Tag Archives: Novel

A Novel from Adhitya Mulya: Sabtu Bersama Bapak

Sabtu Bersama Bapak
Sabtu Bersama Bapak

“Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan…, tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.” (Adhitya Mulya, 2015 – Sabtu Bersama Bapak)

Well, perlu diakui, saya terlambat untuk membaca novel ini dan menulisnya di blog. Pasalnya, filmnya udah duluan ditonton daripada novelnya yang harusnya dibaca terlebih dahulu. Ya udahlah, kata Prof.nya, hidup tidak mesti idealis, harus realistis. *mengutip salah satu status senior di Facebook. 🙂

As we know, novel ini bercerita tentang cara seorang Bapak, Gunawan Garnida, yang menyiapkan rekaman video-video dirinya berupa cara pandang dan pemikirannya tentang hidup yang harus dijalani dengan baik oleh kedua anak lelakinya, si Sulung Satya dan si bungsu Cakra (Saka). Hal ini dilakukan karena Pak Gunawan mengidap penyakit kanker dan divonis bahwa hidupnya tidak akan lama, selama 1 tahun lagi. Pak Gunawan tidak ingin ibu Itje Garnida, istrinya, membesarkan anak-anaknya tanpa kehadiran sosok ayah di tengah-tengah mereka. Sehingga, di setiap hari Sabtu sore, Satya dan Cakra selalu menonton video-video Bapak.

Ibu Itje Garnida merawat kedua anaknya hingga Satya dan Cakra tumbuh menjadi sosok lelaki yang dewasa. Mereka hidup dengan mapan dengan masalah hidup yang berbeda-beda. Ibu Itje Garnida, sang pekerja keras hingga akhirnya memiliki delapan rumah makan selama belasan tahun, namun menyembunyikan penyakit kanker payudaranya pada anak-anaknya karena Ibu Itje tidak mau menjadi beban bagi kedua putranya.

Kemudian, Satya yang bekerja di salah satu kilang minyak di luar negeri sebagai geophysicist. Merupakan suami dari Rissa Wiriaatmadja dan ayah dari Ryan, Miku, dan Dani. Dalam kehidupan rumah tangganya, Satya menjadi sosok ayah pemarah di mata istri dan ketiga anaknya.

Lain lagi dengan Cakra, bekerja sebagai Deputy Director di sebuah bank asing yang berkantor di Jakarta. Sosok yang dewasa dalam pemikirannya dan selalu care sama ibunya, namun tidak kunjung mendapatkan jodoh, hingga kemudian Cakra bertemu dengan Ayu, staf baru di tempat ia bekerja. Sayangnya, Salman, teman kerjanya, menjadi pesaingnya untuk menaklukan hati Ayu. 😀

Untuk ending ceritanya, sudah diketahui bahwa ini akan happy ending. Senang sekali membaca kisah cinta dua lelaki ini. Berhasil buat senyum-senyum sendiri. Hahaha.

Thank you, Mas Adhitya. You give me many life lessons from your novel. Saya izin ngutip beberapa ya, Mas Adhitya. 🙂

“Bukan berarti seseorang harus kaya dulu sebelum nikah. Tapi kalian harus punya rencana. Punya persiapan. …. Menikah itu banyak tanggung jawabnya. Rencanakan. Rencanakan untuk kalian. Rencanakan untuk anak-anak kalian.” (hal. 21)

“Ada orang yang merugikan orang lain. Ada orang yang merugikan keluarga yang menyayangi mereka. Ada orang yang hanya merugikan diri sendiri. Ada orang yang berguna untuk diri sendiri. Ada orang yang berhasil menjadi berguna untuk keluarganya. Terakhir adalah orang-orang yang berguna bagi orang lain. Bapak tidak cukup lama untuk menjadi golongan terakhir. … semoga kalian dapat menjadi orang-orang yang lebih baik dari Bapak.” (hal. 86)

“Semua anak wajib menjadi baik dan pintar karena memang itu yang sebaiknya semua manusia lakukan.” (hal. 105)

“Menjadi panutan bukan tugas anak sulung –  kepada adik-adiknya. Menjadi panutan adalah tugas orangtua – untuk semua anak.” (hal. 106)

“…ketika kalian udah gede akan ada masanya kalian harus melawan orang. Yang lebih besar, lebih kuat dari kalian. Dan akan ada masanya, kalian gak punya pilihan lain selain melawan, dan menang. Akan datang juga … masanya semua orang tidak akan membiarkan kalian menang. Jadi, kalian harus pintar. Kalian harus kuat. Kalian harus bisa berdiri dan menang dengan kaki-kaki sendiri.” (hal. 130 – 131)

“Kejar mimpi kalian. Rencanakan. Kerjakan. Kasih deadline.” (hal. 151 – 152)

“Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan. …. Find someone complimentary, not supplementary (Quote dari Oprah Winfrey).” (hal. 217)

Perlu diakui, cerita di novelnya lebih lengkap dibandingkan dengan di filmnya. Rasanya setelah membaca novel ini, saya seperti menemukan kebenaran dari sebuah film yang diangkat dari sebuah novel tersebut. 😀 Bukan menganggap alur cerita yang difilmkan tidak bagus ya. Perlu dipahami, banyak hal-hal yang mesti dipertimbangkan ketika alur cerita di novel harus tidak disamakan dengan filmnya atau jika perlu alur cerita di filmnya harus diubah, tidak sesuai dengan di novel. Hal ini bertujuan agar menjadikan filmnya lebih awesome, tanpa mengurangi value dari novel tersebut. Overall, novel dan filmnya sama-sama bagus. 🙂

Novel ini mengingatkan kembali akan satu hal, bahwa betapa orangtua sangat mencintai dan menyayangi anak-anaknya. Hingga mereka tidak bakalan mau melihat anaknya hidup menderita ke depannya. Orang tua rela berkorban dengan sangat ikhlas demi kehidupan anaknya yang lebih baik, hingga tumbuh menjadi anak yang membanggakan orangtua. Teringat kata-kata dari orang, orang tua mana sih yang tidak mau memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Mas Adhitya, novelnya sarat arti dari keluarga. :’) Let me keep this book for my children later. Hehehe.

Bagi yang belum membaca novel ini, tapi udah keduluan nonton filmnya, saya sarankan untuk baca novelnya deh. Kita akan menemukan kebenaran yang sebenarnya pada novelnya. Tentunya, pelajaran arti dari keluarga dan kebijaksanaan hidup dari Bapak yang lebih banyak tertuang di novelnya.

Ok. I have done to review this novel. I hope you enjoy it. Happy reading, readers! :* 🙂

*FYI. Saya lebih suka cover aslinya sebelum difilmkan daripada cover sesudah difilmkan. Menurut saya, cover pertama lebih natural. It looks like a novel, just a novel, not a film. Bulan Juli 2016 kemarin, dibela-belain keliling di toko-toko buku Makassar, dari Graha Media di M Tos, Gramedia di MP dan MARI, hingga toko-toko buku di Jalan Bulu Kunyi. Sendirian. Demi mencari novel dengan cover pertamanya *terlalu semangat ko, Ning. And you know? Hasilnya nihil. Novel dengan cover pertamanya udah gak keliatan, kebanyakan cover filmnya. Hopeless. Hingga tibalah Oktober ini, I found what I look for di salah satu toko alat tulis kantor di sekitar Jalan Perintis that I didn’t think it before, the novel with its first cover. Memang ya, kalau jodoh gak kemana. Sejauh apapun itu, selama apapun itu, kalau jodoh bakalan ketemu juga. Hehehe. Thanks, Allah. Alhamdulillah.

Milea: Suara dari Dilan

21998

“Kata Pidi Baiq, perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu. Iya, rindu amat teramat sangat. Rindu ada Dilan dan Milea saja. Perpisahan itu, dapat menyedihkan atau bisa jadi menyenangkan. Namun, dari sudut pandang saya, novel ini membuat perpisahan menjadi sesuatu hal yang sangat disayangkan untuk dijadikan sebuah kenyataan yang harus dilewati oleh dua orang tokoh utama, Dilan dan Milea. Perpisahan yang harusnya jangan terjadi.”

Novel Milea: Suara dari Dilan ini adalah karya lanjutan Pidi Baiq dari Novel Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1990 dan Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1991. Jadi, sebelum membaca novel ini, sebaiknya teman-teman membaca Novel Dilan #1 dan #2 terlebih dahulu agar lebih afdol mengetahui alur ceritanya.

Jika dua novel sebelumnya merupakan kisah Dilan dan Milea dari sudut pandang Milea. Maka, novel ini berasal dari sudut pandang Dilan tentang bagaimana pemikiran Dilan terhadap dirinya dan Milea yang berbeda satu sama lain hingga menimbulkan kesimpulan kehidupan mereka yang pada akhirnya membuat saya menangis (lagi) di akhir lembaran cerita novel ini. *Tersentuh, Bang Pidi Baiq. 😥

FYI, sekilas dari novel ini. Terdiri dari 20 bab. Hampir semua para tokohnya pun masih sama (kalau tidak salah ingat) seperti kedua novel sebelumnya. Namun, ada sedikit penambahan tokoh baru untuk kisah asmara Dilan dan Milea yang baru. Hmm. Bandung, Jakarta dan Jogja merupakan daerah-daerah yang menjadi latar belakang tempat dalam novel ini.

Milea rindu Dilan. Dilan rindu Milea. Kenapa tidak jadi sih, Bang Pidi Baiq? 😥

Bisa dibayangkan kan, merencanakan masa depan bersama orang yang kita pikir dia yang akan bersama-sama menjadi masa depan kita, dan di tengah jalan Tuhan memiliki skenario yang lain. Rasanya tuh JLEBBB bangettt. Tapi, yah namanya manusia, cuma bisa punya planning, Tuhan yang make it into a reality. Dan Dilan menyikapinya dengan bijaksana.
*Ah, novel ini lagi-lagi membuat saya termehek-mehek di tengah sunyi senyapnya gelap.

“Kata Dilan: Rasa sedih jika ada, itu harus berbatas untuk memberi peluang munculnya harapan pada hari-hari berikutnya, mengejar impian dan meraih kebahagiaan bersama seseorang yang dapat menghabiskan sisa hidup kita dengannya. … Rasa sedih dan kegagalan tidak selalu berarti kekalahan.” (Pidi Baiq, 2016, p. 356-357)

Sebagai kesimpulannya, novel ini adalah sebuah karya fiksi yang mengingatkan kembali bahwa sebaiknya menghindari su’udzon atau berpikiran negatif terhadap seseorang; ketika mendengar ada hal yang kurang berkenan di hati tentang orang yang kita sayangi, coba tanyakan langsung kepadanya agar tidak terjadi kesalahpahaman, walaupun memang rumit, antara gengsi dan sekedar saling menunggu inisiatif satu sama lain; selalu meminta maaf dan memberi ucapan terima kasih untuk orang yang menyayangi kita; dan selalu ingat, harapan terkadang tidak sesuai kenyataan, bro. Hehehe.

Judul: Milea: Suara dari Dilan
Penulis: Pidi Baiq
Cetakan: I, 2016
Penerbit: Pastel Books
360 hlm.; Ilust.: 20.5 cm
ISBN: 978-602-0851-56-3