Tag Archives: My Experience

This is About Graduation 2016

 

Alhamdulillah to Your Mercy, Allah
Alhamdulillah to Your Mercy, Allah

Hello, long time no see you, my blog. I miss to write here. Yaps, in this chance the topic is my second graduation. Finally, I’m graduated from Hasanuddin University after being a student for two years more. Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah ya Allah. You again again again give me Your priceless mercy.

Jadi ceritanya pada tanggal 22 Desember 2016 (bertepatan hari ibu, readers), Universitas Hasanuddin melaksanakan Wisuda Pascasarjana dan Profesi Periode II Desember Tahun Akademik 2016/2017. Khusus untuk fakultas saya, Fakultas Ilmu Budaya, memiliki 17 wisudawan yang berasal dari 4 (empat) program studi, yakni:

  1. Program Studi Ilmu Linguistik S3 (1. Fatimah Hidayahni Amin)
  2. Program Studi Ilmu Linguistik S2 (2. Ita Rosvita, 3. Siti Umi Salamah, 4. Nila Puspita Sari, 5. Maria Arnoldiana Dadjan Uran, 6. Santy Monika)
  3. Program Studi Bahasa Inggris S2 (7. Nining Syafitri, 8. Yuriatson, 9. Ida Mariani Idris, 10. Yandri, 11. Israkwaty, 12. Rizki Diliarti Armaya, 13. Faika, 14. Hikmawati, 15. Reza Apreliah Dg. Matara, 16. Satang)
  4. Program Studi Bahasa Indonesia S2 (17. Nanik Indrayani) 

    FYI, alhamdulillah juga untuk wisuda kali ini, ijazah dan transkrip udah langsung ada, jadi tidak perlu galau menunggu transkrip kelar yang katanya butuh waktu beberapa bulan. Trims, Unhas. 🙂

    Bersama Dosen dan Staf TU FIB Unhas
    Bersama Dosen dan Staf TU FIB Unhas

Satu hari sebelum pelaksanaan wisuda, 21 Desember 2016, kami mengadakan malam ramah tamah di Hotel MaxOne yang berada di Jalan Taman Makam Pahlawan. Hal ini berbeda dengan malam ramah tamah pada periode I September 2016 kemarin yang dilangsungkan di Hotel Clarion Makassar, di mana semua program studi pascasarjana berada dalam satu aula dan panitianya berasal dari pihak Pasca Unhas sendiri. Pada periode II Desember 2016 ini, yang menjadi panitianya pun adalah kami sendiri dan khusus Fakultas Ilmu Budaya. Dengan demikian, suasana keakraban bersama para dosen, staf fakultas dan calon wisudawan sangat terasa pada malam itu.

Kak Satang dan Prof. Tadjuddin Maknun, S.U. (WD I)
Kak Satang dan Prof. Dr. Tadjuddin Maknun, S.U. (WD I)

Pada pelaksanaan ramah tamah tersebut, kami, para wisudawan, memberikan cenderamata sebagai kenang-kenangan yang diwakili oleh Kak Satang kepada pihak fakultas yang diwakili oleh Wakil Dekan I, Prof. Dr. Tadjuddin Maknun, S.U. Kemudian, ada pembacaan wisudawan terbaik di tingkat fakultas kami, yakni Kak Fatimah Hidayahni Amin, Kak Yandri, Maria (Dian), dan Ibu Siti Umi Salamah. Congrats, kaka-kaka.

Left2right: Hikma, Kiky, Kk Fatimah, Ning, Nila
Left2right: Hikma, Kiky, Kk Fatimah, Ning, Nila

Terima kasih kepada teman-teman wisudawan yang telah mengupayakan acara malam ramah tamah pada periode ini sehingga acaranya berjalan dengan baik dan lancar. Semoga berikutnya lebih baik lah. Aamiin.

Ladies FIB Unhas
Ladies FIB Unhas

Well, tidak terasa dua tahun lebih lanjut sekolah di sini, Makassar. Pastinya bakalan banyak momen yang harus dikenang, seperti momen perkuliahan yang kadang buat seru, dagdigdug, lucu dan awkward, terus masa-masa ngerjain tugas dari dosen, dan perjuangan pamungkas adalah proses penyelesaian tesis yang berhasil buat saya hampir hopeless, percaya deh Allah sudah punya skenario sendiri memang, tinggal kitanya aja yang pintar-pintar positive thinking dan giat berusaha bagaimana caranya supaya tidak hilang semangat. Kata Prof. Hakim, Semangat dulu yang disemangati. Hehehe.

Selain itu, kuliah di Unhas ini, saya pun punya banyak teman dari berbagai daerah. Thank you ya sudah jadi teman yang baik untuk Nining selama dua tahun lebih ini. Maaf kalau ada banyak salah sama teman-teman, gak ada niat mau jahat sama kalian. Bakalan kangen sama kalian, pastinya bakalan gak bisa diulangi lagi momen kuliahnya. Kita semua pasti udah berpencar masing-masing ke arah yang tidak ditentukan. Hehehe. Yeps, mencari dan menemukan kehidupan baru yang lebih baik setelah perjuangan menjalani studi. Pastinya, beberapa tahun kemudian, udah kedengaran kalau si ini si itu udah jadi rektor, ketua program studi, jadi prof., lanjut kuliah di luar negeri, di universitas ini itu. Ecieee. Aamiin Aamiin.

Makassar, I will miss you a lot. Thanks, Allah, You have given me a chance to enjoy all these experiences in continuing this study.

*’Tarimakasiku to yingkomiu’ (Thank to you all) session.
Trima kasih, Ma Pa, to all your sacrifice for me. I know I can’t do like what you have given to me, except to be your good daughter as you want. I’ll do it, in sha Allah.

Thanks juga untuk para dosen yang sudah mengajar teman-teman dan saya selama perkuliahan di Unhas. You are great lecturers. :’)

Trima kasih untuk para staf TU Fakultas Ilmu Budaya.

Oh iya, terima kasih juga buat teman-teman, sahabat dan keluarga yang sudah mengucapkan melalui media sosial, minta maaf komentarnya belum sempat dibalas semua.

Dan semua pihak-pihak yang secara langsung dan tidak langsung turut memudahkan jalan saya dalam proses penyelesaian kuliah ini. Tarima kasi.

*Curhat session
Udah diwisuda emang iya, tapi masih merasa kurang begitu, belum apa-apa sih iya. Masih banyak kurangnya malah. Walaupun sekolah memang sudah selesai, tapi belajar harus berlanjut terus. Saya memang harus terus belajar. SEMANGAT, Ning. SEMANGAT!!!

Biasanya, hal yang paling sering ditanyain setelah saya wisuda ini adalah pekerjaan dan jodoh. Saya mah senyumin aja sambil berkata, “Mohon doanya, om-tante-pak-bu-teman. Semoga disegerakan, dapat kerja yang bagus dan dapat jodoh baik yang Allah ridho. Aaamiin.” Acakaseeehhh… Ahaide. Hehehe… Thanks, readers, udah sempat-sempatkan baca tulisan curhat minceu dari awal hingga akhir. Semoga bermanfaat, readers. Semoga… 😀

Bakti Sosial 2016 Mahasiswa FKIP Pendidikan Bahasa Inggris Unidayan di Desa Wawoangi, Sampolawa, Buton Selatan

(searah jarum jam) 1) Spanduk 2) Gedung Sultan Saparigau, 3) Pembekalan dari Bapak Kepala Desa Wawoangi dan Sekprodi, 4) Para dosen FKIP Pend. Bhs. Inggris Unidayan
(searah jarum jam)
1) Spanduk 2) Gedung Sultan Saparigau, 3) Pembekalan dari Bapak Kepala Desa Wawoangi dan Sekprodi, 4) Para dosen FKIP Pend. Bhs. Inggris

Bakti Sosial di Desa Wawoangi, Sampolawa, Buton Selatan, pada tanggal 28 – 29 Mei 2016 kemarin adalah salah satu agenda kegiatan UNESA (Unidayan English Students Association). Pesertanya adalah mahasiswa FKIP Pend. Bahasa Inggris Unidayan Angkatan 2013 dan para dosen yang mengikuti kegiatan ini ada 7 dosen; 3 dosen tetap (Pak Baharuddin Adu, Pak Rizal dan Ibu Esa) dan 4 dosen tidak tetap (Ibu Yuli Yastiani, Pak Firdaus, Ibu Dianti Afrilia dan saya sendiri). *dosen-dosennya masih muda semua kan. Kan kan. 😀

Berbicara tentang kronologis kegiatannya, saya tuliskan secara ringkas saja. Ini juga bukan tulisan formal, judul tulisannya saja sepertinya yang terlihat formal. Kami semua, baik mahasiswa dan dosen, berkumpul di Stadion Betoambari pada jam 5 sore. Awalnya jam 4 sore namun cuaca yang tidak mendukung, akhirnya diundurkan menjadi jam 5 sore. Perjalanan menuju Desa Wawoangi, Sampolawa, ini membutuhkan waktu sekitar 2 jam dari Kota Baubau. Dalam perjalanan menuju desa tersebut, banyak hal yang menyenangkan terjadi di dalam mobil yang disewakan oleh pihak panitia acara (Unesa) untuk para dosen. Utamanya Pak Firdaus sebagai korban yang paling sering dibully. Hahaha… Terima kasih, bapak ibu dosen untuk hiburannya hari itu. Alhamdulillah. 😉

Sesampainya di tempat tujuan, hari telah gelap. Kami semua beristirahat di Gedung Sultan Saparigau. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai baruga. And do you know? Kami disambut dengan listrik yang padam. Nyesss. Gelap gulita, men. Ditambah lagi ada seorang mahasiswa yang kerasukan sehingga membuat suasana di baruga menjadi tegang. Tapi untungnya, tidak berlangsung lama, baik listrik ataupun mahasiswa tersebut. Alhamdulillah.

Well, untuk tempat istirahatnya, para mahasiswa dan Pak dosen tidur di baruga tersebut, sedangkan para ibu dosennya tidur di salah satu rumah warga *memang, wanita selalu diistimewakan :D. Sebelum tidur, tentunya harus makan dulu toh. Para dosen dan para mahasiswa having dinner dulu sebelum beristirahat untuk mempersiapkan diri di esok hari. Rame!!! 😀

Bersama Kepala Desa Wawoangi di rumah Beliau
Bersama Kepala Desa Wawoangi di rumah Beliau

Sebelumnya, kami disambut oleh Bapak Kepala Desa Wawoangi di baruga dan Beliau mengajak kami, para dosen, untuk bertandang ke rumahnya sembari berbincang-bincang tentang Desa Wawoangi ini. Cukup banyak informasi tentang Desa Wawoangi yang kami dapatkan dari cerita Kepala Desa, apalagi tentang objek yang akan kami bersihkan sebagai aksi bakti sosial esok harinya, yaitu Mesjid Tua Wawoangi. Ya, kami dilayani dengan sangat baik oleh Bapak Kepala Desa. Terima kasih, Pak. 🙂

Perjalanan menuju Mesjid Tua Wawoangi
Perjalanan menuju Mesjid Tua Wawoangi

Keesokan paginya, kami have breakfast dulu bersama. Setelah itu, ada sepatah kata dari Bapak Kepala Desa dan Sekprodi untuk kami semua sebelum memulai kegiatan, yaitu pembersihan di sekitar Mesjid Tua Wawoangi. Videonya dapat dilihat di sini.

Mesjid Tua Wawoangi di Desa Wawoangi, Sampolawa, Buton Selatan
Mesjid Tua Wawoangi di Desa Wawoangi, Sampolawa, Buton Selatan

Sekilas informasi tentang Mesjid Tua Wawoangi menurut informasi yang didengar dari Kepala Desa Wawoangi. FYI, Wawoangi itu artinya adalah di atas angin. Mesjid Tua Wawoangi terletak di Desa Wawoangi, Kecamatan Sampolawa, Kabupaten Buton Selatan. Mesjid tersebut terletak di atas bukit. Jarak yang ditempuh dari Desa Wawoangi menuju mesjid tersebut sekitar 2 km. Bisa ditempuh dengan jalan kaki maupun kendaraan. Namun, harus tetap berhati-hati, karena hampir sepanjang perjalanan, jalanannya masih agak kurang bagus, berbatu-batu. Percaya tidak percaya, kata kepala desa, walaupun bagus kendaraan yang kita miliki menuju mesjid, namun jika niat tidak bagus, maka kita tidak akan sampai ke mesjid. Sebaliknya, sejelek apapun kendaraan yang kita miliki, namun memiliki niat yang baik, maka akan sampai di tujuan. Dan itu terbukti dari beberapa kejadian yang pernah terjadi oleh orang-orang yang pernah ke mesjid tersebut bersama kepala desa.

Menurut cerita yang dipaparkan oleh Kepala Desa Wawoangi, sebelum adanya mesjid di Buton ini, Syeikh Abdul Wahid (Pembawa Agama Islam Pertama di Buton) pernah terdampar di daerah Lapandewa. Di daerah tersebutlah, Syeikh Abdul Wahid mengajarkan agama Islam kepada masyarakat setempat. Kemudian, Syeikh Abdul Wahid mengatakan bahwa di atas bukit Desa Wawoangi itu, Beliau akan mendirikan mesjid. Masyarakat Lapandewa akhirnya bertanya, mengapa demikian? Syeikh Abdul Wahid pun menjawab, Syeikh Abdul Wahid melihat ada cahaya di atas bukit Desa Wawoangi tersebut kemudian cahaya itu terus naik sampai ke luar angkasa. Sehingga Beliau memutuskan untuk mendirikan mesjid di atas bukit tersebut. Dibangun pada tahun 1527. Dinding mesjidnya nampak seperti terbuat dari rotan bambu yang besar, atapnya terbuat dari kayu, sehingga membuat mesjid ini sederhana. Ya, sederhana tapi gimana yaa. Ada suasana tersendiri ketika berada di mesjid tersebut. Seperti masih ada kekuatan gaib yang sangat kental di mesjid ini. Yang intinya, jangan mengunderstimate keberadaan mesjid ini dalam bentuk apapun. Bapak Kepala Desa sering kali mengingatkan kepada kami bahwa satu hal yang penting, jangan ada di hati kita semua untuk mengatakan bahwa mesjid itu tidak baik.

Sebelum berada di mesjid, kita berwudhu dulu, kemudian jika telah berada di dalamnya, maka berdoalah kepada Allah dan yakinilah semua tentang doa yang kita panjatkan. Seperti yang dikatakan Pak Bahar kepada para mahasiswa bahwa sebelumnya beliau juga pernah mengunjungi mesjid tersebut, tapi masih menjadi mahasiswa pada saat itu, beliau masih ingat apa yang dikatakan oleh Pak Safulin, bahwa Mesjid Tua Wawoangi tersebut dianalogikan ibarat HP yang merupakan alat komunikasi, jika kita berada di tempat yang kekuatan signalnya bagus, maka komunikasi kita akan bagus kepada orang yang kita hubungi. Sebaliknya, jika berada di tempat yang kekuatan signalnya kurang bagus, maka komunikasinya kurang bagus. Nah, di Mesjid Tua Wawoangi itulah adalah tempat yang baik untuk meminta kepada Allah. Berdoa dan yakin. In sya Allah dijabbah.

Oh iya, beberapa tahun lalu, jika ingin mengambil gambar mesjid tersebut, percaya tidak percaya, it can’t work. Rata-rata orang yang berkunjung ke mesjid dan ingin mengambil gambarnya, hasilnya tidak akan pernah berhasil. Mesjidnya tidak kelihatan, cuma pepohonannya saja yang terlihat. FYI, kata Kepala Desa, Mesjid Tua Wawoangi ini sebagai mesjid pertama yang ada di Pulau Buton. *Jika yang pertama, berarti sebelum adanya Mesjid Quba dan Mesjid Agung Keraton Buton yang berada di Keraton Buton, Baubau, itu dong. Wah wah, masya Allah sekali saya bisa berada di Mesjid Tua Wawoangi di saat-saat seperti ini. Ya, saya sempat menangis ketika berada di dalamnya. Yaa, nda nyangka saja bisa berada di tempat yang sesakral ini. Dengan niat baik, di mana kita berdoa kepada Allah dan yakin semua doa yang kita panjatkan insya Allah dikabulkan. Aamiin Yaa Rabb.

Setelah kegiatan pembersihan selesai, kami semua berkumpul di baruga sekitar mesjid tersebut sekaligus acara penyerahan bantuan Al-Quran dari FKIP PBI Unidayan untuk Mesjid Tua Wawoangi tersebut oleh panitia kepada Bapak Kepala Desa, dirangkaikan dengan acara penutupan. Setelah acara selesai, kami pun kembali ke baruga, makan siang dan bersiap-siap untuk pulang sembari menunggu kendaraan yang akan membawa kami kembali ke Baubau.

(searah jarum jam) 1) Berkumpul setelah bekerja bakti, 2) Foto bersama dengan latar Mesjid Tua Wawoangi, 3) saya bersama wakil ketua UNESA, 4) Penyerahan Alquran, 5) saya bersama Ketua UNESA
(searah jarum jam) 1) Berkumpul setelah bekerja bakti, 2) Foto bersama dengan latar Mesjid Tua Wawoangi, 3) saya bersama wakil ketua UNESA, 4) Penyerahan Alquran, 5) saya bersama Ketua UNESA

Perjalanan yang sangat menyenangkan. Saya tidak menyangka, baksos kali ini menjadi perjalanan rohani untuk diri saya pribadi. Jika kalian ingin menikmati perjalanan rohani di Pulau Buton, saya sangat merekomendasikan, silahkan berkunjung ke Mesjid Tua Wawoangi, Mesjid Pertama di Pulau Buton. Saya saja masih ingin berkunjung lagi ke sana. Mudah-mudahan panjang umur dan masih diberi kesempatan sama Allah. Suasana berada di mesjid itu yang buat kangen, Allah. Adem. :’)

Terima kasih, Kepala Desa dan warga Desa Wawoangi. Senang berkunjung ke Desa Wawoangi. 🙂

Nokia 6030 dan Nokia E63

Nokia E63 dan 6030
Nokia E63 dan 6030

Hallo, Nokia! Apa kabar? Trima kasih telah menemani saya selama ini. Walaupun termasuk Handphone ‘kemarin’, kamu telah berjasa banyak sekali. :), yaa khususnya sebagai pembawa nostalgia di masa-masa SMP kelas 3 hingga kuliah saat ini.

Postingan kali ini membahas tentang HP Nokia 6030 dan E63 saya. Tujuannya adalah saya ingin bercerita tentang mereka. Walaupun hanya HP ‘kemarin’ dan hanya sebuah benda mati tapi jasa dan kenangannya tidak dapat mati. 🙂 Bukan hal yang istimewa sih, akan tetapi saya ingin membuatnya menjadi istimewa melalui catatan di blog ini. 🙂 *ngomong apa sih, Ning?

Kita mulai dari yang pertama. HP Nokia 6030. Ya, this is my first HP since I was in Junior High School, kelas 3. Kebetulan hari ini, 4 Mei 2016, dia genap berusia 10 tahun. Gak terasa aja nih, tahun 2006 kemarin dibeli dan saya masih memakainya. 😀 Bisa dibilang, HP ini cukup tahan lama lah. Udah gak bisa dihitung berapa kali jatuh dengan tidak sengaja dan atau keteledoran menaruh HP dengan posisi yang kurang baik. 😀 Saya masih menggunakan original case-nya, walaupun tulisan di atas keypadnya udah ‘kabur air’. Hal ini diakibatkan karena jari-jemari yang terlalu lincah mengirim SMS. 😀 Bentuknya yang kecil membuat HP ini dapat digenggam sepenuhnya sehingga terasa nyaman untuk digunakan.

Masih tersisa beberapa SMS dan catatan kecil zaman SMP, SMA dan S1 dulu di bagian MessagesSaved Items. Mulai dari do’a  masuk ruang ujian, notifikasi Mig33, SMS dari sahabat tentang cinta monyet dulu, lirik lagu anak IPSA (Ipa Satu) dari Abang Yoko, hingga list frekuensi radio yang ada di Kota Baubau. Membaca catatan-catatan itu kembali rupanya mengundang saya untuk senyum-senyum sendiri. Saya masih ingat di zaman SMA kelas 2, ketika pertama kalinya mengenal internet lewat HP. Kalau tidak salah, dulu yang ajarkan itu La Sahly. Dari dia juga chatting IRC dimulai. Awalnya chatting masih di sekitar kelas IPA 1 dulu, kemudian menyebar seantero teman-teman seangkatan di SMANSA. Waktu itu. Kalau diingat-ingat, kemarin kami gila skali yang namanya chatting. Udah sampai ada yang jadian gara-gara chatting. Ada beberapa teman, bukan saya. 😀 SMA SMA. Indah banget ya. 🙂 Akibat terlalu keseringan chatting, baterai HP saya bengkak, terpaksa ganti baterai yang non-original. Lewat Nokia ini juga, saya mulai mendownload ringtone berformat midi, dari yang beraroma lagu anak-anak, dangdut, pop Indonesia hingga mancanegara punya. Masih tersimpan hingga sekarang. Biasaa, mau dijadikan ringtone. Kasiannyami, masa ringtone nokia tune terus yang dipake. 😀

Pemakaian HP Nokia 6030 berhenti sejenak pada tanggal 8 Oktober 2010 karena pada saat itu saya membeli HP Nokia E63. Yaa, naik tingkatan sedikit. Sudah jadi anak kuliahan soalnya. Ada keinginan mengistirahatkan 6030, kasian udah lama juga dipake. Dua masa ini e, SMP dan SMA, ada sekitar 4 tahun lah. Lumayan.

Nokia E63. Sama seperti Nokia 6030, saya masih memakai original case warna hitam, tapi tulisan di atas keypadnya masih lumayan OK, tidak separah 6030. Sayangnya, sekarang kondisinya tidak ‘sesehat’ kemarin. Menyala beberapa menit, kemudian mati. Tinggal tunggu RIPnya saja ini kasian. Alhamdulillah kemarin data kontaknya masih bisa dibackup di Nokia PC Suite. Si layar besar yang udah banyak waktu istirahatnya. Padahal masih butuh kamu. 😦

Secara pribadi, E63 ini punya kenangan tersendiri bagi saya. Beragam curhatan, rahasia, motivasi, cinta, dan amarah yang tertulis, entah ditujukan untuk saya atau seseorang, masih tersimpan dengan sangat baik. Kemarin. Sebelum diformat ulang beberapa kali. Ya, sangat terasa jelas perjalanannya. Beberapa pesan singkat yang saya anggap penting, tersimpan dengan baik. Kemarin. Namun, sekarang tidak ada satupun pesan yang tersimpan. Buktinya telah hilang, tapi kenangannya tidak akan hilang dalam ingatan. Saya menganggap bahwa HP ini sebagai pembelajaran bagi diri saya agar tidak lari dari kenyataan. Harus berani menghadapi segala masalah yang ada. Yaa, cukup Nokia E63 dan saya saja yang merasakan kenangan itu. 🙂

Berhubung Nokia E63 saya udah sakit-sakitan (jarang diaktifkan), maka Nokia 6030 kembali hadir menemani saya sekarang. Isi pesan singkat zaman SMP SMAnya masih ada, tapi provider selulernya berbeda. Ya, ini tentang kehidupan baru yang harus dijalani di atas kehidupan yang lama. Tidak melupakan, cuma ingin menjalani kehidupan yang lebih baik dari kemarin. 🙂

Well, itu aja yang ingin disharing. Bukan pamer ya. Ini kan cuma HP ‘kemarin’. Saya cuma ingin menshare kenangannya, bukan tentang kuantitasnya. 🙂 Thank you.

(Mungkin) Sendiri Dulu

Sambil menikmati masa-masa kritis karena tesis ini, saya mau bercerita dulu. Tentang perjalanan saya pasca Januari 2016 kemarin hingga sekarang. *Kalau yang merasa tulisan ini menyampahkan pengetahuan Anda, monggo gak usah dibaca. Hehehe…

As we know, saya mahasiswa tingkat akhir yang lagi (sok) sibuk ngurus tesis, (sok) sibuk baca artikel jurnal, (sok) sibuk cari teori, (sok) sibuk cari pembimbing yang jadwal bimbingannya seminggu sekali. Bukan juga itu, judul saya pun yang belum kelar. See, what stupid I am. Udah dari bulan Oktober 2015 kemarin kita seminar penentuan pembimbing tapi judul aja masih belum fix. How come? -____-“ Yaaa, salah saya sendiri sih sebenarnya. Nah kan, saya bukan contoh mahasiswa yang baik. Maklum, saya mah biasa-biasa aja. Otak nda encer-encer amat tuh. 😀 “Makanya, Ning. Belajar dari Oppa Lee Ju Young”.

Sekarang udah masuk Maret 2016. “Kapan seminar proposalnya, Ning?”, pertanyaan itu serasa suatu perintah di mana saya harus duduk di pojokan terus nunduk sambil garuk-garuk tanah, terus gak nyadar air matanya jatuh. Eh, sedih sendiri sayanya. Iya, ini nih yang lagi gencar-gencarnya diperjuangkan sebelum memperjuangkan cintanya hati. *eeaaa 😀 Ingat kata salah satu sahabat saya yang mau nikah tahun ini kepada Mey dan saya, “Kalian cepat-cepat urus tesisnya, supaya jodohnya juga cepat.” Errrr… -____-“ Mentang-mentang dia mau nikah. Yaa, itung-itung sebagai moodbooster untuk semangat terus kerja tesisnya.

Oh iya, tadi sempat kepikiran sama adek pertama saya, Arini. 😀 Nggak tahu kenapa.  Mungkin karena tanggal 4 Maret kemarin dia ulang tahun ya dan saya nggak ngasih hadiah apapun ke dia. Maklum, Sist. Saya belum punya uang sendiri. Nanti ya, kapan-kapan.

Terasa sekali perbedaannya ketika ada dan tidak ada dia di sini. After January 2016, saya harus ke Makassar untuk menyelesaikan ‘tugas mulia’ ini dan dia stay bersama keluarga di Baubau. It means saya harus sendiri di sini. Kemarin dia enak, kerja skripsi saya yang temani; ke café untuk kerja skripsinya ditemani, translate artikel jurnalnya ditemani dan dibantu untuk ditranslatekan juga, sampai-sampai ditunggui di luar ruangan pembimbingnya sampai selesai. Enaknya begitu, Arinces ee. Na saya? Kerja tesis sendiri. Nda ada yang tanya-tanya kabar kemajuan tesis dan pembimbing. Ada memang yang nanyain, itu Mama sama Papa. Tapi LDR e… Kasianku mi. LOL.

Be honest, bedami rasanya nggak ada anak galak itu. Kalau naik motor, biasanya boncengan. Kalau dia yang bawa motor, dia paling tidak suka dipeluk. -___-“ Na bukan ji LGBT inie… Tapi kapan kalau saya yang bawa motor, sudah dia yang paling cerewet dari belakang. Marah-marahnya itu lho.

Ko (kamu) hati-hati, Ning. Sini saya yang bawa motor.

 “Orang itu ambil jalur kiri…”

“Jan (jangan) terlalu kiri”

“Jan terlalu kanan”

“Ko di tengah-tengah.”

“Ko parkir bagaimana kah? Sini saya yang parkir.”

Kata-kata itu yang biasanya keluar dari omelannya. Katanya kalau saya yang bawa motor suka tidak jelas. Bagaimana tidak jelas, cuma diomeli begitu tapi nggak dikasih tahu alasannya kenapa. Saya kan jadi bingung, Sist. Saya diomeli dari saat perjalanan sampai mau nyari parkiran. Kadang suka ketawa dalam hati kalau sudah diomeli begitu.Tapi saya sih nggak terlalu dimasukin dalam hati karena untuk kebaikan diri sendiri juga kan. Yaa, sok-sok cuek kalau diomeli, tapi sebenarnya peduli. That’s Aries’ way. 😀

Tadi juga, kebetulan lapar menghampiri sepulang dari kampus, saya singgah di tempat makan dekat rumah. Biasanya dia pesan nasi goreng, saya mie kuah. Eh, saya pesannya nasi goreng. Ingat dia sih. Yaa, kangen aja. Teman ada sih, tapi kan mereka punya kesibukan lain dan rasanya beda kan saudara kandung dan yang tidak. Hehehe.

9684

Kemarin juga. Di saat lagi stress-stressnya sama tesis, saya memutuskan untuk nonton film di bioskop. With whom? No one. Sendirian. Di kala judul film ini pasnya nonton sama teman-teman. Serasa mau menertawakan diri sendiri. 😀 Biasanya kan kalau nonton itu sama adek. Jadinya asik, nggak kerasa jones-jonesnya. 😀 Eh, bukan jones, tapi high quality single. LOL. #bukanmodus.

Biasanya kalau jalan di mall, kalau udah lapar saya mulai memberikan semacam kode-kodean ke Arini agar kita cuss ke tempat makan terdekat. Sayangnya, responnya tidak mendukung aksi saya. Katanya, “Jangan makan di mall, mahal.” LOL. Saya maklum sama pemikirannya. Sebagai anak perantau harus pintar perhitungan. Di sisi lain, perut juga butuh perhatian kan. Saya selalu teringat sama omongannya Papa, “Kalau sudah lapar, makan.” Jadi tiap saya lapar, ya harus makan, Arinces. Di manapun itu. Walaupun kadang pandangan kita tentang harga makanan itu berbeda. Kadang dia merasa mahal dan saya merasa itu lumayan murah. 😀 Ya udah, saya ngikut aja. Makannya nanti di rumah. Palingan kalau untuk mengganjal perut, beli roti atau snack. -_-‘ Sekarang, kalau jalan sendirian di mall, udah lebih menimbang-nimbang berapa rupiah yang harus dikeluarkan. Utamanya untuk masalah makanan. Hahaha. Keras kehidupanga…

Apa-apa sendirian. Mau gimana lagi. Kenyataannya begitu. Tidak selamanya ekspektasi yang indah itu berbanding lurus dengan kenyataan yang ada. Contohnya? Gak usah pake contoh deh. Nanti dibilang modus lagi. 😀 Walaupun begitu, kok saya seperti fine-fine saja. Yaa, just enjoy it. Tapi, kadang itu berbahaya juga lho. Seperti kata 9gag.com. “Loneliness is dangerous. It’s addicting. Once you see how peaceful it is, you don’t want to deal with people.” And I shouldn’t do like that because I also need someone who can make a peace in my heart. Eeeaa… Ingat tesis, Ning. Ingat tesis. Jangan dulu eeaa eeaa… 😀 Iya, sist. Lagi on fire ini, berjuang untuk kemaslahatan keluarga. Hehehe. Mangatse…!!! Loneliness is not a hindrance, but a spirit for focusing on what I am doing.

9683

Negeri Van Oranje and Lopi Cafe

On January 26, 2016, my cousin, Fitri, and I went to walk around again after doing something that must be done for the sake of the family interest. 😀 Our destination was Panakkukang Mall (MP) and Lopi Cafe. Firstly, we visited MP for walking around and seeing female stuffs, like shoes, clothes, dress, etc. And you know what I felt, I just tried to control my self. 😀 Although it was interesting, but it was not still my main attention.

Negeri Van Oranje

S__2088966We tried to go to Cinema 21 Panakkukang to see what movies that still in “NOW PLAYING”. I looked there was still “Negeri Van Oranje.” Thanks God, it was still playing. So, I invited Fitri to watch that film. I liked the actors, such as Chicco Jerikho, Arifin Putra and Abimana Arisatya. But, Ge Pamungkas, he is not a cool guy because I already knew him as a comedian. 😀 If I am asked to comment this film, I will say that this film makes me ‘BAPER’ and gloomy. Hmmm… A man that always hides from Lintang, finally he could get married with her. >.< I could say that the film was romantic and entertaining. 🙂

Next plan was we went to Lopi Cafe, Cafe and Eatery. It is near MP. It is located in Jl. Boulevard No. 26 AB. Most of materials such as tables, chairs, and ornaments were made by wood. I think the cafe mixes between modern and traditional culture. It could be seen from one of wall sides, the wall was painted a couple who wore traditional clothes of Makassar and another side it was fulfilled by modern ornaments, like unique mirrors. It was full of music and AC. So, I felt comfortable to be in the cafe. I enjoyed it. 🙂

5906

5905Oh ya, there were many kinds of foods and drinks. But we only ordered French Fries, Hot Cappucino, and Milkshake Vanilla. Mmm, they had nice taste.

Basically, I rarely hung out with friends in places like this because my assignments of study spent my time a lot. Therefore, I did not know well which interesting places to visit in Makassar. Fitri was a person who recommended me for trying to go to Lopi Cafe and her recommendation was a good place.

Overall, what we did yesterday, it made me more aware that it inspired me to design something that will be done someday. Aameen. 🙂

5904

5903

Thank You, Class A of ELS Program Hasanuddin University 2014

Hello, World! 😀

In this chance, I post my journey in my first semester in ELS Program Hasanuddin University.

In 2014, ELS Program has about 53 new students. We are divided into two classes. The students who have odd student’s numbers are in Class A, and even student’s numbers are in Class B. So, Class A has 27 students and Class B has 26 students.

As we know, ELS Program has three concentrations. They are Education, Literature and Linguistics Concentration. I choose Education Concentration. For this semester (1st semester), we have three basic courses (English Phonetics and Phonology, Morphosyntax and Transformational Generative Grammar, Semantics and Pragmatics) and two courses about our concentrations.

Left2Right: Echa, Eka, Ning, Mala, Kk Sahlim, Ikhwan, Ussy, Kiky, Desty, Kk Deasy, Kk Nana, Salmah, Kk Mul, Kk Lewi, Sapta, Kk Alim, Destri, Kk Kiky, Afny, Kk Ratih, Kk Asdar, Riri, Kk Aiz, Kk Faika, Fadhly and Kk Suaib
Left2Right: Echa, Eka, Ning, Mala, Kk Sahlim, Ikhwan, Ussy, Kiky, Desty, Kk Deasy, Kk Nana, Salmah, Kk Mul, Kk Lewi, Sapta, Kk Alim, Destri, Kk Kiky, Afny, Kk Ratih, Kk Asdar, Riri, Kk Aiz, Kk Faika, Fadhly and Kk Suaib

Fortunately, I belong to Class A. The class which always makes me happy, comfortable and relaxed. Thank you, guys, for your friendship. Nyamanna’. Hehehe.

In Class A, there are 9 students in Education Concentration, 9 students in Linguistics Concentration and 8 students in Literature Concentration. We have same schedule in the three basic courses and different schedule for courses that related to our concentration. And do you know? I always feel lively with them.

Because we are at the end of this semester and we will not be in same class anymore for next semester, on Desember 21, 2014 (Sunday), we had a plan to go to Salmah’s house in Samata, Gowa. We had a family picnic and studied together because we would have a final test for TG Grammar by Prof. Manda.

Kerja, kerja, kerja :D
Kerja, kerja, kerja 😀

In Salmah’s house, we helped Salmah’s mother to make Sup Ubi in the kitchen. When everything has been done, we ate together. What a nice togetherness. After eating, we took a rest for a moment and continued our next plan. That’s STUDYING TGG. We gathered to discuss about problems we had that related to TGG and Kak Mul as the teacher of TGG. *hihihihi… Sometimes it was serious, sometimes it was funny because of the cakes. 😀

Belajar di balik Berpose
Belajar di balik Berpose

After studying TGG, we were invited Salmah to take mangoes in her mango orchards. Wow, we got many mangoes.

Makasih mangganya, tante dan Salmah. :*
Makasih mangganya, tante dan Salmah. :*

Because the day would be dark, we asked for permission to go home to Salmah’s parents and Salmah. The service was very nice. We were happy there. Thank you, Salmah. :*

The next day, 22 December 2014, Monday. We had the final test of TG Grammar from Prof. Manda. On 09.00 p.m. the test was done and Prof. Manda was very on time. He has been in the room early. He is one of my favorite lecturers. I always observe him when he finishes his teaching, he always cleans all of his writing on whiteboard. I remembered what Pak Supardi said to me that after finishing your teaching, you should clean the writing on whiteboard. It gives a message that we must give a good impression for next class that want to use a room after we used.

Thank you, Prof. Manda for giving us the knowledge and taking photo with us.

With Prof. Manda after the final test
With Prof. Manda after the final test

Also, thanks to our great lecturers in this semester, Prof. Hamzah, Prof. Hakim, Prof. Noer Jihad, Mam Sukma, Mam Nasmilah, Mam Ria and Mam Etty for the great teaching and knowledge for us.

Thank you for my friends in ELS Program to give this experience, especially Class A.

I will miss our craziness, dumba-dumba ta if the lecturers want to point us to answer some questions, our presentations, and our discussions in class and LINE. Also, Class B. Thank you, guys. Keep this relationship and friendship, please.

Thank you, Ussi for these word and photos.
12726

MLC TOEFL Prediction Test & Seminar Pendidikan Luar Negeri

MLC TOEFL Prediction Test and Seminar Pendidikan Luar Negeri
MLC TOEFL Prediction Test and Seminar Pendidikan Luar Negeri

There was an event on June 15, 2014 (Sunday) at La Ode Malim Auditorium Dayanu Ikhsanuddin University, namely MLC TOEFL Prediction Test dan Seminar Pendidikan Luar Negeri.The event was educative and very interesting. I think that was the first time for such the event held in Baubau. It was followed by students in university, high school, and some teachers.

It was held by Makida Learning Center. It is one of courses in Baubau, located at Jalan Erlangga Ruko Pos 3 Baubau. You can also contact it via Facebook or Twitter.

Sunday morning, I arrived at campus before the event held and met my friends. Did not forget to take some pictures with them. 😀

With friends
With friends

Before I entered the room, I had to have re-registration and got Paper List Beasiswa Luar Negeri and a booklet of Makida Learning Center.

What we got
What we got

For the first session, all participants had a TOEFL Test, it was about

Mr. Boy was still giving explanation about TOEFL
Mr. Boy was still giving explanation about TOEFL

140 questions in 110 minutes. The questions were WOW WOW WOW.. And I can’t predict how my score will be. 😀 Afterwards, we were explained all about TOEFL, how to answer the questions, tips and trick by Mr. Boy, one of tutor in Master TOEFL Makassar. He had nice explanation. 🙂

Then, we had lunch. Eating time!!! 😀 Ahaideee…
After that, the seminar was started.

The book and I
The book and I

There were three people as resource person. They were La  Ode Aroamonkdo, S.IP, M.A. (Who got his postgraduate degree in Germany), Muhammad Arham (One of students in English Literature Hasanuddin University who got youth exchange from JENNESYS), and Mr. Calleb Coppenger (the author of The Mysteries of the Islands of Buton According to the Old men and Me).

The conclusions that I could get from their explanation and moderator are:

  1. There is a will, there is a way. (Arham’s words)
  2. To get the scholarship, we must have high value and competitiveness.
  3. Of course, we must struggle to get the scholarship and survive abroad.
  4. Studying abroad can open our mind and insight. What we can see abroad, we can’t see it here (Indonesia). What we can see in Indonesia, we can’t see it abroad.
  5. There is no automatic result, it must be filled by working hard and struggling.
  6. If we want to study abroad, we should prepare our self “before the deadline”. For example, we have a plan to study abroad in 2014. So, we must prepare in 2009 or 2010. Yup, I mean “before deadline”. 😀

The closing session was giving of souvenirs to the resource persons and the taking of photos together.

giving souvenirs
giving souvenirs
left2right: moderator (a doctor), Mr. Boy, Kk Ar, Mr. Calleb Coppenger, Muh. Irham, and Tonny Feisal (Project Leader)

The last beautiful photo was Kk Cenk and I. 😀 Ahaideee….

Kk Cenk and I 😀 Thank you, Kaka… 🙂 Good luck always.

 

The Sudden Journey to the Pine Forest in Samparona

It happened on June 2nd, 2014. Actually, going to the pine forest in Samparona is one of desires of my friends, Mey. But, it doesn’t always come true. Yah, because our time isn’t always enough and the weather isn’t always so good. So, on June 2nd, 2014, she got it. 🙂

We phoned Athul, Daus, and Iyan in the afternoon. They agreed to go there. But, Iyhan didn’t answer our phone. So, we went to Iyhan’s house to tell what we planned . Because we believed that he was sleeping. 😀 Fortunately, he wanted, even though it was a sudden thing. 😀 All of us (Iyhan, Alam, Athul, Daus, Mey, and I) had gathered and we were ready to go there…

FYI, the pine forest is located in Samparona, in Kaesabu Vilage, Sorawolio district, Baubau. Before we are in there, we will pass a wide area that used as a venue for National Women Campsite (Perkempinas) I.

http://greatbuton.blogspot.com/

And then, taraaaa…  We arrived there…. 😀

Thank you, Iyano as the photographer. 😀

Many people go to the pine forest to take pictures, whether for pre-wedding or for having fun. Yeah, it’s nice location. 🙂 Maybe, if you live in Baubau, you’ll feel bored to look at our pictures because it’s in the pine forest. Again, again, and again. 😀 But, it’s OK, because we enjoy it. There were happiness, joking, laughter and togetherness from us. And they’re priceless. 🙂

A little crazy we did
A little crazy we did
Look at our styles. It's about self confidence. :D
Look at our styles. It’s about self confidence. 😀

How about you, Mey? 🙂

Is it enough for making your dream comes true? Or are there other places you want to visit? Tell us, before you go to Java. 😀 Ahaideee…

 

 

English in Me

When I was in Junior High School at first class, I knew nothing about English. I’s blind of it. I felt like a stupid student. I was very jealous to my classmates. They had known it. I still remember when there was English subject, we were asked to write a sentence by using Simple Present Tense form by our teacher. Every my classmate could do well, and me, nothing. I was always wrong and wrong. It made me bad. I didn’t like my condition like that. So, I asked to my parents to give me chance for joining in an English Course.

google.com

My first English course was in KECC (Kendari English Conversation Course). It’s located before Laelangi Market. I joint there for 6 months. Then, I felt rather good for learning English. Then, when I was in the top class at junior high school, I tried again to join in an English course because some of my friends joined there. So, I followed them. I joint in BEC (Buton English Course) at February 2nd, 2006 and the course principal was H. Ld. Abd. Azis Hasim, S.Pd., M.Sc. till I was in Senior High School at 2009. For 3 years. But maybe, I am not good enough yet in learning English.

I like my last English Course, BEC. The condition was very different with English course before. When I joint in BEC, I felt I had nothing yet. My friends were very fluent to say English sentences and I couldn’t do anything. Just could look them, I was very surprised. Although I had joint in an English course before, I felt I didn’t have anything. My English was very weak.  But my vocabularies were good enough.

My first teacher was Mr. Acho. He was clever. He was Mr. Azis’ assistant to teach student in BEC because he could teach well. I liked him. I liked his teaching. I didn’t know how Mr. Azis as the owner that course was. I never looked him. Until one time, he changed Mr. Acho to teach us. First, I didn’t like if Mr. Azis taught us because that was my first time to meet him face to face. I felt afraid when I must be taught by him. I didn’t know I did like that. But, when he started to teach us, I felt happiness, I could laugh together with him and my friends. I felt  very happy. He taught us with love. He taught us with a joke but serious. Mr. Azis is very kind. He gave me inspiration to be a good human by his story life. Everything is very precious for me. His laughing is very beautiful. I can never forget it. I am very happy and lucky to be his student.

Mr. Azis has given me a motivation to be a good man in learning English.

google.com

And I will try to improve my English because I want to be like him. I missed everything when he taught us. He always begins a lesson with smile and happiness. I miss him so much. I miss his smile. I miss his laughing and I miss his teaching. No one can change him. He is one of the best English teachers that I have. I just hope, one time he can be proud to me because he had had a student like me. Mr. Azis, I am thankful for you. Because of you, I can be like this now. I will never forget your smile, your spirit, your laughing, and everything. I miss you so much. I want to be able to have the experience again like in the past time.

Baubau, 1st May 2010

The Beautiful Night with Ayah

Ayah. We love you, Ayah. Yah. Pak Syahrir atau lebih sering kami panggil Pak Chay adalah salah satu guru favorit kami sewaktu SMA. Beliau mengajar khusus dalam mata pelajaran Kimia kelas XII. Beliau sudah kami anggap seperti ayah sendiri. :’) Entah mengapa, saya selalu mengeluarkan air mata alias nangis jika berada di depan P’Chay. Haduuuhhh, tidak heran kalau saya sering digangguin sama Kiky dan teman-teman dengan sebutan “Cengeng.” -__-”
Iya, kenapa saya menangis? Karena saya selalu mengingat nasehat-nasehat yang diberikan beliau jikalau kami datang mengunjungi beliau. Dan saya pribadi, entah. Sepertinya belum berhasil mengaplikasikan nasehatnya secara maksimal. Tapi, saya akan berusaha sebaik mungkin. Pasti bisa. Insya Allah!!! 🙂

Waktu datang bertamu di rumah Ayah. Saya, WiNNy, Kiky, Mega, Ragil dan Mey. Saya masih ingat beliau bilang, kalau tidak salah seperti ini, “Kalian itu tidak perlu lagi diberi nasehat. Sudah tahu mana yang baik untuk diri kalian, sudah bisa menentukan mana yang salah dan benar.” 😥

Saya diammmm…

“Kalau teman-teman kalian menggalau, kenapa kalian harus ikut-ikutan galau?”

…..

Hening…

Hummm, memang bener sih apa yang dibilang Ayah. Di hari itu, 22 Agustus 2012, saya nangis (lagi). Mendengar apa yang dibilang Ayah. WiNNy cs. pada keheranan karena ngeliat saya nangis. Ini ada apa? Ya, saya sih diam-diam saja. Hahaha.

Thanks ya buat Aditya, anak Ayah. Dia tuh so sweet skali. Masih anak SD. Dia ngeliat saya nangis, langsung saya disodorin lagu U SMILEnya Sule dan Andre. Katanya supaya saya nggak nangis lagi. Cieee, terharu saya, Aditya. Makasih banyak ya. 🙂

Sebelum pulang, kita fobar dulu. Sengaja… Hehehe… SURPRISED…

(kiri atas-kanan bawah) Mega, Kiky, WiNNy, Ragil, Ning, Mey.

After that, kita janjian untuk ketemu lagi sama Ayah, 24 Agustus 2012. Tempatnya di Keynai. Kami ngasih kado untuk Ayah. Huaaa, terharu. Dua buah bingkai foto yang ada foto kami bertujuh; Ayah, Mega, Kiky, WiNNy, Mey, Ragil dan saya.

@Keynai with them.

Detik-detik Ayah membuka kado. Taraaaa!!!

Cieee, kadonya. 😉

Yang ini bergifo-gifo ria alias narsis di Keynai. 😀 Sayang Ragilnya gak sempat ikut. 😦

Ayah, Ning, Mega, Kiky, WiNNy, dan Mey.
Ehemmmm… 😀

Terima kasih, Ayah.
Terima kasih, sayang-sayangku… :* :* :*