Tag Archives: Tere Liye

Tere Liye: Pulang

Pulang: Tere Liye

“…. Sungguh, sejauh apa pun kehidupan menyesatkan, segelap apa pun hitamnya jalan yang kutempuh, Tuhan selalu memanggil kami untuk pulang. Anakmu telah pulang.”
(Tere Liye, p. 400, 2016)

Penulis: Tere Liye
Judul Buku: Pulang
Penerbit: Republika
Penerbit: Jakarta
Cetakan: XXIII, November 2016
Dimensi: iv + 400 halaman; 13.5 x 20.5 cm

‘Pulang’ adalah salah satu hasil karya Tere Liye yang kembali berhasil mencuri perhatian saya untuk menuliskan kembali sedikit kisah dan kesan tentangnya. *Aduuuh, Bang Tere, ajarin Neng dong menulis. Kereeennn  selalu ya kalau baca novel Abang. Serasa ikut berada di dalam cerita, Bang. Emejing, Bang Tere. >.<

Kali ini, Bujang, Si Babi Hutan, anak pedalaman rimba Sumatra yang menjadi peran utamanya. Bujang merupakan anak dari Samad, si Tukang Pukul keturunan perewa dan Midah, anak seorang guru agama, yang kemudian dibawa oleh Tauke Muda, salah seorang penguasa shadow economy yang paling berpengaruh di ‘dunia’ tersebut. Namun, kepergian Bujang bersama Tauke Muda kurang mendapat respon positif dari Mamak Bujang sehingga acap kali timbul perselisihan antara kedua orang tua Bujang. Suka tidak suka, mau tidak mau, Mamak harus menerima keputusan Bapak untuk menyuruh Bujang mengikuti Tauke Muda. Pada akhir perjalanannya, setelah melewati serangkaian perjalanan hidup yang penuh dengan tantangan, pengkhianatan dari pihak internal keluarga Tong, dan kehilangan orang-orang yang disayanginya, Bujang tumbuh menjadi sosok yang kuat dan tangguh, juga menjadi pewaris penguasa shadow economy keluarga Tong di seluruh kawasan Asia Pasifik.

Do you know? Proses perjalanan seorang Bujang di dalam novel ini, Bang Tere nulisnya WOW WOW WOW. Do you want to feel that? Let’s read this novel. >.<

Satu hal yang menarik dari Bujang adalah walaupun julukannya sebagai si Babi Hutan di Keluarga Tong, dia selalu mengingat dan menunaikan pesan Mamaknya untuk tidak menyentuh makanan haram dan minuman beralkohol sekalipun. Walaupun cuma sebuah novel, hal ini mengingatkan kita kembali bahwa pesan/nasihat yang disampaikan oleh orang tua kepada kita sebaiknya dipatuhi dan dijalankan dengan baik karena semua itu akan memberikan hal-hal yang positif bagi anak-anaknya. Orang tua mana yang mau anaknya tidak baik. Tidak ada kan? *eeeaaa… >.<

‘Pulang’, novel yang memberikan pesan kepada kita sebagai sang penjelajah hidup dalam kehidupan kita masing-masing untuk tidak melupakan tanah kelahiran sejauh apapun kita melangkah pergi, untuk tidak melupakan orang tua sesukses apapun kita nanti, dan untuk tidak melupakan Tuhan sejauh apa pun kita menjauh dariNya. Ya, kita harus pulang.

“…. Sejatinya, dalam hidup ini, kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain, dan itu sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egoisme. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau bisa menang dalam pertempuran itu, maka pertempuran lainnya akan mudah saja. (Tere Liye, p.219: 2016)”

P.S.
‘Pulang’ adalah salah satu novel yang saya beli ketika masih berada di Makassar awal Januari 2017 dan hal ini menandakan telah selesainya saya menempuh perkuliahan selama dua tahun lebih di Kota Makassar. Yaps, novel ini sebagai tanda bahwa saya hendak kembali ke Baubau. Pulang. 🙂

Tentang Kamu – Tere Liye

Tentang Kamu - Tere Liye
Tentang Kamu – Tere Liye

“Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu, itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku. Cinta memang tidak perlu ditemukan, cintalah yang akan menemukan kita.

Terima kasih. Nasihat lama itu benar sekali, aku tidak akan menangis karena sesuatu telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi.

Masa lalu. Rasa sakit. Masa depan. Mimpi-mimpi. Semua akan berlalu, seperti sungai yang mengalir. Maka biarlah hidupku mengalir seperti sungai kehidupan.”
(Tere Liye – Tentang Kamu)

 

Penulis: Tere Liye
Judul Buku: Tentang Kamu
Penerbit: Republika Penerbit, Jakarta
Cetakan: Kedua, Oktober 2016
Dimensi: vi + 524 halaman; 13.5 x 20.5 cm

Well, novel ini telah berhasil membuat saya berkali-kali menangis selama membacanya. Mungkin karena saya yang terlalu mendramatisir alur cerita atau saya yang terlalu sensitif. Entahlah, yang jelasnya, lagi lagi, Tere Liye menampilkan keahlian menulis novelnya dengan sangat AWESOME. *Bang Tere Liye, boleh skillnya ditransfer ke saya sedikit? I wonder how you become a very good writer, Sir.

Berbeda dengan novel karya sebelumnya, Hujan, yang bercerita tentang kehidupan di masa mendatang, Novel Tentang Kamu justru sebaliknya. Novel yang mengisahkan perjalanan hidup seseorang yang bernama Sri Ningsih di tahun 1946 – 2016 yang penuh dengan berbagai peristiwa kehidupan yang kadang saya pun tidak dapat menahan air mata *baper.

Perlu diketahui, Sri Ningsih di novel ini dideskripsikan sebagai wanita tangguh, periang, selalu berpikiran positif, rajin, tidak pernah mengeluh atas segala peristiwa pahit yang menimpa hidupnya dan satu lagi, sangat sangat sangat ikhlas. 😥 Kehilangan ibu sejak dia dilahirkan, kehilangan ayah ketika umur sembilan tahun dan dianggap sebagai ‘anak yang dikutuk’ oleh ibu tirinya, kehilangan adik tiri kesayangannya pada saat peristiwa pembunuhan massal oleh kaum komunis di Surakarta, kehilangan bayi pertama ketika melahirkannya dan bayi kedua yang hanya hidup beberapa jam saja akibat golongan darah Sri dan suaminya yang berasal dari Turki, dan terakhir adalah kehilangan suami yang dia cintai akibat sakit yang dideritanya. Sungguh, tiap episode cerita seorang Sri Ningsih membuat penasaran halaman per halamannya.

Adalah Zaman Zulkarnaen, seorang lawyer muda berusia 30 tahun, mendapat mandat dari sebuah firma hukum tempat ia bekerja, untuk menyelesaikan masalah warisan salah satu klien yang telah meninggal dunia. Seorang wanita tua berusia 70 tahun, pemegang paspor Inggris, memiliki izin menetap di Perancis, dan selama belasan tahun terakhir tinggal dan aktif berkebun di panti jompo. Wafat tanpa meninggalkan surat wasiat dan belum diketahui siapa ahli waris dari nilai warisan sebesar satu miliar poundsterling atau setara dengan 19 triliun rupiah menjadikan kasus ini merupakan hal hebat pertama yang harus diselesaikan Zaman sebagai seorang lawyer dengan kinerja yang telah diakui oleh pimpinannya. Ya, seorang klien bernama Sri Ningsih, orang Indonesia pemegang paspor Inggris. Maka, cerita kehidupan Sri Ningsih dimulai dengan Zaman sebagai penelusurnya dalam Novel Tentang Kamu.

Terdiri dari 33 bagian cerita yang saling berkaitan dan sangat menarik untuk segera diselesaikan. Akhir ceritanya? Silahkan dibaca sendiri. Hati cenat-cenut pokoknya.

Kalau saya menjadi seorang Sri Ningsih kayaknya tidak bakalan sanggup. Walaupun hanya sebuah novel, tapi pelajaran hidupnya cukup memberikan makna tersendiri bagi saya pribadi. Sabar, ikhlas, lalui prosesnya. Lagi dan lagi, Allah telah mengatur segalanya. Tidak ada yang buruk untuk umatNya. He had decided all the best decision for us. Dan saya yakini itu. Tidak ada keraguan padaNya. In sha Allah. :’)

Sekali lagi, novel ini secara tidak langsung membawa pembacanya larut ke dalam cerita menjadi seorang Zaman Zulkarnaen, si pencari jejak kehidupan dan ahli waris Sri Ningsih, sang wanita tangguh Indonesia.

“…. Ketika kebencian, dendam kesumat sebesar apa pun akan luruh oleh rasa sabar. Gunung-gunung akan rata, lautan akan kering, tidak ada yang mampu mengalahkan rasa sabar. Selemah apa pun fisik seseorang, semiskin apa pun dia, sekali di hatinya punya rasa sabar, dunia tidak bisa menyakitinya. Tidak bisa. ….” (Hal. 48)

 …. Ibu Sri tersenyum padaku, berkata pelan, ‘Chaty, jadilah seperti lilin, yang tidak pernah menyesal saat nyala api membakarmu. Jadilah seperti air yang mengalir sabar. Jangan pernah takut memulai hal baru…’ (Hal. 278)

“Apa harta yang akan dibawa mati saat kita meninggal?” … Tidak ada, Sir, selain apa-apa yang kita belanjakan untuk kebaikan. Sisanya akan ditinggalkan, bahkan diperebutkan. (Hal. 430)

Karena Hujan Selalu Memiliki Cerita

Hujan - Tere Liye

“Bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan.”  Penggalan kalimat terakhir ini menutup cerita Hujan yang disajikan Tere Liye. Ya, seperti yang dituliskan di belakang sampul buku ini. Tentang persahabatan, tentang cinta, tentang perpisahan, tentang melupakan, tentang hujan. Nyess…

Judul Buku: Hujan
Penulis : Tere Liye
Cetakan : Keempat, Februari 2016
Isi: 320 halaman; 20 cm
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Berawal dari kekhilafan saya karena tidak sanggup melihat buku ini terpajang di rak buku bagian best seller di Gramedia MP hari itu, saya memutuskan untuk membelinya. Mengorbankan uang saku demi buku, di kala proses penyusunan proposal untuk diserahkan ke pembimbing  pun menjadi saat yang crucial. Bukan apa-apa, karena saya mengingat di salah satu media sosial mengatakan buku ini akan mengalami kenaikan harga untuk pencetakan bulan Mei 2016 nanti.  Beberapa minggu lalu, saya masih melihat tumpukan buku Hujan ini melimpah ruah, eh beberapa hari kemudian saya melihat Hujan hanya tersisa tiga buah. Daripada menyesal sampai di rumah, I decide to buy one of them. Walaupun uang saku menjadi taruhannya, tidak bisa beli jajan, tidak masalah. Yang penting buku ini harus ada di tangan. Ya, ini adalah kekhilafan. Maaf, Ma. Tidak bisa mengerem keinginan ini. Hehehe.

Oke, lupakan pendahuluan yang saya buat. Tulisan ini hanya sebagai selingan saya selama masa penungguan pembimbing mengoreksi proposal yang disusun. Semoga hasilnya baik dan saya segera maju ujian proposal. Aamiin.

Mari kita masuk ke inti tulisan (Teori Kaplan tentang cara berkomunikasi orang Asia terbukti pada tulisan ini, berputar-putar). Maafkan, readers. 😀

Di awal membaca Hujan, ini di luar ekspektasi saya. Selama ini jika saya membaca buku-buku Tere Liye selalu ada kesan ‘tenang’ di awal-awal perjumpaan. Namun, di buku ini, seperti merasakan ada kengerian di dalamnya. Membayangkannya pun, saya mau menolaknya. Ini seperti berlebihan ya, tapi begitulah opini saya tentang buku ini. Tere Liye menceritakan dan menggambarkan kehidupan umat manusia di masa depan dengan segala teknologi dan bencana yang akan dihadapi nanti. Tere Liye seperti memberikan peringatan penting yang tersirat untuk memperlakukan bumi secara bijaksana lewat Hujan. Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk umat manusia sendiri yang tidak bisa terlepas dari bumi sebagai pijakan untuk memiliki kehidupan (sementara).

Menceritakan kisah dua orang anak perempuan dan anak laki-laki, bernama Lail dan Esok, yang bersama-sama melewati kejadian demi kejadian. Ya, walaupun kadang menguras hati. Lail yang kehilangan kedua orang tuanya dan Esok yang kehilangan keempat saudaranya atas bencana alam yang terjadi saat itu. Semuanya meninggalkan bekas luka hati yang terdalam bagi mereka.

Lail menyukai hujan karena setiap hujan selalu ada moment istimewa yang ia dapatkan. Sayang, tidak selamanya menjadi istimewa, karena akan ada saatnya menjadi sangat menyakitkan. Seperti yang dikatakan Maryam, sahabat Lail, “…. Jangan pernah jatuh cinta saat hujan, Lail.  Karena ketika besok lusa kamu patah hati, setiap kali hujan turun, kamu akan terkenang dengan kejadian menyakitkan itu. Masuk akal, bukan?” (Liye, 2016: 200). Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya.” (Liye, 2016: 201). 

Bab demi bab, saya selalu penasaran dengan ceritanya. Bang Tere Liye, setiap rangkaian ceritamu selalu berkesan. 🙂 Tapi, di akhir cerita saya masih penasaran bagaimana akhirnya kehidupan di bumi. Mungkin Bang Tere Liye telah melakukan riset sebelumnya sebelum menulis cerita ini. Serasa ada campuran cerita scientificnya. Setegang-tegangnya cerita di dalam, selalu saja ada kisah menyentuh yang terselip. Ah, Bang Tere Liye. Kau selalu bisa membuatku mellow. :’)

“Bukan seberapa lama umat manusia bisa bertahan hidup sebagai ukuran kebahagiaan, tapi seberapa besar kemampuan mereka memeluk erat-erat semua hal menyakitkan yang mereka alami.” (Liye, 2016: 317) Tentang persahabatan, tentang cinta, tentang perpisahan, tentang melupakan, tentang hujan. :’)

Terima kasih untuk karya terbarunya, Bang Tere Liye. Buku ini… Iya, pada akhirnya memberikan kesimpulan bahwa manusia memang harus bersikap bijak pada bumi sebagai tempat tinggal manusia itu sendiri. Di sisi lain,  memang harus ada penerimaan di segala kejadian yang kita alami. Intinya ikhlas saja. Yang menyenangkan dan menyakitkan itu merupakan warna yang indah dari kehidupan yang diciptakan Allah untuk setiap hambaNya. Ya, harus pandai-pandai bersyukur aja, Ning. 🙂

Untuk lebih lengkapnya, silahkan baca buku Hujan ini. Saya belum bisa memberikan status sebagai buku yang paling direkomendasikan atau tidak, tapi dari cerita yang saya utarakan, readers pasti bisa menilai. 😉

*Semoga suatu saat nanti saya juga memiliki karya seperti Anda, Bang Tere Liye. 🙂

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

30072013(010)

Judul : Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah
Penulis : Tere Liye
Tebal : 512 hlm; 20 cm
Cetakan: Keempat, Februari 2013
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978 – 979 – 22 – 7913 – 9

Tergolong buku bacaan yang cukup tebal. Tidak menjadi masalah. Karena cerita karya Tere Liye, tidak menjadi masalah besar menghadapi bacaan yang tebal seperti itu. Terdiri dari prolog, epilog dan 37 bab cerita yang saling berkesinambungan menguntai alur cerita yang sempurna. Kisah cinta tentang bujang berhati lurus, Borno, dan gadis sendu nan menawan keturunan Cina, Mey.

Seperti biasa, penulis berhasil menggambarkan keadaan kota Pontianak dengan sangat lihainya. Seperti tampak hafal betul di setiap sudut kota itu. Bukan hanya Pontianak, Surabaya dan Kota Kuching pun seperti demikian. Pendeskripsian tempat-tempat itu disusun sedemikian baiknya agar pembaca bisa segera memahami bagaimana situasinya. 🙂 Aaah, Bang Tere Liye. Kata-katanya dapat dari mana?

Lepas dari itu, Borno, laki-laki setia. Setia terhadap cintanya. Hemm. Kalau tak ada Pak Tua, mungkin bisa kehilangan petunjuk yang baik, bagaimana menyikapi perasaannya. Perasaannya terhadap Mey, gadis nan sendu menawan. Ah, kisah cinta mereka. :’) Speechless dibuatnya. 😀

30072013(011)Berikut kutipan-kutipan yang berhasil touch my heart. :’D

  • Masa muda adalah masa ketika kita bisa berlari secepat mungkin, merasakan perasaan sedalam mungkin tanpa perlu khawatir jadi masalah. p.164

  • Cinta itu beda-beda tipis dengan musik yang indah. …. Bedanya, cinta sejati akan membuatmu tetap menari meskipun musiknya telah lama berhenti. p. 166-167

  • Cinta sejati adalah perjalanan. Cinta sejati tidak pernah memiliki ujung, tujuan, apalagi hanya sekadar muara. Air di laut akan menguap, menjadi hujan, turun di gunung-gunung tinggi, kembali menjadi ribuan anak sungai, menjadi ribuan sungai perasaan, lantas menyatu menjadi Kapuas. Itu siklus tak pernah berhenti, begitu pula cinta. p. 168

  • Cinta adalah perbuatan. Kata-kata dan tulisan indah adalah omong kosong. p. 173

  • Cinta sejati selalu menemukan jalan. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. p. 194

  • Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. p.194

  • Cinta bukan kalimat gombal, cinta adalah komitmen tidak terbatas, untuk saling mendukung, untuk selalu ada, baik senang maupun duka. p. 221

  • Cinta, selalu saja klise. p. 233

  • Bagi kita yang jelas tidak mengulum jempol lagi, sakit adalah proses pengampunan.  Bersabarlah, semoga Tuhan membalas dengan kabar hebat. p. 251

  • Banyak sekali orang yang jatuh cinta lantas sibuk dengan dunia barunya itu. Sibuk sekali, sampai lupa keluarga sendiri, teman sendiri. Padahal, siapalah orang yang tiba-tiba mengisi hidup kita itu? Kebanyakan orang asing, orang baru. p. 257

  • Habiskan masa-masa sulit kau dengan teman terbaik, maka semua akan lebih ringan. p. 258

  • Sejatinya, rasa suka tidak perlu diumbar, ditulis, apalagi kaupamer-pamerkan. Semakin sering mengatakannya, jangan-jangan dia semakin hambar, jangan-jangan kita mengatakannya hanya karena untuk menyugesti, bertanya pada diri sendiri, apa memang sesuka itu. p. 428

  • Cinta bisa tumbuh, hanya butuh sedikit membuka hati. p. 476.

  • Ketika situasi memburuk, ketika semua terasa berat dan membebani, jangan pernah merusak diri sendiri. Boleh jadi ketika seseorang yang kita sayangi pergi, maka separuh hati kita seolah tercabik ikut pergi. Tapi kau masih memiliki separuh hati yang tersisa, bukan? Maka jangan ikut merusaknya pula. Itulah yang kau punya sekarang. Satu-satunya yang paling berharga. p. 479

  • Berikanlah hadiah buku kepada seseorang yang amat kauhargai. p. 500.

Bang Tere, adakah cerita yang seperti perasaanku? 😦
Dalam diam, aku berdo’a agar perasaan ini berbaikan dengan masa lalu dan masa depan.
Tuhan…

Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin – Tere Liye

24062013(003)

Judul: Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Pengarang: Tere Liye
Tebal: 264 halaman
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: IX, Maret 2013

Menahan perasaan kepada seseorang yang sangat dicintai adalah sakit. Ingin kata berucap, tapi tidak mampu melakukannya, bibir pun seakan tertutup untuk mengatakannya. Hanya dengan dipendam, maka perasaan itu akan tumbuh sendirinya tanpa ditahu. Didiamkan.

Bagaimana dengan perasaan ini? Tersiksa. Bukan fisik yang terluka, tapi hati. Jiwa yang abstrak ini sulit untuk ditemukan obat penyembuhnya. Dan ketika terlambat, semuanya akan menjadi salah.

Terluka untuk diri sendiri, sekaligus menyakiti orang lain. Semuanya akan terlihat nampak runyam. Bagaimana ini? Bagaimana dengan perasaanku? Bagaimana dengan perasaannya? Bagaimana dengan perasaanmu?

Tere Liye merangkai alur cerita ini menjadi cerita cinta yang cukup rumit. Cukup rumit untuk dimengerti. Kenapa harus ada DIAM dalam cerita ini?

Pesan-pesannya dalam cerita ini membuat saya speechless.

Berhasil membuat air mata ini keluar (lagi). Ah, Bang Tere. Kata-katamu membuat hatiku melankolis. “Bukan bekerja dan menanggung beban hidup orang dewasa… Bukan menanggung beban pikiran yang belum tiba masanya…” (2013; 59). Anak-anak yang hidup di jalanan. Penuh perjuangan mendapatkan sesuap nasi. Menjadi pengamen dari bus ke bus. Bisa dibayangkan hidup yang seharusnya mereka lalui dengan bermain, bersekolah. Harus tergadaikan dengan ‘keras’nya hidup yang mereka alami. Yang kadang sudah tidak memiliki orang tua. Apa kabarnya saya? Harusnya saya malu kepada mereka. Sering sekali mengeluh atas kesusahan hidup yang ringan yang saya alami. Mama, Papa, maafkan saya atas ketidakbaikan hati ini kepada kalian berdua. Kata-kata Tere Liye semacam ini seperti menjadi cambukan bahwa “Ning, kamu beruntung sekarang. Ayo, gunakan waktumu sebaik mungkin. Haruskah waktumu terbuang sia-sia dengan ketidakjelasan perasaan terhadap orang-orang yang telah menyakitimu? Sementara, masih ada orang-orang penting yang percaya akan kemampuanmu yang bisa membanggakan mereka karena telah menjadi bagian penting dari sebagian besar perjalanan hidupmu.”

Menurut saya, di dalam novel ini, Tere Liye mengajarkan sebuah kebijaksanaan hidup.

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya.

Hidup ini akan terus berjalan. Sebahagia apapun, sesedih apapun yang kita jalani. Semua itu sudah menjadi bagian dari jalan Allah atas apa yang kita putuskan dan lakukan untuk hidup kita. Ya, kita harus hadapi, bukan berlari menghindar.

Bang Tere Liye. Kenapa harus ada kisah yang serumit ini?

Hmmm. Buku ini. Novel ini. I’m speechless. 😥

Review: Sepotong Hati yang Baru – Tere Liye

Sepotong Hati yang Baru

The Title of Book    : Sepotong Hati yang Baru (A New Piece of Heart)

The Writer               : Tere Liye

Pages                         : vi + 206 pages

Size                            : 13.5 x 20.5 cm

Publisher                  : Mahaka Publishing

Year                            : 2013 (Fourth Publishing)

What a great book!

My impression for this book is WOW, I’m speechless. It doesn’t overdo because this is a fact. Tere Liye becomes my favorite writer after Raditya Dika because his writing that brings me into his world beautifully. He arranges all sentences into paragraphs so wonderful. I can’t deny it. He is a good writer. Sure.

In this chance, I just want to say something about this book, especially for galauers (including me). 😀 This book tells us about love. How we should face the love, whether in happiness or sadness. Some points that I can take from this book:

  • We are taught not to have self-confidence much with a man who gives us more attention. Maybe it is just his characteristics to be kind for anyone, nothing special for certain person.
  • Commitment and lasting dedication is needed to build the love. Although our spouse does something that makes us hurt, but we still keep the commitment and give our dedication to him, finally it is able to born the true love.
  • Disappointment is able to give a scar in our heart. May it can heal it, but the scar is always there. A new piece of heart is broken and we must find a new, although we cannot feel love perfectly anymore like before disappointment happens.
  • All things that we do will be useless and non-sense to prove what we feel to someone that we love because of his incredulity to us. It just gives us hurt to our heart. Yup, no happiness, no belief. So, what is the meaning of love if the belief isn’t in our spouse? NOTHING.
  • The real  beauty comes from heart.
  • Love needs sacrifice, tears, and struggle.

There are 8 stories in this book. All stories are interesting to be read and they have moral messages to us for being better one.

Hopefully, after reading this book, we become better one to do what we should do in love. Whatever its situation in this feeling, heart and love.

Keep spirit!!!

Thanks, Tere Liye for the book. You’re great!