Tag Archives: Milea

Milea: Suara dari Dilan

21998

“Kata Pidi Baiq, perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu. Iya, rindu amat teramat sangat. Rindu ada Dilan dan Milea saja. Perpisahan itu, dapat menyedihkan atau bisa jadi menyenangkan. Namun, dari sudut pandang saya, novel ini membuat perpisahan menjadi sesuatu hal yang sangat disayangkan untuk dijadikan sebuah kenyataan yang harus dilewati oleh dua orang tokoh utama, Dilan dan Milea. Perpisahan yang harusnya jangan terjadi.”

Novel Milea: Suara dari Dilan ini adalah karya lanjutan Pidi Baiq dari Novel Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1990 dan Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1991. Jadi, sebelum membaca novel ini, sebaiknya teman-teman membaca Novel Dilan #1 dan #2 terlebih dahulu agar lebih afdol mengetahui alur ceritanya.

Jika dua novel sebelumnya merupakan kisah Dilan dan Milea dari sudut pandang Milea. Maka, novel ini berasal dari sudut pandang Dilan tentang bagaimana pemikiran Dilan terhadap dirinya dan Milea yang berbeda satu sama lain hingga menimbulkan kesimpulan kehidupan mereka yang pada akhirnya membuat saya menangis (lagi) di akhir lembaran cerita novel ini. *Tersentuh, Bang Pidi Baiq. 😥

FYI, sekilas dari novel ini. Terdiri dari 20 bab. Hampir semua para tokohnya pun masih sama (kalau tidak salah ingat) seperti kedua novel sebelumnya. Namun, ada sedikit penambahan tokoh baru untuk kisah asmara Dilan dan Milea yang baru. Hmm. Bandung, Jakarta dan Jogja merupakan daerah-daerah yang menjadi latar belakang tempat dalam novel ini.

Milea rindu Dilan. Dilan rindu Milea. Kenapa tidak jadi sih, Bang Pidi Baiq? 😥

Bisa dibayangkan kan, merencanakan masa depan bersama orang yang kita pikir dia yang akan bersama-sama menjadi masa depan kita, dan di tengah jalan Tuhan memiliki skenario yang lain. Rasanya tuh JLEBBB bangettt. Tapi, yah namanya manusia, cuma bisa punya planning, Tuhan yang make it into a reality. Dan Dilan menyikapinya dengan bijaksana.
*Ah, novel ini lagi-lagi membuat saya termehek-mehek di tengah sunyi senyapnya gelap.

“Kata Dilan: Rasa sedih jika ada, itu harus berbatas untuk memberi peluang munculnya harapan pada hari-hari berikutnya, mengejar impian dan meraih kebahagiaan bersama seseorang yang dapat menghabiskan sisa hidup kita dengannya. … Rasa sedih dan kegagalan tidak selalu berarti kekalahan.” (Pidi Baiq, 2016, p. 356-357)

Sebagai kesimpulannya, novel ini adalah sebuah karya fiksi yang mengingatkan kembali bahwa sebaiknya menghindari su’udzon atau berpikiran negatif terhadap seseorang; ketika mendengar ada hal yang kurang berkenan di hati tentang orang yang kita sayangi, coba tanyakan langsung kepadanya agar tidak terjadi kesalahpahaman, walaupun memang rumit, antara gengsi dan sekedar saling menunggu inisiatif satu sama lain; selalu meminta maaf dan memberi ucapan terima kasih untuk orang yang menyayangi kita; dan selalu ingat, harapan terkadang tidak sesuai kenyataan, bro. Hehehe.

Judul: Milea: Suara dari Dilan
Penulis: Pidi Baiq
Cetakan: I, 2016
Penerbit: Pastel Books
360 hlm.; Ilust.: 20.5 cm
ISBN: 978-602-0851-56-3