubau, baik tingkat akademik ataupun umum. Berlangsung selama 2 hari, 11-12 Oktober 2011. Dan di hari terakhir, tepat tanggal 17 Oktober, pagi hari di Lapangan Upacara Kantor Walikota Baubau (Palagimata) diadakan Upacara Bendera peringatan Hari Jadi Kota Baubau ke-470 dan HUT ke-10 sebagai Daerah Otonom. Setelah selesai Upacara HUT Kota Baubau, rupanya ada Sidang Istimewa DPRD Kota Baubau dalam rangka Pidato Walikota Baubau memperingati Hari Jadi Kota Baubau ini di Aula Palagimata, Kantor Walikota Baubau. Nah, malamnya. Acara Ramah Tamah dan Penutupan Baubau Expo Tahun 2011 di Kawasan Kotamara (lagi).

Menurut saya, walaupun tak seramai HUT SULTRA kemarin. Namun, antusiasme masyarakat Baubau cukup tinggi. Terbukti dengan banyaknya lapisan masyarakat yang turut berpartisipasi baik secara langsung ataupun tidak langsung dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan Pemda. Gerak jalan misalnya. Baik yang ikut dalam baris-berbaris ataupun yang menjadi penonton di bawah terik matahari. Mantap cooyyy…!!! Alhamdulillah ya, untuk tingkat SMA, SMAN 1 Baubau jadi juara 1. πŸ™‚ Β Congrats yaaa…!!! πŸ™‚

Untuk Baubau Expo yang berada di Kotamara, sebetulnya saya tidak terlalu mengikuti perkembangan yang ada. Tidak langsung ke TKP istilahnya lah. Cuma liat dari jarak jauh saja karena selama 1 minggu Baubau Expo diadakan, saya cuma sekali ke sana. -___-” Itupun bukan ke pamerannya, malah ke arena permainan yang ada di sana, itu juga menemani adik saya, Nala. Sekali naik permainannya kita mesti bayar 5ribu. πŸ˜€

Baubau Expo 2011

Lanjut ya…
Malam acara penutupan Baubau Expo, saya menyempatkan diri menontonnya secara langsung. Di akhir-akhir Kata Sambutan yang disampaikan Pak Walikota Baubau, menurut yang saya dengar katanya beliau berharap semoga aspek perekonomian Kota Baubau semakin maju, Beliau juga mengajak kita agar senantiasa memelihara dan menjaga Baubau. Ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu tak lupa diucapkan.

Di sela-sela sambutan Walikota Baubau, Bpk. Amirul Tamim, yang paling diingat waktu beliau bilang “Kepada anak Baubau belajar, belajar, belajar karena insya Allah Baubau akan menantimu ketika kalian sudah berilmu, sudah sukses dalam pendidikan dan usaha.” Bagaimana para generasi muda Baubau??? AYO. Sukseskan pendidikan di Kota Baubau… Semangat!!! Semangat!!!

Terakhir, beliau juga menyampaikan bahwa tahun depan insya Allah Kota Baubau akan menjadi tuan rumah Festival Keraton Nusantara. Masyarakat Kota Baubau, mari kita menyiapkan daerah ini dengan sebaik-baiknya!!!

Di malam penutupan kemarin, ada performance khusus dari Negeri Ginseng a.k.a Korea Selatan. Adalah penampilan seni budaya Korea, terdiri dari:

–Β Tari Geommu (Tari Pedang),

http://www.wikipedia.com

–Β SamulnoriΒ (사물놀이),

http://www.wikipedia.com

–Β BuchaechumΒ (뢀채좀) atauΒ Tari Kipas,

http://www.wikipedia.com

Ini ada video yang sempat saya rekam. #hasilkurangbagus. 😦

– dan terakhir katanya Tarian sewaktu dilangsungkan FIFA WORLD CUP 2002 beberapa tahun lalu di Korea Selatan.

Maaf ya kalau videonya kurang bagus dan tak jelas tata letaknya. Itu diakibatkan saya selaku penonton biasa yang tidak dapat duduk di tempat VIP. *Nantilah. Amiiinnn… πŸ™‚ Hehehe…

Selain penampilan dari kesenian Korea tadi, ada juga penampilan dari Eky AFI 3. Oh, iya. Hampir lupa. Kota Baubau juga punya MC yang tidak kalah serunya dengan pelawak-pelawak lain. Aduh, saya lupa namanya siapa. Reader, ada yang tahu nama dua MC ini? Nanti tolong diinfokan ya. Gamsahamnida.

My Friend, Syafar (Baju Hitam) bersama MC yang funny (baju biru dan orange) Sumber: Facebook SyafarΒ 

*Foto di atas diambil lewat Facebook teman saya, Syafar.
Syafar, izin yah. Hehehe…Β 

Wuihhhhhh, acaranya lumayan seru juga… Saya terkagum-kagum sama Tarian Kipasnya. Liuk-liukan kipasnya itu lho, ya Allah, indah sekali. >.< Apalagi wajah-wajah penarinya yang aduhai cuantiknya. *Seandainya saya turut menari dengan mereka menjadi gadis Korea. Huaaaa, mimpi kali ya? Hahaha… Pokoknya is the best lah… Tidak bosan-bosan kalau melihat mereka perform. πŸ™‚

Overall, acaranya sukses… (menurut saya yah)… πŸ™‚
Selamat ya buat Kota Baubau tersayang. πŸ™‚ Semoga ke depannya bisa menjadi lebih baik. Ayo, para generasi muda Kota Baubau, mari kita belajar, belajar, belajar dan belajar! Membangun kota kita tercinta ke arah kemajuan (dalam hal positif).

Tetap mempertahankan nilai-nilai moral dan budaya yang telah diajarkan oleh orang tua kita dulu!!! SEMANGATlah wahai anak Baubau!!! πŸ™‚