Tag Archives: Hasanuddin University

This is About Graduation 2016

 

Alhamdulillah to Your Mercy, Allah
Alhamdulillah to Your Mercy, Allah

Hello, long time no see you, my blog. I miss to write here. Yaps, in this chance the topic is my second graduation. Finally, I’m graduated from Hasanuddin University after being a student for two years more. Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah ya Allah. You again again again give me Your priceless mercy.

Jadi ceritanya pada tanggal 22 Desember 2016 (bertepatan hari ibu, readers), Universitas Hasanuddin melaksanakan Wisuda Pascasarjana dan Profesi Periode II Desember Tahun Akademik 2016/2017. Khusus untuk fakultas saya, Fakultas Ilmu Budaya, memiliki 17 wisudawan yang berasal dari 4 (empat) program studi, yakni:

  1. Program Studi Ilmu Linguistik S3 (1. Fatimah Hidayahni Amin)
  2. Program Studi Ilmu Linguistik S2 (2. Ita Rosvita, 3. Siti Umi Salamah, 4. Nila Puspita Sari, 5. Maria Arnoldiana Dadjan Uran, 6. Santy Monika)
  3. Program Studi Bahasa Inggris S2 (7. Nining Syafitri, 8. Yuriatson, 9. Ida Mariani Idris, 10. Yandri, 11. Israkwaty, 12. Rizki Diliarti Armaya, 13. Faika, 14. Hikmawati, 15. Reza Apreliah Dg. Matara, 16. Satang)
  4. Program Studi Bahasa Indonesia S2 (17. Nanik Indrayani) 

    FYI, alhamdulillah juga untuk wisuda kali ini, ijazah dan transkrip udah langsung ada, jadi tidak perlu galau menunggu transkrip kelar yang katanya butuh waktu beberapa bulan. Trims, Unhas. 🙂

    Bersama Dosen dan Staf TU FIB Unhas
    Bersama Dosen dan Staf TU FIB Unhas

Satu hari sebelum pelaksanaan wisuda, 21 Desember 2016, kami mengadakan malam ramah tamah di Hotel MaxOne yang berada di Jalan Taman Makam Pahlawan. Hal ini berbeda dengan malam ramah tamah pada periode I September 2016 kemarin yang dilangsungkan di Hotel Clarion Makassar, di mana semua program studi pascasarjana berada dalam satu aula dan panitianya berasal dari pihak Pasca Unhas sendiri. Pada periode II Desember 2016 ini, yang menjadi panitianya pun adalah kami sendiri dan khusus Fakultas Ilmu Budaya. Dengan demikian, suasana keakraban bersama para dosen, staf fakultas dan calon wisudawan sangat terasa pada malam itu.

Kak Satang dan Prof. Tadjuddin Maknun, S.U. (WD I)
Kak Satang dan Prof. Dr. Tadjuddin Maknun, S.U. (WD I)

Pada pelaksanaan ramah tamah tersebut, kami, para wisudawan, memberikan cenderamata sebagai kenang-kenangan yang diwakili oleh Kak Satang kepada pihak fakultas yang diwakili oleh Wakil Dekan I, Prof. Dr. Tadjuddin Maknun, S.U. Kemudian, ada pembacaan wisudawan terbaik di tingkat fakultas kami, yakni Kak Fatimah Hidayahni Amin, Kak Yandri, Maria (Dian), dan Ibu Siti Umi Salamah. Congrats, kaka-kaka.

Left2right: Hikma, Kiky, Kk Fatimah, Ning, Nila
Left2right: Hikma, Kiky, Kk Fatimah, Ning, Nila

Terima kasih kepada teman-teman wisudawan yang telah mengupayakan acara malam ramah tamah pada periode ini sehingga acaranya berjalan dengan baik dan lancar. Semoga berikutnya lebih baik lah. Aamiin.

Ladies FIB Unhas
Ladies FIB Unhas

Well, tidak terasa dua tahun lebih lanjut sekolah di sini, Makassar. Pastinya bakalan banyak momen yang harus dikenang, seperti momen perkuliahan yang kadang buat seru, dagdigdug, lucu dan awkward, terus masa-masa ngerjain tugas dari dosen, dan perjuangan pamungkas adalah proses penyelesaian tesis yang berhasil buat saya hampir hopeless, percaya deh Allah sudah punya skenario sendiri memang, tinggal kitanya aja yang pintar-pintar positive thinking dan giat berusaha bagaimana caranya supaya tidak hilang semangat. Kata Prof. Hakim, Semangat dulu yang disemangati. Hehehe.

Selain itu, kuliah di Unhas ini, saya pun punya banyak teman dari berbagai daerah. Thank you ya sudah jadi teman yang baik untuk Nining selama dua tahun lebih ini. Maaf kalau ada banyak salah sama teman-teman, gak ada niat mau jahat sama kalian. Bakalan kangen sama kalian, pastinya bakalan gak bisa diulangi lagi momen kuliahnya. Kita semua pasti udah berpencar masing-masing ke arah yang tidak ditentukan. Hehehe. Yeps, mencari dan menemukan kehidupan baru yang lebih baik setelah perjuangan menjalani studi. Pastinya, beberapa tahun kemudian, udah kedengaran kalau si ini si itu udah jadi rektor, ketua program studi, jadi prof., lanjut kuliah di luar negeri, di universitas ini itu. Ecieee. Aamiin Aamiin.

Makassar, I will miss you a lot. Thanks, Allah, You have given me a chance to enjoy all these experiences in continuing this study.

*’Tarimakasiku to yingkomiu’ (Thank to you all) session.
Trima kasih, Ma Pa, to all your sacrifice for me. I know I can’t do like what you have given to me, except to be your good daughter as you want. I’ll do it, in sha Allah.

Thanks juga untuk para dosen yang sudah mengajar teman-teman dan saya selama perkuliahan di Unhas. You are great lecturers. :’)

Trima kasih untuk para staf TU Fakultas Ilmu Budaya.

Oh iya, terima kasih juga buat teman-teman, sahabat dan keluarga yang sudah mengucapkan melalui media sosial, minta maaf komentarnya belum sempat dibalas semua.

Dan semua pihak-pihak yang secara langsung dan tidak langsung turut memudahkan jalan saya dalam proses penyelesaian kuliah ini. Tarima kasi.

*Curhat session
Udah diwisuda emang iya, tapi masih merasa kurang begitu, belum apa-apa sih iya. Masih banyak kurangnya malah. Walaupun sekolah memang sudah selesai, tapi belajar harus berlanjut terus. Saya memang harus terus belajar. SEMANGAT, Ning. SEMANGAT!!!

Biasanya, hal yang paling sering ditanyain setelah saya wisuda ini adalah pekerjaan dan jodoh. Saya mah senyumin aja sambil berkata, “Mohon doanya, om-tante-pak-bu-teman. Semoga disegerakan, dapat kerja yang bagus dan dapat jodoh baik yang Allah ridho. Aaamiin.” Acakaseeehhh… Ahaide. Hehehe… Thanks, readers, udah sempat-sempatkan baca tulisan curhat minceu dari awal hingga akhir. Semoga bermanfaat, readers. Semoga… 😀

Simfoni Kehidupan Halim Homeric

Simfoni Kehidupan Halim Homeric
Simfoni Kehidupan Halim Homeric

“Sejatinya Beliau hanya ingin menyebarkan semangat bahwa kejujuran dan pengakuan ikhwal masa lalu akan memberikan rasa ringan, sekaligus kekuatan untuk terus berjalan ke depan. Andhy Pallawa”

Buku ini saya dapatkan secara cuma-cuma ketika acara bedah buku “Simfoni Kehidupan Halim Homeric” yang diadakan di Aula Prof. Mattulada Fakultas Ilmu Budaya Unhas pada tanggal 11 Agustus 2016. Sayangnya, saya tidak terlalu mengikuti kegiatan tersebut dari awal hingga akhir dengan baik karena satu dan lain hal. Pada awalnya, saya belum mengetahui sama sekali siapa sosok Bapak yang ada di dalam buku ini. Setelah saya baca bukunya, rupanya dehh, hebatnya juga dant Bapak Halim ini ee. You are inspiring.

Perlu diketahui bahwa Bapak Halim Homeric ini adalah seorang seniman yang pandai bermain biola, seorang keturunan Tionghoa yang lahir di Kaiping Tiongkok. Beliau memiliki peran penting pada bidang pendidikan dan budaya di Makassar. Penulis mengatakan bahwa Beliau banyak menciptakan lagu dan menerjemahkan lagu-lagu Makassar ke dalam Bahasa Mandarin. Hal ini dilakukan Bapak Halim untuk mengenalkan dan mendekatkan budaya kedua bangsa. Selain itu, terbentuknya Pusat Bahasa Mandarin di Universitas Hasanuddin tidak terlepas dari campur tangan Bapak Halim Homeric sendiri. Ya, pantaslah untuk dikatakan bahwa Bapak Halim Homeric dalam buku ini sangat menginspirasi. Beliau mengatakan beberapa hal pada bagian kata sambutan, “Bagi saya sebuah biografi harus menjadi cermin untuk berkaca bagi banyak orang, tentu saja dengan kelebihan dan kekurangannya. Terutama karena tak seorang pun yang sempurna, sehingga belajar itu bukan hanya pada keberhasilan dan kisah sukses tetapi juga pada alpa dan kekurangan. Belajar kepada kelebihan untuk menjadi contoh, dan belajar pada kekurangan agar tidak mengulang di masa depan.

Perjalanan seorang Halim Homeric yang tertuang dalam buku ini memberikan gambaran tentang bagaimana seseorang mampu bertahan hidup, berjuang, dan melawan kerasnya kehidupan dari titik nol hingga mencapai masa suksesnya, yang selalu semangat dan mengutamakan kejujuran. FYI, pada halaman-halaman pertama sukses buat saya nangis, readers. Kisah hidup Beliau waktu kecil yang memang mau tidak mau harus dilewati. Sebagaimanapun kerasnya kehidupan, harus bangkit berjuang.

Apalagi ada beberapa ungkapan Mandarin yang terselip, hal ini membuat cerita kehidupan Bapak Halim semakin sarat inspirasi. Salah satunya pada halaman 219 pada bagian Belajar Bijak dari Leluhur, “Jika kau bertemu dengan orang yang berbudi luhur, angkatlah ia sebagai gurumu, agar kau dapat menyamai kebaikannya. Jika kau bertemu dengan orang yang berbudi buruk, anggaplah dia sebagai cermin, agar kau dapat melihat dan menilai dirimu sendiri.

Ada satu hal yang membuat saya sangat sependapat dengan Bapak Halim, yakni tentang keyakinannya pada pendidikan yang dapat mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik. Terbukti, Bapak Halim berhasil menamatkan dirinya di Fakultas Sastra pada pendidikan tinggi jarak jauh Universitas Xiamen, Tiongkok, di tahun 1960. Dari situlah, kehidupan Bapak Halim mulai menuju ke arah yang lebih baik.

“Kemiskinan hanya bisa diperangi dengan ilmu pengetahuan, yang berarti bahwa bersekolah adalah keniscayaan. (Andhy Pallawa, Hal. 70)”

“Apapun yang terjadi, saya wajib merampungkan studi, karena hanya dengan cara ini saya berpeluang memperoleh penghidupan yang lebih baik. (Halim Homeric, Hal. 74)”

Ya, hal ini bahkan sangat terlihat jelas dalam Al-Qur’an. Ketika Allah berfirman dalam Surat Al Mujadalah ayat 11, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” Melalui ayat ini Allah menjelaskan kepada umatNya untuk menuntut ilmu demi kebaikan diri sendiri dan orang lain, sehingga ilmu yang kita dapat bermanfaat dengan baik dan menjadi salah satu bentuk amal baik bagi masing-masing individu. *Kira-kira seperti itu pandangan saya, jika ada yang salah mohon dibenarkan. 🙂

Nampaknya cukup sekian cerita saya tentang buku yang menginspirasi ini. Benar apa yang dibilang Prof. Burhanuddin Arafah tentang Bapak Halim Homeric, “Beliau memiliki pribadi yang ‘Islami’.” Walaupun secara pribadi saya belum pernah berkenalan langsung dengan Bapak Halim Homeric, lewat buku biografinya secara tidak langsung saya sudah berkenalan dengan Beliau. Terima kasih untuk ceritanya. Semoga Allah selalu melindungi Bapak. Sehat-sehat, Bapak Halim Homeric. 🙂

Jangan pernah membantah terutama kepada yang lebih tua walau kamu di pihak benar. Ingat, kamu orang miskin sehingga akan selalu dianggap salah. Pilihanmu tidak banyak, maka kamu harus rajin, dan berlaku jujur,” sambung ibunya. (Andhy Pallawa, Hal. 21) 😦

Judul Buku: Simfoni Kehidupan Halim Homeric
Penulis: Andhy Pallawa
Penerbit: Global Publishing
Cetakan: I Agustus 2016
ISBN: 978-602-6782-00-7

Pagi, Ramadhan!

Kita memiliki kehidupan yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Olehnya itu, rezeki, jodoh dan kematian yang Allah kasih akan berbeda-beda pula kuantitas dan kualitasnya.
Berbeda bukan berarti Allah berdiskriminasi.
Berbeda karena Allah tahu yang terbaik untuk hambaNya yang bertakwa.

Pagi yang tenang. Iya, cerah karena cuacanya tidak mendung. Duduk di sebuah bangku panjang bersama teman seperjuangan. Masing-masing di hadapan laptop dengan kepentingan yang berbeda. Teman saya sibuk mempersiapkan dirinya untuk ujian seminar proposal tanggal 22 Juni ini dan saya sibuk menulis tulisan ini. Tidak sempat bangun sahur karena bangun kepagian dan tidur terlalu malam, tidak menjadi halangan untuk tetap berkonsentrasi dengan apa yang ada di depan mata.

Sedikit menghilangkan penat dari proses pengerjaan hasil penelitian yang belum selesai di mana besok adalah jadwal bimbingan. Rasanya saya terlalu selllooowww sekali… -___- Berharap dapat wisuda September ini, tapi usahanya segini. Mana bisa. Tapi, saya harus yakin, in sya Allah bisa ujian hasil dalam waktu dekat dan dapat wisuda September ini. Yakin, positif, usaha, dan berdoa. Kenapa? Karena kalau saya terlanjur bilang “tidak bisa kejar wisuda September”, itu adalah kesalahan terbesar. Tidak boleh pesimis, Ning. Jalan saja. Positif saja. Kalau dapat September, alhamdulillah. Kalau tidak dapat September, juga alhamdulillah. Jalan Allah itu lebih baik dari apa yang kamu rencanakan, Ning.

Oh iya, bulan Ramadhan ini rasanya beda. Kayak gimana ya… Ada senangnya, ada sedihnya juga. Di pikiran saya itu, “tesis, tesis, tesis, tesis.”  Melihat teman seangkatan yang mau wisuda tanggal 29 Juni ini dan yang sudah ujian hasil, rasanya seperti disindir diri sendiri, “kamu kapan, Ning?” Rasanya mau juga seperti mereka, tapi gimana. Saya usahanya minim. *Jangan dicontoh, readers. Memang betul, Usaha tidak mengkhianati hasil. Gimana gak minim, setelah sakit kemarin, saya seperti kurang cekatan, gercep, dan enerjik. 😀 *merasamu deh, Ning. Wkwkwk… Tekanan darah saya turun naik, readers. Kadang 80/60, 90/70, yaa main-main di situlah. Dan hal itu membuat orang tua saya sedikit panik. *Maafkan anakmu ini, Ma Pa. Mereka meminta saya untuk menjaga kondisi badan dengan banyak minum susu beruang, makan coto/konro, dan satu, TIDAK BEGADANG. Bagaimana bisa selesai ni proyek kalau tidak begadang, Ma Pa. Tapi, saya tidak menyalahkan mereka. No no no. Saya aja yang kurang pandai mengatur waktu dan diri. Gimana Allah mau kasih jodoh kalau saya masih begini. Eh, pembahasan jatuh ke situ lagi. Wkwkwkwk.

Ya, jalan orang memang berbeda. Saya dengan kehidupan saya, orang lain dengan kehidupannya sendiri. Mungkin kemarin saya terlalu menggebu-gebu memilikinya, tapi sekarang saya belajar untuk lebih memahami bahwa tidak selamanya hal yang menyenangkan yang kita dengar akan cepat terealisasi di depan mata. Iya, karena semuanya bisa saja terjadi, tapi waktunya tidak secepat apa yang kita inginkan. Tergantung cara kita mencintai Allah dan berusaha memperbaiki diri menjadi lebih baik, baik, dan baik lagi. 🙂

Seminar Usul Penelitian di Akhir April

DSC06640edit

Allah memberikan salah satu hadiah terindahNya tanggal 28 April 2016 untuk saya, ujian seminar usul penelitian. Ya, dua minggu setelah 14 April kemarin. Alhamdulillah. Satu langkah telah terlewati untuk menuju tahap-tahap selanjutnya. Terima kasih untuk para gadis di foto ini yang telah meluangkan waktunya menghadiri seminar saya hingga selesai. 🙂 Semoga kita dapat berwisuda bersama-sama ya. Secepatnya lah kalau perlu. Aamiiin. 🙂

Alhamdulillah, alhamdulillah. Tahap awal yang rasanya sulit sekali untuk berada di titik ini. Namanya juga mahasiswa tingkat akhir, harus penuh dengan pengorbanan dan perjuangan. Kan datang ke Makassar untuk belajar, bukan to do nothing. Ya kan? Sulit karena memang kesalahan saya sendiri. Sebagai mahasiswa itu memang sudah harus menyiapkan diri tentang apa yang mau diteliti untuk di semester akhir nanti. Bukan pada saat sudah semester akhir baru memulai mencari-cari masalah penelitian. Akibatnya? Seperti saya. Yaa, terkesan agak sedikit terlambat karena waktu ujiannya  berada di penghujung April.

Hari-hari menjelang ujian, perasaan terasa tidak tenang, tidak bersemangat, galau dan segala hal negatif lainnya. Rasanya seperti belum siap saja. Syukurnya, masih ada teman-teman yang mau merangkul untuk jalan bersama-sama. Iya, Ucha, Kak Sahlim, Kak Asdar, dan Kak Satang. Sebelum menjelang hari ujian, kami latihan presentasi. It’s very helpful. Kami yang kadang berlakon secara bergantian sebagai pembimbing dan penguji, ada canda tawa di sela-sela latihan, dan banyak masukan saran dan kritikan yang diperoleh selama latihan. Semuanya memberikan kenangan tersendiri selama proses menuju ujian proposal. Kalau ujian hasil, kita latihan bareng lagi ya. Aamiin.

3373

Tiba di hari H, alhamdulillah semuanya berjalan dengan baik. Thank you bantuannya, teman-teman. Kak Sahlim dan Echa yang udah repot-repot ngurus kue, Ucha yang sibuk urus makanan dan ngasih bantuan ke saya selama presentasi, Sofyan dan kak Fay yang udah ngangkat sedos air mineral, Eman yang udah pagi-pagi harus ke Holland ngambil roti, Riri yang udah repot jadi seksi dokumentasi, Dina yang udah bantu statistik di proposal. Oh iya, Kak Arni, Idha, Kak Satang, Desty, Aya, Inna, Kk Fitri, Ussy, Kak Deasy, Kk Yandri, Hikma, Kak Isra, Nila, Dian, Kiky, Kak Rossi dan Vivy yang stay sampai saya selesai seminar, juga Kak Asdar yang datang terlambat. Thank you thank you, gaes. Hehehe. Memiliki sahabat, teman seperjuangan seperti kalian itu rasanya gimana ya. Speechless dah. Thank you for supporting each other.

Walaupun masih banyak perbaikan sana-sini, saya masih harus tetap semangat. Ini belum akhir perjalanan. Masih awal, Ning. 🙂 Harus kuat. Tapi, sekuat-kuatnya Nining, tetap akan nangis juga. 😀 Gimana nggak menangis, selesai seminar, ada SMS dari Pak Sekprodi di Baubau, kata beliau, “SEMANGAT.” Langsung saya telpon beliau. Eh, tiba-tiba Beliau manggil Pak Pardi untuk bicara sama saya. Gimana gak terharu dan sedih. Kalau ingat wajah dan senyuman Pak Pardi selalu rasanya pengen nangis aja. Hati saya terlalu sensitif mungkin. Jadinya cengeng. Ning Ning. Senang sekali mendengar suara-suara riang dari ruangan prodi bahasa Inggris di sana, iya walaupun cuma berbicara dengan Pak Pardi, Pak Baharuddin Adu, Dianti, dan Iphank. Itu sudah hal yang lebih dari cukup dari mereka yang menyayangi saya. :’)

Terlepas dari semua hal di atas, ada dua sosok yang paling care terhadap saya. Mereka yang berdoa untuk keberhasilan saya di ujian ini, tapi tak terpublikasikan. Mereka  yang khawatir akan kegusaran saya menjelang hari ujian, tapi selalu dan tak pernah bosan memberi nasehat membangun untuk diri saya. Mereka yang masih mau berkorban untuk saya hingga mencapai di titik ini. Maaf, Ma Pa. Masih ujian proposal, itupun masih banyak yang harus direvisi. Mudah-mudahan bisa secepatnya diselesaikan dengan baik. Makasih, Ma Pa. :’)

Cerita Pagi di Kampus Merah

Terbesit keinginan untuk menikmati pagi di kampus merah ini. Tidak sendiri, namun bersama teman sedaerah yang sedang melanjutkan studi juga di kampus yang sama namun berbeda program studi. Sebut saja namanya Nova. 😀 Kami berjalan menyusuri jalanan yang dijejeri pepohonan rindang. Tidak berlari, namun berjalan.

12669489_10204392466046312_6729171954049293022_nBerjalan sambil bercerita tentang jalan kehidupan masing-masing. Kami memiliki cerita yang beragam. Mulai dari kehidupan keluarga, pendidikan, hingga asmara. Ya, topik-topik tersebut mendominasi pagi ini. Alasannya adalah karena mereka memang menarik untuk dibahas.

Tentang keluarga, bagaimana berbedanya karakter dan fisik kami sebagai anak pertama di antara para adik. Salah satu cerita yang kami angkat tadi adalah bagaimana saya di antara saudara-saudara yang lain. Ya, saya memiliki dua saudara kandung. Di antara kami bertiga, saya adalah anak perempuan yang tingginya paling semampai, semeter tak sampai. 😀 Sedangkan, anak kedua dan ketiga, untuk modal tinggi itu, cukuplah. Saya juga heran mengapa cuma saya yang kecil di antara mereka-mereka yang cukup tinggi. ‘Tiny banget’. Walaupun demikian, saya bersyukur. Tetap toh, harus bersyukur. 🙂 Hehehe.  Nova dan saya saling berbagi untuk cerita-cerita seperti itu dan jarang untuk tidak menertawainya bersama.

Berbicara tentang pendidikan. Pendidikan yang kami tempuh untuk mencapai di titik S2 ini adalah hasil jalan hidup kami yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Dengan biaya sendiri alias dari orang tua, kami toh sampai juga di tahap akhir semester. Kami sempat berharap akan ada beasiswa setelah terdaftar sebagai salah satu mahasiswa pascasarjana di kampus ini. Namun Allah masih belum memberikan rezeki itu walaupun kemarin kami sempat mengikuti proses penyeleksian beasiswa, seperti Tanoto dan Bakrie. Alhasil, kami belum berhasil. Secara pribadi, saya sempat kecewa mengapa beasiswa bukanlah salah satu rezeki yang saya miliki. Namun, saya tetap menyadari bahwa Allah pasti tahu yang terbaik untuk saya. Dan hasil perbincangan bersama Nova tadi, ceritanya semakin menegaskan saya bahwa memang Allah itu Maha Adil. Nova bercerita bahwa mungkin Allah tidak memberikan beasiswa kepada kami, namun Dia memberikan rezeki itu lewat orang tua. Mengapa? Agar kami selalu mengingat bahwa melanjutkan sekolah ini karena pengorbanan orang tua. Hingga akhirnya, jika sukses nanti, kami tidak akan meremehkan orang tua, tidak merasa bahwa kesuksesan itu milik pribadi sendiri karena kami sendiri yang berusaha. Sempat teringat apa yang dikatakan ayah (Pak Chay) sebelum kami menginjakkan kaki di kampus ini. Beliau sempat memberikan petuah pada kami. Kira-kira seperti ini, jika Allah telah mengizinkan kalian untuk melanjutkan sekolah. Percayalah, jalan itu akan selalu ada. Dan iya, terbukti sekarang. Rezeki alhamdulillah ada. Yaa, rezeki datangnya kapan dan di mana saja. Dan jalan untuk mencapai tujuan kami berada di kampus ini sedikit lagi tercapai. Butuh doa dan usaha lebih lagi. Semoga semuanya berhasil. Aamiin yaa rabbal alamiin. Sempat tidak menyangka juga bahwa dengan keadaan yang seperti ini, kami bisa juga melewati semuanya satu per satu, tahap per tahap.

Di dalam kesempatan ini, saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada orang tua saya. (Walaupun hanya lewat tulisan). Terima kasih karena sudah mengikhlaskan anakmu untuk sekolah walaupun banyak pengorbanan yang dilakukan untuk mencapai cita-citanya. “Tidak mungkin juga kami membiarkan kalian hanya melihat teman-teman lain lanjut di kala kalian juga ingin lanjut. Toh juga kalian kalau belajar pasti membawa hasil. Yang penting kalian jadi anak penurut itu saja sudah cukup bagi kami,” kata papa via telepon sore tadi. Papa ee, bisa saja berkata-kata. Jadinya nangis kan nih.

Last but not least. Kami percaya Allah telah memberikan jalan untuk jodoh kami masing-masing. Kami hanya harus memperbaiki diri lagi menjadi lebih baik. Memantaskan diri agar menjadi pantas memiliki jodoh yang telah diridhai oleh Allah. *Kalau masalah ini, tidak perlu dibahas banyak ya. Cukup tahu saja bahwa hal ini adalah lumrah di saat kami menginjak usia 20-an.

Pagi memang selalu memberikan warna tersendiri.
Untuk hidup yang lebih baik.
Optimislah, Ning!
Usahakan selalu berada di jalanNya.
Karena Allah selalu berada di sampingmu. 🙂
Aamiin Yaa Rabbal Alamiin.

 

Pertemuan Akhir Tahun

Left2right: Kk Asdar, Kk Yandri, Ning, Hikma, Arini, & Kk SahlimLeft2right: Kk Asdar, Kk Yandri, Ning, Hikma, Arini, & Kk Sahlim

“Tidak terasa kami sebagai para mahasiswa yang sedang melanjutkan studi telah berada di akhir Semester 3. Itu tandanya status kami berubah menjadi mahasiswa tingkat akhir, yang akan berjuang menyelesaikan pendidikan formal ini menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama, khususnya di bidang ilmu yang kami tekuni, pendidikan bahasa Inggris. Alhamdulillah. Semoga semuanya berjalan dengan lancar. Aamiin.”

Perjalanan yang kami lewati hari kemarin (25 Desember 2015) dimulai dengan menghadiri akad nikah teman sekelas kami, Kk Ayz, di sekitar Jl. Latimojong. Awalnya ragu kalau kami tidak bisa menghadiri acara tersebut karena cuaca di Kota Makassar yang hujan terus-menerus. Alhamdulillah, hujannya reda sekitaran pukul 11.00 WITA. Dan kami pun memutuskan untuk melanjutkan rencana ke Jl. Latimojong.

Kk Ayz terlihat cantik sekali dalam balutan busana adat Makassar kehijau-hijaunnya. Bersama pasangannya, terlihat sangat serasi sekali. Subhanallah. “Kak Ayz, semoga rumah tangganya samawa ya. 🙂 “

Selepas shalat Jum’at, kami pun izin pamit ke Kk Ayz dan keluarga. Ya, kami melanjutkan perjalanan ke rumah Kk Yandri. Di sanalah kami merangkum semua cerita perjalanan masing-masing secara garis besar. Cerita diawali dengan kisah percintaan (yang ini lama pembahasannya) oleh salah seorang teman kami :D, kemudian dilanjutkan dengan kisah kehidupan kampus dari semester 1 hingga semester 3; bagaimana kami di kelas bersama para dosen. Duka dan suka itu pun muncul di tengah-tengah kami saat itu. Ya, kami memiliki kisahnya masing-masing. Si pengundang tawa, Kk Asdar, banyak memberikan kontribusi cerita yang akhirnya membuat kami tidak bisa menahan rasa tawa kami untuk diekspresikan. 😀

DSC_0145

Kalau saya tidak salah, kesimpulan dari sekian banyak cerita yang diutarakan bahwa Benar, skenario Allah itu adalah skenario terbaik. Allah telah mengatur semua jodoh, rezeki dan kematian umatNya. Lagi dan lagi, semua kembali kepada Allah. Sekeras apapun kita berusaha, sejauh apapun kaki melangkah, jika Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan, ya mencoba berjiwa besar. Ada hikma di balik semuanya. Saya ingat apa yang dikatakan salah satu guru SMA terbaik saya, kata beliau, “Jangan pernah membenci Tuhan. Beraninya jika kau menyalahkan Tuhan.” Jleebb.

Inilah pertemuan kami di akhir tahun. Entah kapan lagi kami bisa seperti ini. Menyibukkan diri dengan tesis pasti akan membuat kami jarang berkumpul lagi. Namun, semoga hal ini akan membawa kami pada saat yang bersamaan untuk memakai toga. Terima kasih, teman-teman. You have colored my life experiences. 🙂

Setidaknya, pertemuan akhir tahun ini memberikan banyak pelajaran hidup yang kami tidak dapat temui di buku-buku perpustakaan. Hanya dengan berbagi cerita bersama teman menjadi salah satu obat untuk menjadi lebih baik. 🙂 In addition, kami bersyukur kepada Allah bahwa akhirnya telah ada kejelasan untuk semuanya agar di awal tahun depan nanti kami sudah bisa mengetahui apa-apa saja yang menjadi prioritas kami.

Si Anak Kedua
Si Anak Kedua

*Special note for my beloved sister, Arini.
Thank you for being my sister. Thank you for still regarding me as your sister. Maaf, selama ini saya banyak buat salah. Smoga saya dapat menjadi lebih baik lagi. Dirimu juga. Mudah-mudahan Allah memberikan rezeki dan jodoh yang baik untukmu. Aamiin.

Promosi Doktor Lee Juyoung di Universitas Hasanuddin

Bersama Dr. Lee Juyoung dan Yuli Yastiani, M.Hum
Bersama Dr. Lee Juyoung dan Yuli Yastiani, M.Hum

Dr. Lee Juyoung, B.A., M.A. adalah salah seorang lulusan Program Doktor (S3) Ilmu Linguistik yang hari ini (17 Desember 2015) telah melalui tahap Ujian Promosi Doktor Terbuka di Aula Prof. Mattulada Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin (Unhas). Promosi doktor Oppa Juyoung dihadiri oleh ayah, saudara laki-laki Oppa, para guru besar, dosen dan mahasiswa FIB Unhas. Suasananya sangat menyenangkan sekali karena banyak hal yang dapat dipelajari dari seorang doktor muda, Dr. Lee Juyoung.

Disertasinya yang berjudul ‘Keergatifan Bahasa Barang-Barang sebagai Petunjuk Genealogi bagi Kelompok Wotu-Wolio:  Berbasis Program Minimalis’ mampu membawa Oppa Lee Juyoung sebagai salah satu lulusan doktor yang unggul. Dipromotori oleh Prof. Hamzah, Prof. Moses dan Prof. Darwis dan diuji oleh Prof. Hakim, Ibu Dr. Kamsinah dan Penguji eksternal,  Dr. Yassir (Universitas Atmajaya).

Ada salah satu hal yang saya kagumi dari semua hasil kerja keras Oppa Juyoung ini, yaitu ketika Prof. Dr. Abdul Hakim Yassi, Dipl. TESL., M.A. (sebagai penguji) sempat menawarkan Oppa Juyoung menjadi dosen FIB di Universitas Hasanuddin. Dengan keramahannya, Oppa Juyoung mengucapkan ‘Iye. Terima kasih.’ Namun sayang, Oppa Juyoung telah ditunggu kehadirannya di Universitas Hankuk Korea Selatan. *ditawari pekerjaan, menn… Tawaran itu datang ketika hasil karya, kerja keras dan kesungguhan berjalan seirama. Semoga Allah meridhoi langkah ini. Aamiin.

Menuliskan tentang Oppa Juyoung di sini, bukan karena modus tersembunyi. Hehehe. 🙂 Namun, saya melihat sebagai salah satu motivasi dan renungan bagi saya sendiri dalam menjalani kehidupan akademik.

Dapat dibayangkan seorang warga negara asing mau meneliti bahasa Barang-Barang yang merupakan salah satu bahasa daerah di Pulau Selayar dan salah satu rumpun bahasa Wotu-Wolio, di mana status keberadaan bahasa tersebut adalah hampir punah. Seorang warga asing yang berasal dari Korea Selatan mau jauh-jauh meneliti bahasa Barang-Barang yang hampir punah, yang letaknya ada di Pulau Selayar, Indonesia. Ini menunjukkan adanya kepedulian dari Dr. Lee Juyoung sebagai warga negara asing terhadap keberadaan bahasa daerah ini. Dan saya tentunya sebagai warga negara Indonesia yang memiliki bahasa daerah yaitu bahasa Wolio, apa yang saya telah lakukan untuk melestarikan bahasa daerah tersebut? Saya rasa masih belum banyak, malah kayaknya belum ada. Padahal bahasa daerah sendiri dapat menjadi ciri identitas diri. Lain halnya dengan Kakak senior saya, namanya Kak Yuli Yastiani. Kaka Uli, panggilan akrabnya, merupakan salah satu lulusan Program Magister (S2) Linguistik Unhas. Tesisnya yang mengangkat bahasa daerah membuat saya kagum terhadapnya. Dibimbing oleh Prof. Hakim dan Ibu Gusna, tesis Kk Uli yang berjudul ‘Makna Ideasional dalam Cerita Rakyat Buton: Kajian Linguistik Sistemik Fungsional’ mendapat apresiasi yang sangat bagus dari dosen pembimbing dan dosen penguji. Ini baru ada kontribusi untuk bahasa daerah di tanah kelahiran Kk Uli, yang kebetulan Kaka Uli dan saya berasal dari satu daerah yaitu Buton. Saya masih ingat apa yang dibilang Pak Kahar, ‘kita sebagai manusia ini harus bisa menjadi orang yang memberikan manfaat bagi orang lain.’  Tentunya manfaat dalam hal kebaikan yang positif.

Kembali ke Oppa Juyoung. Dalam melakukan penelitian ini, Oppa Juyoung telah mendalaminya dari jauh-jauh hari. Terlihat ketika Prof. Hamzah membacakan riwayat pendidikan Dr. Lee Juyoung, dari S1 telah mengambil Program Bahasa Indonesia sebagai bidang yang didalaminya, kemudian S2 mengambil Program Linguistik di Korea Selatan. Tak heran ketika berkomunikasi, Oppa Juyoung menggunakan bahasa Indonesia dengan sangat baik. Melanjutkan pendidikan S3 saja di Unhas ini, Oppa Juyoung telah menyiapkan segalanya dari jauh-jauh hari, terutama tentang penelitian yang akan dilakukan untuk menyelesaikan disertasinya. Nah ini, masalah ‘penelitian mahasiswa’ yang sempat dibahas secara ringkas tapi ‘mengena sekali’ oleh Prof. Hakim. Beliau bilang, kira-kira seperti ini, mahasiswa itu harus sudah siap dengan apa yang mau diteliti, perkaya pengetahuan dengan membaca jurnal. Jangan karena sudah mau dekat selesai masa studi baru mau memikirkan apa yang mau diteliti. *kodenya keras sekali, Prof. Memang benar, ini menjadi bahan renungan bagi saya khususnya yang sudah berada di status mahasiswa akhir. SEMANGAT, NING!!! Fokus fokus. Kata Prof. Hamzah, ‘Jangan terlalu banyak mengerjakan hal di luar apa yang akan dikerjakan. Fokus, fokus, fokus‘.

Left2Rigth: Kk Yuli Yastiani, Prof. Hamzah, Ning, Istri Prof. Hamzah, dan Dr. Lee Juyoung.
Left2Rigth: Kk Yuli Yastiani, Prof. Hamzah, Ning, Istri Prof. Hamzah, dan Dr. Lee Juyoung.

Menjadi seorang doktor muda di usia 33 tahun, Oppa Juyoung mendapat wejangan dari Promotornya, Prof. Hamzah Machmoed. Beliau menitip pesan bahwa jika sudah sampai di tahap ini sebagai doktor muda, pakailah ilmu padi. Makin berisi, makin merunduk. Jauhkan kesombongan dari dalam diri. Sekedar untuk diketahui, Oppa Juyoung tinggal di Maros selama menempuh pendidikan S3 di Unhas. Bisa dibayangkan kan? Butuh waktu sekitar 2 jam dari Maros untuk tiba di Kota Makassar. He has high motivation, guys. >.< Namanya juga orang belajar, harus ada pengorbanan yang besar untuk mencapai prestasi yang besar pula.

Left2right: Dr. Kamsinah, Prof. Hamzah, Prof. Hakim, Dr. Lee Juyoung, Prof. Bur, Ayah Dr. Lee Juyoung, dan Dr. Yassir
Left2right: Dr. Kamsinah, Prof. Hamzah, Prof. Hakim, Dr. Lee Juyoung, Prof. Bur, Ayah Dr. Lee Juyoung, dan Dr. Yassir

Once more again, Congratulation, Dr. Lee Juyoung!!! 🙂
You become one of inspiring people how to be a good academician. 🙂

ICE-ed 2015, International Conference on English and Its Educational Dynamics

ICE-ed 2015, International Conference on English and Its Educational Dynamics, is 1st international conference held by English Department Faculty of Letters, Hasanuddin University. It was on 26 – 27 September 2015 at Prof. A. Amiruddin Auditorium, Hasanuddin University, Makassar, Indonesia.

NingSyafitri

The topic was about ELT Practices in Asia: Challenges and Opportunities. This gives us a chance to enrich our knowledge, visions, and researches related to English teaching and learning today. The topic was good enough to get attention from people who want to join. It was proved by many members, whether they were as participants or presenters, came not only from Makassar, but also Banjarmasin, Pekanbaru, Malaysia, Yogyakarta, Ambon, Mataram, Kupang, Kendari, Kediri, Gorontalo, Palopo, Bandung, Semarang, Japan, etc.

It was also supported by the presence of the keynote and plenary speakers, namely:

The Speakers and The Committees
The Speakers and The Committees
  1. Dr. Jonathan Newton as the keynote speaker (He is a senior lecturer in school of Linguistics and Applied Linguistics, Victoria University of Wellington)
  2. Dr. Hywel Coleman as the plenary speaker (He is Honorary Senior Research Fellow in the School of Education, University of Leeds, UK)
  3. Dr. Thi Thuy Minh Nguyen as the plenary speaker (She is an assistant professor at the National Institute of Education, Singapore) *She is still young to be a Doctor. What a wonderful woman! >.<. By the way, it is her first time to be a plenary speaker in an international conference.
  4. Dr. Willy A Renandya as the plenary speaker (He is a senior lecturer at the English Language and Literature Departments, National Institute of Education, Singapore)
  5. Leah Karels as the featured speaker (She is the English Language Fellow for Hasanuddin University in Makassar)
  6. *Additional info. 😀 Left to right: Kak Farisatma (an ELS Student of Unhas), Ibu Dra. Nasmilah Imran, M.Hum, Ph.D (The Conference Chair), Nining Syafitri (an ELS Student of Unhas), Ibu Dr. Hj. Sukmawaty, M.Hum (one of committees).

The speakers were very humble and nice. They responded some questions from participants that concerned to the certain topic of English education. Also, they had good abilities in presenting their materials. I think they study whenever wherever. They look sooooo coolll. Hehehe… I mean, the educated people like them are needed to be inspiring educators and researchers, how we have passion to learn, teach learners, and research about English education and its components so we can increase our quality to be a professional educator and give theoritical and practical contribution to English education world.

Unfortunately, in this conference, I was only one of participants, not a presenter. Hehehe. Actually, I want to be a presenter but I do not have enough preparation. Hopefully, in the next chance, I will be a presenter.

PhotoGrid_1443363230225

I like the situation of conference, academic situation. 🙂 There were many friends of me that joined in this conference so I did not feel lonely. They were Hikma, Kak Monic, Kak Yandri, Sani, Ucha, Kak Ayz, Destri, Sofyan, Kak Fai and Eman. Thank you for the laughter and the togetherness, guys.

Before I end my writing, I want to say a special thank for my lecturer, Bapak La Ode Supardi, S.Pd., M.Pd. for his kindness me related to the conference. I hope this can be a precious experience for improving my competence and performance in English education. Thanks, Pak. 🙂

Last but not least, my impression for the conference is overall is good, although there are some parts that must be improved. It is maybe caused by this is the first conference but I appreciate the work of the committees, the international conference is one of your prestige work, at least you have presented to us and proved that you did into reality, not just a dream . Congratulation. 🙂

Cognitive and Affective Ability towards Language Acquisition

Introduction
In Douglas Brown’s book, Principle of Language Learning and Teaching Fifth Edition page 33 chapter 2 in paragraph 1 line 5, it states that “language was just one manifestation of the cognitive and affective ability.” It means that language and human cannot be separated. How human gets first language, then it is produced to communicate with others and it will affect human’s life. The statement inspires the writer to take “Cognitive and Affective Ability towards Language Acquisition” as the topic to be discussed.

Discussion
Language is used by human as a tool of communication. But, we, as a human, cannot have language directly because we have to get language learning process firstly. Hurford (2004) said that the first thing that comes to mind is our own native language. Language is taught to us since we are infant and continues on as we grow up by the environment, interaction and discourse as Brown’s statement, children are then shaped by their environment …. children learn to function in a language chiefly through interaction and discourse. So, first language acquisition is affected by environment, interaction and discourse.

Related to cognitive and affective ability, first language is also affected by them. Brown states that all human beings are genetically equipped with abilities that enable them to acquire language. Also, Klein (1986) states that first language acquisition is intimately bound up with the child’s cognitive and social development. How human produces language, it depends on their cognitive and affective ability.

Based on the writer’s experience, the writer has a young sister. Now, she is 12 years old. Her name is Nala. The writer still remember when Nala was still a baby. It happened when the writer was invited by her father to go around the city at evening with Nala. On the way, they looked many lights in the streets and the writer called Nala to look the lights while the writer said ‘Waahh, so many lights’. So, Nala tried to pronounce it with ‘mpu, mpu.’ But, now, she is 12 years old, the way of her language has been different when she was a baby. She has pronounced ‘a light’ perfectly. The writer thinks that the language we have, it is caused by the development of cognitive and affective ability we have. The development of human is followed by the development of cognitive and affective ability themselves.

Another experience that the writer wants to share in relation with the topic is the writer’s way in writing in a written language. The writer likes writing on a blog. She started it since 2009. She feels that the writing style in 2009 (18 years old) and now (23 years old) is different. At the first year, when the writer wants to write ‘I’ into Indonesian language, it was ‘akkuuhh, guee.’ It is like ‘alayer’. But, now ‘I’ becomes ‘saya.’ The writer feels the writing style is more focused, as well the language use. These changes are caused by many experiences to the writer when she starts to write a blog. There are many friends (bloggers) and good articles which surround her, so it brings the new comprehension how she writes. It is supported by the statement of Moghaddam and Araghi in their journal about Brain-Based Aspects of Cognitive Learning Approaches in Second Language Learning, “…after an environment is created and the methods are appropriate in the manner of the brain’s learning process, students will not need much instruction, they will be able to understand and do activities on their own.” So, in this case, the quality of language of human is generated by cognitive and affective ability.

Conclusion
Language is generated by human with paying attention to the ability than human has, especially at the first language. In accordance with the statement in Brown’s book that states ‘language was just one manifestation of the cognitive and affective ability’, it can affects the quality of language. There is combination between cognitive and affective ability to produce language. The trained ability of a person, the better way of human generates language.

REFERENCES

Brown, H, Douglas. 2007. Principles of Language Learning and Teaching, Fifth Edition. USA. Pearson Education, Inc.

Hurford R, James. 2004. Human Uniqueness, Learned Symbols and Recursive Thought. www.lel.ed.ac.uk/~jim/europeanreview.html. (September 17, 2014)

Klein, Wolfgang. 1986. Second Language Acquisition. New York. Cambridge University Press.

Moghaddam N, Alireza and Seyed M. Araghi. Brain-Based Aspects of Cognitive Learning Approaches in Second Language Learning. Journal of Canadian Center of Science and Education. (6). 55-61.

Thank You, Class A of ELS Program Hasanuddin University 2014

Hello, World! 😀

In this chance, I post my journey in my first semester in ELS Program Hasanuddin University.

In 2014, ELS Program has about 53 new students. We are divided into two classes. The students who have odd student’s numbers are in Class A, and even student’s numbers are in Class B. So, Class A has 27 students and Class B has 26 students.

As we know, ELS Program has three concentrations. They are Education, Literature and Linguistics Concentration. I choose Education Concentration. For this semester (1st semester), we have three basic courses (English Phonetics and Phonology, Morphosyntax and Transformational Generative Grammar, Semantics and Pragmatics) and two courses about our concentrations.

Left2Right: Echa, Eka, Ning, Mala, Kk Sahlim, Ikhwan, Ussy, Kiky, Desty, Kk Deasy, Kk Nana, Salmah, Kk Mul, Kk Lewi, Sapta, Kk Alim, Destri, Kk Kiky, Afny, Kk Ratih, Kk Asdar, Riri, Kk Aiz, Kk Faika, Fadhly and Kk Suaib
Left2Right: Echa, Eka, Ning, Mala, Kk Sahlim, Ikhwan, Ussy, Kiky, Desty, Kk Deasy, Kk Nana, Salmah, Kk Mul, Kk Lewi, Sapta, Kk Alim, Destri, Kk Kiky, Afny, Kk Ratih, Kk Asdar, Riri, Kk Aiz, Kk Faika, Fadhly and Kk Suaib

Fortunately, I belong to Class A. The class which always makes me happy, comfortable and relaxed. Thank you, guys, for your friendship. Nyamanna’. Hehehe.

In Class A, there are 9 students in Education Concentration, 9 students in Linguistics Concentration and 8 students in Literature Concentration. We have same schedule in the three basic courses and different schedule for courses that related to our concentration. And do you know? I always feel lively with them.

Because we are at the end of this semester and we will not be in same class anymore for next semester, on Desember 21, 2014 (Sunday), we had a plan to go to Salmah’s house in Samata, Gowa. We had a family picnic and studied together because we would have a final test for TG Grammar by Prof. Manda.

Kerja, kerja, kerja :D
Kerja, kerja, kerja 😀

In Salmah’s house, we helped Salmah’s mother to make Sup Ubi in the kitchen. When everything has been done, we ate together. What a nice togetherness. After eating, we took a rest for a moment and continued our next plan. That’s STUDYING TGG. We gathered to discuss about problems we had that related to TGG and Kak Mul as the teacher of TGG. *hihihihi… Sometimes it was serious, sometimes it was funny because of the cakes. 😀

Belajar di balik Berpose
Belajar di balik Berpose

After studying TGG, we were invited Salmah to take mangoes in her mango orchards. Wow, we got many mangoes.

Makasih mangganya, tante dan Salmah. :*
Makasih mangganya, tante dan Salmah. :*

Because the day would be dark, we asked for permission to go home to Salmah’s parents and Salmah. The service was very nice. We were happy there. Thank you, Salmah. :*

The next day, 22 December 2014, Monday. We had the final test of TG Grammar from Prof. Manda. On 09.00 p.m. the test was done and Prof. Manda was very on time. He has been in the room early. He is one of my favorite lecturers. I always observe him when he finishes his teaching, he always cleans all of his writing on whiteboard. I remembered what Pak Supardi said to me that after finishing your teaching, you should clean the writing on whiteboard. It gives a message that we must give a good impression for next class that want to use a room after we used.

Thank you, Prof. Manda for giving us the knowledge and taking photo with us.

With Prof. Manda after the final test
With Prof. Manda after the final test

Also, thanks to our great lecturers in this semester, Prof. Hamzah, Prof. Hakim, Prof. Noer Jihad, Mam Sukma, Mam Nasmilah, Mam Ria and Mam Etty for the great teaching and knowledge for us.

Thank you for my friends in ELS Program to give this experience, especially Class A.

I will miss our craziness, dumba-dumba ta if the lecturers want to point us to answer some questions, our presentations, and our discussions in class and LINE. Also, Class B. Thank you, guys. Keep this relationship and friendship, please.

Thank you, Ussi for these word and photos.
12726