Tag Archives: Opinion

Tere Liye: Pulang

Pulang: Tere Liye

“…. Sungguh, sejauh apa pun kehidupan menyesatkan, segelap apa pun hitamnya jalan yang kutempuh, Tuhan selalu memanggil kami untuk pulang. Anakmu telah pulang.”
(Tere Liye, p. 400, 2016)

Penulis: Tere Liye
Judul Buku: Pulang
Penerbit: Republika
Penerbit: Jakarta
Cetakan: XXIII, November 2016
Dimensi: iv + 400 halaman; 13.5 x 20.5 cm

‘Pulang’ adalah salah satu hasil karya Tere Liye yang kembali berhasil mencuri perhatian saya untuk menuliskan kembali sedikit kisah dan kesan tentangnya. *Aduuuh, Bang Tere, ajarin Neng dong menulis. Kereeennn  selalu ya kalau baca novel Abang. Serasa ikut berada di dalam cerita, Bang. Emejing, Bang Tere. >.<

Kali ini, Bujang, Si Babi Hutan, anak pedalaman rimba Sumatra yang menjadi peran utamanya. Bujang merupakan anak dari Samad, si Tukang Pukul keturunan perewa dan Midah, anak seorang guru agama, yang kemudian dibawa oleh Tauke Muda, salah seorang penguasa shadow economy yang paling berpengaruh di ‘dunia’ tersebut. Namun, kepergian Bujang bersama Tauke Muda kurang mendapat respon positif dari Mamak Bujang sehingga acap kali timbul perselisihan antara kedua orang tua Bujang. Suka tidak suka, mau tidak mau, Mamak harus menerima keputusan Bapak untuk menyuruh Bujang mengikuti Tauke Muda. Pada akhir perjalanannya, setelah melewati serangkaian perjalanan hidup yang penuh dengan tantangan, pengkhianatan dari pihak internal keluarga Tong, dan kehilangan orang-orang yang disayanginya, Bujang tumbuh menjadi sosok yang kuat dan tangguh, juga menjadi pewaris penguasa shadow economy keluarga Tong di seluruh kawasan Asia Pasifik.

Do you know? Proses perjalanan seorang Bujang di dalam novel ini, Bang Tere nulisnya WOW WOW WOW. Do you want to feel that? Let’s read this novel. >.<

Satu hal yang menarik dari Bujang adalah walaupun julukannya sebagai si Babi Hutan di Keluarga Tong, dia selalu mengingat dan menunaikan pesan Mamaknya untuk tidak menyentuh makanan haram dan minuman beralkohol sekalipun. Walaupun cuma sebuah novel, hal ini mengingatkan kita kembali bahwa pesan/nasihat yang disampaikan oleh orang tua kepada kita sebaiknya dipatuhi dan dijalankan dengan baik karena semua itu akan memberikan hal-hal yang positif bagi anak-anaknya. Orang tua mana yang mau anaknya tidak baik. Tidak ada kan? *eeeaaa… >.<

‘Pulang’, novel yang memberikan pesan kepada kita sebagai sang penjelajah hidup dalam kehidupan kita masing-masing untuk tidak melupakan tanah kelahiran sejauh apapun kita melangkah pergi, untuk tidak melupakan orang tua sesukses apapun kita nanti, dan untuk tidak melupakan Tuhan sejauh apa pun kita menjauh dariNya. Ya, kita harus pulang.

“…. Sejatinya, dalam hidup ini, kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain, dan itu sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egoisme. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau bisa menang dalam pertempuran itu, maka pertempuran lainnya akan mudah saja. (Tere Liye, p.219: 2016)”

P.S.
‘Pulang’ adalah salah satu novel yang saya beli ketika masih berada di Makassar awal Januari 2017 dan hal ini menandakan telah selesainya saya menempuh perkuliahan selama dua tahun lebih di Kota Makassar. Yaps, novel ini sebagai tanda bahwa saya hendak kembali ke Baubau. Pulang. 🙂

Karena Hujan Selalu Memiliki Cerita

Hujan - Tere Liye

“Bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan.”  Penggalan kalimat terakhir ini menutup cerita Hujan yang disajikan Tere Liye. Ya, seperti yang dituliskan di belakang sampul buku ini. Tentang persahabatan, tentang cinta, tentang perpisahan, tentang melupakan, tentang hujan. Nyess…

Judul Buku: Hujan
Penulis : Tere Liye
Cetakan : Keempat, Februari 2016
Isi: 320 halaman; 20 cm
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Berawal dari kekhilafan saya karena tidak sanggup melihat buku ini terpajang di rak buku bagian best seller di Gramedia MP hari itu, saya memutuskan untuk membelinya. Mengorbankan uang saku demi buku, di kala proses penyusunan proposal untuk diserahkan ke pembimbing  pun menjadi saat yang crucial. Bukan apa-apa, karena saya mengingat di salah satu media sosial mengatakan buku ini akan mengalami kenaikan harga untuk pencetakan bulan Mei 2016 nanti.  Beberapa minggu lalu, saya masih melihat tumpukan buku Hujan ini melimpah ruah, eh beberapa hari kemudian saya melihat Hujan hanya tersisa tiga buah. Daripada menyesal sampai di rumah, I decide to buy one of them. Walaupun uang saku menjadi taruhannya, tidak bisa beli jajan, tidak masalah. Yang penting buku ini harus ada di tangan. Ya, ini adalah kekhilafan. Maaf, Ma. Tidak bisa mengerem keinginan ini. Hehehe.

Oke, lupakan pendahuluan yang saya buat. Tulisan ini hanya sebagai selingan saya selama masa penungguan pembimbing mengoreksi proposal yang disusun. Semoga hasilnya baik dan saya segera maju ujian proposal. Aamiin.

Mari kita masuk ke inti tulisan (Teori Kaplan tentang cara berkomunikasi orang Asia terbukti pada tulisan ini, berputar-putar). Maafkan, readers. 😀

Di awal membaca Hujan, ini di luar ekspektasi saya. Selama ini jika saya membaca buku-buku Tere Liye selalu ada kesan ‘tenang’ di awal-awal perjumpaan. Namun, di buku ini, seperti merasakan ada kengerian di dalamnya. Membayangkannya pun, saya mau menolaknya. Ini seperti berlebihan ya, tapi begitulah opini saya tentang buku ini. Tere Liye menceritakan dan menggambarkan kehidupan umat manusia di masa depan dengan segala teknologi dan bencana yang akan dihadapi nanti. Tere Liye seperti memberikan peringatan penting yang tersirat untuk memperlakukan bumi secara bijaksana lewat Hujan. Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk umat manusia sendiri yang tidak bisa terlepas dari bumi sebagai pijakan untuk memiliki kehidupan (sementara).

Menceritakan kisah dua orang anak perempuan dan anak laki-laki, bernama Lail dan Esok, yang bersama-sama melewati kejadian demi kejadian. Ya, walaupun kadang menguras hati. Lail yang kehilangan kedua orang tuanya dan Esok yang kehilangan keempat saudaranya atas bencana alam yang terjadi saat itu. Semuanya meninggalkan bekas luka hati yang terdalam bagi mereka.

Lail menyukai hujan karena setiap hujan selalu ada moment istimewa yang ia dapatkan. Sayang, tidak selamanya menjadi istimewa, karena akan ada saatnya menjadi sangat menyakitkan. Seperti yang dikatakan Maryam, sahabat Lail, “…. Jangan pernah jatuh cinta saat hujan, Lail.  Karena ketika besok lusa kamu patah hati, setiap kali hujan turun, kamu akan terkenang dengan kejadian menyakitkan itu. Masuk akal, bukan?” (Liye, 2016: 200). Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya.” (Liye, 2016: 201). 

Bab demi bab, saya selalu penasaran dengan ceritanya. Bang Tere Liye, setiap rangkaian ceritamu selalu berkesan. 🙂 Tapi, di akhir cerita saya masih penasaran bagaimana akhirnya kehidupan di bumi. Mungkin Bang Tere Liye telah melakukan riset sebelumnya sebelum menulis cerita ini. Serasa ada campuran cerita scientificnya. Setegang-tegangnya cerita di dalam, selalu saja ada kisah menyentuh yang terselip. Ah, Bang Tere Liye. Kau selalu bisa membuatku mellow. :’)

“Bukan seberapa lama umat manusia bisa bertahan hidup sebagai ukuran kebahagiaan, tapi seberapa besar kemampuan mereka memeluk erat-erat semua hal menyakitkan yang mereka alami.” (Liye, 2016: 317) Tentang persahabatan, tentang cinta, tentang perpisahan, tentang melupakan, tentang hujan. :’)

Terima kasih untuk karya terbarunya, Bang Tere Liye. Buku ini… Iya, pada akhirnya memberikan kesimpulan bahwa manusia memang harus bersikap bijak pada bumi sebagai tempat tinggal manusia itu sendiri. Di sisi lain,  memang harus ada penerimaan di segala kejadian yang kita alami. Intinya ikhlas saja. Yang menyenangkan dan menyakitkan itu merupakan warna yang indah dari kehidupan yang diciptakan Allah untuk setiap hambaNya. Ya, harus pandai-pandai bersyukur aja, Ning. 🙂

Untuk lebih lengkapnya, silahkan baca buku Hujan ini. Saya belum bisa memberikan status sebagai buku yang paling direkomendasikan atau tidak, tapi dari cerita yang saya utarakan, readers pasti bisa menilai. 😉

*Semoga suatu saat nanti saya juga memiliki karya seperti Anda, Bang Tere Liye. 🙂

Antara Mendidik dan Mengajar

5898Teringat perbincangan yang lalu bersama Kak Monica dan Kak Suaib di warung mace Fakultas Sastra Unhas setelah kelas yang menguras isi kognitif untuk bekerja. Tentang hubungan antara laki-laki dan perempuan. Yang pada intinya, kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan tidak selamanya berlaku, khususnya dalam urusan rumah tangga. Tetap, laki-laki berada pada posisi tertinggi sebagai pemimpin, pemimpin rumah tangga.

Laki-laki sebagai suami yang peranannya untuk mendidik (to educate), dan wanita sebagai seorang istri yang tugasnya untuk mengajar (to teach). Itulah mengapa istri lebih cerewet ketimbang suami. Utamanya dalam membesarkan anak. Contohnya ketika seorang suami berdiskusi pada istrinya tentang suatu hal yang berkaitan dengan anak, maka sang istri akan menindaklanjuti hal tersebut kepada anak-anaknya dengan cara dan bahasa yang mudah dipahami. Di sinilah, istri akan lebih banyak berbicara kepada anak-anaknya daripada suami. Sehingga, sebagai anak terkadang merasa ibu itu yang lebih sering berbicara dan bapak yang cenderung diam dan disegani.

*Tulisan ini bukan bersifat menggurui dan sok tua, namun ingin mengutarakan apa yang menjadi pendapat saya. Jika ada yang salah, mohon dibenarkan. Hanya sekedar memahami walaupun belum pernah mengalami sebagai pendamping “seorang pemimpin. ” 😀 

Losing

Hello, World.
It’s like losing a motivation to welcome a great life. 🙂
I feel only walk, walk, walk, and walk. No exactly direction to achieve.
I can’t be only silent, I must say, at least I write on my personal blog. This blog is my friend to tell what I have and this is my right.

Actually, I must be thankful to Allah because He still gives me a life.
I’m alive. I’m here. I breathe. I see. But, I can’t walk perfectly. There is something wrong with me.
Maybe being alone is the best way to grab my motivation (again).
This is too complicated for me. If I could go from here, I would do. Really really go far away…

Workaholic

Heiaa… Blog oh Blog. Writing oh Writing. Do you know? The real job makes me to forget me to write something here. 😦 Sorry, my Little Syafitri. Yaps, for this post, I want to talk about Workaholic.

According to Wikipedia, A workaholic is a person who is addicted to work. Every time is just for working. No time for wasting time for having socialization with other people. Just focus on his work. For example, this Saturday night, it’s weekend. The fact, that person just enjoys his work without caring surroundings. I read an article on internet from here, the signs of being Workaholic. I mean, the main habit of Workaholic. 😀 But, I just take some points that I understand. Hehe…

 

source: google.com
source: google.com

1. Only thinking for working.
Workaholic only think to accomplish his work. He tends not to have socialization with others. If holiday comes, he will not forget to bring some works to be done later. What a workaholic man!!! 😀

2. He doesn’t believe to delegate his work in other people.
Workaholic doesn’t feel comfortable to delegate his work to other people without monitoring directly in him. Even, he spends time to monitor their works that it should be delegated and entrusted with other people.

3. Forgetting other aspects in his life.
The essential priority for a workaholic is working. A workaholic can forget the important agenda in his life because he works too hard.

I think, a workaholic is always active and responsible with his working. All days he uses to work and work. I don’t need to tell other people as an example because I feel I’m a workaholic also. Maybe. 🙂 I can’t feel comfortable if my works doesn’t finish yet and yeah, I’m crazy to work. I can’t think that this is wrong or right, but I enjoy with this. All I do is for my pleasure. I’m happy with the solitude.

Let me do what I want to do.

Maybe, today onwards, I’m not a perfect for you.

Sorry.

Siap Disuka dan Siap Dibenci

What a wonderful day today!

Oke. Mungkin kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman hari ini ketika mengajar di kelas untuk suatu mata kuliah. Baru saja selesai.

Ini hari sangat menyenangkan. Saya memperoleh pelajaran hidup yang tidak ternilai harganya, boleh dikatakan mungkin akan menjadikan pembelajaran diri untuk lebih dewasa. Dan saya harus menyadari bahwa apa yang dikatakan Pak Supardi kemarin-kemarin BENAR. “Kita hidup ini siap disuka dan siap dibenci.”

Saya pikir semua pekerjaan itu tidak ada yang sulit dan tidak ada yang mudah. Semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan, kemudahan dan kesulitannya masing-masing. Termasuk menjadi seorang pengajar. Yang mengabdikan diri sebagai seseorang yang memiliki niat untuk memberikan apa yang ditahu kepada peserta didik. Demi kelangsungan hidup pengajarnya juga demi masa depan peserta didik itu sendiri.

Seorang pengajar dalam melaksanakan proses belajar mengajar (PBM) membutuhkan sebuah metode mengajar, lebih-lebih penguasaan kelas yang baik, juga Interaksi antara pengajar dan anak didik pun harus selaras alias harus saling mendukung. Sehingga PBM akan berjalan dengan sangat baik dan mencapai tujuan pembelajaran itu sendiri.

Seorang pengajar dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada di dalam diri, selalu saja memiliki peserta didik yang disenangi dan tidak disenangi, tergantung sikap mereka sebagai peserta didik ke pengajar. Peserta didik pun memiliki sifat yang sama. Ada yang memiliki pengajar yang disenangi dan tidak disenangi. Entah karena sifat atau metode pembelajaran yang kurang menarik, atau apa saja yang mendukung faktor kesenangan dan ketidaksenangan tersebut.

Dan hari ini, saya benar-benar mengerti, “Kita hidup ini siap dibenci dan siap disuka.” Mengubah seseorang yang membenci kita untuk menyenangi kita pun tidak mungkin. Dan nampaknya kita membutuhkan kebijaksanaan diri untuk menghadapi hal yang demikian.

Terkhusus kepada seseorang yang telah memberikan saya pelajaran hidup hari ini, terima kasih banyak untuk perlakuannya. Semua yang terjadi di kelas hari ini menjadikan saya lebih dewasa dalam bersikap. Terima kasih banyak.

Teruntuk kalian di kelas, belajar yang baik dan sepandai apapun kamu, ketika akhlak kalian tidak baik, maka hasilnya pun akan menjadi nol. Saya yakin kalian adalah mahasiswa-mahasiswa yang berprestasi di dalam bidang intelektual maupun spiritual. 🙂

Orangtua dan Anak

Saya tahu, tidak ada yang salah dengan memiliki keinginan punya HP baru yang canggih. Punya motor keren seperti teman. Pengin nonton konser, pengin jalan-jalan, pengin tas, baju, sepatu, dan semua keinginan lainnya. My dear anggota page yang masih remaja dan usia sekolah, tentu saja boleh kepengin hal-hal tersebut.

Nah, yang tidak boleh, jangan sampai kita menambah beban pikiran orang tua. Merajuk, marah2, boikot, dsbgnya. Boleh jadi, tanpa kita tambahi dengan permintaan, boleh jadi loh, setiap malam mereka sudah menghela nafas panjang memikirkan kita–meski kita tidak tahu. Toh, terkadang keinginan kita hanya ingin saja, tidak banyak manfaatnya, kecuali untuk keren-kerenan.

Jadilah selalu remaja yang bisa meringankan beban orang tua. Dan cara tercepatnya tidak perlu ikut bekerja, mencari uang sendiri; dengan terus belajar yang giat, sekolah yang sungguh2, kita sudah membantu banyak.

–Tere Lije

Pernyataan di atas tersebut merupakan salah satu status yang dibuat oleh Bang Tere Liye di Facebooknya. Saya selalu antusias membaca setiap status yang diupdatenya. Selalu menginspirasi. Apalagi tentang cinta. Ahaide. 🙂

Iya. Ini bahasannya tentang orang tua dan anak.

Benar sekali apa yang ditulis oleh Bang Tere Liye. Dengan terus belajar yang giat, sekolah yang sungguh-sungguh, kita sudah membantu banyak.

Pernah tidak melihat ataupun menyaksikan dengan mata kepala sendiri ketika orang tua kita bertemu dengan keluarga atau teman sejawatnya dan ketika mereka membahas tentang perkembangan anak-anak mereka. Mulailah pembahasan tentang keunggulan dan kekurangan yang ada pada anak mereka.

google.com

Mata orang tua kita mulai berbinar, senyum mereka mulai mengembang, dan semangat mereka bangkit. Iya. Ketika mulai membeberkan betapa hebatnya anak-anak mereka kepada  orang-orang. Utamanya ketika pembicaraan menjurus ke arah pendidikan.

Dengan apapun itu, mereka bersedia memutar otak bagaimana caranya agar kita terfasilitasi pada masa studi yang ditempuh. Rela berkorban mengeluarkan uang berapapun jumlahnya. Iya. Demi anak. Demi pendidikannya.

Betapa besar kepercayaan mereka kepada anak-anaknya terhadap dunia pendidikan yang ditempuh. Di sinilah proses pembelajaran anak terhadap diri sendiri dan orang lain. Bagaimana caranya belajar bertanggung jawab untuk masa depan.

Dan ketika kita telah berhasil membawa diri di tingkat pendidikan yang baik. Lihatlah tangis haru dan senyum merekah mereka.

Yang namanya masih status pelajar, tugas kita ya belajar. Yang baik dan benar. Belajar itu pada hakekatnya terjadi perubahan ke arah yang positif. Bukan ke arah yang negatif. Berusaha dulu berbakti kepada orang tua. Walau harus diakui, saya juga pernah merasa jengkel dan marah kepada mereka hanya karena keinginan saya yang tidak dipenuhi akan sesuatu hal. Tapi, yah. Namanya juga masih anak-anak dan emosi masih membuncah. Ya sudah, marah-marah sendiri. Tidak jelas. Besok-besoknya, tidak lagi.

Olehnya itu, kita harus SEMANGAT… Yakin bahwa kita bisa menjadi anak papa dan mama yang baik. Insya Allah. Dengan usaha dan pengorbanan yang setara untuk prestasi yang akan kita ukir nantinya. Iya. Untuk mereka berdua. 🙂 Aamiin…

*Allah, masih terlalu banyak dosa saya terhadap orang tua. 😥
Semoga usaha saya untuk membanggakan mereka bisa meringankan sedikit tentang dosa yang pernah saya buat kepada mereka di mataMu. Karena saya masih belajar menjadi yang baik. Aamiin.

Believe in Them

Pengen seperti burung yang terbang bebas di angkasa.
Bisa ke mana aja. Semau dia. Bebas.
Mau ke utara kek, selatan, barat, timur. Seluruh penjuru mata angin bisa dilalui dengan mudah. Bebas hambatan. Siapa yang mau menghalangi? Gak ada. Terkecuali burung pecicilan yang mau ngegangguin dia. 😀

Hidup hiduuuppp.
So sweet banget sih lo. Bisa buat orang UP and DOWN.
Senang dan susah. Bahagia dan sedih. Kayak tarik tambang gitu. -___-”
Begini nih. Kalau sudah ada masalah, segala aspek dalam kehidupan sekitar saya ikut terlibat. Gak bisa diatasin. Saya seharusnya lebih DEWASA untuk menyikapi hal ini semua. Dituntut MANDIRI dan BERTANGGUNG JAWAB akan hal-hal yang terjadi dan akan terjadi pada diri saya sendiri. Yang pada kenyataannya, sepertinya belum mencapai titik kesempurnaan. OMG. Sampai kapan coba??? Sekarang udah umur 20-an. Hellooo??? Saya bukan lagi sebagai anak kecil rupanya. Hmmm… Harus bisa menimbang-nimbang dan memutuskan hal-hal yang baik untuk saya dan orang lain.

Kata Ayah saya, di umur kami yang sudah cukup dewasa ini, kami sudah cukup dinasehati ini itu. Sekarang tinggal memilih saja mana jalan yang baik untuk diri sendiri. *Addduhh, saya belum cukup dewasa kalau masalah ini. 😦

Yang penting, saya harus yakin sama Allah dan orang tua saya. Kalau mereka memang yang terbaik. Apapun keputusannya saya ikhlas. For the sake of the happiness my parents. 🙂 Insya Allah. 🙂 Semoga Allah meridhoi. Aamiin…

Imajinasi vs. Realita

Ketika imajinasi harus bertentangan dengan dunia realita. Haruskah melawan?

Memang benar, benar sekali, dan sangat benar. Sudah sering terngiang di telinga kita kalau Manusia itu hanya bisa berencana dan Tuhan yang menentukan semua. Segala alur kehidupan kita akan di bawah kendaliNya. Dan kita, just a human. Mau berbuat apa sih kita kalau Tuhan sudah menunjukkan jalanNya? “Ini loh jalanmu!”. Yang pada dasarnya, itu bukanlah imajinasi yang terbentuk dalam benak kita. Bukan sebuah perencanaan yang udah mentok kita susun dan simpan baik-baik yang pada akhirnya gak bisa diubrak-abrik sama siapa saja. Alhasil, ternyata Tuhan mengubah semuanya. Mau ngelawan? Gak kan. Sekuat apa sih tenaga kita untuk mengubah takdir?

Yaaa, satu-satunya jalan sih, MENGHADAPI dan MENGIKHLASKAN segalanya yang telah terjadi dan akan terjadi pada diri kita sendiri. Mau lari? Sampai di mana kita berlari kalau pada akhirnya kita akan berhenti berlari. Dunia ini tak berujung, reader. Satu hal, kita harus YAKIN akan HAL YANG LEBIH BAIK ESOK HARI.

Jadi ingat nasehat dari dosen saya, SEMUA BUTUH PERENCANAAN. Trus saya balik tanya, “Kalau seumpama tidak sesuai perencanaan. Bagaimana tuh, Pak?”. Beliau menjawab, “Ya, dioptimalkan.” Wuiiih, yang pada intinya (kalau menurut saya), memang kehidupan ini banyak lika-likunya. Butuh pengorbanan mati-matian untuk tetap bertahan. Untuk tetap survive. Kemana pun kita melangkah, selalu akan ada Tuhan yang melihat kita. Setiap tindak dan tutur kata kita. Semuanya tak akan pernah lepas dari pengawasanNya. Dan sebagai umatNya, takdir kita sudah jelas berada di tanganNya. Walaupun memang, kita sudah memiliki perencanaan. Perencanaan yang benar-benar matang sekalipun. Dan ketika Tuhan berkehendak lain di luar rencana, kita harus segera mengoptimalkan apa yang telah digariskanNya, agar kita bisa menjadi orang yang sukses walau tak sesuai rencana sebelumnya. Karena Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik buat umatNya yang selalu mengingatNya. Karena Tuhan menyayangi kita.

Allah, terima kasih untuk segala rahmat yang Engkau berikan kepada kami.

S E P I

Wuih. Baru ngeblog lagi.
Gak nulis berapa lama ya? Gak BW juga. Hmm… Sepi. Pantasan aja sepi. Hehehe…
Banyak hal yang saya sudah lalui. Ingin cerita tapi selalu saja waktu dan kesempatan yang belum mau mengizinkan saya menulis. Atau mungkin juga karena saya malas kali ya. 🙂

Banyak pelajaran yang dapat saya ambil di bulan Mei kemarin. Bulan Mei adalah bulan kegalauan saya, teman-teman. *Hedeeeeh, sok galau lagi nih si Nining. -___-”
Gimana ya. Saya sudah mendapat ‘ultimatum’ sebanyak tiga kali dari orang-orang yang paling saya hormati dan sayangi. Yang intinya orang-orang di atas saya lah.
‘Ultimatum’nya tentang bagaimana seharusnya saya hidup, cara bergaul yang baik seperti apa, sikapnya harus bagaimana, cara pandang ke depan seperti apa dan banyak lagi nasehat-nasehat yang sangat berharga dari mereka. Iya. Sudah seharusnya saya memperoleh kritik dan saran dari mereka. Saya sudah mau hampir keluar jalur soalnya. Sadar sih sadar, tapi setengah sadar mungkin nih. Hehehe.

Saya mau memperbaiki diri, jadi harus mengikuti apa yang mereka bilang. Saya mau baik, teman. Saya tidak mau menjadikan penyesalan itu di belakang. Sekarang lagi berjuang untuk menjadi apa yang mereka mau karena saya mau baik.

Saya pernah ingat, kata Pak guruku sayang (P’ Syahrir) “Ingatlah bahwa Allah tidak pernah alpa dalam melihat dan menilai hambaNya.” Saat-saat ini adalah waktu paling kritis yang pernah saya alami seumur hidup. Selama ini tidak seperti ini. Saya sudah merepotkan dan melibatkan banyak orang. Karena saya, mereka terbebani. Allah, saya mohon ampun atas semuaNya.

Awal Juni 2012 ini, semoga kebaikan Allah selalu datang kepada kita semua. Amin.
Allah, saya akan berusaha untuk menjadi baik di mataMu dan mereka. Karena saya mau menjadi seperti Nining Syafitri yang seperti Ning ‘Little’ Syafitri. Semangat!!! 😉

Masih banyak hal yang ingin saya ceritakan. Tapi, nanti lain kali saja. Untuk sekarang, cukup sampai di sini. *Tseehhh, gayamu, nduk…