Tag Archives: Makassar

Tere Liye: Pulang

Pulang: Tere Liye

“…. Sungguh, sejauh apa pun kehidupan menyesatkan, segelap apa pun hitamnya jalan yang kutempuh, Tuhan selalu memanggil kami untuk pulang. Anakmu telah pulang.”
(Tere Liye, p. 400, 2016)

Penulis: Tere Liye
Judul Buku: Pulang
Penerbit: Republika
Penerbit: Jakarta
Cetakan: XXIII, November 2016
Dimensi: iv + 400 halaman; 13.5 x 20.5 cm

‘Pulang’ adalah salah satu hasil karya Tere Liye yang kembali berhasil mencuri perhatian saya untuk menuliskan kembali sedikit kisah dan kesan tentangnya. *Aduuuh, Bang Tere, ajarin Neng dong menulis. Kereeennn  selalu ya kalau baca novel Abang. Serasa ikut berada di dalam cerita, Bang. Emejing, Bang Tere. >.<

Kali ini, Bujang, Si Babi Hutan, anak pedalaman rimba Sumatra yang menjadi peran utamanya. Bujang merupakan anak dari Samad, si Tukang Pukul keturunan perewa dan Midah, anak seorang guru agama, yang kemudian dibawa oleh Tauke Muda, salah seorang penguasa shadow economy yang paling berpengaruh di ‘dunia’ tersebut. Namun, kepergian Bujang bersama Tauke Muda kurang mendapat respon positif dari Mamak Bujang sehingga acap kali timbul perselisihan antara kedua orang tua Bujang. Suka tidak suka, mau tidak mau, Mamak harus menerima keputusan Bapak untuk menyuruh Bujang mengikuti Tauke Muda. Pada akhir perjalanannya, setelah melewati serangkaian perjalanan hidup yang penuh dengan tantangan, pengkhianatan dari pihak internal keluarga Tong, dan kehilangan orang-orang yang disayanginya, Bujang tumbuh menjadi sosok yang kuat dan tangguh, juga menjadi pewaris penguasa shadow economy keluarga Tong di seluruh kawasan Asia Pasifik.

Do you know? Proses perjalanan seorang Bujang di dalam novel ini, Bang Tere nulisnya WOW WOW WOW. Do you want to feel that? Let’s read this novel. >.<

Satu hal yang menarik dari Bujang adalah walaupun julukannya sebagai si Babi Hutan di Keluarga Tong, dia selalu mengingat dan menunaikan pesan Mamaknya untuk tidak menyentuh makanan haram dan minuman beralkohol sekalipun. Walaupun cuma sebuah novel, hal ini mengingatkan kita kembali bahwa pesan/nasihat yang disampaikan oleh orang tua kepada kita sebaiknya dipatuhi dan dijalankan dengan baik karena semua itu akan memberikan hal-hal yang positif bagi anak-anaknya. Orang tua mana yang mau anaknya tidak baik. Tidak ada kan? *eeeaaa… >.<

‘Pulang’, novel yang memberikan pesan kepada kita sebagai sang penjelajah hidup dalam kehidupan kita masing-masing untuk tidak melupakan tanah kelahiran sejauh apapun kita melangkah pergi, untuk tidak melupakan orang tua sesukses apapun kita nanti, dan untuk tidak melupakan Tuhan sejauh apa pun kita menjauh dariNya. Ya, kita harus pulang.

“…. Sejatinya, dalam hidup ini, kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain, dan itu sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egoisme. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau bisa menang dalam pertempuran itu, maka pertempuran lainnya akan mudah saja. (Tere Liye, p.219: 2016)”

P.S.
‘Pulang’ adalah salah satu novel yang saya beli ketika masih berada di Makassar awal Januari 2017 dan hal ini menandakan telah selesainya saya menempuh perkuliahan selama dua tahun lebih di Kota Makassar. Yaps, novel ini sebagai tanda bahwa saya hendak kembali ke Baubau. Pulang. 🙂

Tentang Kamu – Tere Liye

Tentang Kamu - Tere Liye
Tentang Kamu – Tere Liye

“Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu, itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku. Cinta memang tidak perlu ditemukan, cintalah yang akan menemukan kita.

Terima kasih. Nasihat lama itu benar sekali, aku tidak akan menangis karena sesuatu telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi.

Masa lalu. Rasa sakit. Masa depan. Mimpi-mimpi. Semua akan berlalu, seperti sungai yang mengalir. Maka biarlah hidupku mengalir seperti sungai kehidupan.”
(Tere Liye – Tentang Kamu)

 

Penulis: Tere Liye
Judul Buku: Tentang Kamu
Penerbit: Republika Penerbit, Jakarta
Cetakan: Kedua, Oktober 2016
Dimensi: vi + 524 halaman; 13.5 x 20.5 cm

Well, novel ini telah berhasil membuat saya berkali-kali menangis selama membacanya. Mungkin karena saya yang terlalu mendramatisir alur cerita atau saya yang terlalu sensitif. Entahlah, yang jelasnya, lagi lagi, Tere Liye menampilkan keahlian menulis novelnya dengan sangat AWESOME. *Bang Tere Liye, boleh skillnya ditransfer ke saya sedikit? I wonder how you become a very good writer, Sir.

Berbeda dengan novel karya sebelumnya, Hujan, yang bercerita tentang kehidupan di masa mendatang, Novel Tentang Kamu justru sebaliknya. Novel yang mengisahkan perjalanan hidup seseorang yang bernama Sri Ningsih di tahun 1946 – 2016 yang penuh dengan berbagai peristiwa kehidupan yang kadang saya pun tidak dapat menahan air mata *baper.

Perlu diketahui, Sri Ningsih di novel ini dideskripsikan sebagai wanita tangguh, periang, selalu berpikiran positif, rajin, tidak pernah mengeluh atas segala peristiwa pahit yang menimpa hidupnya dan satu lagi, sangat sangat sangat ikhlas. 😥 Kehilangan ibu sejak dia dilahirkan, kehilangan ayah ketika umur sembilan tahun dan dianggap sebagai ‘anak yang dikutuk’ oleh ibu tirinya, kehilangan adik tiri kesayangannya pada saat peristiwa pembunuhan massal oleh kaum komunis di Surakarta, kehilangan bayi pertama ketika melahirkannya dan bayi kedua yang hanya hidup beberapa jam saja akibat golongan darah Sri dan suaminya yang berasal dari Turki, dan terakhir adalah kehilangan suami yang dia cintai akibat sakit yang dideritanya. Sungguh, tiap episode cerita seorang Sri Ningsih membuat penasaran halaman per halamannya.

Adalah Zaman Zulkarnaen, seorang lawyer muda berusia 30 tahun, mendapat mandat dari sebuah firma hukum tempat ia bekerja, untuk menyelesaikan masalah warisan salah satu klien yang telah meninggal dunia. Seorang wanita tua berusia 70 tahun, pemegang paspor Inggris, memiliki izin menetap di Perancis, dan selama belasan tahun terakhir tinggal dan aktif berkebun di panti jompo. Wafat tanpa meninggalkan surat wasiat dan belum diketahui siapa ahli waris dari nilai warisan sebesar satu miliar poundsterling atau setara dengan 19 triliun rupiah menjadikan kasus ini merupakan hal hebat pertama yang harus diselesaikan Zaman sebagai seorang lawyer dengan kinerja yang telah diakui oleh pimpinannya. Ya, seorang klien bernama Sri Ningsih, orang Indonesia pemegang paspor Inggris. Maka, cerita kehidupan Sri Ningsih dimulai dengan Zaman sebagai penelusurnya dalam Novel Tentang Kamu.

Terdiri dari 33 bagian cerita yang saling berkaitan dan sangat menarik untuk segera diselesaikan. Akhir ceritanya? Silahkan dibaca sendiri. Hati cenat-cenut pokoknya.

Kalau saya menjadi seorang Sri Ningsih kayaknya tidak bakalan sanggup. Walaupun hanya sebuah novel, tapi pelajaran hidupnya cukup memberikan makna tersendiri bagi saya pribadi. Sabar, ikhlas, lalui prosesnya. Lagi dan lagi, Allah telah mengatur segalanya. Tidak ada yang buruk untuk umatNya. He had decided all the best decision for us. Dan saya yakini itu. Tidak ada keraguan padaNya. In sha Allah. :’)

Sekali lagi, novel ini secara tidak langsung membawa pembacanya larut ke dalam cerita menjadi seorang Zaman Zulkarnaen, si pencari jejak kehidupan dan ahli waris Sri Ningsih, sang wanita tangguh Indonesia.

“…. Ketika kebencian, dendam kesumat sebesar apa pun akan luruh oleh rasa sabar. Gunung-gunung akan rata, lautan akan kering, tidak ada yang mampu mengalahkan rasa sabar. Selemah apa pun fisik seseorang, semiskin apa pun dia, sekali di hatinya punya rasa sabar, dunia tidak bisa menyakitinya. Tidak bisa. ….” (Hal. 48)

 …. Ibu Sri tersenyum padaku, berkata pelan, ‘Chaty, jadilah seperti lilin, yang tidak pernah menyesal saat nyala api membakarmu. Jadilah seperti air yang mengalir sabar. Jangan pernah takut memulai hal baru…’ (Hal. 278)

“Apa harta yang akan dibawa mati saat kita meninggal?” … Tidak ada, Sir, selain apa-apa yang kita belanjakan untuk kebaikan. Sisanya akan ditinggalkan, bahkan diperebutkan. (Hal. 430)

Simfoni Kehidupan Halim Homeric

Simfoni Kehidupan Halim Homeric
Simfoni Kehidupan Halim Homeric

“Sejatinya Beliau hanya ingin menyebarkan semangat bahwa kejujuran dan pengakuan ikhwal masa lalu akan memberikan rasa ringan, sekaligus kekuatan untuk terus berjalan ke depan. Andhy Pallawa”

Buku ini saya dapatkan secara cuma-cuma ketika acara bedah buku “Simfoni Kehidupan Halim Homeric” yang diadakan di Aula Prof. Mattulada Fakultas Ilmu Budaya Unhas pada tanggal 11 Agustus 2016. Sayangnya, saya tidak terlalu mengikuti kegiatan tersebut dari awal hingga akhir dengan baik karena satu dan lain hal. Pada awalnya, saya belum mengetahui sama sekali siapa sosok Bapak yang ada di dalam buku ini. Setelah saya baca bukunya, rupanya dehh, hebatnya juga dant Bapak Halim ini ee. You are inspiring.

Perlu diketahui bahwa Bapak Halim Homeric ini adalah seorang seniman yang pandai bermain biola, seorang keturunan Tionghoa yang lahir di Kaiping Tiongkok. Beliau memiliki peran penting pada bidang pendidikan dan budaya di Makassar. Penulis mengatakan bahwa Beliau banyak menciptakan lagu dan menerjemahkan lagu-lagu Makassar ke dalam Bahasa Mandarin. Hal ini dilakukan Bapak Halim untuk mengenalkan dan mendekatkan budaya kedua bangsa. Selain itu, terbentuknya Pusat Bahasa Mandarin di Universitas Hasanuddin tidak terlepas dari campur tangan Bapak Halim Homeric sendiri. Ya, pantaslah untuk dikatakan bahwa Bapak Halim Homeric dalam buku ini sangat menginspirasi. Beliau mengatakan beberapa hal pada bagian kata sambutan, “Bagi saya sebuah biografi harus menjadi cermin untuk berkaca bagi banyak orang, tentu saja dengan kelebihan dan kekurangannya. Terutama karena tak seorang pun yang sempurna, sehingga belajar itu bukan hanya pada keberhasilan dan kisah sukses tetapi juga pada alpa dan kekurangan. Belajar kepada kelebihan untuk menjadi contoh, dan belajar pada kekurangan agar tidak mengulang di masa depan.

Perjalanan seorang Halim Homeric yang tertuang dalam buku ini memberikan gambaran tentang bagaimana seseorang mampu bertahan hidup, berjuang, dan melawan kerasnya kehidupan dari titik nol hingga mencapai masa suksesnya, yang selalu semangat dan mengutamakan kejujuran. FYI, pada halaman-halaman pertama sukses buat saya nangis, readers. Kisah hidup Beliau waktu kecil yang memang mau tidak mau harus dilewati. Sebagaimanapun kerasnya kehidupan, harus bangkit berjuang.

Apalagi ada beberapa ungkapan Mandarin yang terselip, hal ini membuat cerita kehidupan Bapak Halim semakin sarat inspirasi. Salah satunya pada halaman 219 pada bagian Belajar Bijak dari Leluhur, “Jika kau bertemu dengan orang yang berbudi luhur, angkatlah ia sebagai gurumu, agar kau dapat menyamai kebaikannya. Jika kau bertemu dengan orang yang berbudi buruk, anggaplah dia sebagai cermin, agar kau dapat melihat dan menilai dirimu sendiri.

Ada satu hal yang membuat saya sangat sependapat dengan Bapak Halim, yakni tentang keyakinannya pada pendidikan yang dapat mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik. Terbukti, Bapak Halim berhasil menamatkan dirinya di Fakultas Sastra pada pendidikan tinggi jarak jauh Universitas Xiamen, Tiongkok, di tahun 1960. Dari situlah, kehidupan Bapak Halim mulai menuju ke arah yang lebih baik.

“Kemiskinan hanya bisa diperangi dengan ilmu pengetahuan, yang berarti bahwa bersekolah adalah keniscayaan. (Andhy Pallawa, Hal. 70)”

“Apapun yang terjadi, saya wajib merampungkan studi, karena hanya dengan cara ini saya berpeluang memperoleh penghidupan yang lebih baik. (Halim Homeric, Hal. 74)”

Ya, hal ini bahkan sangat terlihat jelas dalam Al-Qur’an. Ketika Allah berfirman dalam Surat Al Mujadalah ayat 11, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” Melalui ayat ini Allah menjelaskan kepada umatNya untuk menuntut ilmu demi kebaikan diri sendiri dan orang lain, sehingga ilmu yang kita dapat bermanfaat dengan baik dan menjadi salah satu bentuk amal baik bagi masing-masing individu. *Kira-kira seperti itu pandangan saya, jika ada yang salah mohon dibenarkan. 🙂

Nampaknya cukup sekian cerita saya tentang buku yang menginspirasi ini. Benar apa yang dibilang Prof. Burhanuddin Arafah tentang Bapak Halim Homeric, “Beliau memiliki pribadi yang ‘Islami’.” Walaupun secara pribadi saya belum pernah berkenalan langsung dengan Bapak Halim Homeric, lewat buku biografinya secara tidak langsung saya sudah berkenalan dengan Beliau. Terima kasih untuk ceritanya. Semoga Allah selalu melindungi Bapak. Sehat-sehat, Bapak Halim Homeric. 🙂

Jangan pernah membantah terutama kepada yang lebih tua walau kamu di pihak benar. Ingat, kamu orang miskin sehingga akan selalu dianggap salah. Pilihanmu tidak banyak, maka kamu harus rajin, dan berlaku jujur,” sambung ibunya. (Andhy Pallawa, Hal. 21) 😦

Judul Buku: Simfoni Kehidupan Halim Homeric
Penulis: Andhy Pallawa
Penerbit: Global Publishing
Cetakan: I Agustus 2016
ISBN: 978-602-6782-00-7

Bakmi RN Makassar: Enak e

Bakmi RN Makassar
Bakmi RN Makassar

Bakmi RN Makassar terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan KM 9, sekitar Outlet Brownis Amanda Perintis atau sebelah Astra Shop & Drive dan sebelum Coto Paraikatte dari arah pusat kota. Bakmi ala Raffi Ahmad dan Nagita Slavina ini menyediakan 9 menu yang recommended untuk dicoba, seperti 1) Bakmi Ayam Jamur, 2) Bakmi Ayam Lada Hitam, 3) Bakmi Ayam Popcorn, 4) Bakmi Rendang Rahmad, 5) Bakmi Empal Cabe Ijo, 6) Bakmi Calamari Spicy Mayo, 7) Bakmi Cumi Saus Padang, 8) Bakmi Spicy Omelette dan 9) Bakmi Nagitha. Harganya bervariasi, mulai dari Rp. 20.000 – Rp. 30.000. Oh iya, @bakmirn_makassar ini bukanya sampai jam 10.00 P.M. saja. So, guys, don’t be late to come here.

As you know, this is my first time to taste bakmirn_makassar dan deeeh rasanya itu ee, kayak mau lagi. Enak nah, tidak bikin eneg. Two thumbs up… Menurut pelayannya, yang paling recommended itu Bakmi Nagitha, tapi karena sudah habis, maka saya dan sepupu, Kk Lily, memesan Bakmi Cumi Saus Padang dan Bakmi Rendang Rahmad. Bagi saya, porsinya tidak sedikit dan cukup mengenyangkan. TOP deh. Rasanya mau ke sini lagi dan mencoba menu yang lain. Oh iya, kalau mau cari tahu info lebih lengkapnya, silahkan ke ig Bakmi RN Makassar di @bakmirn_makassar.

After having lunch, it’s time to take pictures. As usual, we must do it because if we did not do, it means that this was only hoax news. 😀 Kebetulan juga tempatnya lagi sepi, jadi yaa mau-mau kita ajalah. 😀 Semoga bisa ke sini lagi di lain waktu. Aamiin. 😀 Bagi yang belum mencoba, ayo ke Bakmi RN Makassar, in sha Allah tidak menyesal ji kasian. Hehehe. 😉

Kk Lily and Me in Bakmi RN Makassar
Kk Lily and Me in Bakmi RN Makassar

Pagi, Ramadhan!

Kita memiliki kehidupan yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Olehnya itu, rezeki, jodoh dan kematian yang Allah kasih akan berbeda-beda pula kuantitas dan kualitasnya.
Berbeda bukan berarti Allah berdiskriminasi.
Berbeda karena Allah tahu yang terbaik untuk hambaNya yang bertakwa.

Pagi yang tenang. Iya, cerah karena cuacanya tidak mendung. Duduk di sebuah bangku panjang bersama teman seperjuangan. Masing-masing di hadapan laptop dengan kepentingan yang berbeda. Teman saya sibuk mempersiapkan dirinya untuk ujian seminar proposal tanggal 22 Juni ini dan saya sibuk menulis tulisan ini. Tidak sempat bangun sahur karena bangun kepagian dan tidur terlalu malam, tidak menjadi halangan untuk tetap berkonsentrasi dengan apa yang ada di depan mata.

Sedikit menghilangkan penat dari proses pengerjaan hasil penelitian yang belum selesai di mana besok adalah jadwal bimbingan. Rasanya saya terlalu selllooowww sekali… -___- Berharap dapat wisuda September ini, tapi usahanya segini. Mana bisa. Tapi, saya harus yakin, in sya Allah bisa ujian hasil dalam waktu dekat dan dapat wisuda September ini. Yakin, positif, usaha, dan berdoa. Kenapa? Karena kalau saya terlanjur bilang “tidak bisa kejar wisuda September”, itu adalah kesalahan terbesar. Tidak boleh pesimis, Ning. Jalan saja. Positif saja. Kalau dapat September, alhamdulillah. Kalau tidak dapat September, juga alhamdulillah. Jalan Allah itu lebih baik dari apa yang kamu rencanakan, Ning.

Oh iya, bulan Ramadhan ini rasanya beda. Kayak gimana ya… Ada senangnya, ada sedihnya juga. Di pikiran saya itu, “tesis, tesis, tesis, tesis.”  Melihat teman seangkatan yang mau wisuda tanggal 29 Juni ini dan yang sudah ujian hasil, rasanya seperti disindir diri sendiri, “kamu kapan, Ning?” Rasanya mau juga seperti mereka, tapi gimana. Saya usahanya minim. *Jangan dicontoh, readers. Memang betul, Usaha tidak mengkhianati hasil. Gimana gak minim, setelah sakit kemarin, saya seperti kurang cekatan, gercep, dan enerjik. 😀 *merasamu deh, Ning. Wkwkwk… Tekanan darah saya turun naik, readers. Kadang 80/60, 90/70, yaa main-main di situlah. Dan hal itu membuat orang tua saya sedikit panik. *Maafkan anakmu ini, Ma Pa. Mereka meminta saya untuk menjaga kondisi badan dengan banyak minum susu beruang, makan coto/konro, dan satu, TIDAK BEGADANG. Bagaimana bisa selesai ni proyek kalau tidak begadang, Ma Pa. Tapi, saya tidak menyalahkan mereka. No no no. Saya aja yang kurang pandai mengatur waktu dan diri. Gimana Allah mau kasih jodoh kalau saya masih begini. Eh, pembahasan jatuh ke situ lagi. Wkwkwkwk.

Ya, jalan orang memang berbeda. Saya dengan kehidupan saya, orang lain dengan kehidupannya sendiri. Mungkin kemarin saya terlalu menggebu-gebu memilikinya, tapi sekarang saya belajar untuk lebih memahami bahwa tidak selamanya hal yang menyenangkan yang kita dengar akan cepat terealisasi di depan mata. Iya, karena semuanya bisa saja terjadi, tapi waktunya tidak secepat apa yang kita inginkan. Tergantung cara kita mencintai Allah dan berusaha memperbaiki diri menjadi lebih baik, baik, dan baik lagi. 🙂

Generasi 90an

Generasi 90an
Generasi 90an

“Generasi di mana imajinasi lebih mendominasi daripada teknologi.” (Marchella FP, 2013)

Judul Buku: Generasi 90an
Penulis: Marchella FP
Cetakan Kedua Maret 2013
Penerbit: PT Gramedia, Jakarta
Tebal: 144 Halaman

Terbitnya buku Generasi 90-an ini menjadi ajang nostalgia buat orang-orang, khususnya yang pada saat itu masih berada di bangku SD, SMP dan SMA di tahun 90-an, termasuk saya. 😀

Well, seperti apa yang dikatakan Mbak Marchella, buku ini membahas tentang segala hiburan di era 90an, seperti musik, tontonan, mainan, tren, jajanan, bacaan dan lain-lain. Ketika membaca buku ini, saya udah langsung senyum-senyum aja. Hahaha. Lucu. Teringat kenangan masa lalu, masa kanak-kanak yang memang paling berharga sekali. Kemarin masih banyak hiburan-hiburan yang masih bersifat non-digital, masih banyak berinteraksi dengan lingkungan sekitar, dengan alam, dengan teman-teman secara LIVE. Sekarang mah, anak-anak mainnya gadget, layar gadget terus yang diliatin. Itupun kalau kumpul sama teman-teman, gadgetnya yang diperhatikan, banyakan liat gadget daripada ngobrol sama teman, rata-rata sih gitu. 😀 Terlepas dari itu, buku ini menjadi salah satu sumber pembawa kenangan manis untuk kita yang ‘beredar’ di sekitaran tahun 1990-1999.

Buku yang berukuran 20 cm x 20 cm dan full color menambah semaraknya momen tahun 90-an itu. Saya waktu membaca buku ini, dari awal sampai akhir senyum terus, sedikit-sedikit ketawa. Yaa, kenangannya terlalu manis. Saya betul-betul menikmati masa-masa itu. Alhamdulillah. Masa kecilnya bahagia. Masih ingat dengan Majalah Bobo, Baju-Baju (BP-BP-an), Trio Kwek-Kwek, dan banyak lagi lainnya. Makasih, Mbak Marchella, udah menyelamatkan segala momen-momen itu di buku ini. Kenangannya tidak dapat diganti dengan apapun.

So, bagi yang ingin mau bernostalgia dengan masa 90-an, buku ini bisa menjadi salah satu rekomendasi untuk mengenang dan menyimpan kenangannya. Eeaa…

I’m proud of being Generasi 90an. 😀

Dilan, Dia Adalah Dilanku Tahun 1990

Dilan, Dia Adalah Dilanky Tahun 1990
Dilan, Dia Adalah Dilanky Tahun 1990

“Dilan mungkin tidak paham dengan teori bagaimana seorang lelaki harus memperlakukan wanita, tapi apa yang dia lakukan selalu bisa membuat aku merasa istimewa dan lain daripada yang lain. Menjadi wanita yang paling indah yang pernah kurasakan. Tanpa perlu berlebihan bagi dia untuk membuat aku merasa lebih.
Milea Adnan Hussain”
(Pidi Baiq, 2015, p. 273)

Judul Buku: Dilan, Dia Adalah Dilanku Tahun 1990
Penulis: Pidi Baiq
Cetakan XX, Desember 2015
Penerbit: Pastel Books, Bandung
Tebal: 348 Halaman

Hi, Dilan! Boleh berkenalan denganmu? Saya penasaran bagaimana rupanya kamu. Saya penasaran bagaimana kamu memperlakukan Milea dengan cara yang unik. Kamu tahu tidak? Kamu sosok pribadi yang menyenangkan, walaupun memang agak aneh. Humoris juga. Bagus lah. Mas Pidi Baiq pintar ya, udah nyiptain karakter kayak kamu, Dilan. Semoga Dilan dan Milea bahagia terus.

Yaps. Buku ini menceritakan tentang kisah cinta antara Dilan dan Milea dengan latar belakang Kota Bandung di tahun 1990. Kisah cinta anak SMA yang tidak seperti biasa tapi tidak membosankan, lucu, dan yaa ini tidak mengalaykan. 😀 Memang, ini Cuma sebuah fiksi, tapi kok rasa-rasanya saya penasaran sama sosok Dilan ya? Hehehe. Mudah-mudahan buku ini bisa difilmkan, yaa walaupun memang this is just a fiction. Melihat sosok Dilan yang nyata itu kayaknya lebih klop aja. Tapi ya sudahlah, Dilan will be always Dilan dalam sebuah buku Dilan, dia adalah Dilanku tahun 1990.

Menulis tentang buku ini bukan berarti saya modus ya. *ge-ermu, Ning e.* No. Saya cuma senang aja membaca buku ini. Bukunya gak menye-menye gimanaa gitu. Yaa, eleganlah kalau saya bilang. Elegan kayak bagaimana itu eee??? 😀 Cara Mas Pidi Baiq yang menulis cerita cintanya yang begitu wow wow, khususnya tentang cara Dilan memperlakukan Milea. Ada satu testimoni di buku ini, di situ @Rafodumeda bilang: “Ajaib, sepertinya ini bukan novel, tapi buku taktik menguasai wanita.” Tidak berusaha melebaikan, tapi this is about how I feel to this book. Bagi teman-teman yang mau baca, nantilah beli bukunya terus dibaca dan dinikmati alur ceritanya.

Selamat, Dilan. You are successful to steal my heart in this story. 😀

“Kekuatan cinta tak bisa cukup diandalkan. Untuk bisa mengatakannya, ada kebebasan bicara, tetapi keberanian adalah segalanya.” Pidi Baiq (1972 – 2098)

Seminar Usul Penelitian di Akhir April

DSC06640edit

Allah memberikan salah satu hadiah terindahNya tanggal 28 April 2016 untuk saya, ujian seminar usul penelitian. Ya, dua minggu setelah 14 April kemarin. Alhamdulillah. Satu langkah telah terlewati untuk menuju tahap-tahap selanjutnya. Terima kasih untuk para gadis di foto ini yang telah meluangkan waktunya menghadiri seminar saya hingga selesai. 🙂 Semoga kita dapat berwisuda bersama-sama ya. Secepatnya lah kalau perlu. Aamiiin. 🙂

Alhamdulillah, alhamdulillah. Tahap awal yang rasanya sulit sekali untuk berada di titik ini. Namanya juga mahasiswa tingkat akhir, harus penuh dengan pengorbanan dan perjuangan. Kan datang ke Makassar untuk belajar, bukan to do nothing. Ya kan? Sulit karena memang kesalahan saya sendiri. Sebagai mahasiswa itu memang sudah harus menyiapkan diri tentang apa yang mau diteliti untuk di semester akhir nanti. Bukan pada saat sudah semester akhir baru memulai mencari-cari masalah penelitian. Akibatnya? Seperti saya. Yaa, terkesan agak sedikit terlambat karena waktu ujiannya  berada di penghujung April.

Hari-hari menjelang ujian, perasaan terasa tidak tenang, tidak bersemangat, galau dan segala hal negatif lainnya. Rasanya seperti belum siap saja. Syukurnya, masih ada teman-teman yang mau merangkul untuk jalan bersama-sama. Iya, Ucha, Kak Sahlim, Kak Asdar, dan Kak Satang. Sebelum menjelang hari ujian, kami latihan presentasi. It’s very helpful. Kami yang kadang berlakon secara bergantian sebagai pembimbing dan penguji, ada canda tawa di sela-sela latihan, dan banyak masukan saran dan kritikan yang diperoleh selama latihan. Semuanya memberikan kenangan tersendiri selama proses menuju ujian proposal. Kalau ujian hasil, kita latihan bareng lagi ya. Aamiin.

3373

Tiba di hari H, alhamdulillah semuanya berjalan dengan baik. Thank you bantuannya, teman-teman. Kak Sahlim dan Echa yang udah repot-repot ngurus kue, Ucha yang sibuk urus makanan dan ngasih bantuan ke saya selama presentasi, Sofyan dan kak Fay yang udah ngangkat sedos air mineral, Eman yang udah pagi-pagi harus ke Holland ngambil roti, Riri yang udah repot jadi seksi dokumentasi, Dina yang udah bantu statistik di proposal. Oh iya, Kak Arni, Idha, Kak Satang, Desty, Aya, Inna, Kk Fitri, Ussy, Kak Deasy, Kk Yandri, Hikma, Kak Isra, Nila, Dian, Kiky, Kak Rossi dan Vivy yang stay sampai saya selesai seminar, juga Kak Asdar yang datang terlambat. Thank you thank you, gaes. Hehehe. Memiliki sahabat, teman seperjuangan seperti kalian itu rasanya gimana ya. Speechless dah. Thank you for supporting each other.

Walaupun masih banyak perbaikan sana-sini, saya masih harus tetap semangat. Ini belum akhir perjalanan. Masih awal, Ning. 🙂 Harus kuat. Tapi, sekuat-kuatnya Nining, tetap akan nangis juga. 😀 Gimana nggak menangis, selesai seminar, ada SMS dari Pak Sekprodi di Baubau, kata beliau, “SEMANGAT.” Langsung saya telpon beliau. Eh, tiba-tiba Beliau manggil Pak Pardi untuk bicara sama saya. Gimana gak terharu dan sedih. Kalau ingat wajah dan senyuman Pak Pardi selalu rasanya pengen nangis aja. Hati saya terlalu sensitif mungkin. Jadinya cengeng. Ning Ning. Senang sekali mendengar suara-suara riang dari ruangan prodi bahasa Inggris di sana, iya walaupun cuma berbicara dengan Pak Pardi, Pak Baharuddin Adu, Dianti, dan Iphank. Itu sudah hal yang lebih dari cukup dari mereka yang menyayangi saya. :’)

Terlepas dari semua hal di atas, ada dua sosok yang paling care terhadap saya. Mereka yang berdoa untuk keberhasilan saya di ujian ini, tapi tak terpublikasikan. Mereka  yang khawatir akan kegusaran saya menjelang hari ujian, tapi selalu dan tak pernah bosan memberi nasehat membangun untuk diri saya. Mereka yang masih mau berkorban untuk saya hingga mencapai di titik ini. Maaf, Ma Pa. Masih ujian proposal, itupun masih banyak yang harus direvisi. Mudah-mudahan bisa secepatnya diselesaikan dengan baik. Makasih, Ma Pa. :’)

Hello, 25!

“Usia 25 tahun bukanlah hal yang menakutkan untuk dianggap sebagai seseorang yang sudah cukup tidak muda lagi. Sudah saatnya dituntut dewasa dalam berpikir dan bertindak. Lebih bijak dalam menjalani hidup yang konteks permasalahannya semakin rumit. Ini tentang tanggung jawab untuk diri sendiri dan orang-orang terkasih. Tentang orang-orang yang telah mendampingi hidup saya selama 25 tahun, calon pendamping hidup, dan masa depan.” (Little Syafitri – 14 April 2016)

messageImage_1460573611312
Tawwa, Gugel. Care-nya sama saya. Terharuku. Hehehe…

Hello, 25! Seperempat abad ya di tahun ini, tahun 2016. Alhamdulillah masih diberi umur panjang untuk menambah amal kebaikan sebagai bekal di akhirat kelak walaupun dosa saya kayaknya lebih banyak dari semua kebaikan yang dilakukan selama ini. Mohon ampun, Allah. I am not a perfect servant.

Well, dua puluh lima ya? Tidak terasa. I’m 25 years old now. This is like something special. Yaa, walaupun cuma lewat tulisan saja tapi this post will be a part of my life history. Thank you, blog. Udah nemenin sejauh ini, dari saya masih ababil sampai setua ini. Hehehe. You can imagine how this blog can save me, 2009 – present.

This moment becomes a sign that human being grows and develops. Banyak pengalaman yang telah dilewati hingga menginjak usia 25 tahun ini. Dari segi fisik, saya memang udah stop perkembangannya, tingginya semampai (semeter tak sampai). Udah cukup. Mau diapain juga udah kayak begini, little little imut. Tidak jarang saya sering disangka masih muda-muda ababil. Baru-baru ketemu senior di mushala trus kami membahas masalah jodoh, pernikahan, dan usia. Eh, saya disangkanya masih umur 22 tahun. Itulah, kadang faktor tinggi badan yang semampai dan muka baby face dapat menjadi pelindung di usia yang sudah *ehm* dewasa ini. Yang penting sehat walafiat, tidak cacat agar maharnya tak kurang. 😀

Dari segi pengetahuan, lebih fokusnya sih mengarah ke pengetahuan tentang pelajaran hidup, tentu sudah banyak input yang masuk sehingga dapat menjadi bekal untuk ke depannya nanti dalam menyelesaikan masalah dengan lebih bijak lagi. Ya, seperti kata Kahn dan Wright (1980) dalam bukunya “Human Growth and the Development of Personality”, seiring pengetahuan kita bertambah, maka masalah yang kita hadapi juga akan semakin rumit. Entah hasil masalah itu membahagiakan atau menyedihkan, who knows. Yang pasti, tiap orang akan mengalami kedua pilihan itu, happy or sad.

Dalam menyambut usia 25 tahun ini, saya sedikit mengadakan survey kecil-kecilan terhadap 23 teman sebagai respondennya, lebih rincinya 21 orang berstatus single dan 2 orang berstatus married. Tujuannya adalah saya ingin mengetahui bagaimana persepsi responden tentang usia 25 tahun, ya lebih khususnya teman-teman di lingkungan sekitar saya. Hasilnya menunjukkan bahwa mereka lebih menganggap bahwa berada di usia 25 tahun itu sesuatu yang patut disyukuri (sebanyak 24%) dan sesuatu yang biasa saja (24%). Wow, dua hal yang berlawanan dalam same percentage. Persepsi ini disusul dengan pendapat mereka yang mengatakan bahwa usia 25 tahun itu amazing (16%).

Juga, dari survey itu sendiri, ada 3 (tiga) jawaban terbanyak yang menjadi faktor penyebab mereka beranggapan seperti demikian.

  • Pemikiran tentang masa depan (37%)
  • Tuntutan hidup untuk lebih dewasa (29%)
  • Keadaan yang masih sama seperti di usia sebelumnya (12%)

Menurut saya, anggapan usia 25 tahun itu merupakan suatu kesyukuran dan feel amazing karena dua faktor tersebut, yaitu pemikiran tentang masa depan dan tuntutan hidup untuk lebih dewasa. Telah muncul kesadaran dari diri sendiri tentang who and how we are. Nah, di sini sudah terbentuk sikap orang dewasa. Berlakulah apa yang dibilang Kahn dan Wright (1980), “adult life is the stage when individuals are expected to be able to take responsibility for their own care…. In the adult stage of life, people are expected to take responsibility for their owns selves, for their children, for their own old age which is yet to come, and perhaps for the care of older people who are part of their present family.”. Ada tanggung jawab yang dimiliki untuk masa depan, seperti tanggung jawab terhadap orang tua; terhadap diri sendiri, bagaimana menjadi seorang pribadi yang lebih mature lagi hingga kita dapat berpikir dan bertindak dengan cara yang tepat dan bijak terhadap hal-hal yang ada di sekitar kita; tentang karir agar tercipta kemandirian secara finansial; dan tentang jodoh, pernikahan, keluarga dan anak.

Sedangkan, usia 25 tahun merupakan hal yang biasa saja, ini diakibatkan oleh keadaan yang masih sama seperti di usia sebelumnya. Pendapat saya, hal ini terjadi karena beberapa respondent saya memang masih berstatus single, sifatnya easy going saja sama apa yang mereka hadapi sekarang dan karena rata-rata masih berada pada tahap pendidikan formal jadi pemikirannya masih belum mengarah ke respon tentang hal-hal yang lebih serius, jodoh misalnya. 😀

Selain menanyakan persepsi tentang usia 25, saya juga meminta responden untuk mengutarakan harapan yang hendak ingin dicapai pada usia 25 tahun ini dan hasilnya adalah: (*jawaban diambil yang hanya bersifat dominan)

  • Tentang jodoh (24%)
  • Tentang peningkatan kualitas diri (21%)
  • Tentang keproduktifan diri hingga terjadi finansial yang mandiri (14%)
  • Tentang kebahagiaan orang tua (10%)
  • Tentang kesuksesan studi (10%)

Berdasarkan lima harapan yang secara garis besar dikemukakan para responden yang keseluruhannya adalah wanita, ya sepertinya sudah seperti ini juga harapan saya di usia 25 tahun ini.

Tentang jodoh, ini menandakan bahwa dalam menjalani hubungan antara pria dan wanita, ada keseriusan di dalamnya. Tidak lagi pacaran sekedar have fun saja dan just for getting status kalau kita bukan jomblo. No, it is about relationship for future.

Tentang peningkatan kualitas diri. Ya, setiap orang menginginkan dirinya menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Semua yang buruk, diikhlaskan saja. Ambil hikmahnya. Yang baiknya, dipertahankan dan atau ditingkatkan untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Semua-semuanya kan ibadah untuk Allah. Selalu saja teringat pesan Pak Kahar, apapun yang kita lakukan (dalam hal kebaikan), sifatnya adalah ibadah kepada Allah.

Ada keinginan sendiri ingin memiliki pekerjaan yang baik, bagus, dan mapan hingga akhirnya bisa menghasilkan uang dari keringat kita sendiri. Dari teman-teman seumuran yang saya temui, mereka merasa sudah tidak pantas lagi kalau harus meminta uang dari orang tua. Kayak ada rasa malu kalau masih harus meminta. Udah seusia seperti ini masih bergantung sama orang tua. Iya, mereka hebat-hebat ya. Sudah bisa produktif, sudah punya kerjaan, punya uang sendiri, trus dinikmatin. Yaa, Alhamdulillah lah. Semoga nanti saya dapat mengikuti jejak mereka, setelah lulus kuliah. Aamiin.

Kebahagiaan orang tua. Bagaimana caranya orang tua bisa bahagia dengan adanya kita di samping mereka. Ya, menurut pribadi saya adalah menjadi anak yang baik, patuh kepada mereka, belajar yang baik di sekolah, care sama kondisi rumah, dsb. sudah buat hati mereka tenang. Kemarin-kemarin saya belum sepenuhnya sadar dan peduli tentang perasaan mereka, hingga muncullah omelan-omelan teguran dari orang tua, tentang inilah, tentang itulah. Tapi, semakin ke sini, saya agak mulai sadar. Oh iya, saya harusnya begini, kalau nanti posisi saya menjadi orang tua dan anak saya tingkah lakunya tidak sesuai apa yang seharusnya, pasti kan saya ngomel-ngomel lagi. Masih ingat apa yang sering dibilang sama mama, “Kalian belum rasakan karena belum punya anak.” Nyess. Itulah, tapi sekarang kan udah 25, udah bisa berpikir tentang hal-hal terbaik apa yang harusnya dilakukan untuk kedua orang tua. Maaf, Ma, Pa. Ning banyak salah e.

Terakhir, tentang kesuksesan studi. Iya, jawaban ini mungkin didominasi oleh para ladies yang notabenenya masih menjadi seorang mahasiswa. Semangat untuk S2 dan praktik kedokterannya, gaess… Insya Allah kita dapat melewati hal ini bersama-sama. Demi dia dan si buah hati. Hahaha.  Actually, we are wonderful women, right? Persoalan keberhasilan studi bukan cuma faktor intelegensi akademik, namun semuanya tergantung rezeki yang dikasih Allah. Sekuat apapun keinginan ingin menyelesaikan studi, tapi jika belum dikasih jalan sama Allah, mau bagaimana. Sama, kayak saya. Mau sekalimi maju ujian seminar proposal, tapi terhalang oleh sesuatu hal. Mau bagaimana. We cannot force. Tetap berdoa saja sama Allah, Ning. In syaa Allah dimudahkan. Ingat, Ning. Allah tidak pernah salah atas kejadian yang menimpa umatNya.

Oke. Finish. Sorry, artikel kali ini lumayan puanjanggg…

Terima kasih untuk segala partisipasinya, teman-teman. Ini merupakan salah satu bentuk hadiah teman-teman ke saya secara tidak langsung. Happy 25 years old.

“Semakin saya sadari kalau hidup itu butuh perjuangan. Tidak ada yang instan. Tidak ada hasil yang baik kalau tidak berusaha. Dan jangan membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain, masing-masing punya jalannya. Yang penting kita selalu meliat ke depan dan bergerak maju. …. Sekarang itu bagaimana caraku bisa hidup dan menghidupi.” (NSS – 9416)

Karena Hujan Selalu Memiliki Cerita

Hujan - Tere Liye

“Bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan.”  Penggalan kalimat terakhir ini menutup cerita Hujan yang disajikan Tere Liye. Ya, seperti yang dituliskan di belakang sampul buku ini. Tentang persahabatan, tentang cinta, tentang perpisahan, tentang melupakan, tentang hujan. Nyess…

Judul Buku: Hujan
Penulis : Tere Liye
Cetakan : Keempat, Februari 2016
Isi: 320 halaman; 20 cm
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Berawal dari kekhilafan saya karena tidak sanggup melihat buku ini terpajang di rak buku bagian best seller di Gramedia MP hari itu, saya memutuskan untuk membelinya. Mengorbankan uang saku demi buku, di kala proses penyusunan proposal untuk diserahkan ke pembimbing  pun menjadi saat yang crucial. Bukan apa-apa, karena saya mengingat di salah satu media sosial mengatakan buku ini akan mengalami kenaikan harga untuk pencetakan bulan Mei 2016 nanti.  Beberapa minggu lalu, saya masih melihat tumpukan buku Hujan ini melimpah ruah, eh beberapa hari kemudian saya melihat Hujan hanya tersisa tiga buah. Daripada menyesal sampai di rumah, I decide to buy one of them. Walaupun uang saku menjadi taruhannya, tidak bisa beli jajan, tidak masalah. Yang penting buku ini harus ada di tangan. Ya, ini adalah kekhilafan. Maaf, Ma. Tidak bisa mengerem keinginan ini. Hehehe.

Oke, lupakan pendahuluan yang saya buat. Tulisan ini hanya sebagai selingan saya selama masa penungguan pembimbing mengoreksi proposal yang disusun. Semoga hasilnya baik dan saya segera maju ujian proposal. Aamiin.

Mari kita masuk ke inti tulisan (Teori Kaplan tentang cara berkomunikasi orang Asia terbukti pada tulisan ini, berputar-putar). Maafkan, readers. 😀

Di awal membaca Hujan, ini di luar ekspektasi saya. Selama ini jika saya membaca buku-buku Tere Liye selalu ada kesan ‘tenang’ di awal-awal perjumpaan. Namun, di buku ini, seperti merasakan ada kengerian di dalamnya. Membayangkannya pun, saya mau menolaknya. Ini seperti berlebihan ya, tapi begitulah opini saya tentang buku ini. Tere Liye menceritakan dan menggambarkan kehidupan umat manusia di masa depan dengan segala teknologi dan bencana yang akan dihadapi nanti. Tere Liye seperti memberikan peringatan penting yang tersirat untuk memperlakukan bumi secara bijaksana lewat Hujan. Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk umat manusia sendiri yang tidak bisa terlepas dari bumi sebagai pijakan untuk memiliki kehidupan (sementara).

Menceritakan kisah dua orang anak perempuan dan anak laki-laki, bernama Lail dan Esok, yang bersama-sama melewati kejadian demi kejadian. Ya, walaupun kadang menguras hati. Lail yang kehilangan kedua orang tuanya dan Esok yang kehilangan keempat saudaranya atas bencana alam yang terjadi saat itu. Semuanya meninggalkan bekas luka hati yang terdalam bagi mereka.

Lail menyukai hujan karena setiap hujan selalu ada moment istimewa yang ia dapatkan. Sayang, tidak selamanya menjadi istimewa, karena akan ada saatnya menjadi sangat menyakitkan. Seperti yang dikatakan Maryam, sahabat Lail, “…. Jangan pernah jatuh cinta saat hujan, Lail.  Karena ketika besok lusa kamu patah hati, setiap kali hujan turun, kamu akan terkenang dengan kejadian menyakitkan itu. Masuk akal, bukan?” (Liye, 2016: 200). Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya.” (Liye, 2016: 201). 

Bab demi bab, saya selalu penasaran dengan ceritanya. Bang Tere Liye, setiap rangkaian ceritamu selalu berkesan. 🙂 Tapi, di akhir cerita saya masih penasaran bagaimana akhirnya kehidupan di bumi. Mungkin Bang Tere Liye telah melakukan riset sebelumnya sebelum menulis cerita ini. Serasa ada campuran cerita scientificnya. Setegang-tegangnya cerita di dalam, selalu saja ada kisah menyentuh yang terselip. Ah, Bang Tere Liye. Kau selalu bisa membuatku mellow. :’)

“Bukan seberapa lama umat manusia bisa bertahan hidup sebagai ukuran kebahagiaan, tapi seberapa besar kemampuan mereka memeluk erat-erat semua hal menyakitkan yang mereka alami.” (Liye, 2016: 317) Tentang persahabatan, tentang cinta, tentang perpisahan, tentang melupakan, tentang hujan. :’)

Terima kasih untuk karya terbarunya, Bang Tere Liye. Buku ini… Iya, pada akhirnya memberikan kesimpulan bahwa manusia memang harus bersikap bijak pada bumi sebagai tempat tinggal manusia itu sendiri. Di sisi lain,  memang harus ada penerimaan di segala kejadian yang kita alami. Intinya ikhlas saja. Yang menyenangkan dan menyakitkan itu merupakan warna yang indah dari kehidupan yang diciptakan Allah untuk setiap hambaNya. Ya, harus pandai-pandai bersyukur aja, Ning. 🙂

Untuk lebih lengkapnya, silahkan baca buku Hujan ini. Saya belum bisa memberikan status sebagai buku yang paling direkomendasikan atau tidak, tapi dari cerita yang saya utarakan, readers pasti bisa menilai. 😉

*Semoga suatu saat nanti saya juga memiliki karya seperti Anda, Bang Tere Liye. 🙂