Tag Archives: Ning ‘Little’ Syafitri

Hi June!

Source: google.com

Hi June,
I’m so sorry.
No birthday cake.
No candles.
No song.
No surprise.

Let me do by writing on this blog.

How are you today?
You still remember this date, don’t you?
This is your day.
I hope you’re happy to know this.
The day that reminds you to be a better man, more mature, and more thankful to Allah for everything you have.
Your day that will give what you want for your good life.
Nothing is impossible as long as we keep praying and make effort.
Aamiin.

Actually, I can’t say anything because you have made me speechless.
This is not a joke or a sweet talk, but a feeling from yours.
I wanna give you romantic words sequences, but I can’t do that.
I have no idea at all.
Sorry, Darl.
All of the words have been absorbed by you so I lost them. 😀

Not much to say,
be closer to Allah, 

be happy,
be better,
be yourself,
be mine.
🙂

Happy 1st June, Darl! 🙂

This is About Graduation 2016

 

Alhamdulillah to Your Mercy, Allah
Alhamdulillah to Your Mercy, Allah

Hello, long time no see you, my blog. I miss to write here. Yaps, in this chance the topic is my second graduation. Finally, I’m graduated from Hasanuddin University after being a student for two years more. Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah ya Allah. You again again again give me Your priceless mercy.

Jadi ceritanya pada tanggal 22 Desember 2016 (bertepatan hari ibu, readers), Universitas Hasanuddin melaksanakan Wisuda Pascasarjana dan Profesi Periode II Desember Tahun Akademik 2016/2017. Khusus untuk fakultas saya, Fakultas Ilmu Budaya, memiliki 17 wisudawan yang berasal dari 4 (empat) program studi, yakni:

  1. Program Studi Ilmu Linguistik S3 (1. Fatimah Hidayahni Amin)
  2. Program Studi Ilmu Linguistik S2 (2. Ita Rosvita, 3. Siti Umi Salamah, 4. Nila Puspita Sari, 5. Maria Arnoldiana Dadjan Uran, 6. Santy Monika)
  3. Program Studi Bahasa Inggris S2 (7. Nining Syafitri, 8. Yuriatson, 9. Ida Mariani Idris, 10. Yandri, 11. Israkwaty, 12. Rizki Diliarti Armaya, 13. Faika, 14. Hikmawati, 15. Reza Apreliah Dg. Matara, 16. Satang)
  4. Program Studi Bahasa Indonesia S2 (17. Nanik Indrayani) 

    FYI, alhamdulillah juga untuk wisuda kali ini, ijazah dan transkrip udah langsung ada, jadi tidak perlu galau menunggu transkrip kelar yang katanya butuh waktu beberapa bulan. Trims, Unhas. 🙂

    Bersama Dosen dan Staf TU FIB Unhas
    Bersama Dosen dan Staf TU FIB Unhas

Satu hari sebelum pelaksanaan wisuda, 21 Desember 2016, kami mengadakan malam ramah tamah di Hotel MaxOne yang berada di Jalan Taman Makam Pahlawan. Hal ini berbeda dengan malam ramah tamah pada periode I September 2016 kemarin yang dilangsungkan di Hotel Clarion Makassar, di mana semua program studi pascasarjana berada dalam satu aula dan panitianya berasal dari pihak Pasca Unhas sendiri. Pada periode II Desember 2016 ini, yang menjadi panitianya pun adalah kami sendiri dan khusus Fakultas Ilmu Budaya. Dengan demikian, suasana keakraban bersama para dosen, staf fakultas dan calon wisudawan sangat terasa pada malam itu.

Kak Satang dan Prof. Tadjuddin Maknun, S.U. (WD I)
Kak Satang dan Prof. Dr. Tadjuddin Maknun, S.U. (WD I)

Pada pelaksanaan ramah tamah tersebut, kami, para wisudawan, memberikan cenderamata sebagai kenang-kenangan yang diwakili oleh Kak Satang kepada pihak fakultas yang diwakili oleh Wakil Dekan I, Prof. Dr. Tadjuddin Maknun, S.U. Kemudian, ada pembacaan wisudawan terbaik di tingkat fakultas kami, yakni Kak Fatimah Hidayahni Amin, Kak Yandri, Maria (Dian), dan Ibu Siti Umi Salamah. Congrats, kaka-kaka.

Left2right: Hikma, Kiky, Kk Fatimah, Ning, Nila
Left2right: Hikma, Kiky, Kk Fatimah, Ning, Nila

Terima kasih kepada teman-teman wisudawan yang telah mengupayakan acara malam ramah tamah pada periode ini sehingga acaranya berjalan dengan baik dan lancar. Semoga berikutnya lebih baik lah. Aamiin.

Ladies FIB Unhas
Ladies FIB Unhas

Well, tidak terasa dua tahun lebih lanjut sekolah di sini, Makassar. Pastinya bakalan banyak momen yang harus dikenang, seperti momen perkuliahan yang kadang buat seru, dagdigdug, lucu dan awkward, terus masa-masa ngerjain tugas dari dosen, dan perjuangan pamungkas adalah proses penyelesaian tesis yang berhasil buat saya hampir hopeless, percaya deh Allah sudah punya skenario sendiri memang, tinggal kitanya aja yang pintar-pintar positive thinking dan giat berusaha bagaimana caranya supaya tidak hilang semangat. Kata Prof. Hakim, Semangat dulu yang disemangati. Hehehe.

Selain itu, kuliah di Unhas ini, saya pun punya banyak teman dari berbagai daerah. Thank you ya sudah jadi teman yang baik untuk Nining selama dua tahun lebih ini. Maaf kalau ada banyak salah sama teman-teman, gak ada niat mau jahat sama kalian. Bakalan kangen sama kalian, pastinya bakalan gak bisa diulangi lagi momen kuliahnya. Kita semua pasti udah berpencar masing-masing ke arah yang tidak ditentukan. Hehehe. Yeps, mencari dan menemukan kehidupan baru yang lebih baik setelah perjuangan menjalani studi. Pastinya, beberapa tahun kemudian, udah kedengaran kalau si ini si itu udah jadi rektor, ketua program studi, jadi prof., lanjut kuliah di luar negeri, di universitas ini itu. Ecieee. Aamiin Aamiin.

Makassar, I will miss you a lot. Thanks, Allah, You have given me a chance to enjoy all these experiences in continuing this study.

*’Tarimakasiku to yingkomiu’ (Thank to you all) session.
Trima kasih, Ma Pa, to all your sacrifice for me. I know I can’t do like what you have given to me, except to be your good daughter as you want. I’ll do it, in sha Allah.

Thanks juga untuk para dosen yang sudah mengajar teman-teman dan saya selama perkuliahan di Unhas. You are great lecturers. :’)

Trima kasih untuk para staf TU Fakultas Ilmu Budaya.

Oh iya, terima kasih juga buat teman-teman, sahabat dan keluarga yang sudah mengucapkan melalui media sosial, minta maaf komentarnya belum sempat dibalas semua.

Dan semua pihak-pihak yang secara langsung dan tidak langsung turut memudahkan jalan saya dalam proses penyelesaian kuliah ini. Tarima kasi.

*Curhat session
Udah diwisuda emang iya, tapi masih merasa kurang begitu, belum apa-apa sih iya. Masih banyak kurangnya malah. Walaupun sekolah memang sudah selesai, tapi belajar harus berlanjut terus. Saya memang harus terus belajar. SEMANGAT, Ning. SEMANGAT!!!

Biasanya, hal yang paling sering ditanyain setelah saya wisuda ini adalah pekerjaan dan jodoh. Saya mah senyumin aja sambil berkata, “Mohon doanya, om-tante-pak-bu-teman. Semoga disegerakan, dapat kerja yang bagus dan dapat jodoh baik yang Allah ridho. Aaamiin.” Acakaseeehhh… Ahaide. Hehehe… Thanks, readers, udah sempat-sempatkan baca tulisan curhat minceu dari awal hingga akhir. Semoga bermanfaat, readers. Semoga… 😀

Tentang Kamu – Tere Liye

Tentang Kamu - Tere Liye
Tentang Kamu – Tere Liye

“Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu, itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku. Cinta memang tidak perlu ditemukan, cintalah yang akan menemukan kita.

Terima kasih. Nasihat lama itu benar sekali, aku tidak akan menangis karena sesuatu telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi.

Masa lalu. Rasa sakit. Masa depan. Mimpi-mimpi. Semua akan berlalu, seperti sungai yang mengalir. Maka biarlah hidupku mengalir seperti sungai kehidupan.”
(Tere Liye – Tentang Kamu)

 

Penulis: Tere Liye
Judul Buku: Tentang Kamu
Penerbit: Republika Penerbit, Jakarta
Cetakan: Kedua, Oktober 2016
Dimensi: vi + 524 halaman; 13.5 x 20.5 cm

Well, novel ini telah berhasil membuat saya berkali-kali menangis selama membacanya. Mungkin karena saya yang terlalu mendramatisir alur cerita atau saya yang terlalu sensitif. Entahlah, yang jelasnya, lagi lagi, Tere Liye menampilkan keahlian menulis novelnya dengan sangat AWESOME. *Bang Tere Liye, boleh skillnya ditransfer ke saya sedikit? I wonder how you become a very good writer, Sir.

Berbeda dengan novel karya sebelumnya, Hujan, yang bercerita tentang kehidupan di masa mendatang, Novel Tentang Kamu justru sebaliknya. Novel yang mengisahkan perjalanan hidup seseorang yang bernama Sri Ningsih di tahun 1946 – 2016 yang penuh dengan berbagai peristiwa kehidupan yang kadang saya pun tidak dapat menahan air mata *baper.

Perlu diketahui, Sri Ningsih di novel ini dideskripsikan sebagai wanita tangguh, periang, selalu berpikiran positif, rajin, tidak pernah mengeluh atas segala peristiwa pahit yang menimpa hidupnya dan satu lagi, sangat sangat sangat ikhlas. 😥 Kehilangan ibu sejak dia dilahirkan, kehilangan ayah ketika umur sembilan tahun dan dianggap sebagai ‘anak yang dikutuk’ oleh ibu tirinya, kehilangan adik tiri kesayangannya pada saat peristiwa pembunuhan massal oleh kaum komunis di Surakarta, kehilangan bayi pertama ketika melahirkannya dan bayi kedua yang hanya hidup beberapa jam saja akibat golongan darah Sri dan suaminya yang berasal dari Turki, dan terakhir adalah kehilangan suami yang dia cintai akibat sakit yang dideritanya. Sungguh, tiap episode cerita seorang Sri Ningsih membuat penasaran halaman per halamannya.

Adalah Zaman Zulkarnaen, seorang lawyer muda berusia 30 tahun, mendapat mandat dari sebuah firma hukum tempat ia bekerja, untuk menyelesaikan masalah warisan salah satu klien yang telah meninggal dunia. Seorang wanita tua berusia 70 tahun, pemegang paspor Inggris, memiliki izin menetap di Perancis, dan selama belasan tahun terakhir tinggal dan aktif berkebun di panti jompo. Wafat tanpa meninggalkan surat wasiat dan belum diketahui siapa ahli waris dari nilai warisan sebesar satu miliar poundsterling atau setara dengan 19 triliun rupiah menjadikan kasus ini merupakan hal hebat pertama yang harus diselesaikan Zaman sebagai seorang lawyer dengan kinerja yang telah diakui oleh pimpinannya. Ya, seorang klien bernama Sri Ningsih, orang Indonesia pemegang paspor Inggris. Maka, cerita kehidupan Sri Ningsih dimulai dengan Zaman sebagai penelusurnya dalam Novel Tentang Kamu.

Terdiri dari 33 bagian cerita yang saling berkaitan dan sangat menarik untuk segera diselesaikan. Akhir ceritanya? Silahkan dibaca sendiri. Hati cenat-cenut pokoknya.

Kalau saya menjadi seorang Sri Ningsih kayaknya tidak bakalan sanggup. Walaupun hanya sebuah novel, tapi pelajaran hidupnya cukup memberikan makna tersendiri bagi saya pribadi. Sabar, ikhlas, lalui prosesnya. Lagi dan lagi, Allah telah mengatur segalanya. Tidak ada yang buruk untuk umatNya. He had decided all the best decision for us. Dan saya yakini itu. Tidak ada keraguan padaNya. In sha Allah. :’)

Sekali lagi, novel ini secara tidak langsung membawa pembacanya larut ke dalam cerita menjadi seorang Zaman Zulkarnaen, si pencari jejak kehidupan dan ahli waris Sri Ningsih, sang wanita tangguh Indonesia.

“…. Ketika kebencian, dendam kesumat sebesar apa pun akan luruh oleh rasa sabar. Gunung-gunung akan rata, lautan akan kering, tidak ada yang mampu mengalahkan rasa sabar. Selemah apa pun fisik seseorang, semiskin apa pun dia, sekali di hatinya punya rasa sabar, dunia tidak bisa menyakitinya. Tidak bisa. ….” (Hal. 48)

 …. Ibu Sri tersenyum padaku, berkata pelan, ‘Chaty, jadilah seperti lilin, yang tidak pernah menyesal saat nyala api membakarmu. Jadilah seperti air yang mengalir sabar. Jangan pernah takut memulai hal baru…’ (Hal. 278)

“Apa harta yang akan dibawa mati saat kita meninggal?” … Tidak ada, Sir, selain apa-apa yang kita belanjakan untuk kebaikan. Sisanya akan ditinggalkan, bahkan diperebutkan. (Hal. 430)

Because I Believe You, Allah

Ada sesuatu yang terus mengganggu
Entah kapan akan berhenti
Berakhir
Di ujung keikhlasan hati untuk melepaskan
Atau menerimanya dengan saling menggenggam tangan
Untuk tidak berpisah hingga Allah hendak mengambil apa yang menjadi milikNya

source: 1-flesh.tumblr.com
source: 1-flesh.tumblr.com

Hati dan kabar burung itu seolah saling berkompetisi mempertahankan eksistensinya
Pada jiwa yang hampir rapuh
Tidak menyenangkan berada di antara kedua kondisi itu
Namun, keberadaan Allah akan janjiNya membuat perasaan ini hampir seperti batu
Kokoh pada kepercayaan atas apa yang telah dikatakanNya
Bersama dia ataupun tidak untuk bersama

Ya, semua kembali pada diri
Sejauh mana memperbaiki diri untuk baik di mata Allah
Hingga akhirnya Allah menghadiahkan anugerah asmaraNya
Yang membuat diri tidak bisa berkata apa-apa
Selain bersyukur kepadaNya
Sang Maha Penentu Pasangan Hidup
Engkau Maha Besar, ya Allah

Let me adore You through this writing on this blog
This is not one of ways to attract Your attention to give me what I want
This is what I want to say on my personal blog
I don’t care with many readers who read this note

I can not save this by myself
Even I don’t say it to You directly, I am sure You must know what the best thing for me
Thanks, Allah
Thanks for everything
However, I am totally still failed to obey Your exam.
I am still too sinful to be your Ummat.

Coretan untuk Hari Senin

Selamat Senin pagi, semuanya.

Hari ini lagi kangen sama menulis. Tapi masih belum ditahu topiknya ini bermanfaat atau tidak. Mengapa? Karena sifatnya tentang perasaan. Hehehe. Maklumlah, penulisnya cewek. Jadi, gimana ya, kayak ada baper-bapernya gitu. Maaf ya. Tulisannya ‘nyampah’ nih.

Oke. Dimulai dari pikiran yang terus-menerus berkutat sama yang namanya tesis, ujian hasil, ujian tutup, dan deadline pendaftaran wisuda. Harapannya sih semoga dapat wisuda September 2016. Tapi, belum ditahu ya, apakah bisa dikejar atau tidak. Namun, dari lubuk hati yang paling dalam, I DEEPLY WANT IT. Aameen. Aameen. Aameen.

Terlalu banyak underpressure yang diciptakan diri sendiri. Padahal kalau dari orang tua tidak terlalu menuntut ini itu. Tapi namanya anak kan, ada peka-pekanya juga. Hehe. Kalau masih bisa diusahakan sampai titik terakhir, ya why not.

Lama juga tidak menulis, akibatnya alur tulisan ini serasa amburadul. Soalnya belum dapat inspirasi yang WOW sih. It is OK. Agak (sok) sibuk akhir-akhir ini, jadi mohon dimaklumi saja ya.

Paragraf ini dimulai dengan gejolak pikiran antara tesis dan perasaan. Antara masa depan dan ‘masa depan’. Tidak jarang harus ada air mata yang menetes secara diam-diam. Entah ketika bersujud menghadapNya, waktu lagi bawa kendaraan atau lagi di dalam kamar. *tabongkar kartu AS. Hahaha. 😀 Jika diingat-ingat, seperti hendak tertawa yang kemudian tiba-tiba diam, hening. Dari kemarin-kemarin, hati saya terlalu sensitif, bisa dibilang sensitif lain-lain. 😀 Tiba-tiba bisa aja langsung nangis. Lihat sahabat nikah, nangis. Ketemu pak guru (ayah), nangis. Cuma di depan orang tua aja yang sok tegar, sok senyum manis, sok kuat, sok semuanya deh. Hehehe. Masalahnya kalau nangis di depan mereka, gimana yaa. Saya merasa tidak pantas. Sudah cukup nangisnya waktu kecil minta dibelikan ini itu, padahal saat itu lagi suasana krisis moneter. Ckckck. Maaf, Ma Pa. Kemarin masih bandel-bandelnya, masih main ego tingginya. Kalau sekarang, gak tahu deh. Hehehe.

Kemarin dan Sekarang itu adalah dua hal yang berbeda. Dari bentuk katanya saja sudah beda. Apalagi maknanya. Yang sama adalah pelakunya. Ya, saya. ‘Kemarin’ yang melakoninya adalah saya, dan ‘Sekarang’ masih saya juga. Terlalu banyak hal yang mau diadukan, terlalu banyak yang mau dikeluhkan, dan terlalu banyak yang mau diceritakan dalam tulisan ini. Ya sudahlah, mungkin masih kurang pantas untuk merangkai isi kalimatnya di sini. Mungkin lebih bagus dibiarkan berceceran menjadi kepingan-kepingan puisi atau sepenggal kalimat galau anti baper. 😀

Yang intinya itu, Ning. Harus semangat!!! Kata Prof. Hakim, ‘Semangat dulu yang harus disemangati.

Saya tidak menyalahkan keadaan. Kesendirian bukan hukuman, melainkan persiapan. Untuk membenahi diri, kata orang supaya jadi lebih baik. Katanya begitu. Terus, kata Om, saya tidak boleh mengecewakan orang tua (nasehatnya seperti ada pahit dan manisnya e). Saya sih, in sha Allah, Om. Tapi kayaknya sudah banyak tingkah laku saya yang sudah membuat mereka kecewa. Tapi, mungkin tidak terdeteksi saja. Sebaik apapun saya sebagai anak, tidak bakalan mampu mengganti kebaikan orang tua selama membesarkan saya hingga jadi anak yang begini. 😀

Mau cerita tentang perasaan. Ehm. Iya, perasaan. Tapi, ini arah-arahnya bakalan tidak sempat deh. Pesona orang tua masih terlalu dominan untuk tidak disisihkan. Bukan pencitraan ya, readers. Cuma gimana ya. Kita semua tahulah rasanya sebagai anak yang sedikit sadar tentang siapa diri kita yang menaruh penuh hormat dan sayang kepada mereka, orang tua kita. Jadi, saya tidak perlu berkomentar kiri kanan. Menceritakannya pun saya bisa saja menjadi speechless. Lagian, saya belum menjadi anak baik seutuhnya. Masih belajar juga dan bakalan berproses terus, mudah-mudahan berprosesnya menjadi lebih baik, bukan sebaliknya. Aamiin.

Sehat-sehat, Ma Pa.

*IMLC, Ma Pa. 😀

*singkatannya wa WiNNy untuk titik titik. 😀

Pagi, Ramadhan!

Kita memiliki kehidupan yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Olehnya itu, rezeki, jodoh dan kematian yang Allah kasih akan berbeda-beda pula kuantitas dan kualitasnya.
Berbeda bukan berarti Allah berdiskriminasi.
Berbeda karena Allah tahu yang terbaik untuk hambaNya yang bertakwa.

Pagi yang tenang. Iya, cerah karena cuacanya tidak mendung. Duduk di sebuah bangku panjang bersama teman seperjuangan. Masing-masing di hadapan laptop dengan kepentingan yang berbeda. Teman saya sibuk mempersiapkan dirinya untuk ujian seminar proposal tanggal 22 Juni ini dan saya sibuk menulis tulisan ini. Tidak sempat bangun sahur karena bangun kepagian dan tidur terlalu malam, tidak menjadi halangan untuk tetap berkonsentrasi dengan apa yang ada di depan mata.

Sedikit menghilangkan penat dari proses pengerjaan hasil penelitian yang belum selesai di mana besok adalah jadwal bimbingan. Rasanya saya terlalu selllooowww sekali… -___- Berharap dapat wisuda September ini, tapi usahanya segini. Mana bisa. Tapi, saya harus yakin, in sya Allah bisa ujian hasil dalam waktu dekat dan dapat wisuda September ini. Yakin, positif, usaha, dan berdoa. Kenapa? Karena kalau saya terlanjur bilang “tidak bisa kejar wisuda September”, itu adalah kesalahan terbesar. Tidak boleh pesimis, Ning. Jalan saja. Positif saja. Kalau dapat September, alhamdulillah. Kalau tidak dapat September, juga alhamdulillah. Jalan Allah itu lebih baik dari apa yang kamu rencanakan, Ning.

Oh iya, bulan Ramadhan ini rasanya beda. Kayak gimana ya… Ada senangnya, ada sedihnya juga. Di pikiran saya itu, “tesis, tesis, tesis, tesis.”  Melihat teman seangkatan yang mau wisuda tanggal 29 Juni ini dan yang sudah ujian hasil, rasanya seperti disindir diri sendiri, “kamu kapan, Ning?” Rasanya mau juga seperti mereka, tapi gimana. Saya usahanya minim. *Jangan dicontoh, readers. Memang betul, Usaha tidak mengkhianati hasil. Gimana gak minim, setelah sakit kemarin, saya seperti kurang cekatan, gercep, dan enerjik. 😀 *merasamu deh, Ning. Wkwkwk… Tekanan darah saya turun naik, readers. Kadang 80/60, 90/70, yaa main-main di situlah. Dan hal itu membuat orang tua saya sedikit panik. *Maafkan anakmu ini, Ma Pa. Mereka meminta saya untuk menjaga kondisi badan dengan banyak minum susu beruang, makan coto/konro, dan satu, TIDAK BEGADANG. Bagaimana bisa selesai ni proyek kalau tidak begadang, Ma Pa. Tapi, saya tidak menyalahkan mereka. No no no. Saya aja yang kurang pandai mengatur waktu dan diri. Gimana Allah mau kasih jodoh kalau saya masih begini. Eh, pembahasan jatuh ke situ lagi. Wkwkwkwk.

Ya, jalan orang memang berbeda. Saya dengan kehidupan saya, orang lain dengan kehidupannya sendiri. Mungkin kemarin saya terlalu menggebu-gebu memilikinya, tapi sekarang saya belajar untuk lebih memahami bahwa tidak selamanya hal yang menyenangkan yang kita dengar akan cepat terealisasi di depan mata. Iya, karena semuanya bisa saja terjadi, tapi waktunya tidak secepat apa yang kita inginkan. Tergantung cara kita mencintai Allah dan berusaha memperbaiki diri menjadi lebih baik, baik, dan baik lagi. 🙂

Teruntuk dr. Rezky Astarini T

img1436920619932

Hai, dr. Rezky Astarini T a.k.a. dr. Kiky!
Kamu bahagia hari ini kan?
Alhamdulillah.
Cieee, yang sudah punya pasangan halal 🙂

Rasanya lihat kamu melepas lajang itu, rasanya gimana ya.
Yaa, sudah bisa dipastikan saya bakalan nangis lagi.
Sedih, terharu dan bahagia, Ky.

Udah sekitar 13 tahun kenal kamu.
Dari kelas 1 SMP dulu sampai sekarang.
Dari yang belum terlalu dekat hingga jadi dekat.
Dari kita yang masih remaja sampai udah dewasa kayak sekarang.
Dari kita yang masih single, eh tahu-tahunya kamu yang duluan berganti status menjadi ‘a married woman’
Waah, waktu jalannya cepat ya. 🙂

Proses hingga berada di tahap ini pun tidak instan.
Butuh ‘perjuangan hati’. Iya kan, Ky? Hehehe…
Alhamdulillah, Allah memberikan jalan yang baik kepada kamu.
Mempertemukanmu bersama Ary, yang rupanya dia adalah teman SD saya dulu, Ky. Dunia kecil ya. Hehehe.
Allah mempertemukanmu bersama dia dalam suatu ikatan cinta yang halal, pernikahan.
Alhamdulillah.

Kiky sayang, segala harapan dan doa-doa baik untuk dirimu dan Ary tercurah, mengalir deras hari ini dan esok.
Iya, dari orang-orang yang menyayangi kalian.
Semoga rumah tangganya menjadi samawa, langgeng selalu, rezekinya semakin diperbanyak sama Allah. 
Satu lagi, saya nunggu ponakan ya. 😀

Oh iya,
Kiky sayang, 
Semoga pernikahanmu bersama Ary dapat menjadi pembuka jalan bagi saudari-saudarimu yang masih berstatus single ini.
Mohon doanya ya, ibu dokter. 😉

Last but not least,
Kiky sayang, selamat ya.
Sekali lagi selamat.
Peluk cium dari saudarimu yang kecil ini.
Semoga Kiky dan Ary akan selalu berada di tengah ‘dan’ hingga maut memisahkan.
Aamiin Aamiin Aamiin Yaa Rabbal Alamiin.

Kiky dan Ary
Kiky dan Ary (Source: Kiky’s File)

Nokia 6030 dan Nokia E63

Nokia E63 dan 6030
Nokia E63 dan 6030

Hallo, Nokia! Apa kabar? Trima kasih telah menemani saya selama ini. Walaupun termasuk Handphone ‘kemarin’, kamu telah berjasa banyak sekali. :), yaa khususnya sebagai pembawa nostalgia di masa-masa SMP kelas 3 hingga kuliah saat ini.

Postingan kali ini membahas tentang HP Nokia 6030 dan E63 saya. Tujuannya adalah saya ingin bercerita tentang mereka. Walaupun hanya HP ‘kemarin’ dan hanya sebuah benda mati tapi jasa dan kenangannya tidak dapat mati. 🙂 Bukan hal yang istimewa sih, akan tetapi saya ingin membuatnya menjadi istimewa melalui catatan di blog ini. 🙂 *ngomong apa sih, Ning?

Kita mulai dari yang pertama. HP Nokia 6030. Ya, this is my first HP since I was in Junior High School, kelas 3. Kebetulan hari ini, 4 Mei 2016, dia genap berusia 10 tahun. Gak terasa aja nih, tahun 2006 kemarin dibeli dan saya masih memakainya. 😀 Bisa dibilang, HP ini cukup tahan lama lah. Udah gak bisa dihitung berapa kali jatuh dengan tidak sengaja dan atau keteledoran menaruh HP dengan posisi yang kurang baik. 😀 Saya masih menggunakan original case-nya, walaupun tulisan di atas keypadnya udah ‘kabur air’. Hal ini diakibatkan karena jari-jemari yang terlalu lincah mengirim SMS. 😀 Bentuknya yang kecil membuat HP ini dapat digenggam sepenuhnya sehingga terasa nyaman untuk digunakan.

Masih tersisa beberapa SMS dan catatan kecil zaman SMP, SMA dan S1 dulu di bagian MessagesSaved Items. Mulai dari do’a  masuk ruang ujian, notifikasi Mig33, SMS dari sahabat tentang cinta monyet dulu, lirik lagu anak IPSA (Ipa Satu) dari Abang Yoko, hingga list frekuensi radio yang ada di Kota Baubau. Membaca catatan-catatan itu kembali rupanya mengundang saya untuk senyum-senyum sendiri. Saya masih ingat di zaman SMA kelas 2, ketika pertama kalinya mengenal internet lewat HP. Kalau tidak salah, dulu yang ajarkan itu La Sahly. Dari dia juga chatting IRC dimulai. Awalnya chatting masih di sekitar kelas IPA 1 dulu, kemudian menyebar seantero teman-teman seangkatan di SMANSA. Waktu itu. Kalau diingat-ingat, kemarin kami gila skali yang namanya chatting. Udah sampai ada yang jadian gara-gara chatting. Ada beberapa teman, bukan saya. 😀 SMA SMA. Indah banget ya. 🙂 Akibat terlalu keseringan chatting, baterai HP saya bengkak, terpaksa ganti baterai yang non-original. Lewat Nokia ini juga, saya mulai mendownload ringtone berformat midi, dari yang beraroma lagu anak-anak, dangdut, pop Indonesia hingga mancanegara punya. Masih tersimpan hingga sekarang. Biasaa, mau dijadikan ringtone. Kasiannyami, masa ringtone nokia tune terus yang dipake. 😀

Pemakaian HP Nokia 6030 berhenti sejenak pada tanggal 8 Oktober 2010 karena pada saat itu saya membeli HP Nokia E63. Yaa, naik tingkatan sedikit. Sudah jadi anak kuliahan soalnya. Ada keinginan mengistirahatkan 6030, kasian udah lama juga dipake. Dua masa ini e, SMP dan SMA, ada sekitar 4 tahun lah. Lumayan.

Nokia E63. Sama seperti Nokia 6030, saya masih memakai original case warna hitam, tapi tulisan di atas keypadnya masih lumayan OK, tidak separah 6030. Sayangnya, sekarang kondisinya tidak ‘sesehat’ kemarin. Menyala beberapa menit, kemudian mati. Tinggal tunggu RIPnya saja ini kasian. Alhamdulillah kemarin data kontaknya masih bisa dibackup di Nokia PC Suite. Si layar besar yang udah banyak waktu istirahatnya. Padahal masih butuh kamu. 😦

Secara pribadi, E63 ini punya kenangan tersendiri bagi saya. Beragam curhatan, rahasia, motivasi, cinta, dan amarah yang tertulis, entah ditujukan untuk saya atau seseorang, masih tersimpan dengan sangat baik. Kemarin. Sebelum diformat ulang beberapa kali. Ya, sangat terasa jelas perjalanannya. Beberapa pesan singkat yang saya anggap penting, tersimpan dengan baik. Kemarin. Namun, sekarang tidak ada satupun pesan yang tersimpan. Buktinya telah hilang, tapi kenangannya tidak akan hilang dalam ingatan. Saya menganggap bahwa HP ini sebagai pembelajaran bagi diri saya agar tidak lari dari kenyataan. Harus berani menghadapi segala masalah yang ada. Yaa, cukup Nokia E63 dan saya saja yang merasakan kenangan itu. 🙂

Berhubung Nokia E63 saya udah sakit-sakitan (jarang diaktifkan), maka Nokia 6030 kembali hadir menemani saya sekarang. Isi pesan singkat zaman SMP SMAnya masih ada, tapi provider selulernya berbeda. Ya, ini tentang kehidupan baru yang harus dijalani di atas kehidupan yang lama. Tidak melupakan, cuma ingin menjalani kehidupan yang lebih baik dari kemarin. 🙂

Well, itu aja yang ingin disharing. Bukan pamer ya. Ini kan cuma HP ‘kemarin’. Saya cuma ingin menshare kenangannya, bukan tentang kuantitasnya. 🙂 Thank you.

Hello, 25!

“Usia 25 tahun bukanlah hal yang menakutkan untuk dianggap sebagai seseorang yang sudah cukup tidak muda lagi. Sudah saatnya dituntut dewasa dalam berpikir dan bertindak. Lebih bijak dalam menjalani hidup yang konteks permasalahannya semakin rumit. Ini tentang tanggung jawab untuk diri sendiri dan orang-orang terkasih. Tentang orang-orang yang telah mendampingi hidup saya selama 25 tahun, calon pendamping hidup, dan masa depan.” (Little Syafitri – 14 April 2016)

messageImage_1460573611312
Tawwa, Gugel. Care-nya sama saya. Terharuku. Hehehe…

Hello, 25! Seperempat abad ya di tahun ini, tahun 2016. Alhamdulillah masih diberi umur panjang untuk menambah amal kebaikan sebagai bekal di akhirat kelak walaupun dosa saya kayaknya lebih banyak dari semua kebaikan yang dilakukan selama ini. Mohon ampun, Allah. I am not a perfect servant.

Well, dua puluh lima ya? Tidak terasa. I’m 25 years old now. This is like something special. Yaa, walaupun cuma lewat tulisan saja tapi this post will be a part of my life history. Thank you, blog. Udah nemenin sejauh ini, dari saya masih ababil sampai setua ini. Hehehe. You can imagine how this blog can save me, 2009 – present.

This moment becomes a sign that human being grows and develops. Banyak pengalaman yang telah dilewati hingga menginjak usia 25 tahun ini. Dari segi fisik, saya memang udah stop perkembangannya, tingginya semampai (semeter tak sampai). Udah cukup. Mau diapain juga udah kayak begini, little little imut. Tidak jarang saya sering disangka masih muda-muda ababil. Baru-baru ketemu senior di mushala trus kami membahas masalah jodoh, pernikahan, dan usia. Eh, saya disangkanya masih umur 22 tahun. Itulah, kadang faktor tinggi badan yang semampai dan muka baby face dapat menjadi pelindung di usia yang sudah *ehm* dewasa ini. Yang penting sehat walafiat, tidak cacat agar maharnya tak kurang. 😀

Dari segi pengetahuan, lebih fokusnya sih mengarah ke pengetahuan tentang pelajaran hidup, tentu sudah banyak input yang masuk sehingga dapat menjadi bekal untuk ke depannya nanti dalam menyelesaikan masalah dengan lebih bijak lagi. Ya, seperti kata Kahn dan Wright (1980) dalam bukunya “Human Growth and the Development of Personality”, seiring pengetahuan kita bertambah, maka masalah yang kita hadapi juga akan semakin rumit. Entah hasil masalah itu membahagiakan atau menyedihkan, who knows. Yang pasti, tiap orang akan mengalami kedua pilihan itu, happy or sad.

Dalam menyambut usia 25 tahun ini, saya sedikit mengadakan survey kecil-kecilan terhadap 23 teman sebagai respondennya, lebih rincinya 21 orang berstatus single dan 2 orang berstatus married. Tujuannya adalah saya ingin mengetahui bagaimana persepsi responden tentang usia 25 tahun, ya lebih khususnya teman-teman di lingkungan sekitar saya. Hasilnya menunjukkan bahwa mereka lebih menganggap bahwa berada di usia 25 tahun itu sesuatu yang patut disyukuri (sebanyak 24%) dan sesuatu yang biasa saja (24%). Wow, dua hal yang berlawanan dalam same percentage. Persepsi ini disusul dengan pendapat mereka yang mengatakan bahwa usia 25 tahun itu amazing (16%).

Juga, dari survey itu sendiri, ada 3 (tiga) jawaban terbanyak yang menjadi faktor penyebab mereka beranggapan seperti demikian.

  • Pemikiran tentang masa depan (37%)
  • Tuntutan hidup untuk lebih dewasa (29%)
  • Keadaan yang masih sama seperti di usia sebelumnya (12%)

Menurut saya, anggapan usia 25 tahun itu merupakan suatu kesyukuran dan feel amazing karena dua faktor tersebut, yaitu pemikiran tentang masa depan dan tuntutan hidup untuk lebih dewasa. Telah muncul kesadaran dari diri sendiri tentang who and how we are. Nah, di sini sudah terbentuk sikap orang dewasa. Berlakulah apa yang dibilang Kahn dan Wright (1980), “adult life is the stage when individuals are expected to be able to take responsibility for their own care…. In the adult stage of life, people are expected to take responsibility for their owns selves, for their children, for their own old age which is yet to come, and perhaps for the care of older people who are part of their present family.”. Ada tanggung jawab yang dimiliki untuk masa depan, seperti tanggung jawab terhadap orang tua; terhadap diri sendiri, bagaimana menjadi seorang pribadi yang lebih mature lagi hingga kita dapat berpikir dan bertindak dengan cara yang tepat dan bijak terhadap hal-hal yang ada di sekitar kita; tentang karir agar tercipta kemandirian secara finansial; dan tentang jodoh, pernikahan, keluarga dan anak.

Sedangkan, usia 25 tahun merupakan hal yang biasa saja, ini diakibatkan oleh keadaan yang masih sama seperti di usia sebelumnya. Pendapat saya, hal ini terjadi karena beberapa respondent saya memang masih berstatus single, sifatnya easy going saja sama apa yang mereka hadapi sekarang dan karena rata-rata masih berada pada tahap pendidikan formal jadi pemikirannya masih belum mengarah ke respon tentang hal-hal yang lebih serius, jodoh misalnya. 😀

Selain menanyakan persepsi tentang usia 25, saya juga meminta responden untuk mengutarakan harapan yang hendak ingin dicapai pada usia 25 tahun ini dan hasilnya adalah: (*jawaban diambil yang hanya bersifat dominan)

  • Tentang jodoh (24%)
  • Tentang peningkatan kualitas diri (21%)
  • Tentang keproduktifan diri hingga terjadi finansial yang mandiri (14%)
  • Tentang kebahagiaan orang tua (10%)
  • Tentang kesuksesan studi (10%)

Berdasarkan lima harapan yang secara garis besar dikemukakan para responden yang keseluruhannya adalah wanita, ya sepertinya sudah seperti ini juga harapan saya di usia 25 tahun ini.

Tentang jodoh, ini menandakan bahwa dalam menjalani hubungan antara pria dan wanita, ada keseriusan di dalamnya. Tidak lagi pacaran sekedar have fun saja dan just for getting status kalau kita bukan jomblo. No, it is about relationship for future.

Tentang peningkatan kualitas diri. Ya, setiap orang menginginkan dirinya menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Semua yang buruk, diikhlaskan saja. Ambil hikmahnya. Yang baiknya, dipertahankan dan atau ditingkatkan untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Semua-semuanya kan ibadah untuk Allah. Selalu saja teringat pesan Pak Kahar, apapun yang kita lakukan (dalam hal kebaikan), sifatnya adalah ibadah kepada Allah.

Ada keinginan sendiri ingin memiliki pekerjaan yang baik, bagus, dan mapan hingga akhirnya bisa menghasilkan uang dari keringat kita sendiri. Dari teman-teman seumuran yang saya temui, mereka merasa sudah tidak pantas lagi kalau harus meminta uang dari orang tua. Kayak ada rasa malu kalau masih harus meminta. Udah seusia seperti ini masih bergantung sama orang tua. Iya, mereka hebat-hebat ya. Sudah bisa produktif, sudah punya kerjaan, punya uang sendiri, trus dinikmatin. Yaa, Alhamdulillah lah. Semoga nanti saya dapat mengikuti jejak mereka, setelah lulus kuliah. Aamiin.

Kebahagiaan orang tua. Bagaimana caranya orang tua bisa bahagia dengan adanya kita di samping mereka. Ya, menurut pribadi saya adalah menjadi anak yang baik, patuh kepada mereka, belajar yang baik di sekolah, care sama kondisi rumah, dsb. sudah buat hati mereka tenang. Kemarin-kemarin saya belum sepenuhnya sadar dan peduli tentang perasaan mereka, hingga muncullah omelan-omelan teguran dari orang tua, tentang inilah, tentang itulah. Tapi, semakin ke sini, saya agak mulai sadar. Oh iya, saya harusnya begini, kalau nanti posisi saya menjadi orang tua dan anak saya tingkah lakunya tidak sesuai apa yang seharusnya, pasti kan saya ngomel-ngomel lagi. Masih ingat apa yang sering dibilang sama mama, “Kalian belum rasakan karena belum punya anak.” Nyess. Itulah, tapi sekarang kan udah 25, udah bisa berpikir tentang hal-hal terbaik apa yang harusnya dilakukan untuk kedua orang tua. Maaf, Ma, Pa. Ning banyak salah e.

Terakhir, tentang kesuksesan studi. Iya, jawaban ini mungkin didominasi oleh para ladies yang notabenenya masih menjadi seorang mahasiswa. Semangat untuk S2 dan praktik kedokterannya, gaess… Insya Allah kita dapat melewati hal ini bersama-sama. Demi dia dan si buah hati. Hahaha.  Actually, we are wonderful women, right? Persoalan keberhasilan studi bukan cuma faktor intelegensi akademik, namun semuanya tergantung rezeki yang dikasih Allah. Sekuat apapun keinginan ingin menyelesaikan studi, tapi jika belum dikasih jalan sama Allah, mau bagaimana. Sama, kayak saya. Mau sekalimi maju ujian seminar proposal, tapi terhalang oleh sesuatu hal. Mau bagaimana. We cannot force. Tetap berdoa saja sama Allah, Ning. In syaa Allah dimudahkan. Ingat, Ning. Allah tidak pernah salah atas kejadian yang menimpa umatNya.

Oke. Finish. Sorry, artikel kali ini lumayan puanjanggg…

Terima kasih untuk segala partisipasinya, teman-teman. Ini merupakan salah satu bentuk hadiah teman-teman ke saya secara tidak langsung. Happy 25 years old.

“Semakin saya sadari kalau hidup itu butuh perjuangan. Tidak ada yang instan. Tidak ada hasil yang baik kalau tidak berusaha. Dan jangan membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain, masing-masing punya jalannya. Yang penting kita selalu meliat ke depan dan bergerak maju. …. Sekarang itu bagaimana caraku bisa hidup dan menghidupi.” (NSS – 9416)

Karena Hujan Selalu Memiliki Cerita

Hujan - Tere Liye

“Bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan.”  Penggalan kalimat terakhir ini menutup cerita Hujan yang disajikan Tere Liye. Ya, seperti yang dituliskan di belakang sampul buku ini. Tentang persahabatan, tentang cinta, tentang perpisahan, tentang melupakan, tentang hujan. Nyess…

Judul Buku: Hujan
Penulis : Tere Liye
Cetakan : Keempat, Februari 2016
Isi: 320 halaman; 20 cm
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Berawal dari kekhilafan saya karena tidak sanggup melihat buku ini terpajang di rak buku bagian best seller di Gramedia MP hari itu, saya memutuskan untuk membelinya. Mengorbankan uang saku demi buku, di kala proses penyusunan proposal untuk diserahkan ke pembimbing  pun menjadi saat yang crucial. Bukan apa-apa, karena saya mengingat di salah satu media sosial mengatakan buku ini akan mengalami kenaikan harga untuk pencetakan bulan Mei 2016 nanti.  Beberapa minggu lalu, saya masih melihat tumpukan buku Hujan ini melimpah ruah, eh beberapa hari kemudian saya melihat Hujan hanya tersisa tiga buah. Daripada menyesal sampai di rumah, I decide to buy one of them. Walaupun uang saku menjadi taruhannya, tidak bisa beli jajan, tidak masalah. Yang penting buku ini harus ada di tangan. Ya, ini adalah kekhilafan. Maaf, Ma. Tidak bisa mengerem keinginan ini. Hehehe.

Oke, lupakan pendahuluan yang saya buat. Tulisan ini hanya sebagai selingan saya selama masa penungguan pembimbing mengoreksi proposal yang disusun. Semoga hasilnya baik dan saya segera maju ujian proposal. Aamiin.

Mari kita masuk ke inti tulisan (Teori Kaplan tentang cara berkomunikasi orang Asia terbukti pada tulisan ini, berputar-putar). Maafkan, readers. 😀

Di awal membaca Hujan, ini di luar ekspektasi saya. Selama ini jika saya membaca buku-buku Tere Liye selalu ada kesan ‘tenang’ di awal-awal perjumpaan. Namun, di buku ini, seperti merasakan ada kengerian di dalamnya. Membayangkannya pun, saya mau menolaknya. Ini seperti berlebihan ya, tapi begitulah opini saya tentang buku ini. Tere Liye menceritakan dan menggambarkan kehidupan umat manusia di masa depan dengan segala teknologi dan bencana yang akan dihadapi nanti. Tere Liye seperti memberikan peringatan penting yang tersirat untuk memperlakukan bumi secara bijaksana lewat Hujan. Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk umat manusia sendiri yang tidak bisa terlepas dari bumi sebagai pijakan untuk memiliki kehidupan (sementara).

Menceritakan kisah dua orang anak perempuan dan anak laki-laki, bernama Lail dan Esok, yang bersama-sama melewati kejadian demi kejadian. Ya, walaupun kadang menguras hati. Lail yang kehilangan kedua orang tuanya dan Esok yang kehilangan keempat saudaranya atas bencana alam yang terjadi saat itu. Semuanya meninggalkan bekas luka hati yang terdalam bagi mereka.

Lail menyukai hujan karena setiap hujan selalu ada moment istimewa yang ia dapatkan. Sayang, tidak selamanya menjadi istimewa, karena akan ada saatnya menjadi sangat menyakitkan. Seperti yang dikatakan Maryam, sahabat Lail, “…. Jangan pernah jatuh cinta saat hujan, Lail.  Karena ketika besok lusa kamu patah hati, setiap kali hujan turun, kamu akan terkenang dengan kejadian menyakitkan itu. Masuk akal, bukan?” (Liye, 2016: 200). Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya.” (Liye, 2016: 201). 

Bab demi bab, saya selalu penasaran dengan ceritanya. Bang Tere Liye, setiap rangkaian ceritamu selalu berkesan. 🙂 Tapi, di akhir cerita saya masih penasaran bagaimana akhirnya kehidupan di bumi. Mungkin Bang Tere Liye telah melakukan riset sebelumnya sebelum menulis cerita ini. Serasa ada campuran cerita scientificnya. Setegang-tegangnya cerita di dalam, selalu saja ada kisah menyentuh yang terselip. Ah, Bang Tere Liye. Kau selalu bisa membuatku mellow. :’)

“Bukan seberapa lama umat manusia bisa bertahan hidup sebagai ukuran kebahagiaan, tapi seberapa besar kemampuan mereka memeluk erat-erat semua hal menyakitkan yang mereka alami.” (Liye, 2016: 317) Tentang persahabatan, tentang cinta, tentang perpisahan, tentang melupakan, tentang hujan. :’)

Terima kasih untuk karya terbarunya, Bang Tere Liye. Buku ini… Iya, pada akhirnya memberikan kesimpulan bahwa manusia memang harus bersikap bijak pada bumi sebagai tempat tinggal manusia itu sendiri. Di sisi lain,  memang harus ada penerimaan di segala kejadian yang kita alami. Intinya ikhlas saja. Yang menyenangkan dan menyakitkan itu merupakan warna yang indah dari kehidupan yang diciptakan Allah untuk setiap hambaNya. Ya, harus pandai-pandai bersyukur aja, Ning. 🙂

Untuk lebih lengkapnya, silahkan baca buku Hujan ini. Saya belum bisa memberikan status sebagai buku yang paling direkomendasikan atau tidak, tapi dari cerita yang saya utarakan, readers pasti bisa menilai. 😉

*Semoga suatu saat nanti saya juga memiliki karya seperti Anda, Bang Tere Liye. 🙂